ISTRI CANTIK TUAN JACOB

ISTRI CANTIK TUAN JACOB
Bab 108


__ADS_3

Seperti janjinya tempo lalu untuk mengunjungi Nenek Risma. Kini Kanaya tengah berada di Villa Cendana dimana villa yang ditempati oleh Nenek Risma. Disamping wanita cantik itu juga ada sosok Dinda yang berdiri dengan segala kewaspadaannya.


Padahal Kanaya sudah memaksa Dinda untuk duduk, tapi karena Dinda yang kekeuh akan profesionalan kerjanya tetap menolak permintaan Kanaya.


Di gazebo tepatnya di atas kursi rotan yang nyaman wanita cantik itu tengah duduk menyandar bercengkrama ria dengan Nenel Risma yang tengah membuat sebuah rajutan dengan tangan-tangan keriputnya yang masih saja terlihat lincah.


Tatapan manik abu-abu Kanaya begitu kagum akan kelincahan tangan Nenek Risma. Wanita hamil muda itu baru pertama kali melihat keahlian Neneknya yang sama sekali tidak ia tahu sebelumnya.


"Nenek, sejak kapan Nenek bisa merajut? Itu apa yang Nenek buat?"tanya Kanaya antusias.


Senyuman pada wajah keriput Nenek Risma terlihar jelas saat ia mendapatkan pertanyaan dari sang cucu.


"Sudah lama, Nenek waktu muda suka sekali merajut. Tapi, semenjak kakek kamu meninggal dan hidup Nenek yang begitu sulit membuat Nenek tidak ada waktu untuk merajut ataupun menyisihkan uang untuk membeli alat-alatnya. Dan ini...sepasang sepatu untuk bayi kamu,"ucap wanita itu.


Kanaya meraih sebuah sepatu rajut yang telah selesai di atas meja itu, kemudian ia melihatnya dengan binar mata begitu senang.


Sepatu rajut berwarna merah muda itu tampak sangat menggemaskan dengan beberapa hiasan bunga berwarna kuning di sekitarnya.


Tapi, bukankah Kanaya dan Jacob belum tahu jenis kelamin bayi mereka. Dan sepatu yang ia pegang justru berwarna merah muda. Bagaimana jika anaknya dan Jacob adalah seorang putra bukan putri.


"Nek, bagaimana jika cicit Nenek ternyata laki-laki?"


Sekali lagi Nenek Widia memberikan senyuman meneduhkannya. Dia paham arah pembicaraan dan kekhawatiran sang cucu akan warna sepatu rajutnya itu.


"Nenek akan membuat lagi sepasang sepatu warna biru. Jadi Kamu bisa memakaikan kelak yang warna merah muda atau warna biru,"ucap wanita itu.


"Nek, terima kasih ya...Nenek selama ini sudah begitu baik sama Naya,"ucap Kanaya dengan segenap ketulusannya.


"Kamu ini bicara apa, Kanaya adalah cucu Nenek jadi Nenek harus baik sama Kamu."


Entah bagaimana jika Kanaya tidak memiliki nenek sebaik Nenek Risma sudah tentu Kanaya akan sangat menderita.


Ditengah kehidupannya yang dulu sengsara dan berbagai macam kepahitan di dalamnya. Nenek Risma selalu ada disisinya.


Waktu terus bergulir, keduanya tanpa sadar sudah begitu lama menikmati waktu bersama dengan bercengkrama ria di gazebo tersebut.


Dan sangking asiknya, sampai tidak menyadari kehadiran sosok Jacob disana.


"Sepertinya istri cantikku begitu nyaman di sini, sampai tidak menyadari kehadiranku,"ucap Jacob, dengan memasang wajah merajuknya.


"Tuan Muda Pertama,"panggil Dinda yang sadar akan keberadaan Jacob.

__ADS_1


Kekehan renyah keluar dari bibir Kanaya dan Nenek Risma. Lihatlah pria dewasa yang sebentar lagi akan menyandang status seorang ayah itu bertingkah seperti anak kecil yang merajuk pada ibunya.


"Iya Mas, Naya nyaman sekali. Maaf ya, sampai tidak melihat kamu yang sudah ada disini,"balas Kanaya.


"Duduklah Jacob,"saut Nenek Risma pada cucu menantunya itu.


Mendapat tawaran untuk duduk sebentar, Jacob justru melihat arlojinya. Sebentar lagi Aneth akan pergi ke bandara.


"Maaf Nenek, sepertinya Jacob tidak bisa berlama-lama disini. Naya dan Jacob harus ke kediaman Garadha,"jelas Jacob dengan halus.


"Ah iya Nek, Naya lupa memberitahu Nenek. Naya harus ke kediaman Garadha. Hari ini Aneth akan kembali ke Amerika."


Nenek Risma meletakkan jarum rajut itu pada keranjang di atas meja. Kemudian wanita itu beranjak meninggalkan keduanya.


Jacob dan Kanaya saling menatap bingung, mereka tidak tahu apa yang hendak Nenek Risma lakukan. Beberapa saat kemudian Nenek Risma kembali lagi ke gazebo itu dengan sebuah wadah di tangannya.


"Nenek tadi membuat kue lapis, kesukaan Kanaya, bawalah,"ucapnya, menyodorkan kue tersebut.


"Wah, terima kasih Nek. Naya suka sekali (membuka wadah yang Nenek Widia berikan), ini sangat banyak Nek."


"Ah itu, sebagian kamu berikan untuk mertuamu, Nay."


"Kami pergi dulu ya Nek, terima kasih atas kuenya,"ucap Jacob.


"Naya pergi Nek, assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Dengan memperlakukan penuh kelembutan Jacob berjalan menuju mobilnya yang telah terparkir di depan villa. Pria itu membukakan pintu lalu memasangkan sabuk pengaman pada Kanaya.


"Dinda, Kamu pulanglah ke mansion. Biar Kanaya dalam penjagaan Saya,"titah Jacob.


"Baik Tuan Muda Pertama,"balas Dinda menunduk hormat.


Setelah ia memastikan keamanan sang istri dan memberi titah pada Dinda untuk pulang ke mansion. Jacob berlari memutari body mobil dan duduk di balik kursi kemudi.


"Mas, sudah bawa apa yang mau Naya kasih ke Aneth kan?"tanya Kanaya.


"Sudah Naya sayang, ada di kursi penumpang,"jawab Jacob.


Kanaya melihat belakang dan benar disana terdapat sebuah paper bag yang sebelumnya telah ia siapkan untuk Aneth.

__ADS_1


Mobil itupun berjalan dengan kecepatan sedang, membawa Jacob dan Kanaya di dalamnya.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, kini mobil keduanya telah memasuki gerbang tinggi kediaman Garadha.


Jacob memarkirkan mobilnya dengan baik, kemudian keluar lebih dulu untuk membukakan pintu mobil Kanaya.


"Hati-hati Naya Sayang,"ucapnya memperingati Kanaya agar perlahan keluar dari dalam mobil tersebut.


"Iya Mas,"balas Kanaya.


Jacob mengambil alih kotak berisi kue lapis buatan Nenek Risma dan juga paper bag yang berisi barang pemberian untuk Aneth.


"Mas, biar kuenya Naya yang bawa saja deh,"celetuk Kanaya. Dia merasa kasihan terhadap sang suami yanf kedua tangannya penuh. Sedangkan dirinya sendiri begitu santai dengan tangan kosongnya.


"Tidak, Nay. Mas tidak repot kok. Ayo jalan disamping Mas,"pinta pria itu.


Kanaya hanya bisa menuruti kemauan sang suami yang tak terbantahkan itu. Dengan memegang perutnya yang mulai buncit, Kanaya berjalan disisi Jacob memasuki kediaman Garadha.


"Sepertinya besok jadwal kamu kontrol kandungan, bukan?"tanya Jacob.


"Iya Mas, besok mungkin Naya bisa minta tolong ditemani Dinda,"ujar Kanaya.


"Tidak, nanti Mas juga akan pulang dan ikut menemani kamu kontrol kandungan,"tegas Jacob.


Kanaya tersenyum simpul. Jacob sangat protektif pada kandungannya, pria itu juga selalu meluangkan waktu di tengah kesibukannya di kantor untuk menemani Kanaya memeriksakan kandungannya.


"Terima kasih Mas, sudah sayang sama Naya dan anak kita,"ucap Kanaya.


"Kamu ini, jelaslah Mas sayang sama kamu dan baby. Karena kalian segalanya buat Mas,"balas Jacob dengan senyuman lebarnya.


Senyuman Jacob disambut Kanaya dengan senyuman lebar juga. Lalu keduanya kembali memfokuskan pada pintu Kediaman Garadha yang telah terbuka lebar.


"Assalamu'alaikum,"seru keduanya kompak.


Suara bising sebuah pertengkaran memasuki gendang telinga jacob dan Kanaya. Karena rasa penasaran yang teramat besar, membuat mereka gegas masuk dan mencari sumber suara tersebut.


"Mas, apa yang telah terjadi? Mereka kenapa?"tanya Kanaya dengan wajah paniknya.


***


TBC

__ADS_1


__ADS_2