
"STOP STOP! Berhenti memukulinya Tuan Muda Kedua,"pekik Indri, dengan wajah takutnya.
"Kak Mark! Berhenti kak,"teriak Aneth.
Telinga Mark seakan tuli dengan segala teriakan yang Indri dan Aneth berikan. Pria itu terus memukuli sosok pria dibawahnya yang tampak sudah tak berdaya.
Indri yang sudah di ambang batas kesabarannya pun mendekati dua pria yang didominasi Mark dalam perkelahian itu.
Dengan satu gerakan, gadis itu menarik tubuh Mark dari atas tubuh seorang pria berseragam pengawal itu hingga membuat Mark terlentang di atas tanah.
"Kamu gila Mark, kenapa harus memukulinya,"sentak Indri dengan wajah kesalnya. Hilang sudah panggilan Tuan Muda Kedua yang biasa keluar dari bibir Indri. Gadis itu benar-benar kesal pada Mark yang tiba-tiba datang dan langsung memukuli Adam, pengawal Kediaman Garadha.
Usai memisahkan Mark dari atas tubuh Adam, Indri mendekati Adam dan membantunya untuk beranjak dari posisi terlentangnya.
"Maaf, kamu jadi kayak gini,"ucap Indri, menatap penuh rasa bersalah.
Dari arah mansion, tampak sosok Kanaya dan Jacob melangkah mendekati mereka semua yang ada disana.
"Ada apa ini?"tanya Jacob dengan suara tegasnya.
Semuanya menoleh pada pasangan tersebut, kecuali Mark yang masih saja menatap sengit Indri yang tengah membantu Adam.
"Kak Mark berkelahi sama Adam, kak,"jelas Aneth tentang poin masalah yang terjadi. Karena gadis itu juga tidak tahu duduk masalahnya.
"Indri apa yang terjadi?"tanya Kanaya pada sang sahabat. Indri mendongak, menatap Kanaya dan memberikan gelengannya pada wanita itu.
Dia juga masih bingung kenapa Mark sampai memukuli Adam, disaat Indri tengah berada ditaman bersama Adam.
Tangan Mark terkepal kuat, pria itu begitu kesal dengan alasan yang hanya dia seorang mengetahuinya.
"Ikut Saya, kita kembali ke Paris,"utas Mark, seraya menyeret tangan Indri dan menarik gadis itu menjauh dari semua orang.
"Tuan, lepaskan Saya!"
"Kak Mark!"seru Aneth.
"Mark, apa yang kamu lakukan! Lepaskan dia,"utas Jacob penuh ketegasan.
Semua yang ada disana pergi meninggalkan area taman mengikuti Mark yang masih saja menyeret tangan Indri lalu menuju kamarnya.
Sementara Adam yang ditinggal seorang diri hanya bisa memandang sebuah benda kecil ditangannya.
"Sekali lagi Aku gagal, Ndri,"gumamnya.
Kegaduhan kini berpindah ke dalam Kediaman Garadha. Mark yang terus menarik Indri sedangkan yang lainnya berusaha mengejar pria itu.
__ADS_1
Nyonya Seline yang telah rapi untuk mengantarkan Aneth tampak juga kebingungan akan kegaduhan yang terjadi. Wanita yang baru saja itu keluar dari kamarnya menghentikan Aneth dan bertanya.
"Ada apa ini?"tanya Nyonya Seline.
"Kak Mark Ma, dia menarik Mba Indri,"ucap Aneth.
Nyonya Seline menatap lantai atas dan dia menemukan sosok putra keduanya yang masih menyeret Indri lalu masuk ke dalam kamar pria itu.
"Ma, Mark membawa Indri ke kamarnya,"ucap Kanaya khawatir.
Wanita bercadar itu kini tampak semakin panik, dia yang tengah hamil muda itu memacu kakinya lebih cepat dan itu tentu saja membuat Jacob khawatir.
"Jangan lari Naya! Ingat baby kita,"seru Jacob menghentikan Kanaya yang tengah berlari dan menjadi jalan santai.
Pria itu mendekati Kanaya lalu memegang sang istri agar tidak panik dan tetap berjalan santai.
Sementara itu di depan kamar Mark, Nyonya Seline dan Aneth yang telah sampai di depan kamar Mark lebih dulu tengah memanggil-manggil nama pria itu agar keluar dari dalam kamarnya. Karena tidak menutup kemungkinan Mark akan berbuat nekad pada Indri.
Gedoran pintu terus Aneth dan Nyonya Seline lakukan agar Mark segera membukanya.
"Mark buka pintunya! Mark...Atau Mama akan marah sama kamu,"teriak Nyonya Seline dengan tangan yang masih setia menggedor-gedor pintu kamar itu bersama Aneth disebelahnya.
"Mas, Indri di dalam sama Mark, Mas,"ucap Kanaya.
Jacob melangkah maju membela kerumunan kecil itu. Pria itu berdiri di depan pintu dan berkata.
"Dobrak saja Kak,"utas Aneth menggebu, dia juga tampak khawatir dengan apa yang telah terjadi di dalam. Sayangnya kamar Mark menggunakan peredam suara sehingga mereka tidak bisa mendengar apa yang telah Mark dan Indri lakukan di dalam sana.
Jacob menatap semua yang ada disana meminta pendapat dari mereka. Anggukan yang semua orang berikan membuat pria itu melangkah mundur.
Kanaya dan yang lainnya memberi jarak agar Jacob bisa mendobraknya.
"Mark, Aku peringatkan lagi untuk membuka pintunya. Jika tidak...Aku akan mendobraknya,"lantang Jacob, memasang sikap untuk mendobrak pintu kamar Mark.
Jacob memajukan langkahnya mendekati pintu kamar tersebut.
"Mark!"
Ceklek.
Jacob menarik kakinya kembali yang hampir saja mengenai perut Mark, bukan pintu. Sekali lagi bukan pintu yang tetapi perut Mark. Ya, itu karena pintu tersebut tiba-tiba dibuka oleh si pemilik.
"Kakak? Kenapa kakak membawa koper?"tanya Aneth dengan ekspresi herannya.
Semua yang ada disana mengalihkan netranya pada sebuah koper yang pria itu bawa pada tangan kirinya. Sementara tangan kanan Mark masih setia mencengkram tangan Indri.
__ADS_1
"Kembali ke Paris,"jawab pria itu singkat, lalu kembali menarik tangan Indri yang kini pasrah saja melewati semua orang.
Tentu saja mendengar jawaban yang Mark berikan itu membuat semuanya terperanjat.
Mark yang telah melangkah panjang di depan dengan Indri yang pasrah mengikutinya pun membuat semua orang kembali membelok langkahnya mengikuti Mark dan menahan pria itu agar tidak pergi.
"Mark, kamu baru saja datang kemarin? Jangan gegabah,"ucap Nyonya Seline, berharap putra keduanya itu tidak benar-benar dengan ucapannya.
"Indri, tolong tahan Mark. Kalian baru saja datang,"timbal Nyonya Seline lagi.
Tapi gelengan kepala Indri membuat wanita paru baya itu tampak lesuh. Sepertinya Indri tidak bisa menahan sosok Mark untuk tidak pergi.
Kini pria itu telah berada di luar kediaman Garadha dan sudah meminta seorang supir untuk memasukkan koper miliknya.
"Tuan Muda Kedua..."
"Masukkan!"titah Mark saat melihat supir itu enggan menuruti keinginannya.
"Kak, jika kakak pergi seharusnya tidak perlu membawa Mba Indri,"celetuk Aneth. Sebuah celetukan yang baru saja menyadarkan semua yang ada disana.
"Kak, lagi pula Mba Indri juga tidak membawa pakaiannya,"ucap Aneth yang lebih fokus pada hal lainnya lagi.
Jika memang Mark ingin kembali ke Paris kenapa juga harus membawa Indri ikut serta. Yang terlibat pertengkaran adalah Mark dengan Adam, yang menginginkan untuk pergi kembali juga Mark. Lalu kenapa Indri juga harus terseret dan ikut kembali ke Paris?
"Dia pelayan Aku, jadi harus ikut kemanapun Aku pergi,"ujar Mark tanpa menoleh sedikitpun pada mereka.
"Mark...Jangan bawa Indri, biarkan dia disini."
Itu adalah permintaan Kanaya. Entah mengapa dia merasa jika apa yang dilakukan Mark itu cukup membuatnya marah. Mark yang hendak masuk ke dalam mobilnya usai memasukkan Indri ke dalam mobil itu pun menatap Kanaya dan berkata.
"Indri, kamu keluar dari sana,"timbalnya lagi seraya mengetuk jendela mobil.
Indri yang ada di dalam hanya bisa menunduk dengan meremas tangannya. Dia tidak bisa menentang Mark. Meskipun dengan keahliannya, Indri bisa melakukan itu.
"Maaf, Kakak Ipar. Aku tidak bisa,"ucapnya lalu masuk ke dalam mobil dan mulai melajukan mobil tersebut meninggalkan kediaman Garadha.
"Kakak...Kak!"
"Mark!"panggil Kanaya dan Nyonya Seline yang masih berharap pria itu dan Indri tidak pergi meninggalkan Indonesia lagi.
Sementara Jacob yang tadinya juga ingin mencegah adik keduanya justru lebih tertarik menatap Tuan Garadha yang baru ia lihat tengah menjadi penonton di atas balkon. Bahkan pria parubaya itu sama sekali tidak ada niatan untuk turun dan mencegah Mark.
"Mas, Mark Mas...Indri harus pergi lagi ninggalin Naya,"aduh Kanaya dengan kedua mata yang mulai memanas itu.
***
__ADS_1
TBC