
Happy reading 😍
Saat ini ada dua pria yang sedang duduk di teras menikmati secangkir kopi panas, cocok untuk udara di Villa yang mulai dingin.
Mereka mencintai dan menyayangi perempuan yang sama hanya saja berbeda peran.
Pak Ilham menatap Alex dan tersenyum, sebentar lagi pria yang sedang duduk bersama nya akan merebut putri yang sudah dia jaga sejak bayi.
Sekarang bayi kecil yang mungil sudah bermetamorfosa menjadi bidadari tak bersayap dan Tuhan sudah mengirimkan malaikat penjaga untuk menjaga hatinya.
Sebentar lagi pria yang berada di hadapannya akan menjadi bagian dari keluarga besar pak Ilham.
"Alex... saya ingin bertanya sesuatu," ucap pak Ilham memulai percakapan nya dengan calon menantunya itu.
"Silahkan pah, aku akan menjawab semua pertanyaan papa," jawab Alex sambil berpikir keras apa yang akan di tanyakan oleh calon mertuanya kepadanya.
"Apa kamu benar-benar mencintai anakku Syifa," pertanyaan pertama sudah di lontarkan oleh pak Ilham kepada Alex.
"Tentu saja pah, apa papa tidak percaya kepada ku?! Jawab Alex dengan penuh keyakinan,
Sepertinya semua orang tidak percaya kepadanya bahwa dia sungguh-sungguh mencintai Syifa meski awalnya memang niatnya tidak baik terhadap Syifa. Dia bertekad akan membuktikan semuanya secara perlahan seiring dengan berjalannya waktu.
"Saya hanya tidak ingin melihat anak saya kecewa dan sakit hati nantinya, saya paling tidak bisa melihat air matanya mengalir," jelas pak Ilham kepada Alex, karena Syifa dari kecil hanya mempunyai seorang Ayah saja.
"Pah, percayalah aku akan menjaga Syifa sebaik-baiknya, bila perlu aku rela menukar nyawaku bila itu memang di perlukan," ucap Alex dengan mimik wajah yang serius, semoga saja ayahnya Syifa bisa mempercayai nya.
"Kaaak Syifaaaa, buka pintunya kaaak," teriak Siti saat mencoba mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban dari dalam, Siti mencoba mengetuk lebih keras, hasilnya sama saja.
Melihat ada teriakan, semua orang yang sedang sibuk untuk mempersiapkan acara nanti malam, terpaksa menghampiri Siti yang sudah terlihat panik itu.
"Ada apa sih neng," kang Supri bertanya lebih dulu, sebelum yang lainnya bertanya hal yang sama.
"Iniii Abaah, kak Syifaaaa gak keluar kamar, dan pintunya pun di kunci dari dalam, sSiti udah panggil kak Syifa tapiiii....
Sebelum Siti meneruskan kata-katanya Alex sudah maju ke depan pintu dan melakukan hal yang sama,
Took...took...took
"Syifaaaa...
Tak ada jawaban, semua hening untuk bisa mendengar suara dari dalam kamar, namun percuma tak ada suara balasan dari dalam,
"Kita dobrak saja pintunya," Alex meminta Izin kepada semua orang untuk melakukannya terutama kepada pak Ilham selaku ayahnya Syifa.
"Iya nak silahkan," Pak Ilham yang ikut panik pun mengizinkan Alex untuk melakukan hal itu.
Semua orang pun mundur agar tidak terbentur badan Alex nanti nya.
Bruuuk...
__ADS_1
Satu kali percobaan belum bisa berhasil membuka pintu yang memang memakai bahan terbaik, dan juga begitu tebal membuat nya tak bergeser sedikit pun,
Alex merasakan pergelangan tangannya yang sakit karena terbentur dengan badan pintu yang keras, namun itu tak membuat nya menghentikan usahanya,
Dua kali percobaan, kali ini Aryo dan kang Supri ikut membantu, Alex tersenyum ternyata Aryo mau membantu nya saat ini.
BRAAAK
Akhirnya pintu pun dapat terbuka dengan sempurna, semua orang yang melihat nya langsung berhamburan memasuki kamar itu.
Namun mereka tak menemukan sosok yang sedang mereka cari dan khawatir kan.
"Kemana kak Syifa?!
Siti langsung mencari ke segala arah dan penjuru kamar,
"Kak Syifaaaa...
Siti mengetuk pintu kamar mandi, mungkin saja kakaknya ada di dalam kamar mandi.
"Kaaaak kamu di mana?!!
"Buuu... kak Syifa kemana, hiks hiks," Siti memeluk Ibu Nilam dan menangis sejadi-jadinya.
"Tenaaang duluuu nak," Bu Nilam mengelus punggung Siti agar anaknya tidak berpikir berlebihan.
Aryo melihat secarik kertas yang tertutupi piring bekas sandwich, bekas sarapan tadi pagi.
"Apa ini?!
Siti pun mengambil secarik kertas itu, dan membuka nya dengan tangan yang gemetar.
Dear Siti adikku
Kakak senang banget bisa ketemu lagi sama kamu dek, akhirnya adek kakak sudah menemukan pangeran ya, kakak turut bahagia semoga kalian bisa menempuh hidup baru dan bahagia selamanya.
Dek...
Kakak harus pergi sekarang, maaf bila kakak harus pergi dengan cara ini. karena Kakak tidak sanggup untuk mengatakan kebenaran ini.
Dek....
Kakak baik-baik saja kok, jangan menangis ya.
Satu hal lagi ya,
Tolong jaga papa ya,
Jangan mencari kakak ya,
__ADS_1
Maafkan Syifa pah,
Syifa sayang kalian.
"Kaaak Syifaaaa..... hiks...
Siti langsung berlari menuju ke luar Villa untuk mencari Syifa kakaknya, dia tak peduli siapapun lagi yang terpenting saat ini adalah keberadaan kakaknya, baru saja bahagia bisa berjumpa dengannya sekarang harus bersedih lagi.
"Kaaak Syifaaaa,
"Kaaak Syifaaaa...
Siti terus menjelajahi seluruh jalan yang dia telusuri,
"Biar Abah yang mengejar nya, yang lain menunggu di sini saja," kang Supri pun mengejar Siti bersama Bu Nilam,
Buuuuuu
Aryo meninju muka Alex dengan keras, membuat Alex tersungkur ke belakang dan terjatuh.
"Katakan dimana Syifa...
Aryo langsung bertanya tentang Syifa, Aryo yakin ini semua ada hubungannya dengan Alex.
Alex menyeka darah segar yang mengalir di sudut bibirnya yang pecah akibat pukulan Aryo.
"Akuuu tidak tahu," ucap Alex yang berusaha berdiri kembali dan menatap Aryo sinis.
"Apa yang sudah kau perbuat pada Syifa Haah..
Aryo semakin terbakar emosi melihat Alex yang tak mengatakan apapun tentang Syifa. Pak Ilham menahan Aryo dan menatap Alex dengan penuh selidik, baru saja dia ingin mempercayai seorang Alex, namun kini hatinya kembali meragukan kebenaran tentang Alex yang mencintai Syifa.
"Biar saya yang bicara dengan Alex, kejarlah Siti dia lebih membutuhkan kamu saat ini," pak Ilham mengingat kan Aryo, bahwa Siti lebih membutuhkan diri nya saat ini.
"Baik lah," Aryo menatap Alex dengan penuh dendam sebelum dirinya berlari untuk mengejar calon tunangannya yang sedang mencari keberadaan Syifa, kakaknya yang sangat di cintainya.
Kini pak Ilham sudah berhadapan dengan Alex, Alex tak berani menatap mata calon mertuanya itu, Alex tahu dia adalah penyebab Syifa menghilang.
"Apa yang bisa kamu jelaskan sekarang," Pak Ilham tetap tenang dan mengontrol emosi nya.
"Akuuu minta maaf pah," Alex akhirnya mau tidak mau harus menjelaskan semuanya agar tentang semua yang sudah terjadi.
"Apa yang kamu lakukan kepada Syifa, apa kamu sudaaah...," pak Ilham tak meneruskan kata-katanya, dadanya terasa sesak saat ini bila apa yang ada di otaknya adalah benar terjadi.
"Yaaa... papa benar...
"A.. akuuu... melakukan nya..
PLAAAAK
__ADS_1
Sebuah tamparan keras mendarat mulus di pipi Alex...
Happy reading 😍