
Karena tidak bisa mencegah kepergian Mark yang membawa Indri turut serta, kini semuanya hanya bisa kembali masuk ke dalam Kediaman Gardha dengan tubuh lemasnya.
Nyonya Seline sendiri yang tampak paling lesuh, bahkan wanita parubaya itu harus dituntun oleh Kanaya untuk berjalan.
Saat mereka telah sampai di dalam, pemandangan Tuan Garadha yang begitu santai duduk di sofa dengan secangkir teh hangat di tangannya membuat Nyonya Seline yang lemas seketika bertenaga.
"Papa..."
Nyonya Seline berlari mendekati sang suami dan duduk di sampingnya. Wanita itu menumpahkan kesedihan dan kemarahannya pada Mark. Dengan mata yang menatap teduh sang istri, Tua. Garadha diam dan memilih mengelus bahu sang istri.
"Pa, suruh orang kita untuk mencegah Mark kembali ke Paris, Pa. Mama mohon,"ucapnya penuh permohonan.
"Iya Pa, seharusnya hari ini Aneth saja yang ke luar negeri tapi ini malah Kakak Mark juga ke luar negeri,"ucap Aneth dengan wajah kesalnya.
Sementara Jacob sedari tadi hanya diam dengan tangan yang terus mengelus punggung tangan sang istri. Dia masih melihat bagaimana santainya Tuan Garadha dan seakan tidak keberatan Mark yang ingin kembali ke Paris, padahal baru saja kemarin mereka tiba.
"Mark juga kembali membawa Indri, Pa,"saut Kanaya.
Wanita cantik itu menoleh pada Jacob yang duduk di sebelahnya, pria itu tadi menoel bahunya. Kening Kanaya mengernyit saat Jacob memberikan isyarat agar Kanaya diam saja dengan meletakan jari telunjuknya di depan bibir tebal Jacob.
"Biarkan saja dia, Ma. Mark sudah dewasa, dan Kamu Indri seharusnya kita ke bandara sekarang juga. Sebentar lagi pesawat kamu akan take out,"ucap Tuan Garadha yang justru mengalihkan pembicaraan.
Aneth yang mendengar itu melihat arlojinya. Benar, jadwal pemberangkatan pesawatnya sebentar lagi. Gadis itu seketika panik bukan main, berlari ke kamarnya untuk mengambil koper beserta tas miliknya lalu menghampiri semua orang yang masih duduk di sofa ruang tamu.
"Aneth berangkat dulu Pa, Ma, Kak Jacob, dan kakak ipar. Bye..."
Usai melakukan salim pada semua orang, gadis itu lari terbirit-birit keluar kediaman Garadha.
"Ck, dia masih saja ceroboh,"rutuk Jacob.
"Adik kamu itu memang nggak berubah, dia kira mau pamit berangkat sekolah waktu masih SMA apa ya....Lihatlah, sebentar lagi juga akan kembali kesini,"ujar Nyonya Seline dengan tebakannya.
Benar, Aneth yang tadinya sudah keluar kini kembali masuk dengan menyeret kopernya. Ekspresi wajah gadis itu begitu kesal bukan main.
__ADS_1
"Ayooo, kalian tidak mau mengantar Aku ke bandara?"kesal Aneth, yang memicu tawa semua orang disana.
Setelah drama kepergian Mark yang tidak terduga, setidaknya dengan tingkah Aneth mampu membuat mereka semua sedikit melupakan drama sebelumnya.
"Kamu ini Aneth, kakak sampai nggak bisa tahan untuk tidak tertawa,"ucap Kanaya dengan kekehan kecilnya.
"Naya Sayang, jangan tertawa atau terkekeh. Suara kamu sangat menggemaskan, disini ada Papa,"bisik Jacob membuat kekehan Kanaya seketika berhenti.
"Iiih, ayo anterin Aneth ke bandara,"ucap Aneth lalu menarik tangan kedua orang tuanya agar ikut ia keluar kediaman Garadha.
"Sudah besar, masih saja ceroboh,"ucap Tuan Garadha.
"Aneth nggak ceroboh Pa. Aneth cuma terkadang khilaf gitu,"elak Aneth dengan satu fakta tersebut.
Di belakang ketiganya tampak Jacob berjalan santai bersama Kanaya dengan saling bergandengan tangan.
Lalu semuanya masuk ke dalam mobil masing-masing. Aneth berada di mobil bersama kedua orang tuanya, sedangkan Jacob bersama Kanaya.
"Naya Sayang, kamu dengar kan apa kata Papa tadi?"
"Biarkan saja, Mark sudah dewasa,"saut Kanaya dengan menekuk wajahnya.
Jacob tersenyum simpul, satu tangan pria itu membelai kepala Kanaya sejenak lalu kembali meletakannya pada kemudi bersama dengan tangan yang lainnya.
Beberapa menit kemudian, mereka semua telah sampai di bandara internasional. Aneth yang memang memiliki sikap manja tampak enggan melepaskan pelukannya pada Kanaya.
Ya, yang enggan di lepaskan oleh gadis ceroboh itu adalah kakak iparnya, Kanaya. Mau bagaimana lagi, dia yang sedari dulu ingin merasakan memiliki kakak perempuan. Tentu saja begitu bahagia saat kehadiran Kanaya yang begitu pengertian dan lembut padanya.
"Ehem, Aneth lepaskan istri Kakak. Nanti anak kakak susah nafas,"tegur Jacob, seraya memisahkan pelukan yang di dominasi oleh Aneth itu.
"Ck, pelit banget sih Kak....Kakak ipar, nanti kita sering video call-an ya,"ucap Aneth.
"Iya, kamu disana hati-hati. Dan ini kakak sengaja belikan ini untuk kamu, bukanya kalau sudah sampai di Amerika ya,"ujar Kanaya seraya menyodorkan paper bag yang tadinya ada di tangan Jacob.
__ADS_1
"Woooah, makasih kakak ipar. Makin sayang deh,"ucap Aneth hendak memeluk kembali tubuh Kanaya, tapi justru gadis itu harus memeluk Jacob yang tiba-tiba menggantikan posisi Kanaya.
"Iiih, Kak Jacob ngeselin banget sih,"rutuk Aneth dengan kesalnya.
Sementara Tuan Garadha dan Nyonya Seline hanya bisa menggelengkan kepalanya menatap tingkah kedua anak dan menantu perempuannya itu.
"Aneth, sudah sana cepatan masuk,"tegur Nyonya Seline, menghentikan keributan Aneth dan Jacob.
Gadis itu berbalik lalu memeluk tubuh Nyonya Seline dan Tuan Garadha bergantian.
"Rasanya Aneth ingin cepat-cepat lulus deh, pokoknya nanti kalau ponakan Aku mau lahir, jangan lupa kabari ya Ma, Kak,"tutur Aneth.
Kedua mata gadis itu memanas, padahal ia sudah sering berpergian jauh seperti ini. Namun kebiasaannya yang hendak menangis saat akan meninggalkan keluarganya tidak pernah sedikitpun berubah.
Suara pemberitahuan jika penerbangan menuju Amerika mulai terdengar, namun Aneth masih diam melihat kesana-kemari mencari sosok yang ingin ia jumpai.
Kanaya yang paham jika Aneth tengah mencari Riko pun menarik lengan kemeja Jacob. Karena hanya suaminya saja yang pastinya tahu dimana keberadaan Riko.
Jacob memutar bola matanya malas. Aneth tidak ada goyahnya menaklukan hati Riko, padahal sudah jelas jika Riko hanya menganggap Aneth sebatas adiknya saja tidak lebih.
"Nggak bakal ada yang datang lagi, sudah kamu masuk gih,"utas Jacob mengibaskan tangannya pada Aneth.
"Memangnya kamu menunggu siapa, sayang?"tanya Nyonya Seline heran pada sang putri.
"B-bukan, A-Aneth nggak nunggu siapa-siapa kok Ma. Ya sudah Aneth, berangkat dulu. Assalamu'alaikum,"ucap Aneth seraya melambaikan tangannya pada semua orang.
Gadis itu berbalik lalu melangkah lemas meninggalkan semua orang. Besar harapannya jika Riko akan datang, tapi ekspektasinya benar-benar salah. Riko tidak datang yang berarti Aneth harus benar-benar berhenti untuk mengejar pria itu.
"Sampai jumpa Indonesia,"lirihnya.
***
TBC
__ADS_1