
"Kenapa Kakak juga ikut, "protes Mark.
"Jangan banyak protes, sudah untung Aku mengizinkan Kamu mengambil gambar Kanaya sebagai obyek lukisanmu, "jawab Jacob.
"ck. "
Mark hanya berdecak kesal mendengar penuturan Jacob. Tak ingin membuat gaduh sedangkan di antara mereka ada Kanaya, Mark memilih menyingkir dan mempersilahkan keduanya masuk.
"Kamu orangnya rapi ya Mark, "puji Kanaya saat menasuki apartemen tersebut.
"Ck, jangan tertipu dengan covernya Nay, paling juga di sini doang yang rapi, "saut Jacob.
"Mas,"tegur Kanaya.
Wanita hamil itu tidak tahu kenapa Jacob jika bersama Mark selalu sensi, bahkan pria yang notabene memiliki julukan pria yang sangat galak itu terlihat sangat julid pada Mark.
"Kenapa Sayang, "balas Jacob.
Blush.
Merah sudah kedua pipi Kanaya usai mendengar panggilan 'Sayang' dari Jacob untuk yang pertama kalinya.
Sedangkan Mark yang tahu jika apa yang tengah dilakukan oleh Kakaknya itu semata ingin membuatnya kepanasan.
Namun walaupun Mark tahu tujuan Jacob, tak lantas membuatnya tidak panas.
"Naya sebaiknya kita masuk ke ruang lukisku,"ajak Mark.
Daripada ia semakin dibuat panas oleh Kakaknya lebih baik Mark mengajak Kanaya untuk menuju ruang yang biasanya ia menghabiskan hari-harinya dengan canvas
dan kuas.
"Hem, iya kau benar Mark, "jawab Kanaya.
Semburat merah jambu telah hilang walau tak sepenuhnya karena memang kedua pipi wanita cantik itu memiliki blush on alami.
Kanaya melangkah mendahului keduanya sesuai arahan adik iparnya itu. Sebuah ruangan yang memiliki balkon lebar serta dimana Mark selalu mendampatkan inspirasi.
Brak.
"****."
Jacob mengumpati adiknya karena hampir saja wajah tampannya mencium kerasnya pintu.
Dug... dug...dug
"Mark buka pintunya! Jangan kau macam-macam pada istriku, "teriak Jacob seraya terus memukuli daun pintu.
"Duduk yang manis diluar Kak, Aku cuma mau lukis, "saut Mark dengan teriakan pula diringi kekehan.
"****, Mark sialan! "maki Jacob dengan kembali menendang pintu itu cukup keras.
Sementara itu Mark yang berhasil menghalangi Jacob masuk ke dalam ruangannya tertawa keras.
Tawa Mark itu sampai membuat Kanaya yang tengah terpukau dengan jajaran kanvas berisi lukisan terjengit.
"Ada apa Mark? Kenapa kau tertawa keras seperti itu? "tanya Kanaya heran.
Mendapat pertanyaan itu, Mark segera menyudahi tawanya dan mulai melangkah mendekati Kanaya.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa kok, "ucapnya tersenyum.
"Hem gitu ya."
Kanaya celingukan mencari Jacob yang tidak ada di ruangan tersebut.
"Loh Mark, kemana Mas Jacob, kok nggak masuk kesini juga? "tanya Kanaya.
"Hemmm itu, anu dia memang nggak masuk karena... karena takut mengganggu konsentrasiku. Iya Kak Jacob takut menganggu konsentrasiku, "ujar Mark beralasan.
Tidak menaruh curiga dengan alasan yang diberikan Mark, Kanaya hanya mengangguk saja.
"Oke, Naya kita mulai saja. Kamu coba duduk di kursi sana dan berpose lah senyaman kamu, "ucap Mark menarik tangan Kanaya lalu mendudukkan wanita itu di atas kursi disamping jendela balkon.
"Kakak ipar Mark, jangan panggil Naya, "ucap Kanaya mengingatkan.
"Ck. Padahal usianya enam tahun lebih muda dariku. Namun sekarang Aku harus mengubah panggilan menjadi kakak ipar. Mark... Mark, sepertinya Aku memang benar-benar harus menyerah, "batin Mark.
Mark tak menjawab ucapan Kanaya, dia hanya mengangguk lalu berbalik dan meninggalkan wanita itu menuju kursi dimana ia akan mulai menyentuh segala peralatan melukisnya.
Kanaya berpose sederhana dengan senyuman manis menghias pada wajahnya dan itu semakin menambah kecantikan wanita itu.
"Kau sangat cantik Nay, sayangnya Kamu kakak iparku, "batin Mark miris.
Sementara itu Jacob yang masih terjebak di luar ruangan lukis Mark terlihat begitu gelisah.
"Bagaimana jika dia berbuat mesum pada Naya, bagaimana jika dia mencari kesempatan pada Naya. Akhhh... tidak, tidak. Aku harus mencari cara untuk membukanya, "gumam Jacob khawatir.
Rasa khawatir dan takut menyeruak pada pria itu hingga membuat dada Jacob seakan-akan menyempit dan terasa sesak.
Brak.
Jacob berlari ke kamar yang ia yakini milik Mark, beruntung kamar itu tak dikunci oleh adiknya.
Jacob mengacak-acak kamar Mark mencari kunci untuk membuka ruang lukis tersebut.
"Akhhh, bagaimana ini? Apa yang harus Aku lakukan. Naya,–"ucap Jacob frustasi.
Kamar Mark yang semula rapi kini bak kapal pecah. Bantal, selimut, seprai, sudah tak pada tempatnya. Laci meja terbuka karena Jacob yang mencari kunci serep.
Emosi pria itu mulai naik, bahkan kedua matanya sudah memerah membayangkan hal buruk yang bisa saja diperbuat oleh Mark pada Kanaya.
Pria itu luruh di atas dinginya lantai. Menekuk lututnya dan menggusar rambutnya frustasi.
"Tidak. Aku harus bisa membuka pintu itu, "gumamnya.
Jacob kembali bangkit dari duduknya di atas lantai lalu kembali melangkah menuju ruang lukis Mark.
Ditatapnya dengan lamat dan penuh amarah daun pintu bergagang satu itu.
Tangan dan kaki Jacob bersiap-siap untuk mendobrak pintu itu.
Bruk...Bruk
Dua kali dobrakan tak membuahkan hasil membuat Jacob semakin tak sabar. Dia kembali melangkah mundur untuk mendobrak pintu itu lagi.
Bersamaan dengan Jacob yang akan mendobrak pintu, maka di dalam ruangan itu terlihat Mark bersiap-siap membuka pintu.
"Mark, buka!"teriaknya seraya berlari untuk mendobrak.
__ADS_1
"Ceklek.
"Kakak? "
Brugh.
"Shhht Aw."
"Mas Jacob... Mark! "
Dua pria bersaudara itu kini saling menindih. Mark yang tak tahu jika di luar Jacob akan mendobrak pintu membuatnya tak sigap menghindar hingga akhirnya ia tertindih tubuh besar Jacob.
"Mark! "geram Jacob penuh amarah.
Tangan pria itu terangkat bersiap memberi bogeman pada wajah adiknya. IED pria itu kembali kambuh membuat amarahnya meluap.
"Mas Jacob jangan! Jangan Mas, "pekik Kanaya seraya menahan tangan Jacob.
Dia masih berusaha untuk memukul Mark, namun kembali lagi Kanaya mencoba mencegahnya.
"Mas jangan Mas, Tahan amarah Mas. Katanya sudah janji sama Naya bakal mengontrol emosi Mas, "ucap Kanaya dengan penuh harap.
Sebenarnya Kanaya takut menghadapi kemarahan Jacob, namun dia lebih takut lagi jika harus diam saja dan membiarkan Jacob memukuli Mark bak kesetanan.
Uratnya mulai mengendur, kepalan tangannya mulai terbuka. Napasnya mulai teratur kembali. Kesadaran Jacob telah kembali saat melihat manik mata Kanaya penuh harap.
Pria itu menyingkir dari atas tubuh Mark lalu bangkit.
"Kita pulang sekarang Nay, "ucapnya mengulurkan tangan pada kanaya.
"Iya Mas, "ucap Kanaya seraya meraih tangan Jacob dan berbalik meninggalkan Mark.
Kanaya tak sedikitpun menoleh pada Mark, karena ia tahu emosi Jacob tak sepenuhnya redah dan jika ia melakukan itu tentu saja emosi Jacob akan kembali naik.
Keduanya berjalan menuju apartemen sendiri, sesampainya disana. Kanaya mendudukkan Jacob di sofa sementara ia berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum untuk Jacob.
"Minum dulu Mas, kendalikan emosinya, "ucap Kanaya.
Glek...Glek.. Glek.
"Terima kasih Nay, maaf Aku membuatmu kembali ketakutan, "ucap Jacob penuh sesal.
"Nggak papa Mas. Emmm Mas, itu Mark kasihan, "lirihnya pada Jacob.
"Aku ttidak sampai memukulnya. Tadi Aku hanya khawatir kalian hanya berdua di ruangan itu. Aku takut dia berbuat mesum padamu, "ucap Jacob memandang Kanaya dengan puppy eyes nya.
"Uuh menggemaskan singa besarku ini. Pengin rasanya Aku unyel-unyel pipinya, "batin Kanaya gemas.
Pasalnya tatapan Jacob dan cara pria itu menjelaskan seperti seorang anak kucing yang ketauan mencuri ikan pada piring majikannya.
"Iya Mas nggak papa, "ucap Kanaya tersenyum.
Sementara itu di apartemen Mark terlihat mencak-mencak karena apartemennya berantakan dan Mark sudah tahu pelakunya yang tak lain adalah Kakaknya sendiri.
"Kak Jacob! Kau apakan apartemenku..."teriak Mark.
***
TBC
__ADS_1