
Happy reading 😍
"Hmmm, sudah bisa kompak ya kalian," goda pak Ilham.
"Kompak apaan sih," Syifa tersipu malu karena papanya malah menggoda dirinya.
"Ya sudah makan dulu, karena setelah ini, ada yang ingin papa bahas," ucap pak Ilham dengan mimik muka serius.
"Bahas apa???
"Tentu saja bahas tentang per...
"Oiiiiiii, tungguin Napa... gue kan mau makan bersama juga," ucap Aryo dengan membawa beberapa buah jagung bakar manis yang sudah matang dan siap di nikmati.
Pak Ilham pun tidak jadi membahas hal penting bagi putrinya dan calon menantunya itu karena keponakan nya sudah datang dan bergabung dengannya, kini semuanya menikmati menikmati apa yang mereka pesan diselingi canda gurau.
"Syifa kau masih bisa tertawa bahagia ya, seharusnya gue langsung mengakhiri hidup loe saat itu," batin Dewi yang kini merasa semakin tidak menyukai Syifa saja.
"Sudah tenang saja, bukankah kamu memiliki kartu As untuk menghancurkan kebahagiaan Syifa dan keluarganya," bisik mommy Melanie yang seakan tahu apa isi pikiran Dewi saat ini.
"Ya mommy benar, sebaiknya kita tetap di sini dan mencari celah untuk memberikan Syifa hadiah yang tidak akan terlupakan," Dewi masih saja menatap meja di depannya, tentu saja dengan memakai masker dan kaca mata hitam andalan nya.
"Kak ke sana yuuk," bisik Siti kepada Syifa sambil melihat bukit nan indah di belakang Syifa, bukit yang dirindukan oleh Siti, bukit di mana dirinya dan Syifa membuat rumah tersembunyi dan hanya mereka yang tahu.
"Wah kayaknya seru dek," bisik Syifa membalas bisikan adiknya.
"Tapi jangan ajak mereka, kita berdua saja ya," lanjut Siti, rasanya kini waktunya bersama kakaknya sangatlah sedikit, jarang ada waktu untuk bisa berjalan hanya berdua saja, seperti saat dirinya dan kakaknya masih tidur tinggal di desa.
"Apa yang kalian lakukan," selidik Aryo saat melihat Siti dan Syifa sedang berbisik,
"Ehmmmm, enggak apa-apa kok," terang Syifa kepada Aryo yang sepertinya sedikit kepo tentang rencana yang sudah Syifa susun bersama adiknya.
Ting...
__ADS_1
Pesan masuk ke handphone pak Ilham, sepertinya itu berasal dari kolega pak Ilham di kantor nya. pak Ilham pun melihat pesan yang dimana isi pesan nya pak Ilham harus menelpon orang itu sekarang juga.
"Anak-anak... papa ada telpon penting, papa akan akan dulu," Pak Ilham pun dengan segera meninggalkan meja itu dan masih sedikit menjauh dari keramaian.
"Iya pah..."Jawab mereka dengan serempak.
"Yooo... aku masih lapar," ucap Siti sambil memegang perutnya. semoga saja Aryo percaya dengan perkataan nya dan bisa memesan makanan kembali.
"Yakin yang??? tanya Aryo dengan sedikit merasa heran saja, dia melihat kalau Siti sudah menghabiskan Dau jagung bakar manis dua batang .
"Klo gak mau ya udah, aku ngambek," Siti pura-pura marah kepada Aryo.
"Issh ancaman mu sadiiiiis," gerutu Aryo dengan melangkah kan kakinya untuk mencari sesuatu yang bisa menolong Syifa.
"Cepat ihhhh," perintah Siti dengan menarik tangan Aryi agar memenuhi keinginan Siti.
"Iyaaa tuan putri," Aryo pun mau tidak mau harus rela mengantri dengan pelanggan yang lainnya.
Kini tinggal Imam yang menjadi perhatian keduanya, Siti melihat ke arah Syifa yang sepertinya tidak akan berani menyuruh Imam untuk melakukan hal yang sama. terlihat dari mimik wajahnya yang terlihat canggung, namun adiknya menatapnya seolah berkata, kakak pasti bisa, Syifa pun memberanikan diri nya untuk meminta sesuatu seperti yang adiknya lakukan.
"Mau nambah juga," tanya Imam yang sebenarnya tanpa Syifa minta pun, dia akan memberikan nya, apapun itu.
"Hmmmm, iyaaa," Syifa tersenyum kecil ketika Imam tersenyum dan sepertinya akan menuruti keinginan nya.
"Ya sudah, aku nyusul Aryo dulu," Imam bergegas menuju ke tempat di mana Aryo berada dan ikut mengantri seperti dirinya. namun Imam merasa ada sesuatu yang ingin kedua gadis itu lakukan tanpa sepengetahuan para pria,
"Ayooo kak, mumpung semuanya sedang sibuk," Siti lalu menarik tangan Syifa dan pergi dari tempat itu dengan hati-hati.
"Ok," Syifa pun mengikuti langkah adiknya, meski sebenarnya dia merasa ini bukanlah ide yang bagus, seharusnya dirinya mengatakan rencananya ini kepada semua orang agar mereka tidak pusing mencari keduanya.
"Bagus, akhirnya ada celah buat kita mom," Dewi tersenyum licik, kini Syifa tanpa pengawasan, dia pun berencana mengikuti langkah kedua nya bersama mommy Melanie.
"Apa rencana mu selanjutnya," tanya mommy Melanie kepada Dewi yang sepertinya sudah merencanakan sesuatu.
__ADS_1
"Rencananya adalah memisahkan adil kakak itu mom," ucap Dewi dan mommy Melanie yang kini terus mengikuti langkah Siti dan Syifa yang terus berjalan menuju bukit, melepas kenangan keduanya,
"Bagaimana caranya???" tanya mommy Melanie, karena sepertinya cukup sulit memisahkan keduanya.
"Mommy yang akan melakukan nya," terang Dewi yang mulai menjalankan rencana nya.
"Mommy???" tanya nya sekali lagi, mommy bertanya dalam hatinya, apa dirinya bisa melakukan tugas yang di berikan Dewi kali ini.
"Ya, dekati Siti dan berpura-pura lah meminta tolong nanti pada saat kita berada di atas bukit," ucap Dewi kepada mommy Melanie yang hanya mengangguk kan kepalanya tanda mengerti.
"Lalu bagaimana dengan Syifa," tanya mommy Melanie, dia tahu target utama anaknya adalah Syifa.
"Tenang saja mom, mommy urus saja bagian mommy, yang lainnya gue yang urus," terang Dewi dengan tersenyum kecil. dia yakin kali ini pasti bisa melenyapkan Syifa dengan mudah tanpa pengawalan.
"Deeeek, balik yuuuk" pinta Syifa kepada adiknya yang masih Terus saja melangkah menuju tempat tujuannya.
"Lho kok balik sih kak, itu bukitnya udah dekat loh, hanya sebentar saja kok kak, aku janji," pinta Siti sambil tersenyum kepada kakaknya.
"Tapi dek...," Sebenarnya Syifa hanya merasa kalau feeling-nya mengatakan akan ada hal buruk bila dia mengikuti keinginan adiknya itu. namun rasa sayang terhadap adiknya menepis firasat apapun. Syifa masih saja menuruti keinginan Siti.
"Yeeey sampai kak," ucap Siti dengan senang, kini dirinya dan Syifa sudah berada di atas bukit, seperti dulu.
Syifa tersenyum melihat adiknya yang begitu senang, Syifa pun menikmati pemandangan alam yang masih sangat asri dan begitu menyejukkan meski udara nya terasa begitu dingin.
"Tolooong... toooloong...
Syifa dan Siti terkejut mendengar ada seseorang yang meminta tolong, apa yang sebenarnya terjadi dengan orang itu.
"Kak, ada orang ternyata di bukit ini, dan dia meminta tolong," ucap Siti kepada Syifa.
"Iya dek, tapi di mana ya orang nya," Syifa berusaha melihat ke segala arah, namun dirinya tidak melihat siapa pun selain dirinya dan Siti Adiknya.
"Gini aja, aku yang mencari orang itu, kakak jangan kemana mana ya," Siti pergi dan berusaha untuk mencari orang yang meminta tolong tadi dan meninggalkan Syifa sendirian di atas bukit sana.
__ADS_1
"Baguuus, ini kesempatan ku...
Happy reading 😍