
Happy reading 😍
Seeorang pria sudah berdiri dan menatap Alex dengan tatapan matanya yang tajam seolah siap menerkam mangsanya. pria itu menghampiri keduanya dan berdiri di tengah keduanya untuk memisahkan jarak antara Syifa dan Alex.
"Papa...
Syifa pun memeluk papanya dengan erat, Syifa benar-benar sangat merindukan sosok papanya.
"Papa... maafin Syifa ya," Syifa terisak dalam pelukannya, rasa bersalah kepada Papanya kini muncul kembali dan membuatnya semakin terisak.
"Iya nak, bagaimana dengan keadaan kamu sekarang," Pak Ilham melihat setiap inci tubuh anaknya, namun tidak ada yang terluka atau lecet sedikit pun.
"Aku baik-baik saja kok pah," Syifa ingin sekali bercerita tentang Seseorang yang sudah menolongnya, tapi tidak bisa sekarang, karena Alex mungkin akan salah paham lagi, seperti tadi.
Pak Ilham menatap Alex dengan penuh kebencian karena masih saja berani menemui Syifa setelah berbuat jahat kepada Syifa.
Syifa juga kini melihat ke arah Alex dan papanya Secara bergantian. Alex hanya diam saja, papa Syifa pasti masih marah kepadanya, kini akan sulit baginya bisa mendekati Syifa seperti dulu.
"Sebaiknya kita pergi dari sini, adikmu sangat sediih melihat kepergian mu," Pak Ilham mengajak Syifa untuk segera menemui Siti.
"Iya pah, tapi kak Alex...
"Dia tidak di butuhkan di sini, biarkan dia pergi," Pak Ilham berharap Alex mengerti maksud perkataan nya.
"Nggak papa Syifa, a...akuu pergi dulu," Alex tidak ingin Pak Ilham semakin membenci nya, bila masih terus berada di sini. Alex berbalik arah dan melangkah pergi meninggalkan keduanya.
Syifa hanya terdiam melihat reaksi papanya bertemu dengan Alex, sepertinya papanya tidak suka melihat Alex, apa papanya sudah mengetahui semuanya, satu kesalahan yang tidak bisa di hapus dan akan selalu membekas.
"Pah...
Syifa mencoba bertanya secara langsung meski rasanya sangat lelah dan sangat berat mengatakan hal sebenarnya.
"Hmm...
Pak Ilham tau kalau anaknya pasti akan berbicara tentang masalah yang membuatnya membenci Alex.
"Apaa papa sudah...," Syifa tidak bisa meneruskan kata-katanya.
"Nanti setelah adikmu keluar dari rumah sakit, baruu papa yang akan mengurus masalah mu," ucap pak Ilham tanpa memandang ke arah Syifa.
"Iya paaah," Syifa hanya bisa menuruti permintaan papanya itu. Apapun yang terjadi nanti,Syifa sudah siap menanggung resikonya.
Kini Syifa sudah berada di depan pintu, kamar mawar no.18...
Dimana, Siti dan yang lainnya sedang berkumpul,
Bu Nilam, Pak Harun, Aji, Kang Supri, dan juga Aryo masih betah berada di dalam. melihat keadaan Siti yang mulai membaik, tentu saja membuat semua orang bahagia. meski saat ini Siti masih mengharapkan seseorang untuk menemuinya.
"Makan dulu ya nak, dari semalam kamu belum makan apa-apa," Bu Nilam mengambil mangkuk yang berisi bubur yang masih hangat yang di bawakan OB rumah sakit untuk Siti sebagai pasien.
__ADS_1
"Nantilah buuu," Siti menolaknya karena masih memikirkan keberadaan kakaknya, Syifa.
"Loooh kok nanti, apa mau di suapi ma nak Aryo saja ya," Bu Nilam melihat ke arah Aryo agar Aryo mau mendekat.
"Isssssh, nggak usah gitu juga buuu,"Gerutu Siti.
"Nanti aku makan sendiri kok Buu," Siti merasa malu apabila Aryo menyuapi dirinya.
Aryo tidak menghiraukan pernyataan Siti, Aryo sudah memegang mangkuk bubur dan duduk di samping Siti.
"Apa masih betah ya tidur di rumah sakit ini," tanya Aryo sambil mengaduk bubur dan memindahkan nya ke sendok yang dia pegang.
"Bu..bukan gituuu, tapiiii...
Bu Nilam memahami maksud anaknya, terlalu banyak orang di ruangan Siti, mungkin itu membuat Siti agak canggung bila harus main suap-suapan.
"Oalaaah...
"Kalau gitu, ibu ma yang lainnya menunggu di luar saja ya," Bu Nilam memberi kode pak Harun dan yang lainnya.
"Mau kemana Buu?! tanya Siti saat semuanya hendak pergi meninggalkan Aryo dan dirinya saja.
"Sudaaah, ibu nggak kan lama kok,kan ada nak Aryo," ucap Bu Nilam.
Bu Nilam pun dan yang lainnya benar-benar pergi dan menjaga di luar,
"Apa lihat-lihat," Ucap Siti ketus saat melihat Aryo yang terus memandanginya dengan tidak wajar.
"Aaaaaaaaaa...
Aryo menyuruh Siti untuk membuka mulutnya agar makanan yang sudah ada di sendok bisa termakan.
Siti menuruti kemauan Aryo dan membuka mulutnya.
"Nggak enaaaak,"Siti mengambil air minum dan meminumnya segera.
"Isssh, kau iniiii...
"Kalau mau makan enak, ya harus cepat pulang,"ujar Aryo ketika melihat Siti yang menolak makanan nya.
"Aryo...
"Yaa...
"Terima kasih, maaf aku selalu merepotkan kan kamu," ucap Siti dengan memegang tangan Aryo dan menatap matanya.
"Ya, aku akan melakukan apapun untuk mu," ucap Aryo dengan sedikit serius.
"Apa kamuu...
__ADS_1
"Mencintai ku???
Aryo ingin tahu bagaimana perasaan Siti yang sesungguhnya.
"A...akuuu...hmmm," Siti melepaskan tangannya dari genggaman Aryo dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela sana.
Took...took...took...
Aryo dan Siti pun menengok ke arah pintu secara bersamaan.
"Mauk saja , tidak di kunci kok," Siti mempersilahkan seseorang itu untuk masuk saja.
"Assalamualaikum...
"ADEEEEEK...
"Waalaikum salam...
"Astaghfirullah, Kakaaaak...
Hampir saja Siti lupa bahwa dirinya sedang sakit dan akan berlari untuk memeluk sang kakak.
"Hati-hati...tanganmu masih terpasang infus," Aryo menahan Siti yang sudah turun dari ranjang pasien.
"Syifa menghampiri Siti dan memeluknya dengan erat, tak ayal air mata keduanya pecah.Rasa kangen mereka pun sudah terobati sekarang.
"Maafin kakak dewa, ini semua salah kakak,"Syifa meminta maaf dan sangat menyesali perbuatannya.
"Huush... kakak ngomong apa,"
"Harusnya aku juga yang meminta maaf, aku yang salah kaak, hiks...hiks...
"Seandainya aku tidak menyuruh kakak untuk bertunangan juga, mungkin semuanya tidak akan terjadi kak," jelas Siti.
"Sebaiknya aku keluar dulu ya," Aryo tidak ingin mengganggu pertemuan keduanya untuk sementara waktu.
Mereka pun menoleh kearah Aryo, Syifa pun tersenyum ke arah Aryo, Syifa merasa bersyukur di saat tidak ada dirinya di samping adiknya, Aryo akan menjadi partner yang baik buat adiknya.
"Terima kasih Aryo, kamu sudah menjaga adikku dengan baik," ucap Syifa kepada Aryo yang selama ini selalu membantu adiknya.
"Iya kak , sama-sama," Aryo pun keluar dari ruangan dan akan menuju kantin sekolah dan membelikan apa yang kira-kira enak untuk di makan.
Kini Syifa dan Siti saling melempar canda, Siti merasa ada yang kurang dari penampilan kakaknya.
"Kakak... kenapa kakak sendirian, mana kak Alex???
Dari tadi Siti tidak menemukan sosok Alex, yang di ketahui nya adalah calon suami dari Kakak nya.
"Seperti nya Alex tidak bisa mengunjungi kamu dek," jawab Syifa dengan sedikit tersenyum.
__ADS_1
"Maksud kakak...
Happy reading 😍