
"Sudah makannya? Sekarang kita ke kamar ya,"ucap Jacob.
Kanaya melirik jam dinding yang menggantung di sana, waktu telah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Dan itu pertanda jika ia harus segera tidur.
"Iya Mas, tapi Naya kenapa tidak mengantuk ya,"ucap Wanita cantik itu.
Jacob hanya membalas dengan senyuman kecilnya. Pria itu mengambil alih piring kosong dari tangan Kanaya lalu meletakkannya di atas meja begitu saja.
Setelah itu Jacob beranjak lalu mengangkat tubuh Kanaya dan membawanya dalam gendongan pria itu.
"Kenapa tidak pakai kursi roda saja sih, kalau gini Mas harus gendong Naya terus. Kan kasihan mas Jacob"keluh Kanaya.
Jacob terkekeh, dia merasa dirinya tidak perlu dikasihani hanya karena harus menggendong Kanaya kemanapun wanita itu ingin turun dari kasur selama masa Kanaya bedrest. Justru dengan melakukan itu, Jacob sangat senang dibuatnya.
Bahkan Jacob benar-benar menjadikan itu sebagai kesempatan agar terus menempeli Kanaya.
"Mas justru senang bisa gendong kamu terus, Naya Sayang,"ucap Jacob dengan langkah kakinya yang terus terayun.
"Tapi rasanya Naya ngerepotin Mas banget deh. Padahal Naya kan bisa jalan sendiri Mas,"balas Kanaya.
Wanita itu terkadang merasa sikap protektif Jacob sedikit berlebihan. Bayangkan saja, setelah perintah dari dokter agar dirinya bedrest selama sebulan. Jacob benar-benar memastikan Kanaya melakukannya, bahkan pria itu tidak mengizinkan Kanaya menginjakkan kakinya pada lantai.
"Mana bisa,Naya Sayang. Kamu itu harus bedrest. Sudah, kamu fokus dengan kesembuhan kamu sama kesehatan baby kita saja ya,"ucap Jacob yang mendapat anggukan kepala Kanaya.
Sesampainya di kamar mereka, Jacob membaringkan tubuh sang istri dengan lembut di atas kasur empuk mereka. Lalu ia selimuti tubuh Kanaya agar rasa hangat membalutinya.
"Selamat malam, istrinya Jacob Garadha,"celetuk Jacob usai melabuhkan sebuah kecupan pada kening sang istri.
"Selamat malam juga suaminya Kanaya,"balas Kanaya.
Keesokan harinya di mansion tersebut tampak begitu ramai karena kehadiran keluarga Garadha dan Nenek Risma.
Tampak juga pemandangan Jacob yang begitu kesal karena dirinya harus menahan diri karena sang istri yang dikuasai para wanita tersebut.
"Naya, makan apelnya ya. Aneth! Mana buahnya,"seru Nyonya Seline yang duduk disisi kasur lainnya.
"Iya iya, ini loh Aneth sudah cuci juga dengan bersih,"seru Aneth melangkah mendekati kasur dengan piring berisi buah apel ditangannya.
__ADS_1
Sementara Nenek Risma tengah duduk sembari tangannya memijat kaki sang cucu. Padahal Kanaya sudah berulang kali meminta Nenek Risma untuk tidak melakukannya.
"Nek, sudah ya. Jangan pijat kaki Naya lagi,"pinta Kanaya menarik kakinya.
"Tidak Naya, biarkan Nenek melakukannya. Kaki ibu hamil biasanya sering merasa pegal,"ucap Nenek Risma kembali menarik kaki Kanaya untuk ia pijat lagi.
Kanaya hanya bisa tersenyum kikuk karena perlakuan semua orang kepadanya. Dia sedikit merasa risih dan hal itu disadari oleh Jacob.
"Ma, sudah dong. Nayanya Jacob jadi merasa risih itu,"celetuk Jacob seraya mendekati kasur dimana sang istri berada.
Pria itu menyerobot tempat disisi Kanaya sehingga jarak Nyonya Seline dan istri cantiknya terhalang oleh tubuh tegap Jacob.
"Ck, kamu kenapa masih disini sih? Mama kan suruh kamu berangkat ke kantor,"kesah Nyonya Seline kesal.
"Jacob kan wfh selama Naya harus bedrest, Ma. Lagi pula, ini tumben-tumbenan Mama sama Aneth kesini bareng Nek Risma lagi,"ucap Jacob.
"Lihatlah Ma, putra sulung Mama ini. Kita datang buat jengukin kakak ipar. Eh dia malah marah-marah, pria macam apa dia ini Ma. Ck...ck..ck,"ucap Aneth dengan decapannya.
"Ya, Aneth! Jaga bicaramu itu. Jika di dengar calon anak Kakak. Awas kamu ya,"sinis Jacob tidak terima.
"Ma, lihatlah putra pertamamu sangat lebay. Jijay Aku ih,"adu Aneth pada Nyonya Seline.
Semua orang disana tertawa karena kelakuan Jacob itu. Tetapi tiba-tiba Aneth yang turut tertawa pun mendadak diam dan raut mukanya sedih.
"Jadi kangen Kak Mark,"lirih Aneth.
Tidak ada niatan sedikitpun dari kalimat yang Aneth keluarkan. Gadis itu benar-benar merasakan rindu pada kakak keduanya.
Setelah Mark pergi ke Paris, Kakak keduanya itu benar-benar memutuskan komunikasi dengan dirinya.
Sementara Jacob tampak telah berubah ekspresinya menjadi datar, tangan pria itu juga menggenggam erat tangan Kanaya yang ada di sampingnya itu.
Nyonya Seline menatap putri bungsunya dan wajah sang menantu bergantian. Tahu jika keadaan mendadak canggung, wanita parubaya itu pun berkata.
"Naya, mama punya rencana buat ngadain santunan sama anak yatim piatu buat syukuran kehamilan kamu, bagaimana menurut kamu?"ucap Nyonya Seline.
"Boleh Ma, rencananya mau di lakukan dimana, Ma?"tanya wanita cantik itu.
__ADS_1
"Di sini sajalah, biar Kamu nggak usah ke kediaman Garadha."
Senyuman Kanaya mengembang. Ini terlalu sangat harus ia syukuri. Memiliki suami tampan yang sangat mencintainya, mertua yang begitu sayang, serta saudara ipar yang menganggap dirinya layaknya saudara kandung adalah impian bagi setiap wanita.
"Sepertinya Kanaya harus istirahat dulu, Line,"celetuk Nenek Risma.
"Nenek Risma benar, kamu memang butuh istirahat yang banyak. Nanti acara santunannya setelah kamu benar-benar fit,"balas Nyonya Seline.
"Jacob, jaga menantu Mama. Mama mau pulang dulu,"lanjutnya lagi.
Nyonya Seline dan Nenek Risma melangkah keluar lebih dulu dari kamar tersebut. Sementara Aneth masih berdiri sembari netranya menatap bersalah pada wajah cantik sang kakak ipar.
"Kakak ipar, maafkan Aneth yang tadi ya. Tadi Aneth nggak sengaja kelepasan,"ujar gadis itu sungguh menyesalinya.
"Tidak apa, itu sudah lama berlalu. Dan Saya juga sudah melupakannya kok, Neth,"balas Kanaya.
Kanaya tidak mungkin harus terus berkubang dengan peristiwa dimana dia harus kehilangan Adelia (putrinya) karena Mark. Dia sudah lama memaafkan Mark, meskipun masih ada rasa trauma di hatinya.
"Terima kasih kakak ipar, kalau gitu Aneth pulang dulu ya. Bye kakak ipar, bye ponakannya aunty,"ucap Aneth ceria.
Setelah mengatakan itu, Aneth turut berlalu menyusul Nyonya Seline dan Nenek Risma yang telah lebih dulu keluar kamar tersebut.
Kanaya mendongak, menatap wajah sang suami yang tampak menjadi datar. Mungkin bukan dirinya saja yang trauma, sudah pasti Jacob juga trauma sampai membuat pria itu membisu hanya karena mendengar nama adik pertamanya.
"Mas,"panggil Kanaya.
"Hem, kamu makan buah lagi ya,"balas pria itu.
Jacob melepas genggaman tangannya lalu beralih meraih piring berisi potongan buah-buah segar di atas meja disamping kasur itu.
Pria itu mengambil satu potong apel lalu menyuapkannya pada Kanaya. Kanaya tahu, jika suaminya itu tengah mencoba mengalihkan pikirannya.
"Ini sudah terlalu lama Mas, Naya tahu dari lubuk hati kamu pasti ada kerinduan pada Mark, adik pertama Kamu."
***
TBC
__ADS_1