ISTRI CANTIK TUAN JACOB

ISTRI CANTIK TUAN JACOB
BAB 71


__ADS_3

#Solo, Satu Tahun Kemudian.


"Umi Aminah, Saya boleh bertanya, "ucap Kanaya.


Tidak hanya Umi Aminah, beberapa jamaah wanita yang juga mengikuti pengajian yang tengah di adakan di pesantren yang berlokasi di daerah dimana Kanaya mengontrak.


"Iya Kanaya, mau bertanya apa? "ucap Umi Aminah dengan senyuman yang meneduhkan itu.


"Hakikat menutup aurat bagi perempuan itu bagaimana Umi? "balas Kanaya.


Umi Aminah tersenyum pada wanita cantik yang selama satu tahun belakangan ini aktif dalam pengajian dan sering bantu-bantu di pesantrennya itu.


Ya, Kanaya memang sering aktif dalam kegiatan pesantren yang dikhususkan untuk masyarakat setempat serta sering bantu-bantu saat ada kegiatan di pesantren milik Umi Aminah itu, dan itu ia lakukan di sela kegiatannya menjaga toko pakaian muslim miliknya yang kini mulai berkembang pesat.


"Umi jawab ya Kanaya, begini Menutup aurat itu membuat para wanita terlihat indah, cantik dan anggun bahkan lebih terasa dihormati oleh orang disekitarnya. Diantaranya lagi menutup aurat dapat membuat wanita menjadi wanita yang disegani, lebih berharga di mata Allah swt dan manusia pada umumnya dan terhindar dari fitnah dunia. Makanya sebagai wanita kita diwajibkan menutup aurat kita, "ujar Umi Aminah.


"Maaf Umi, lalu untuk bercadar sendiri bagaimana hukumnya?"tanya Kanaya lagi.


Akhir-akhir ini Kanaya sering mendengar kan konten islami dari salah satu ustadza yang terkenal akan untaian nasihatnya namun selalu bisa menjaga dirinya bahkan disaat ustdzah itu mengisi pengajian, tidak ada satupun yang diperbolehkan mengambil foto dirinya.


"Bercadar ya. Begini Kanaya, wajah wanita bukanlah aurat, sehingga hukum bercadar adalah sunnah (dianjurkan), namun bisa menjadi wajib jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah."


Kanaya menganggukkan kepalanya takdzim mendengar semua jawaban yang ia dapatkan dari Umi Aminah.


Akhirnya acara pengajian itu ditutup dengan doa oleh Umi Aminah sendiri, setelah semuanya keluar begitu juga dengan Kanaya yang berjalan dari dalam masjid.


Drt... drt.


Ponsel android milik wanita itu berbunyi, dengan segera Kanaya menggeser icon hijau karena panggilan tersebut berasal dari Layla, karyawan tokonya.


"Hallo, Assalamualaikum Layla, "ucap Kanaya.


"Waalaikumsalam Bu Naya, ini toko nya sudah saya tutup. Seperti biasa kunci toko Saya titipkan ke Neneknya Ibu ya, "ucap Layla dari ujung telepon.


"Iya Lay, terima kasih ya. Jangan lupa, laporan penjualan hari ini kirimkan ke Saya, "ucap Kanaya.


"Siap Bu, kalau gitu sudah dulu ya Bu. Assalamualaikum.


"Waalaikumsalam wr. wb. "


Kanaya meletakkan kembali ponsel android nya ke dalam tas miliknya. Posisi kepala wanita itu difokuskan dengan kegiatan meletakkan ponselnya, tanpa menyadari adanya sosok yang tengah terburu-buru dari arah berlawanan.

__ADS_1


Brugh.


"Aw, astaghfirullah, "pekik Kanaya.


"Astaghfirullah, maaf...maaf, "ucap pria yang tanpa sengaja menabrak Kanaya itu.


Buku-buku islami dan kitab yang pria itu bawa jatuh berhamburan di atas tanah. Kanaya yang merasa bersalah walaupun posisi dirinta yang ditabrak pun berinisiatif membantu pria itu mengambil buku-buku dan kitabnya.


"Terima kasih, "ucap pria itu.


"Sama-sama, "balas Kanaya seraya mendongakkan kepalanya.


Dan saat itulah, netra keduanya terkunci. Pria itu cukup tertegun saat melihat bagaimana cantiknya sosok wanita yang ada di depannya.


"Subhanallah, "celetuk pria itu tanpa sadar mengagumi cipataan sang Kuasa.


Kanaya gagap, wanita itu sadar jika dirinya tengah di tatap begitu intens oleh pria berpeci tersebut. Teringat akan nasihat Umi Aminah, segera saja Kanaya bangkit dengan menundukkan kepala dan matanya.


"Maaf, permisi, "ucap Kanaya seraya beranjak dan melangkah kakinya.


Pria itu sadar, jika sosok wanita yang ia sebut bidadari itu telah hilang dari hadapannya dan tengah melangkah menjauh pun menyeruh Kanaya.


"Hey!"


"Saya Yusuf, siapa namu kamu? "tanya Gus Yusuf.


"Kanaya, "jawab Kanaya lalu kembali melangkahkan kakinya.


Senyuman lebar terpatri pada sudut bibir Gus Yusuf, dia telah mengetahui nama wanita cantik yang baru pertama kali di lihatnya itu.


"Kanaya... Cantik sesuai namanya, Astaghfirullah, apa yang kamu pikirkan Suf, sudah sekarang waktunya kamu mengajar, "rutuk Gus Yusuf saat teringat kembali akan tujuannya.


Bandara internasional Soekarno-Hatta, di hari yang sama tampak sebuah pesawat internasional dengan tujuan New York-jakarta itu telah landing dengan selamat.


Jacob diikuti seorang gadis dengan pakaian trandy berjalan keluar pesawat. Pria itu tampak semakin berkarisma dan semakin menunjukkan wibawanya.


Dengan pakaian formal serta kacamata hitam yang bertengger pada hidung mancungnya, Jacob terus melangkah tegap yang membuatnya menjadi pusat perhatian orang-orang yang dilewatinya.


"Ma... Pa,"seru Jacob pada kedua orang tuanya yang telah berdiri menanti dirinya. Tidak ketinggalann pula, sosok Riko sang asisten pria itu juga menjemput dirinya.


Nyonya Seline yang sangat senang akan kepulangan Jacob pun berlari dan memeluk tubuh Jacob erat.

__ADS_1


"Kamu semakin tampan saja, Mama kangen sekali sama kamu, "ucap Nyonya Seline.


"Ehem, ini Kak Jacob saja yang dikangenin hem? Aneth nggak ni? "celetuk Aneth, sang Nona muda keluarga Garadha.


"Loh, Aneth ikut pulang juga. Pa, sini! Lihat putri kecil kita yang penuh kejutan kembali berulah, "ucap Nyonya Seline pada Tuan Garadha.


Aneth mencebik kesal akan kelakuan sanf Mama, gadis cantik itu kesal karena bukannya dipeluk oleh Nyonya Seline justru mendapat aduan yang dilakukan mamanya itu.


"Aneth? Tidak mau peluk Papa, hem, "ucap Tuan Garadha seraya merentangkan tangannya untuk gadis itu peluk.


Tanpa membuang waktu dan kesempatan lagi, Aneth berlari dan memeluk tubuh Tuan Garadha.


"Papa memang terbaik, deh, "ucap Aneth menyindir Nyonya Seline.


Nyonya Seline justru tertawa renyah medapatkan ledekan dari sang putri.


Sementara itu, Jacob sendiri tampak tidak terlalu fokus akan perbincangan keluarganya. Dia tengah mencari sosok wanita yang selalu ia rindukan siang dan malam.


Kemana dia? Kenapa Jacob tidak melihatnya ada diantara keluarga yang menjemputnya itu. Karena rasa penasarannya. Jacob memilih menanyakan hal itu langsung pada kedua orang tuanya.


"Ma, Pa. Kanaya dimana ya? Kok nggak ikut jemput Jacob?"tanya pria itu.


Deg.


Semua orang tertegun mendengar pertanyaan itu. Wajah Riko juga tampak paling pias, Nyonya Seline dan Tuan Garadha sama-sama membisu.


"I-itu di kediaman Garadha, bagaimana kalau kita pulang dulu ya, "ucap Nyonya Seline gagap.


Jacob tentu saja curiga akan logat bicara Nyonya Seline. Tetapi dia yang sekarang sudah mampu mengendalikan dirinya tidak seperti dulu memilih menurut dan menganggukkan kepalanya.


"Jacob pulang satu mobil sama Riko, biar Aneth sama Mama dan Papa,"ucap Nyonya Seline.


Riko yang mendengar keputusan dari Nyonya Seline hanya bisa menelan ludahnya kasar. Dirinya pasti tidak akan aman begitu saja, dan kenapa juga kedua orang tua Tuannya itu seenaknya saja melempar sebuah petaka kepadanya.


Tapi mau apa lagi, dia hanya bawahan yang hanya bisa pasrah saja.


"Baik Nyonya, mari Tuan Muda Pertama, "ucap Riko kepada Jacob.


Jacob menganggukkan kepalanya lalu berjalan sesuai arahan dari asistennya itu.


***

__ADS_1


TBC


__ADS_2