
"Mas, punggung kamu berdarah,"ujar Kanaya kala tangan yang memeluk tubuh Jacob memperlihatkan cairan berwarna merah segar itu.
Jacob sendiri seperti tidak peduli dengan kondisi dirinya, pria itu justru memilih melihat tubuh Kanaya. Apakah ada luka yang mengenai istri cantiknya.
"Kamu nggak apa-apa kan Nay?"tanyanya khawatir.
Kanaya tersedu, pria yang tengah memeluknya itu justru menanyakan kondisi dirinya yang nyatanya Kanaya baik-baik saja, padahal sudah jelas punggung pria itu berdarah karena tusukan sebilah pisau, bahkan pisau itu masih tetancap pada punggung Jacob.
"Kenapa kamu melindungi dia? Kenapa Jacob?"
Teriakan histeris terdengar dari sosok Alexsa yang telah berhasil dibekukan oleh pengawal yang selalu ikut kemanapun Jacob dan Kanaya berada.
Ya, sosok yang tadi membuat Jacob berlari dengan sangat kencang tak lain karena keberadaan Alexsa.
#flashback on.
Alexsa yang sedari kemarin membuntuti Kanaya akhirnya tersenyum simpul saat melihat kesempatan untuk menyerang wanita yang Alexsa anggap sebagai sumber kehancurannya.
Alexsa sangat membenci Kanaya. Dia membenci Kanaya karena telah mengambil Jacob dari sisinya, dia juga berpikir kemarahan Jacob padanya disebabkan adanya Kanaya sehingga membuat Jacob mendatangi rumahnya dan menyerang Mamanya Alexsa secara membabi buta.
Karena serangan Jacob itu telah membuat wajah Mamanya Alexsa rusak dan kini wanita parubaya itu depresi.
Tidak hanya itu, karir modelingnya pun hancur. Semua kontrak kerja yang telah ditanda tanganinya mendadak memutuskan sepihak. Jacob juga mengambil segala fasilitas yang Alexsa terima semasa wanita itu masih menjadi kekasih dan tunangan Jacob.
Sudah satu tahun lebih Alexsa mencari keberadaan Kanaya. Sampai akhirnya ketika dia bertemu dengan sosok Kanaya di restauran. Awalnya dia ragu karena penampilan Kanaya yang bercadar, namun saat ia melihat dan mendengar Aneth memanggil nama Kanaya membuat Alexsa yakin.
"Jika Aku tidak bisa memiliki Jacob, maka kamu pun tidak akan pernah bisa,"ucap Alexsa.
Alexsa mengambil tempat aman di taman kota itu agar tidak ketahuan oleh Jacob. Dan ketika Jacob menjauh dari Kanaya, disanalah kesempatan Alexsa untuk menyerang Kanaya dengan sebilah pisau yang sudah ia siapkan.
"Matilah Kau,"teriak Alexsa yang berlari ke arah Kanaya dengan tangan menggenggam sebilah pisau tajam.
"Jac..."
Alexsa tertegun kala ia melihat sosok yang telah tertusuk pisau itu bukanlah Kanaya, melainkan Jacob. Pria itu berlari kencang saat melihat sosok bermasker dengan hodie yang berlari mendekati Kanaya.
__ADS_1
#flashback off.
"Kamu bertanya kenapa? Dia adalah istriku, dan kamu benar-benar gila Lexsa,"teriak Jacob dengan sisa tenaganya.
Alexsa menutup telinganya, dia tidak suka setiap kali Jacob mengatakan jika Kanaya adalah istrinya.
"Jacob Aku tahu kamu marah sama Aku, kembalilah ke sisiku,"ujar Alexsa berusah melepaskan diri dari cengkeraman para pengawal itu.
Tapi lambaian tangan Jacob membuat para pengawal itu mengangguk dan menyeret tubuh Alexsa menjauh dari sosok Jacob.
"Jacob! Kamu nggak bisa memperlakukan Aku kayak gini, Jacob. Aku cinta Kamu Jac, kembali sama Aku Jac,"teriak Alexsa.
Suara Alexsa perlahan menghilang seiring dengan tubuh wanita yang dipaksa masuk ke dalam mobil lalu tak lama mobil itu melaju dengan cepat menuju kantor polisi.
Sungguh miris wanita itu. Beberapa orang yang ada disana juga tampak merekam kejadian dimana sosok Alexsa yang histeris itu.
"Mas, kita ke rumah sakit ya,"ujar Kanaya.
Jacob membalik tubuhnya, lalu ia sentuh kembali wajah Kanaya dan meraupnya dengan tatapan kelegaan teramat besar.
"Mas, kita harus ke rumah sakit sekarang, MAS..."
Tubuh kekar Jacob luruh membuat Kanaya histeris karena melihat wajah sang suami yang mulai pucat pasi itu.
"Hiks...hiks, tolong tolong suami Saya,"seru Kanaya pada sekitar yang mulai mengerumuni dirinya dan Jacob yang kini berada di pangkuannya.
"Kanayaku jangan menangis,"lirih Jacob seraya mengusap air mata yang mulai merembes pada cadar Kanaya.
"Diam Mas, jangan banyak bicara. Tolong siapapun hubungi ambulans, suami Saya butuh pertolongan,"ujar Kanaya menatap sekeliling pada orang-orang yang tampak iba padanya.
"Saya sudah memanggil ambulans Nona,"seru seorang pria diantara kerumunan orang-orang itu.
Kanaya kembali menatap ke bawah dimana sosok Jacob yang masih setia menatapnya. Darah segar masih betah mengalir dari punggung pria itu, membuat Kanaya tidak sanggup berbicara dan hanya menangis yang bisa ia lakukan.
"Naya, mata Saya ngantuk,"lirih Jacob.
__ADS_1
"Tidak Mas, jangan tutup matanya. Hiks...hiks, Aku mohon bertahan, tetaplah terbuka jangan tutup matanya,"ujar Kanaya dengan deraian air mata semakin deras saja.
"Nona, pakai mobil Saya saja bagaimana?"seru seorang yang lain diantara kerumunan itu.
Tangisan pilu Kanaya membuat siapa saja yang melihatnya tak tega.
Kanaya mendongak lalu menganggukkan kepalanya pada orang itu, dalam pikirannya hanya satu. Bagaimana ia bisa membawa Jacob ke rumah sakit saat ini juga.
"Mas, sudah Aku bilang buka matanya. Jangan ditutup, hiks..."tangis Kanaya.
"Aku sangat mengantuk,"lirih Jacob dengan kelopak matanya yang menutup seluruhnya.
"MAS! Hiks...hiks, b-buka matanya Mas,"histeris Kanaya dengan tangisan semakin menjadi.
Sosok pria yang tadi menawarkan mobilnya pun kini berjongkok hendak membantu mengangkat tubuh Jacob dan ada orang lain yang memapah tubuh Kanaya karena wanita cantik itu lemas tak berdaya.
"Tuan Muda Pertama! Pak, bawa ke mobil Saya saja,"seru Riko.
Asisten Jacob itu baru saja datang usai mendapatkan kabar tertusuknya Jacob dari pengawal pribadi Jacob. Riko yang tadinya masih bersantai gegas menuju lokasi.
"Nona, tolong tahan tubuh Tuan Muda Pertama agar terus tengkurap,"seru Riko usai membaringkan Jacob dengan posisi tengkurap lalu kepala pria itu di atas paha Kanaya.
Kanaya hanya mengangguk lemas, ditatapnya punggung Jacob dimana pisau masih menanca disana.
Tidak ada yang berani mencabutnya, karena jika salah mencabut bisa saja melukai organ dalam lainnya.
Setelah Riko memastikan posisi dibelakang aman terkendali, pria itu gegas memutari body mobil dan duduk di balik kemudi.
"Pastikan jalan yang Saya lewati lancar,"seru Riko melalui earphone di telinganya pada sosok yang ia beri tugas agar perjalanan menuju rumah sakit cepat dan tanpa ada gangguan sedikitpun.
"Mas, tolong bertahan,"lirih Kanaya.
***
TBC
__ADS_1