
Happy reading 😍
Semua orang kini mengitari tempat peristirahatan terakhir sang mantan kekasih Aryo tanpa suara sepatah kata pun, Aryo menaruh beberapa tangkai bunga mawar putih yang sangat di sukai oleh sang kekasih semasa masih hidup dulu. Siti pun mengikuti langkah nya dan tepat berada di samping nya.
Semua orang tidak lupa untuk mendoakan almarhumah agar tenang disisi nya. ada hal yang tak pernah semua orang lihat tapi hari ini mereka semua menjadi saksi bahwa seorang pria kuat pun bisa rapuh dan terpuruk layak nya seorang kaum hawa.
Siti dan yang lainnya memahami perasaan Aryo saat ini. semua orang seakan terhipnotis oleh Aryo, Aji saja sebagai asisten nya ikut berlinang air mata melihat bos besarnya serapuh kertas yang tersiram air, sudah tidak bisa lagi berbentuk seperti semula.
Siti memegang pundak Aryo dengan lembut dan mengusap nya, sehingga Aryo pun menoleh dan tersenyum kepada nya, meski masih ada sedikit air mata di pipinya.
"Terima kasih sudah mengizinkan ku untuk datang ke sini," ucap Aryo kepada Siti dengan memeluk tubuh mungil Siti dengan erat.
"Ya...
Siti ikut merasakan betapa rindunya Aryo dengan sosok yang sudah tidak ada lagi di dunia ini. namun kini Siti ikut bahagia melihat Aryo sudah tidak lagi menyalahkan dirinya tentang apa yang sudah terjadi kepada mantan kekasihnya. semua sudah diatur oleh Sang Maha PENCIPTA.
"Sebaiknya kita pulang yoook, kita harus menyiapkan pernikahan kalian," ucap Bu Nilam kepada keduanya.
"Iya Bu, ayoo kita pulang," Siti juga sudah merasa lelah, belum lagi menyiapkan berbagai hal yang di butuhkan untuk pernikahan nya dengan Aryo.
Akhirnya semua orang pun meninggalkan lokasi pemakaman karena hari sudah akan menjelang Maghrib.
Aryo sudah menyiapkan party besar untuk hari bersejarah yang akan terjadi hanya sekali saja seumur hidupnya. namun. sebelum dirinya melakukan hal itu, Aryo sudah menyiapkan beberapa kejutan untuk sepupunya yang sampai saat ini belum melangkah maju lagi seperti dirinya. maka itu Aryo akan membantunya agar bisa sejajar dengannya.
"APAAAA... IJAB QOBUL???
"Masa sih loe gak tahu caranya," Imam merasa Aryo sedang bergurau dengan nya.
"Iyaaa, coba deh loe praktek kan, seolah-olah loe lagi di depan penghulu dan loe adalah pengantin pria yang akan menikahi Gesya.
"Uhuk..uhuk...," ucapan terakhir sepupunya membuat jantung nya seakan berhenti berdetak kencang lebih cepat.
"Yoooo, ih kok malah gue sih yang harus bayangin jadi manten," Imam terlihat malu meski akhirnya Imam membayangkan posisi dirinya menjadi pengantin.
"Gini deh, gue jadi penghulu lalu mereka jadi saksi pernikahan loe," ucap Aryo dengan menarik beberapa bodyguard untuk duduk dan menjadi saksi tentang apa yang akan terjadi setelah ini.
"Selesai, dan loe ikuti gue yak," ucap Aryo dengan segera menjabat tangan Imam yang sudah panas dingin.
"Saya nikahkan saudara Imam dengan Gesya Anastasya dengan mas kawin seberat 100 gram di bayar tunnnnnnnaaaai," Aryo menggerakkan tangan nya untuk memberikan aba-aba kepada Imam agar mengikuti ucapan nya barusan.
__ADS_1
"Sa...saya terima nikah dan kawinnya Gesya Anastasya dengan mas kawin tersebut tunaaai," Imam menyebut ijab-qobul dengan lancar tanpa ada salah sedikit pun.
SAAAAAAAH....
Imam langsung melepaskan tangan Aryo karena tiba-tiba banyak orang yang bersembunyi di balik tirai dan tersenyum ke arah nya, di lihatnya Gesya yang memakai dress putih tanpa lengan, memperlihatkan bentuk tubuhnya yang begitu ramping.
"Aiih cantik sekali sih loe Gesya," batin Imam semoga saja jantung nya bisa kuat melihat berbagai kejutan yang membuat shock dirinya kali ini.
"Aryooooo," Imam ingin sekali menghajar Aryo yang sudah membuat nya malu di hadapan semua orang.
"Sorry bro, gue cuma bantuin loh kok," Aryo sembunyi di balik tubuh mungil Siti yang bahkan tidak bisa menyembunyikan tubuhnya.
"Sudaaaah... apa kalian tidak malu sama pasangan kalian," ujar pak Heru dengan menggeleng kan kepalanya melihat tingkah laku keduanya yang seperti anak kecil.
"Selamat ya nak, ibu turut senang akhirnya kamu menikah dengan perempuan yang begitu baik seperti Geysa," ibu Nilam tersenyum kepada Imam dan Gesya, satu persatu anak-anak nya.
"Me...menikah???
Imam masih tidak percaya dengan kata-kata Bu Nilam barusan, karena dia hanya menjabat tangan Aryo saja bukan penghulu yang sesungguhnya.
"Udah syaaaah, tinggal gueee," ucap Aryo dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Ta...tapi bagaimana bisa pak, kan Pihak perempuan tidak ada yang datang, termasuk ayahnya Geysa," Imam masih tidak habis pikir mengenai pernikahan jebakan ini.meski memang dia berniat akan melamar Gesya dalam waktu dekat.
"Saya di sini nak," Gesya menyodorkan hapenya yang ternyata sejak tadi menyala dan ikut menyaksikan pernikahan anaknya meski tidak secara langsung, alias Virtual.
"Eh, pap..pa...
"Hmmm, Aryooooo...," Imam tahu dalang dari semua ini adalah sang sepupunya yang super jail dengan nya.
"Pah, aku minta maaf harus terjadi hal ini," ucap Imam dengan mencuri pandang kepada Gesya yang juga sedang menatap nya.
"Tidak, tidak nak...
"Justru papa kini sangat lega sekali karena ada yang bisa menjaga Gesya di sana," ucap papa Gesya dengan tersenyum.
"Tolong jaga anak papa dengan baik ya nak," pinta sang papa kepada Imam yang kini menjadi suaminya.
"Iya..pah...
__ADS_1
Imam tak menyangka bila dia akan menikah dengan cara seperti ini.
"Ya sudah, ambillah piala mu nak dan jaga baik-baik," ucap papa Gesya dengan tersenyum.
Telpon pun terhenti karena dimatikan oleh papa Gesya, Imam kini menatap Gesya dengan sepuasnya setelah tadi banyak gangguan terutama dari sepupunya.
"Kalau begitu kami masuk ya," Bu Nilam memberi kode kepada semua orang agar memberikan waktu untuk sang pengantin dadakan itu saling bicara dari hati ke hati.
"Hoaaam, iya nih ayoo Buu," Siti memeluk Bu Nilam lalu mereka pun masuk secara bersamaan.
Setelah semua orang pergi dan meninggalkan kedua nya hanya benar-benar berdua saja. Imam mulai memberanikan diri untuk membelai rambut sang kekasih yang begitu lembut.
"Hmmm, apa yang kamu rasakan saat ini," ucap Imam mencoba mengetahui apa yang di rasakan oleh Gesya saat ini.
"Bahagia...
Gesya hanya bilang satu kata saja, sedangkan Imam mungkin sudah berpuluh kata.
"Kenapa dan apa yang membuat mu bahagia???
"Kamu...
Lagi-lagi kata skatmat yang mencakup arti banyak kata, Imam kini kehilangan konsentrasi nya untuk bertanya pertanyaan selanjutnya.
"Apa kamu tidak senang menikah dengan ku," kini Gesya yang berbalik memberikan pertanyaan kepada Imam.
"Se... senang kok...
Kini Imam yang hanya bisa menjawab dengan singkat.
"Benarkah???
Geysa seakan meragukan apa yang diucapkan pria yang kini telah sah menjadi suaminya.
"Iya benar lah, sueerr," Imam mengangkat kedua tangannya tanda apa yang keluar dari mulut nya itu adalah kenyataan.
"Kalau begitu buktikan...
Happy reading 😍
__ADS_1