
#Tiga tahun kemudian.
Suara lembut Kanaya yang tengah membimbing Asha untuk mengaji terdengar merdu di setiap sudut mansion Garadha.
Tidak ada baby sitter yang mengasuh Asha. Meskipun Jacob sangat mampu untuk menyewa baby sitter, dan sudah berulang kali menawarkannya pada Kanaya, karena takut istri cantiknya itu kelelahan.
Namun, Kanaya dengan lembut menolaknya dan ingin merawat Asha sendiri. Sehingga berkat keuletannya, di usia Asha yang masih belia sudah menghafal bacaan sholat, doa-doa, dan kini Kanaya tengah mengajarinya mengaji.
" Ma aa ba, naa jaa haa.."
"Nah kalau ini harokat kasroh, dan bunyi a akhir, Asha ubah menjadi i. Kayak gini... rii taa staa.."
"Rii taa saa,"ulang Asha.
"Bukan saa tapi staa,"koreksi Kanaya.
"Saa..."
"Staa.., bukan Saa, Sayang,"koreksinya lagi.
"Mom, ini sulit,"keluh Asha dengan bibir maju beberapa senti.
Aksi protes Asha itu terlihat begitu menggemaskan, sampai membuat Kanaya tidak tahan untuk tidak menarik putrinya lalu mengecup pipi cubby yang lembut itu berulang kali.
"Mom, kenapa cuma Asha yang dicium? Asha mau cium,"celoteh Asha dengan gaya bahasa cadelnya.
Kanaya terkekeh, dia menyodorkan pipinya agar sang putri bisa menciumnya dengan mesra. Ya, Asha berdiri lalu memajukan bibirnya untuk mengecup pipi kanan dan pipi kiri Kanaya.
"Mom cantik sekali, Asha cantik?"tanyanya dengan kedua tangan merangkup wajah Kanaya.
Tidak sadarkan Asha ini, jika dirinya juga begitu cantik. Padahal usianya masih begitu belia, namun siapa saja yang memandang Asha pasti akan jatuh hati.
"Asha juga cantik,"puji Kanaya.
Asha menggelengkan kepalanya, dia masih kekeuh jika yang cantik hanyalah Kanaya, dan dirinya tidaklah cantik. Tidak ingin putrinya menyangkal nikmat yang Allah berikan. Kanaya melepaskan mukenahnya lalu memakai hijab besarnya dan membawa tubuh kecil Asha di depan cermin rias.
Ia arahkan tubuh Asha pada cermin itu lalu tangan membelai wajahnya. Kanaya juga mendekatkan wajahnya bersebelahan dengan wajah Asha.
"Kita cantik Asha. Mom, Asha, dan seluruh wanita di muka bumi ini cantik. Semuanya menempati kecantikan yang berbeda-beda. Asha juga cantik, jadi jangan pernah bilang gitu ya, Sayang. Asha harus bersyukur atas nikmat Allah,"nasihatnya.
Asha mematut wajahnya pada cermin. Lalu memegang pipi cubby-nya dengan kedua tangan. Menggoyangkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Lalu sesekali terkikik malu melihat wajahnya sendiri di cermin.
"Asha cantik ya Mom? Cantik ya?"ucapnya menggemaskan.
Menggemaskan sekali putri sulung Jacob dan Kanaya ini. Tadi ia menolak mengakui dirinya cantik Sekarang justru, meminta diakui kecantikannya.
"Iya Asha cantik kok,"balas Kanaya menahan tawanya.
"Wahh... Cantiknya Asha ya Mom, cantik ini,"ucapnya masih memuji diri sendiri.
__ADS_1
Kanaya tidak bisa menahan diri lagi, tawanya pecah karena tingkah lucu sang putri. Tetapi Asha hanya menatap dengan kepala yang ia miringkan saat melihat Kanaya tertawa.
"Kenapa Mom tawa? Asha cantik kan?"
Oh ya ampun, apa ini yang Asha celetukkan. Sangat menggemaskan. Bola mata bulatnya dengan manik abu-abu menatap penuh, serta bulu matanya yang bergerak terus seiring pernyataan "Asha cantik ya kan Mom?".
"Aduh Mommy hanya kagum lihat putri cantik Mommy. Asha, tahu nggak kalau bercermin itu ada doanya loh,"ucap Kanaya.
Asha menghentikan askinya menatap wajahnya sendiri di cermin dan balik menatap Kanaya.
"Doa? Apa itu Mom?"tanyanya penasaran.
"Ikutin Mommy ya,"ucap Kanaya diangguki Asha.
Bahkan bocah cantik yang tadinya berdiri kini duduk dengan kaki bergelantungan menunggu ilmu baru dari Kanaya.
"Alhamdullillah..."
"Dulillah,"ucap Asha mengikuti Kanaya.
"Al-hamdulillah..."
"Al...ham..dulillah,"ucap Asha dengan lengkingannya yang mendayu.
"Allahumma."
"Allahumma..."
"Tama."Asha.
"Kamaa hasanta,"Kanaya.
"Tamaa hasanta,"Asha.
"Khalqi fahassin,"Kanaya.
"Taatii tapasciin,"Asha.
"Khalqi... Bukan tatii, Khalqii fahassiin,"ralat Kanaya.
"Talqi fahassin,"Asha.
"Khalqi,"Kanaya.
"Kalki..."Asha.
"Khalqi,"
Asha terdiam, dia kesulitan membaca huruf kha seperti yang Kanaya lakukan. Dia menatap wajah Mommy-nya memberit kode jika ia kesulitan melafalkan huruf kha tersebut.
__ADS_1
"Ayo Asha, Khalqi,"bimbing Kanaya lagi.
"Khal...khal...qi,"ucap Asha.
"Masyaallah, pintarnya putri Mommy,"puji Kanaya memeluk tubuh kecil Asha.
Sementara itu, disaat ibu dan anak itu tengah asik dengan dunianya. Tanpa mereka sadari Jacob sedari tadi berdiri menyandar pada pintu menatap pemandangan yang menyejukkan matanya itu.
Sudut bibir pria itu tak hentinya terangkat ke atas, Jacob tidak pernah membayangkan hidupnya akan begitu indah seperti ini. Pulang bekerja, menyaksikan istri cantiknya yang tengah mengajari putri kecil mereka ilmu agama.
Setitik air mata tak terasa jatuh pada sudut ekor mata pria itu. Itu bukan air mata kesedihan melainkan air mata haru.
Dahulu dia adalah pria yang bisa dikatakan sangat jauh dari Tuhannya. Dunia bisnis juga membuatnya bersentuhan dengan alkohol, terlebih penyakit IED yang diidapnya acap kali membuat Jacob lepas kendali dan menyakiti orang di sekitarnya.
"Terima kasih ya Allah, Engkau telah memberikan istri dan anak yang selalu menyejukkan mata ini,"gumamnya.
"Daddy!"seru Asha.
Asha yang baru menyadari keberadaan Jacob, gegas meminta turun dari pangkuan Kanaya dan berlari ke arah Jacob.
Melihat putri kecilnya yang berlari ke arahnya, Jacob dengan senang hati merentangkan kedua tangannya lalu membawa Asha dalam gendongannya.
"Waahhh, putri Daddy sudah semakin besar saja, hem,"ucap Jacob seraya membawa Asha berputar. Aksi Jacob itu membuat gelak tawa Asha pecah dengan renyahnya.
"Ctop Daddy, ctop! Pusing Asha,"ucap Asha memegang kepalanya.
Jacob menghentikan putaran tubuhnya, lalu berjalan mendekati Kanaya bersama Asha tentunya.
"Mas,"panggil Kanaya seraya meraih tangan Jacob untuk ia cium punggung tangannya.
"Mas sudah bersih-bersih? Kok pakaiannya sudah ganti?"ucap Kanaya menatap heran suaminya.
Jacob menurunkan tubuh kecil Asha dan membiarkan putri kecilnya itu berguling-guling pada karpet bulu dan mengambil boneka beruang untuk diajaknya bermain.
"Iya, mandi di kamar sebelah. Tadinya mau mandi di kamar utama. Hanya saja, istri cantik Mas sedang mengaji bersama Asha. Mas takut ganggu,"jelasnya dengan senyuman lebar.
"Ya Allah, Mas. Berarti Mas sudah datang dari tadi ya...Maaf Naya nggak tahu, seharusnya Naya menyambut Mas di depan,"ucap Kanaya dengan wajah penuh penyesalannya.
"Tidak apa, Mas justru senang. Karena dengan itu, Mas bisa lihat bagaimana Kamu mendidik Asha dengan sangat baik,"ucap Jacob mengusap lembut kepala Kanaya.
"Mas tunggu sini ya, Naya mau buatin minuman buat Mas,"celetuk Kanaya, lalu gegas keluar kamar tanpa peduli Jacob yang hendak mencegahnya.
Jacob yang ditinggal Kanaya pun hanya bisa menatap pasrah. Kemudian beralih pada karpet bulu dimana Asha berada. Pria itu memilih turut berbaring bersampingan dengan Asha.
"Mom Kamu itu memang selalu begitu, jadi makin cinta deh,"ucap Jacob yang mendapat tatapan heran dari Asha.
"Ha ha ha, Kamu masih kecil jangan tahu cinta-cintaan, girl,"ucap Jacob dengan tawanya.
Pria itu lalu kembali asik menemani Asha bermain, sembari menunggu Kanaya selesai membuat minuman untuk dirinya.
__ADS_1
"TUAN MUDA PERTAMA! NONA KANAYA, TUAN..."
***