
"Bayiku, bayiku,"ucap Kanaya takut.
Tangan itu meraba perutnya, Kanaya sangat takut terjadi sesuatu pada calon buah cintanya dengan Jacob.
Helaan nafas penuh kelegaan keluar dari rongga hidung Kanaya, dia masih nerasakan benjolan kecil pada area perutnya yang mengartikan bayinya masih bersemayam dalam perutnya.
"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah masih menjaga bayi Hamba,"ucap Kanaya penuh rasa syukur.
Dia tengah berada di tempat Felix. Meskipun Felix tidak akan mencelakai dirinya, tetapi bukan berarti Felix juga tidak akan menyakiti calon bayinya.
"Aku tidak boleh gegabah, keselamatan bayi dalam perutku lebih penting,"gumam Kanaya.
Kanaya sudah memutuskan untuk lebih berhati-hati di depan Felix. Untuk masalah keluar dari kastil besar tersebut Kanayq yakin jika Jacob pasti akan datang menjemput dirinya.
Itu adalah sebuah keyakinan seorang istri pada suaminya. Kanaya hanya akan terus berdoa dan sekuat tenaga menjaga bayi dalam rahimnya.
Tok...tok...tok.
"Nyonya,"panggil seseorang dari luar.
Kanaya terkesiap, dia segera memasang kembali kerudung untuk ia jadikan cadar pada wajahnya.
"Masuk,"perintah Kanaya.
Pintu itu terbuka, memperlihatkan seorang pelayan wanita dengan seragamnya. Tampak di tangan pelayan tersebut ada sebuah nampan berisi makanan.
"Nyonya, ini sarapan Anda. Silahkan di makan,"ujar pelayan tersebut.
Kanaya bergeming menatap hidangan di atas nampan tersebut penuh curiga. Tahu jika ada sebuah kecurigaan yang Kanaya berikan, pelayan itu berkata.
"Tuan Felix sangat menyayangi Anda, Nyonya. Makanan yang ia berikan untuk Anda juga tidak sembarangan, Saya pastikan makanan ini sehat dan tidak ada racun di dalamnya."
"Hem, keluarlah. Saya akan memakannya nanti,"balas Kanaya.
"Tuan akan menghukum Saya, jika keluar sebelum memastikan Nyonya memakan sarapan Anda ini,"ujar pelayan tersebut.
"Saya pasti akan memakannya, kamu keluarlah. Dan sampaikan saja pada Tuanmu, jika Saya menghabiskan sarapan itu,"balas Kanaya.
"Nyonya..."
Kesal karena pelayan tersebut yang kekeuh untuk terus ada di kamar itu dan memastikan dirinya menghabiskan sarapan tersebut, membuat Kanaya mau tidak mau mengambil alih nampan tersebut yang sudah pelayan itu letakkan di atas meja lipat di kasur besar tersebut.
__ADS_1
"Bismillahirrahmanirrahim,"baca Kanaya sebelum mulai memasukkan satu suapan ke dalam mulutnya.
Beberapa menit kemudian, Kanaya telah menghabiskan menu sarapan paginya. Dan pelayan tersebut pun akhirnya melangkah keluar meninggalkan sosok Kanaya di kamar tersebut.
"Mas, kapan Kamu kesini? Aku merindukanmu,"gumam Kanaya menatap jajaran pepohonan tinggi dari balkon kamar tersebut.
Memikirkan soal keberadaannya yang ia sendiri tidak tahu, karena sejauh Kanaya memandang pada sisi kanan dan sisi kiri kastil tersebut hanya dipenuhi deretan pepohonan besar.
Kanaya yakin jika kastil itu dibangun di tengah-tengah hutan karena ingatannya tentang percakapan di masa kecil sedikit ia ingat.
"Aku ingin tinggal di istana yang besar, tetapi jauh dari rumah orang-orang." Kanaya kecil.
"Kenapa?" Darren (Felix).
"Aku lelah terus dicaci mereka dan dibenci oleh para anak-anak perempuan mereka," Kanaya kecil.
"Aku berjanji Aya, Aku akan membangun istana besar impian untukmu dan menjadikan dirimu ratu disana dan Aku rajanya," Darren (Felix).
"Janji?" Kanaya kecil.
"Janji," Darren (Felix).
"Kenapa Kamu harus kembali dengan obsesi gilamu, Darren. Aku sudah bersama dengan seorang yang Aku cintai dan dia mencintaiku. Bagaimana lagi caranya agar Kamu sadar dan tidak lagi memiliki keinginan untuk memilikiku,"celetuk Kanaya.
"Jika saja, saat di depan lift Aku bisa mengenalimu. Sudah pasti Aku tidak akan membiarkan hadir dalam pesta jebakanmu. Wajah kamu saja sudah sangat jauh berbeda,"lanjutnya dalam gumaman.
Kedua kelopak mata itu terpejam, andai saja masa lalu bisa ia putar kembali. Mungkin Kanaya tidak akan semudah itu membuat janji dengan seseorang.
Tetapi, saat itu dia hanyalah anak kecil. Bagaimana bisa ia paham kesalahan fatal akan muncul dari sebuah janji yang telah ia buat untuk dirinya pada Felix.
Felix datang membawanya pergi untuk menagih janji yang pernah Kanaya dan pria itu buat. Pria itu bahkan tidak peduli dengan kondisi Kanaya yang sudah bersuami.
"Ya Allah, ampuni Hamba jika telah melakukan kesalahan dalam mengumbar janji yang jelas belum tentu bisa Hamba lakukan, astaghfirullahal 'adzim."
Disisi lain, terlihat Felix dengan penuh semangat memberikan titah pada orang-orangnya untuk menyulap kastilnya menjadi sebuah tempat pesta yang megah.
Rencananya dia akan menyulap altar megah kastil tersebut dengan berbagai dekorasi bunga dan unsur kemegahan di dalamnya.
"Kanaya tidak suka mawar merah, dia suka mawar putih. Ganti semuanya,"titah pria itu.
"Baik Tuan,"ujar pelayan tersebut.
__ADS_1
Pelayan itu segera melakukan titah Felix, ia yang telah memasang mawar merah pada tiang dan dinding langsung menggantinya dengan mawar putih kesukaan Kanaya.
Disisi Felix juga terlihat sosok Septian yang turut membantu dirinya menyiapkan pesta pernikahan yang Felix inginkan. Septian terlihat berulang kali mengulas senyuman saat melihat Felix yang biasanya tidak suka turun tangan, kini pria itu secara langsung memimpin penataan dekor pesta pernikahannya.
Septian berjalan mendekati Felix, lalu berkata.
"Tuan, sebaiknya Anda kembali ke kamar untuk istirahat, agar Anda bisa melakukan pernikahan nanti malam dengan tubuh yang bugar. Biarkan sisanya Saya yang mengatur,"ujar Septian.
Felix terdiam, dia menatap arloji yang melingkari pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang.
Dia juga berpikir apa yang Septian katakan itu benar. Felix tidak ingin ia lemas saat pesta pernikahan yang ia rancang bersama Kanaya. Rencananya malam ini dia akan menikahi Kanaya, tanpa peduli penolakan wanita tersebut. Yang jelas Felix akan tetap menikahi Kanaya.
"Kamu benar, Saya harus beristirahat. Kamu selesaikan semuanya, ingat segala yang saya katakan tentang pesta pernikahan impian Saya dan Kanaya,"ucap Felix.
"Baik Tuan Felix."
Felix berlalu meninggalkan Septian, dia berjalan menuju lantai paling atas dimana kamarnya berada. Kaki pria itu terhenti saat berada di pintu yang di dalamnya berisi sosok wanita cantik yang ia cintai.
Ingin rasanya Felix masuk ke dalam, tetapi itu tidak ia lakukan karena Felix takut akan mengganggu Kanaya.
"Tidak sabar melihatmu dengan balutan gaun pengantin, Aya,"ujar Felix dengan seringainya.
Felix kembali melangkahkan kakinya menuju sebuah kamar yang terletak persis disamping kamar yang ditempati Kanaya.
Pria itu masuk dan segera melepaskam kemejanya. Saat kemeja itu terlepas, terlihat jelas sebuah tato besar berbentuk naga yang memutari dari pinggung hingga ekor pada perutnya.
Tubuh pria itu sangat kekar dan tegap. Pada sisi perut lainnya terlihat bekas luka disana.
Dengan segera Felix menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dibalik kucuran shower. Tetesan air terus membasahi tubuh kekar Felix.
Selama beberapa saat Felix berada di kamar mandi, dan keluar dengan kondisi tubuh lebih segar.
"Aku akan tidur sejenak, sebelum pesta nanti malam berlangsung,"gumam pria itu sembari membaringkan tubuhnya pada empuknya kasur.
Disisi lain, Jacob dan seluruh orangnya masih terus mencari keberadaan Kanaya. Seluruh area hutan Terlarang sudah mereka telusuri dari semalam hingga siang hari ini.
Tetapi sepertinya tidak ada tanda-tanda keberadaan Kanaya ataupun Felix ditemukan.
"Tuan Muda Pertama, sepertinya kita harus memperluas pencarian kita,"ujar Riko.
"Hem, lakukan secepatnya. Sedetik saja kita terlambat entah apa yang akan terjadi pada Kanayaku. Perasaan Saya sangat tidak tenang,"ujar Jacob.
__ADS_1