ISTRI CANTIK TUAN JACOB

ISTRI CANTIK TUAN JACOB
BAB 69


__ADS_3

"Kita mau kemana, Naya? "tanya Nenek Risma pada sang cucu.


Kanaya menoleh pada sang Nenek yang duduk di sampingnya itu lalu berkata.


"Kita akan pergi jauh dari Jakarta Nek, Nenek ingin pergi ke suatu tempat nggak?"tanya wanita yang masih terlihat pucat wajahnya itu dengan senyuman tipisnya.


Nenek Risma terdiam, menatap lalu lalang bus antar provinsi yang ada di depannya itu. Bisa ditebak dimana mereka saat ini, bukan? Ya, Kanaya dan Nenek Risma telah berada di terminal kota.


Setelah keduanya bersusah payah untuk kabur dari rumah sakit kini sampailah mereka di tempat tersebut.


"Solo, Nenek ingin ke Solo. Dulu kakek kamu pernah bilang Solo adalah tempat yang sangat penuh kenangan,"ujar Nenek Risma.


Kanaya terdiam, ditatapnya cincin pernikahan yang tersemat di jari manisnya. Dia memang tidak membawa apapun selain pakaian yang menempel pada tubuhnya dan dua helai pakaian yang sepertinya Nyonya Seline membawakannya sebagai pakaian ganti dia selama di rumah sakit.


"Kira-kira, kalau pakai cincin ini cukup nggak ya Nek buat ke Solo? "tanya Kanaya tanpa mengalihkan atensinya dari cincin pernikahan tersebut.


"Loh, kenapa harus pakai cincin kamu Nay? Itu disimpan dulu saja, kebetulan Nenek punya uang,"ujar Nenek Risma.


Kanaya mengernyit mendengar perkataan Nenek Risma itu. Terlebih saat wanita itu membuka tasnya dan menunjukkan setumpuk uang di dalam sana.


"Nek, ini dari mana? Nenek tidak melakukan yang tidak tidak kan, "ucap Kanaya pelan seraya menutup kembali tas milik Nenek Risma.


"Ini sebenarnya dari Nak Jacob. Selama kalian menikah, suami kamu itu selalu kasih uang ke Nenek tiap bulannya. Awalnya kayak kartu gitu, tapi Nenek nggak mau karena ya...Nenek kan sudah tua mana tahu kartu-kartu begituan."ucap Nenek Risma.


"Terus keesokan harinya, Jacob malah ngasih uang gepokan gini. Tadinya Nenek sempat nolak, tapi Nak Jacob maksa jadi sihirnya Nenek terima karena nggak tega, Nay,"lanjutnya menjelaskan asal muasal uang tersebut.


Kanaya menunduk sedih. Dia yang susah payah kabur dengan tujuang tidak ingin terlibat lagi dengan keluarga Garadha, terlebih atas pengakuan Jacob yang tidak mencintainya dan ingin cerai karena Kanaya yang telah keguguran.


Dia yang terlalu sakit hati, memilih pergi. Tetapi siapa kira, jika di saat rencana kaburnya pun. Nama pria itu masih saja terlibat.


"Naya, mereka siapa ya? "tanya Nenek Risma seraya menunjuk arah di belakang Kanaya.


Sontak saja wanita cantik itu menoleh, dan detik selanjutnya bola mata Kanaya membulat sempurna.


Tanpa banyak bicara, ia tarik Nenek Risma dan gegas mengajaknya masuk ke dalam bus yang akan membawanya ke kota Solo.


"Nek, tutup wajah Nenek dengan ini, "pinta Kanaya dengan menyerahkan masker wajah pada Nenek Risma.


Lagi, Nenek Risma hanya bisa menurut pada permintaan sang cucu dengan memakai masker untuk menutupi wajahnya.


"Mereka orangnya Tuan Garadha, Nek, "bisik Kanaya pada Nenek Risma.

__ADS_1


"Ya ampun, kenapa cepat sekali mereka kesininya. Kita bisa ketahuan ini, Nay, "ujar Nenek Risma seraya memajukan kerudungnya.


Begitu pula Kanaya, dia menutup wajahnya rapat dengan masker. Tidak lupa dia memakai kaca mata dua puluh lima ribuan yang dia beli dari pedagang asongan yang keliling di terminal.


"Mereka mau kesini Nay, "bisik Nenek Risma.


"Naya takut Nek, Naya nggak mau kembali kesana lagi, Naya nggak sanggup,"balas Kanaya.


"Kamu pura-pura tidur ya Nay, biar nanti Nenek yang hadapi mereka, "ucap Nenek Risma.


Kanaya tak menyaut, dia hanya mengikuti perintah sang nenek dengan memiringkan kepalanya lalu sedikit menunduk layaknya orang tidur di dalam kendaraan.


Dua pria betubuh kekar terlihat masuk ke dalam bis dimana Nenek Risma dan Kanaya berada.


satu persatu kursi penumpang, mereka cek untuk melihat adanya Kanaya disana. Sampai tiba giliran di kursi dimana Nenek Risma dan Kanaya berada.


"Hey Nenek Tua! Siapa disamping kamu itu,"ucap pria itu tegas.


Nenek Risma yang tadinya berpura-pura tidur sama seperti Kanaya pun perlahan menggerakkan kepalanya seakan-akan dia baru terbangun.


"Dia cucu saya, "ucap Nenek Risma.


Kanaya menahan nafasnya takut jika penyamaran mereka akan ketahuan.


"Ah itu, dia sedang demam dan matanya tengah sakit juga, "ucap Nenek Risma dibuat sesantai mungkin.


"Tuan, Anda mau apa? "sergah Nenek Risma kala tangan pria itu terulur ke arah Kanaya.


"Kita sedang mencari Nona Muda Kami, dan dia tampak mirip dengannya,"ucap pria itu kembali mengulurkan tangannya.


Namun Nenek Risma tidak mau kalah, dia mencoba menahan tangan pria itu untuk tidak membuka masker Kanaya.


"Saya mohon, jangan sampai dia bisa membuka masker ini. Jangan sampai, "batin Kanaya menjerit.


"Tuan, jika Anda memaksa untuk membuka maskernya. Saya takut penyakit cucu Saya semakin parah, "ucap Nenek Risma.


Tetapi pria itu tampak tidak peduli akan alasan Nenek Risma. Dengan kasar pria bertubuh besar itu menghempaskan tangan Nenek Risma yang menahannya itu.


"Jangan sampai kami berbuat kasar, Nenek tua, "seru pria bertubuh besar satunya.


Kanaya terus berdoa dalam hatinya agar masker yang menutup wajahnya itu tidak dibuka oleh mereka.

__ADS_1


"Bro! Kita dipanggil Bos, katanya Nona Kanaya sudah ketemu sama si Edo, "seru seorang yang sama bertubuh besarnya yang baru saja masuk ke dalam bis tersebut.


Nafas Kanaya tampak begitu lega saat dua pria itu berbalik dan meninggalkan dirinya lalu keluar dari bis.


"Hampir saja Nek, "ucap Kanaya seraya mengelus dadanya.


"Iya Nay, Nenek tadi deg degan banget, "seru Nenek Risma.


Kanaya menatap keluar jendela bis dimana sekumpulan pria bertubuh kekar, tampak salah satu dari mereka tengah mendapat omelan pria berstatus mertuanya itu.


Tak jauh dari mereka terlihat seorang gadis yang Kanaya yakini adalah sosok yang dikatakan itu adalah dirinya.


"Selamat tinggal Pa, selamat tinggal kota Jakarta, "ucap Kanaya seiring dengan roda bis yang mulai berputar meninggalkan terminal.


***


"Tuan Muda Pertama, pesawat pribadi Anda telah siap, "ujar Riko pada sang atasan.


Jacob yang mendengar itu gegas memasukkan ponselnya dimana tadi ia gunakan untuk memandangi foto cantik Kanaya, yang diam-diam ia curi kala wanitanya tidur itu.


"Hem, "dehem Jacob lalu beranjak dari kursinya.


Pria itu berjalan diikuti sosok Riko di belakangnya.


"Semoga Anda lekas sehat dan bisa kembali ke Indonesia, Tuan, "ucap Riko saat Jacob berada disisi pesawat pribadinya.


"Hem, Saya titip perusahaan, dan tolong awasi Kanaya dari mata pria termasuk kamu, "ucap Jacob lalu berbalik meninggalkan Riko yang berjalan menjauh dari pesawat pribadi tersebut.


Tadinya Riko akan ikut dengannya ke Amerika, namun mengingat jika perusahaan tidak mungkin dihandle seorang diri oleh Tuan Garadha membuat Jacob mengurungkan niatnya pada detik-detik akhir pemberangkatan.


"Saya pasti akan menjalankan tugas ini, Tuan Muda Pertama,"ucap Riko seraya matanya terangkat menatap pesawat yang telah lepas landas itu.


***


TBC


Dear readers:


Hay semuanya! Saya sebagai author karya Istri Cantik Tuan Jacob mengucapkan terima kasih atas kesetiaan kalian pada novel ini.


Tetapi sebagai readers yang bijak, tolonglah saat kalian memberi ulasan atau rate novel ini untuk memberikan bintang lima.

__ADS_1


Saya tahu mungkin karakter Kanaya yang sengaja saya buat lemah lembut sedikit membuat Kalian kesal. Tetapi itu sudah masuk dalam pertimbangan Author, dimana Kanaya merupakan sosok yang berlatar belakang lahir dari desa. Adapun karakter Jacob yang mudah emosi dan sulit dalam mengambil keputusan pada urusan pribadi karena memang karakter Jacob saya sesuaikan dengan baground dia yang memiliki IED.


Jadi author mohon, entah itu sengaja atau tidak dengan memberi rate bintang kecil. Tetapi itu sungguh membuat Author merasa sedikit down. Terima kasih.


__ADS_2