
Happy reading 😍
"Ya ampun neeeeng," Bu Nilam cengir sendiri melihat tingkah anaknya itu.
Sebelum mengetik pintu kamar mandi, Aryo sudah membuka pintu dan tersenyum kepada semuanya lalu berlalu begitu saja. melihat Aryo sudah keluar, Siti pun bergegas masuk ke dalam dan memeriksa barang pribadi nya yang ternyata masih utuh tanpa ada yang hilang satu pun.
"Untung saja semua masih ada, dasar Aryo bikin jantungan saja," gerutunya sambil membereskan barang milik nya.
Malam ini akan di adakan pesta rakyat khusus di rumah Bu Nilam karena tidak hanya keluarga besar tapi semua rakyat desa pun bergabung dalam acara malam ini. karena Pak Harun sudah menyiapkan berbagai kebutuhan untuk malam ini, Aji dan para bodyguard di kerahkan untuk membantu membeli bahan di kota dalam jumlah besar.
"Buu, apa ini tidak berlebihan," ucap Siti saat melihat banyak sekali yang harus di kerjakan.
"Tenang saja, semua sudah di urus oleh Calon Ayah mertuamu," ucap Bu Nilam dengan berbisik.
"Hah, ini bukan acara kawinan kan Bu," tanya Siti yang kini sedikit gugup,
"Hmmm, mungkin ini hanya syukuran saja neng," jawab Bu Nilam kembali.
"Syukuran se Desa kah," Siti melihat berbagai makanan sedang di olah oleh warga di luar rumah nya, halaman sangat luas karena rumahnya berada di kaki bukit, hingga bisa mengundang banyak orang dan tentu saja tetua Desa tersebut.
"Iya, ini syukuran pernikahan kakak mu juga," ucap Bu Nilam dengan memeluk Siti.
Mereka kemana ya," tanya Siti sambil Celingak-celinguk ke sana kemari.
"Siapa yang kamu cari," tanya Bu Nilam.
"Neeeeeeng....," seseorang memanggil Siti.
"Abaaaaah," Siti memeluk kang Supri yang sudah seperti ayahnya sendiri.
"Sono(kangen) pisan Abah teh neng," ucap kang Supri dengan menitikkan air mata bahagia karena masih bisa berjumpa dengan anak kesayangan nya.
"Sami atuh Abah, Siti oge sono pisan," ucapnya.
"Abah teh bungah pisan, ninggalin teteh Syifa Atos nikah," ucap kang Supri dengan tersenyum kepada Siti.
"Enya Alhamdulillah si teteh tos gaduh caroge (suami)," ucap Siti yang tidak kalah senangnya.
"Lah terus neng iraha atuh nyusul si teteh kawin?! tanya kang Supri menggoda Siti yang langsung terlihat malu dengan semua merah di pipinya.
"Secepatnya atuh Abah," ujar Bu Nilam yang sudah berada di samping mereka.
__ADS_1
"Ih, ibu mah... nanti lah Siti mah," bantah Siti yang seolah tidak ingin membahas tentang dirinya.
"Ya udah, ayo kita susul calon menantu ibu," ujar ibu Nilam,
"Hmmm, ibuuuuu...," Siti memanyunkan bibirnya, karena dari tadi semua orang begitu senang menggoda nya.
"Ayooo, kita cari dulu sebentar lagi acara akan di mulai," Ibu Nilam pun menarik tangan Siti dan mulai mencari keberadaan Aryo.
Sementara itu...
"Booos, kenapa ngelamun terus sih," Aji sang asisten menepuk pundak Aryo dengan pelan, sepertinya bosnya kena sambet ini, dari tadi senyum sendiri.
"Ih loe mah, ganggu aja deh," gerutu nya saat apa yang dia khayalkan langsung hilang dalam sekejap.
"Ya lagian nih bos, ngapain sih cuma lamunan aja, jadiin kenyataan donk bos," ide Aji dengan menepuk pundak Aryo sekali lagi.
"Berani ya loe ma bos loe," Aryo merasa tidak senang dengan tindakan Aji yang seenaknya memegang bagian tubuhnya.
"Eh, sorry bos, hehe," Aji mengangkat kedua tangannya tanda dia menyerah dan tidak bermaksud membuat marah bosnya.
"Mana kalung yang pernah gue kasih untung ayang gue," pinta Aryo kepada Aji.
"Gue malam ini mau ngelamar dia Ji, menurut loe apa kali ini dia mau nerima cinta gue ya," Aryo sedikit tidak yakin, bahwa kali ini Siti mau menerima dirinya dan lamaran nya.
"Loh apaan sih bos, ini bukan bos yang gue kenal," ujar Aji saat melihat Aryo yang tidak bersemangat.
"Bos yang gue kenal itu, orang yang selalu percaya diri dan tidak akan pernah menyerah mendapatkan sesuatu yang berharga," ujar Aji memberikan semangat kepada Aryo.
"Gue takut aja kalau ternyata hubungan kita tuh gak pernah serius," ucap Aryo dengan nada hampir tidak bisa di dengar Aji.
"Weh, maju terus pantang mundur bos," Aji terus memberikan semangat. baginya bosnya sudah seperti saudara nya sendiri.
"Semoga gue berhasil ya, loe gak lupa kan sama gaun yang gue pesen, sama baju gue juga," tanya Aryo kepada Aji yang sudah mendapatkan tugas khusus,
"Iya donk, udah beres semua kok dan semua udah ada di tangan yang tepat," jawab Aji dengan tersenyum.
"Tangan yang tepat??? Aryo tidak memahami maksud dari ucapan Aji.
"Ada deh bos, pokoknya have fun malam ini," ujar Aji.
"Ok, gue balik dulu ya, takut di cariin," Aryo pun kembali ke acara yang akan di adakan sebentar lagi.
__ADS_1
"Akhirnya ada juga yang bisa jinakin bos keras kepala itu," batin Aji.
Di dalam kamar Siti, Bu Nilam tampak mengeluarkan sebuah bingkisan yang di lapisi oleh bahan mengkilap keemasan, ada surat cinta di atasnya, dan juga sekuntum mawar merah merekah yang mengeluarkan wangi yang semerbak memenuhi ruangan itu.
"Ini apa loh buu," tanya Siti yang terlihat heran dan begitu kagum, karena bingkisan itu begitu cantik di matanya.
"Ini tentu saja dari calon suamimu neng, ibu harap kamu mau memakainya ya malam ini," ucap bu Nilam dengan tersenyum dan sedikit was-was, takut bila Siti tidak mau menerima nya.
"Aryo maksud ibu," ujar nya sambil melihat isi surat yang ada di dalam bingkisan itu.
Siti pun mengambil secarik kertas dan mulai membacanya.
*Untuk bidadari yang belum tergapai*
"Hai permata hatiku...
"Kukirimkan sepasang sayap untuk mu...
"Agar dirimu dan diriku bisa bersatu...
"Sampai batas usiaku...
"Hanya kamu yang ada di hatiku...
I 💝 U. (ARYO).
DEG....
Siti tidak menduga kalau Aryo menyiapkan semua ini untuk nya, dia tersenyum senang, apa kini dia benar-benar harus melepas masa lajangnya dan menikah dengan Aryo. Siti menyimpan kembali surat itu, lalu mulai membuka bingkisan yang ada di tangannya.
Sebuah gaun bermotif bunga mawar, sungguh indah di pandang mata, bukan hanya Siti yang terkagum, Bu Nilam tak kalah kagetnya dengan pesona gaun yang terlihat bersinar terkena cahaya.
*Ilustrasi gaunnya ya,*
"Lihat lah, Aryo begitu menyayangi kamu neng," ucap bu Nilam dengan memeluk Siti dan ikut merasakan kebahagiaan putrinya yang sebentar lagi akan meninggalkan nya dan menjadi seorang Istri.
"Iya Bu, Semoga saja ini memang pilihan yang tepat buat aku ya Bu," ucap Siti yang tanpa terasa menangis di pelukan sang ibu.
Happy reading 😍
__ADS_1