
Happy reading 😍
Bukan hanya Siti yang merasa kehilangan Syifa, tapi Alex juga merasakan hal yang sama. bahkan sampai pagi hari ini Alex masih berada di jalanan untuk mencari Syifa dengan tangannya sendiri. Dia sangat menyesal karena telah membuat Syifa seperti ini.
Alex mencoba menghubungi beberapa anak buah nya yang sudah tersebar di berbagai pelosok, hanya untuk menemukan sang kekasih,Syifa.
"Apaaa....
"Bagaimana mungkin kalian tidak bisa menemukan seorang wanita saja. katanya profesional mana buktinya hah...
"Sekarang terus mencari sampai ketemu," Alex lalu menutup telponnya dan membanting nya ke lantai.
"Aaaaaaakh...
"Syifaaaaaaa...
Alex tidak tahu harus bagaimana lagi untuk mencari Syifa, kenapa begitu sulit untuk menemukan Syifa.
"Dewiii???
Alex mengambil kunci mobil yang tergeletak di atas meja makan, dirinya langsung bergegas sebelum semuanya terlambat.
Sementara itu...
Dua sejoli sedang duduk dan melihat lihat menu yang tertera di balik buku menu. Syifa langsung memesan ayam bakar lengkap dengan nasi dan sambelnya, untuk minumnya Syifa meminta sebotol air mineral dan satu buah kelapa muda, Imam pun memesan makanan yang sama persis.
"Kok sama, memangnya selera kita sama gitu," tanya Syifa kepada Imam yang malah memesan makanan yang sama dengan dirinya.
"Iya sama kok, ya lebih praktis aja," jawab Imam sambil tersenyum dan mencuri pandang ke arah Syifa.
"Oh gitu ya," tanya Syifa dengan sedikit tersenyum.
"Hmmm...
Imam terus saja menatap Syifa yang duduk di sebelahnya, kapan lagi bisa sedekat ini dengan orang yang di kaguminya,
"Heeei, kenapa menatapku seperti itu," Syifa menyadari bahwa seseorang yang berada di sebelahnya sedang menatapnya.
"Eng...engga kok, aku liatin tuuh orang tuuh, siapa yang lihatin kamu," Imam gelagapan seperti maling yang tertangkap basah,
"Siapaaa?!!
Syifa menoleh ke arah yang Imam tuduhkan, tapi rasanya dia menemukan hal istimewa semuanya hanya biasa aja, para pengunjung yang memang sedang ramai untuk mencari makan dan beristirahat seperti mereka.
"Sudahlah nggak penting juga kok," Imam menggaruk kepalanya yang tak gatal, bingung harus menjelaskan nya. nggak mungkin dirinya mengaku kalau sedang menatap Syifa.
"Oooh," Syifa tak terlalu peduli dengan apa yang Imam lihat, kini dirinya teringat Siti adiknya,
__ADS_1
"Kenapa??!
"Kok jadi murung gitu?!!
Imam melihat ekspresi wajah Syifa yang tadinya ceria tampak sedih, sepertinya ada yang sedang mengganggu pikirannya saat ini.
"Ti... tidak apa-apa kok," Syifa mencoba menyembunyikan perasaan nya dengan terus tersenyum kepada Imam, dia tidak ingin melibatkan Imam lebih jauh lagi.
"Apa kamu masih menganggap ku orang asing?!" tanya Imam kepada Syifa, Syifa ternyata masih belum mempercayai dirinya.
"Bu...bukan begitu, hanya saja ini bukan masalah mu jadi buat apa kamu mengetahui masalah ku," jawab Syifa dengan sedikit tegas, buatnya di tolong Imam dan membantu nya pergi ke kota sudah cukup merepotkan jangan sampai Imam juga merasa lebih di repotkan lagi dengan mengetahui alasan yang sebenarnya.
"Apa maksudmu, sebagai teman tidak ada rahasia di antara kita, apapun masalahmu itu akan menjadi masalahku juga, mengerti," Imam mencoba untuk membujuk Syifa agar mau membagi masalah yang dihadapi nya dengan dirinya.
"Tapi tidak semudah itu, masalah ku terlalu berat dan...
"Maka dari itu berbagilah, biarkan aku membantu meringankan beban di pundak mu Syifa," Imam tak tega melihat Syifa yang menangis di sela tidurnya, tampak dirinya mengigau dan terus menyebut nama Siti,
Syifa terdiam dan bingung, apa Imam bisa di percaya, apa dia bisa menjadi teman yang baik, padahal Syifa memang ingin sekali membagi masalah yang tidak bisa dia tanggung sendiri.
"Percayalah, aku akan menjadi teman yang baik," Imam berusaha meyakinkan Syifa bahwa dirinya bisa di andalkan.
"A...aku teringat adikku, aku selalu memikirkan dia," Syifa mulai menceritakan kenapa dia murung.
"Siti...
Syifa tersentak kaget, bagaimana Imam bisa mengetahui nama adiknya, padahal Syifa belum pernah membahas tentang adiknya.
"Dari mana kamu tahu nama adikku,"tanya Syifa penuh selidik, jangan sampai dia bercerita sama orang yang salah.
"Dariiii kamuuu," Imam tersenyum, melihat Syifa yang semakin bingung saja.
"Aku belum pernah mengatakan apapun," bela Syifa, sambil terus berpikir kapan mengatakan nya kepada Imam.
"semalam kamu mengingau dan menangis sambil tidur, dan kamu selalu menyebut nama adikmu," Jelas Imam agar Syifa tak kebingungan lagi.
"Iyakah," Syifa tidak menyadari sama sekali tentang hal itu. Syifa hanya bermimpi dan dalam mimpinya, dia sedang berada di rumah sakit, Syifa melewati lorong yang panjang dan berhenti di sebuah kamar.
Ada seseorang di kamar itu, seseorang yang sedang terbaring lemah tak berdaya, Syifa mencoba mendekati kamar itu, entah kenapa di dalam kamar itu tampak berisik dengan Isak tangis, membuat nya semakin penasaran saja.
"Siapa dia, kenapa semua orang menangis?!
Syifa mendekat perlahan, seseorang itu sudah tertutup kain putih sampai ke wajahnya.
Saat Syifa sudah di dalam, semua orang yang sedang menangis pun kini menoleh ke arahnya,
Bu Nilam, Aryo, kang Supri, Pak Heru, bahkan ayahnya sendiri juga ada di dalam ruangan yang sempit ini.
__ADS_1
"Di mana Siti???
Syifa tidak melihat adiknya, kini matanya terfokus kepada ranjang yang terdapat seseorang yang sudah di tutupi kain putih,
Syifa tidak memperdulikan orang-orang di sekitarnya yang sedang menatap dirinya.
Syifa terus bergerak perlahan, kini dirinya sudah sampai di depan ranjang, tangannya sudah siap membuka kain penutup wajah orang yang sedang terbaring.
"Tidaaak...
Syifa berlari keluar ruangan itu dengan menangis,
"Tidaaak... tidaaak mungkin...
Syifa terus berlari dan berlari sampai dia tersadar oleh seseorang yang menepuk bahunya.
Syifa menoleh di lihatnya Bu Nilam yang sedang menangis dan menatap nya.
"Ini semua gara gara kamu, sekarang adikmu sudah pergi, hiks...hiks...
"Tidaaak...tidak mungkin...
Syifa malah terus berlari dan menangis sejadi-jadinya,
"Apa yang terjadi sebenarnya, mengapa mereka menyalahkan ku," Syifa mencoba berpikir lebih jauh lagi.
Belum sempat Syifa berpikir kini semua orang yang dia kenal sudah berada di hadapan nya begitu pun dengan Ayah nya pak Ilham.
"Ini semua salahmu...
"Ya...ini semua salahmu...
Syifa menutup kedua telinganya namun kata kata itu terus terngiang di telinganya.
"Tidaaak......
"Maafin kakak deee, hiks...hiks...
"Heeei, tenanglah... aku bersamamu...
Syifa melihat ke arah lawan bicaranya kini dia sudah berada lagi di restauran dan banyak orang yang melihat ke arah nya karena mendengar teriakannya.
Imam yang merasa tidak nyaman dengan orang orang yang sedang melihat ke arah Syifa, akhirnya memutuskan untuk pergi dari tempat itu, dia pun membungkus pesanan nya.
"Kita pergi dari sini, kita cari adikmu, ok..," Imam pun membantu Syifa berdiri dan membawanya pergi...
Happy reading 😍
__ADS_1