Inilah Aku

Inilah Aku
BAB.90


__ADS_3

Happy reading 😍


"Sayang???


"Emang kenapa???


"Apa ada yang manggil kamu sayang selain akuu??!


"Ti...tidak ada...


Alex tersenyum melihat tingkah istrinya yang kini sedang merajuk, baru kali ini dia begitu gemas dengan Syifanya, Jangankan selingkuh,Alex tidak ada niat sedikit pun melirik wanita lain selain istrinya.


"Jalan yuuk," Alex meraih pundak istrinya Lalu mengecup kening istrinya dengan lembut.


"Kemana???


"Kemana aja, yang penting kamu happy," bujuknya, dia ingin istrinya terus ceria.


"Ya udah kita ke mini market aja ya, belanja kebutuhan dan juga beberapa sayuran buat aku masak nanti," ucap Syifa dengan tersenyum.


"Baiklah tuan putri," Alex menggandeng tangan istrinya. mereka pun pergi ke mini market yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal Alex.


Syifa bertemu dengan ibu mertua nya saat berbelanja di mini market, sungguh sangat kebetulan, mereka pun berjalan berdampingan sampai canda gurau, sampai Alex melihat kebersamaan mereka.


"Ayo pulang," Alex menarik tangan Syifa ketika dirinya masih berbicara dengan ibu mertuanya.


"Loh kok pulang sih yang," tanya Syifa yang merasa tidak enak hati kepada ibu mertua nya.


"Aku lapar," jawab Alex, Alex tidak ingin Syifa terlalu dekat dengan ibu sambungnya itu.


Tiba-tiba Handphone Alex berbunyi tanda ada telpon masuk. di lihatnya siapa yang sudah mengganggu nya, tertera nama pak Herdi yang tidak lain adalah Ayah nya.


Alex mematikan handphone nya dengan segera membuat istrinya semakin penasaran dengan tingkah lakunya.


"Siapa??? tanya Syifa dengan ekspresi penasaran.


"Bokap...


"Kenapa di matikan??? tanya Syifa sekali lagi.


"Gak penting sayang," jawab Alex yang langsung memutar kunci mobil dan menyalakan mesinnya.

__ADS_1


Dengan cepat Syifa mengambil kunci mobil nya, membuat Alex kini menatap ke arah nya. Syifa tersenyum dan malah turun dari mobil. mau tidak mau Alex mengikuti langkah Syifa. entah apa yang akan Syifa lakukan.


"Sayaang, sini kuncinya," Alex mencoba meminta kunci yang ada di tangan Syifa.


"Tidak, sebelum kita bicara serius," ucap Syifa dengan menatap Alex.


"Apa sih yang mau kita bahas?! nanti saja di rumah ya," ucap Alex yang mencoba meraih kunci, namun dengan sigap Syifa menyembunyikan nya di belakang tubuhnya.


"Tentang ibu....


"Dia bukan ibuku...," Alex baru saja mau melangkah menjauh namun Syifa memeluk tubuh nya dari belakang.


"Kalau begitu, izinkan aku memiliki ibuu," ucapnya, Syifa ingin merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang ibu. air matanya pun lolos begitu saja di kala dia mengingat ibunya yang sudah meninggal.


"Ya...


Alex tahu perasaan Syifa, meski dirinya tidak menyukai Ibu sambung nya, bukan berarti orang lain pun harus tidak menyukainya juga.


Apalagi saat Alex menyaksikan betapa bahagianya dirinya tertawa dengan lepas saat bersama dengan ibu sambungnya.


"Iya???


"Benarkah?!


"Iya boleh, tapi jangan paksa aku untuk menyukainya juga," ucapnya, kini Alex sudah berhadapan dengan istrinya itu.


"Iya sayang," Syifa tersenyum bahagia, kini dia merasa memiliki keluarga yang sudah lengkap. Kini dirinya memiliki papa dan seorang ibu, dan juga suami dan juga mertuanya yang menjadi bagian dari hidup nya kini.


Siti berserta keluarga kini sedang bersiap-siap untuk pulang ke desa, Siti kangen sama suasana rumahnya dan kamarnya. tadinya Aryo tidak mengizinkannya namun karena tuan putri merajuk dan diam seribu bahasa, Lagi lagi Aryo mengalah dan menuruti keinginan sang tuan putri.


Setelah menempuh jarak yang cukup jauh dan memakan waktu seharian, akhirnya Siti dan keluarga besar tiba di desa tercinta. saat mobil rombongan memasuki wilayah perbatasan, beberapa orang menghalangi perjalanan mereka dengan berhenti di tengah jalan dan menutup jalan tersebut.


"Ada apa ini," ucap Siti saat mobilnya berhenti secara mendadak.


"Jangan turun,biar aku saja yang melihatnya," ucap Aryo yang menahan Siti agar tidak membuka pintu mobil.


Ada dua mobil di dalam rombongan, satu lagi tentunya pak Heru dan Bu Nilam, mereka pun turun saat melihat ada orang yang menghadang perjalanan mereka.


"Permisi... ini kenapa jalanan di tutup seperti ini," ucap pak Heru kepada orang yang menjaga di perbatasan itu. tubuhnya yang tinggi kekar, melihat kan otot-otot di tangannya. dia melihat ke arah pak Heru lalu menghampiri nya.


Tanpa aba-aba lelaki itu melayang kan tangannya ke arah pak Heru namun, ada yang dengan cepat mencekalnya.

__ADS_1


"Ciiih... Hadapi gue," Aryo melayangkan pukulan ke arah perut si lelaki bertubuh kekar itu dengan keras, dia begitu emosi saat ada yang akan memukul papa nya di hadapannya.


Dengan sekali pukulan, dia pun tersungkur dan terjatuh... namun sepertinya ada yang membuat nya tersenyum, bukan lagi rasa sakit yang dia rasakan.


"Serahkan mobil dan semuanya atau dia MATI...


Betapa terkejutnya Aryo saat mengetahui Siti sudah berada di tangan mereka dengan tangan terikat dan pisau yang sudah berada di leher nya yang sewaktu waktu Isa mengiris kulitnya.


"Lepaskan Dia," Aryo mulai melemah, dia tidak ingin mereka nekat dan melukai sang kekasih.


"Serahkan kunci mobil loe," pintanya dengan berteriak.


TAAAK


Di luar dugaan Siti menginjak kaki sang penjahat, membuat nya lengah dan melepaskan pisaunya, dia pun kesakitan dan berteriak, di saat tersadar, sudah ada sesuatu yang menempel di kepalanya.


"Sini kuncinya, kalau tidak ku ledakkan kepala mu," ucap Siti yang berusaha menakuti penjahat yang tadi menangkap dirinya.


Aryo cukup terkejut dengan apa yang terjadi, bahkan Aryo tidak mengetahui kalau kekasihnya memiliki senjata itu. Dan sejak kapan???


Sedangkan para penjahat yang lain sudah lari terbirit-birit saat mengetahui Siti sudah mengeluarkan sebuah pistol. mereka tidak ingin mati sia-sia.


Kunci pun berhasil Siti rebut dengan mudah, namun pistol masih tetap menempel di kepala sang penjahat yang sudah berkeringat dingin. Siti tersenyum devil, dia menarik pelatuknya.


DOOOR...


Suara tembakan menggema cukup keras karena mereka berada di daerah yang sangat sunyi. penjahat itu menatap dirinya dengan gemetar, dia masih hidup bahkan tidak ada luka sedikitpun.


Siti menembakkan peluru nya ke udara dengan tersenyum, setelah itu dia mengarahkan lagi ke sang penjahat yang masih diam terpaku melihat aksinya.


"Larilah sebelum aku berubah pikiran...


Penjahat itu langsung berlari tanpa arah, meski terjatuh dan bangkit lagi,


"Ini bukan mainan tuan putri," Aryo mengambil senjata api itu, karena memang masih ada beberapa peluru yang masih aktif di dalam nya.


"Laaaah, Pinjam doank aku tuuuh," ujarnya saat melihat Aryo sudah mengambilnya, padahal dirinya masih belum puas meminjam nya.


"Sejak kapan kamu memakai senjata api," Aryo bertanya dengan serius, karena tidak semua orang berbakat dalam menggunakan nya. tapi Siti tadi seperti nya sudah terbiasa dengan senjata itu dan tahu cara menggunakan nya.


"Barusan hehe...

__ADS_1


Happy reading 😍


__ADS_2