
"Kau habis berkelahi ya Mas? "desak Kanaya.
Tangan Kanaya meraih wajah Jacob lalu menangkupnya dan memiringkan wajah pria itu ke kiri dan ke kanan.
Jemari lentiknya mengarah pada sudut bibir Jacob yang terlihat robek itu.
"Aw, shht. Nay kenapa di tusuk-tusuk sih, "lirih Jacob dengan rasa sakitnya.
Sedangkan sang wanita tampak acuh atas rintihan kesakitan Jacob akibat ulahnya yang menekan luka robek pada bibir itu.
"Katakan sama Naya, ini kenapa Mas bisa sampai babak belur kayak gini, "desak Kanaya.
"Itu, Mas jatuh kepentok lantai sama dinding jadinya gini deh, "elak Jacob.
Kanaya menatap sengit wajah tampan itu. Alasan yang Jacob berikan terlalu sulit membuatnya percaya.
Bagaimana jika hanya karena jatuh bisa mengakibatkan wajahnya penuh lebam yang Kanaya yakini adalah bekas pukulan, terlebih sudut bibir Jacob yang sampai robek.
Karena kesal Jacob yang enggan mengatakan kebenarannya, Kanaya dengan keras menyingkirkan tangan pria itu yang masih asik bertengger pada perutnya itu.
Lalu mendorong tubuh Jacob agar bisa menjauh meskipun tidak sedikitpun Jacob bergeser karena dorongan Kanaya itu.
"Nay, jangan marah dong, "bujuk Jacob.
"Naya bakal marah terus sampai Mas bilang itu akibat berkelahi sama siapa? "ancam Kanaya.
Wanita cantik itu menatap sengit Jacob, yang mana justru membuat Jacob bukannya takut melainkan gemas dan ingin mencium bibir mungil istrinya itu.
"Nyosor boleh nggak sih, "gumam pria itu.
"Mas! Naya lagi marah ini, pokoknya Mas nggak boleh tidur bareng Kanaya dan nggak boleh ngelus perut Naya sampai Mas mau jujur, "rajuk Kanaya.
Kanaya meluruhkan tubuhnya hingga kembali berbaring di atas kasur dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Nay, kok marahnya beneran sih, "ucap Jacob berusaha menarik selimut yang menutupi wajah Kanaya itu.
"Naya beneran marah, pergi kalau nggak mau jujur Mas, "teriak Kanaya dari balik selimut.
Jacob masih berusaha membujuk wanita itu. Biasanya seorang Kanaya yang lemah lembut itu tak akan bertahan lama marah padanya dan jika Jacob mengeluarkan bujukan mautnya Kanaya akan memaafkannya.
Tetapi itu hingga beberapa lama Jacob membujuknya, Kanaya tak kunjung membuka selimutnya bahkan kaki wanita hamil itu dengan terang-terangan menghentak kesal.
__ADS_1
"Iya deh Mas mau jujur, tapi Naya harus buka selimutnya dulu, "ucap Jacob akhirnya mengalah.
Dia tidak bisa lama-lama menghadapi Kanaya yang marah padanya. Terlebih jika ia tidak bisa membujuknya, Jacob takut tidak bisa tidur bersama Kanaya dan tidak diizinkan mengelus perut Kanaya.
"Bener? "tanya Kanaya masih di balik selimutnya.
"He'em, sekarang buka selimutnya yah, "bujuk Jacob lembut.
Selimut tebal itu akhirnya tersingkap dan menampakkan wajah cantik Kanaya.
Perlahan Jacob membantu Kanaya mendudukkan dirinya dan bersandar pada headboard kasur.
Wajah wanita itu tampak begitu menantikan kalimat yang akan disampaikan oleh Jacob.
"Aku berkelahi sama Mark, "ujar Jacob.
"Berkelahi? Kenapa bisa Mas? "tanyanya penuh penasaran.
"Kami ada selisih paham, dan sudah hal biasa sedari dulu pertengkaran diantara kami, "ujar Jacob.
"Bukan karena Naya kan? "tebaknya.
Jacob sebisa mungkin menutupi kebohongannya dan berusaha agar Kanaya tidak bisa mengendus akan sebab perkelahian yang terjadi diantara dirinya dan Mark.
Kanaya mencoba mencari kebohongan dari sorot mata Jacob, namun sayangnya dia tidak bisa menemukannya.
"Ini pasti sakit, sudah diobati belum Mas? "tanya Kanaya lirih.
Tangan itu terulur lalu memegang lembut setiap lebam pada wajah Jacob.
"Belum, Mas penginnya di obati sama wanita cantik di depanku ini, "goda Jacob.
"Ih apaan sih Mas, gombal tau,"celetuk Kanaya dengan pipi kemerahannya yang semakin memerah karena salah tingkah.
Jacob tersenyum senang juga lega. Dia lega karena Kanaya tidak lagi menanyakan hal yang lebih dalam perihal asal lebam tersebut.
"Aku ambil P3K ya, nanti kamu bantuin obatin luka-luka ini, "ujar Jacob.
Kanaya perlahan menganggukkan kepalanya membiarkan Jacob beranjak untuk mengambil obat-obatan dari dalam laci.
Setelah itu, Jacob kembali lalu duduk bersila di depan Kanaya menanti tangan sang wanita mengolesi salep pada wajahnya.
__ADS_1
Jacob sangat senang, karena dengan Kanaya yang mengobati dirinya maka ia bisa melihat wajah cantik Kanaya lebih dekat.
"Lain kali, kalau ada selisih paham selesaikan dengan kepala dingin ya Mas. Jangan pakai cara kekerasan kayak gini Mas. Mas kan sudah tua, anak pertama, kakak juga lagi ya harusnya mengalah, "cerocos Kanaya sembari mengolesi salep pada setiap luka di wajah tampan Kanaya.
"Iya Nay, maafin Mas ya."
"Hem. "
Sementara itu di tempat berbeda, di dalam ruangan khusus yang ada di sebuah galeri lukisan milik Mark, terlihat pria itu tengah menumpahkan kemarahannya dengan membanting cat lukis berukuran besar pada tembok putih disana.
Tidak hanya satu tetapi berbagaii warna cat ia lempar acak disana bahkan hingga rambut, wajah, dan pakaian Mark turut berwarna acak karena tertimpa cat lukis tersebut.
Ia corat-coret tembok itu dengan teriakan yang terdengar kesetanan keluar dari mulut Mark.
"Br*ngsek! Kalian semua sampah. Tidak punya hati, "maki Mark sambil mengacak-acak warna di tembok itu dengan kuas ditangannya.
Itulah cara Mark melampiaskan rasa amarahnya, dia akan menghabiskan waktu seharian di galeri dengan melukis dinding abstrak disertai teriakan kesetanan dari mulutnya.
Tidak ada yang tahu bagaimana seorang Mark saat marah. Karena pria itu sedari dulu terus menutupi yang ada di dadanya dengan senyuman dan tingkah konyolnya.
"Kenapa Aku tidak boleh bersama Kanaya? Kenapa Aku tidak bisa mendapatkan apa yang Aku inginkan. Kalian sangat egois,"maki Mark tersedu.
Pria itu bersandar pada dinding tembok yang masih basah karena cat warna itu.
Lukisan abstraknya telah selesai, tidak akan ada yang tahu makna dari lukisan yang Mark buat pada dinding itu selain dirinya.
Sebuah coretan tak beraturan dengan warna acak seacak pikiran dan perasaannya saat ini.
Keadaan disana sangat kacau, lantai telah berubah warna dengan kubangan cat yang berserakan di lantai serta wadah-wadah cat dan alat lukis yang berserakan.
Sedangkan Mark yang kini warna baju dan rambutnya telah bercampur dengan cat warna itu tengah menundukkan kepalanya pada lutut yang telah ia lipat itu.
Punggung Mark bergetar, pria itu menangisi dirinya yang harus lahir menjadi anak kedua yang harus mengalah pada kakak dan adiknya sedari kecil.
Dan kini dia juga dipaksa mengalah dengan mengubur rasa cintanya pada Kanaya oleh sang Papah, Tuan Garadha.
"Aku juga berhak mendapatkan apa yang Aku inginkan, "ucap Mark di sela tangisnya.
***
TBC
__ADS_1