ISTRI CANTIK TUAN JACOB

ISTRI CANTIK TUAN JACOB
Bab 92


__ADS_3

Tubuh Kanaya terhuyung ke belakang, hampir saja wanita itu terjungkal jika saja Dinda tidak sigap menopang bobot tubuhnya.


"Nona Kanaya!"


Tasya menatap belakang dengan perasaan bersalah. Jika sampai terjadi sesuatu pada istri kesayangan Tuan Muda Pertamanya, sudah pastu nasibnya sebagai sekretaris Jacob akan berhenti waktu ini juga. Tasya menoleh pada sosok pria yang baru sajs menabrak sosok Kanaya saat keduanya akan memasuki lift yang sama.


"Maafkan Saya, Nona,"ujar seorang pria yang berdiri disamping sosok tegap berrahang tegasnya itu.


Tasya dan Dinda menatap sosok pria yang berdiri tegap tanpa mengucapkan kata maaf pada Kanaya itu, melainkan sosok asistennya yang meminta maaf.


"Tuan, Anda telah menabrak Nona kami. Jadi, mohon maaflah dengan patut,"ujar Dinda dengan sorotan tajamnya.


Sosok pria itu hanya diam mengamati sosok Kanaya yang berdiri di belakang Dinda. Tidak ada yang bisa pria itu lihat dari balik tubuh tinggi Dinda itu, karena kecilnya tubuh Kanaya.


"Saya mengatasnamakan Tuan Felix memohon maaf karena telah menabrak Nona Anda."


Bukan Felix, tetapi lagi-lagi sosok asistennya lah yang kembali memohon maaf.


Kesal karena sosok asisten yang terus menjawab perkataannya membuat Dinda maju lalu menarik kerah pria itu.


"Saya meminta Tuan Anda, bukan Anda,"ujar Dinda dengan sorot tajamnya.


Kanaya panik, wanita yang sedari tadi Dinda sembunyikan dibalik punggunya pun akhirnya maju untuk memisahkan pengawal pribadi dan asisten Felix itu.


"Dinda...Dinda, sudah. Saya baik-baik saja kok, lebih baik kita sekarang masuk lift,"ujar Kanaya menarik tangan Dinda agar melepaskan kerah asisten Felix.


"Din sudah Din, Saya baru mengingatnya. Pria di depan kita ini partner bisnis Garadha Group yang baru saja menandatangani kontrak kerja, bisa gawat kita,"bisik Tasya.


Tasya yang sedari tadi diam, akhirnya menyadari siapa sebenarnya sosok Felix ini setelah asistennya menyebutkan nama pria itu.


Karena permintaan dari Kanaya yang terus memohon padanya, akhirnya membuat Dinda melepaskan tubuh asisten Felix itu. Tampak si asisten terbatuk-batuk karena ulah Dinda.


Namun apa Dinda merasa bersalah, jawabannya salah besar. Bahkan seandainya Kanaya tidak mencegahnya sudah pasti dua pria di depannya akan baba belur.


"Ayo masuk, Jacob pasti sudah menunggu lama,"ujar Kanaya menarik tubuh Dinda dan Tasya ke dalam lift tersebut.


"Maaf."


Pergerakan Kanaya terhenti, dia berbalik menatap sosok Felix. Barusan Kanaya mendengar pria itu meminta maaf padanya. Pemilik bola mata abu-abu itu menatap Felix untuk memastikan apa telinganya tidak salah mendengar.


"Maaf atas tadi,"ujar Felix sekali lagi.


"Oh itu, iya tidak apa-apa,"jawab Kanaya.


Tidak ingin membuat Jacob menunggunya terlalu lama, Kanaya memutuskan segera masuk ke dalam lift bersama Dinda dan Tasya.


Dinda dengan sigap menekan tombol naik pada lift tersebut. Membuat Felix yang sedari tadi berdiri di depan pintu lift dengan netra menatap Kanaya pun harus menghentikan aksinya karena pintu itu telah tertutup.

__ADS_1


"Cari tahu wanita bercadar itu, Saya menduga jika itu adalah dia. Bola matanya dan suaranya adalah milik dia,"ujar Felix pada asistennya.


"Baik Tuan."


***


Kanaya melangkah masuk ke dalam ruangan kerja Jacob. Senyuman lebar mengembang dari balik cadar itu saat melihat sosok Jacob yang begitu fokus dengen pekerjaannya.


Suara deheman beberapa kali Kanaya lakukan agar atensi Jacob beralih pada dirinya. Tapi sayang, itu kurang berhasil. Jacob masih terlalu fokus dengan berkas-berkas itu.


"Sepertinya Aku pulang saja deh, Mas,"celetuk kanaya.


Jacob terkesiap, pria itu mengangkat kepalanya lalu berpaling pada depan pintu ruangannya. Senyuman lebarnya mengembang saat ia menyadari sosok istri cantiknya telah ada di ruangan miliknya.


"Tidak boleh, Aku bisa rindu berat,"ujarnya sembari beranjak dan melangkah menghampiri Kanaya.


"Tapi sepertinya, Mas lebih suka dengan berkas itu daripada Aku deh,"rajuk wanita cantik itu.


Jacob tersenyum, dia melepas kain cadar pada wajah cantik Kanaya agar bisa melihat bibir pink itu mengerucut gemas. Tak tahan dengan sikap menggemaskan yang Kanaya perlihatkan saat merajuk membuat Jacob melabuhkan kecupan manis beberapa kali pada bibir pink itu.


"Mana ada? Aku melakukan itu agar mengalihkan rinduku, Nay,"ujarnya pada sang wanita.


Kanaya melepaskan dirinya dari kuasa Jacob lalu melangkah menuju sofa dan meletakkan bobot tubuhnya disana.


"Baiklah, Aku percaya. Tapi, kita mau makan siang dimana Mas?"ujarnya menatap sang suami.


Dia tidak membawa apapun dari mansion, karena permintaan pria itu untuk datang hanya Kanaya saja tanpa ada lainnya.


"Sebentar lagi, makanan kita akan tiba."


Pria itu kembali memasangkan cadar pada wajah Kanaya, karena menurut pria itu hidangan miliknya dan Kanaya akan segera datang.


Suara ketukan pintu terdengar usai Jacob mengatakan itu. Dengan menekan tombol pada remot di atas meja membuat pintu itu tidak lagi terkunci.


"Masuk!"


Riko melangkah diikuti dua orang di belakangnya yang membawa sebuah makanan lengkap di tangan keduanya.


Asisten Jacob itu memberi titah pada dua orang itu untuk menyajikan makanan mewah tersebut di atas meja. Setelah seluruh makanan tertata dengan rapi. Riko dan dua orang tadi berdiri sejajar lalu berkata.


"Selamat menikmati makan siangnya Nona, Tuan,"ujar mereka serempak.


"Terima kasih Riko,"ujar Kanaya.


Jacob mengibaskan tangannya agar Riko dan dua orangnya itu melangkah pergi meninggalkan dirinya dan Kanaya.


"Naya, lain kali jangan bersikap seperti itu sama Riko,"ucap Jacob.

__ADS_1


Kening Kanaya mengernyit. Tangan wanita itu dengan lincah meletakkan makanan pada piring.


"Maksudnya Mas?"


"Itu kamu tadi kenapa bersikap manis pada Riko, sampai bilang terima kasih segala."


Gemasnya Kanaya pada suami tampannya itu. Dia hanya bersopan santun pada orang justru membuat jiwa posesif Jacob kumat.


Tawa renyah keluar dari bibir wanita cantik itu, membuat Jacob tak bisa tahan untuk tidak menarik tubuh Kanaya pada atas pangkaunnya. Sepertinya segala hal kecil yang Kanaya lakukan selalu membuat Jacob tidak bisa untuk tidak menyerang wanita itu.


"Sudah Mas, sudah, geli leher Naya,"pekik Kanaya dengan kekehannya.


"Istri siapa sih, kok gemesin banget sih,"ucap Jacob melabuhkan kecupan singkat pada bibir Kanaya.


"Istrinya Jacob Garadha, pria tampan yang sangat posesif bahkan hanya karena istrinya mengatakan terima kasih saja,"ujar Kanaya.


Serangan manis kembali Jacob lakukan membuat Kanaya tidak tahan untuk tidak melenguh. Sadar, jika saat ini mereka tengah di kantor dan tujuannya adalah makan siang membuat Kanaya mendorong wajah Jacob yang dari lehernya itu.


"Mas, jangan disini ya. Kita makan saja,"cicit Kanaya dengan wajah yang memerah.


"Kenapa? Ini kantorku, Nay."


"Tapi Aku lapar, nanti malam saja ya."


Hanya alasan itu yang bisa membuat Jacob menuruti kemauan sang istri. Lihatlah Jacob benar-benar menghentikan aski manisnya pada tubuh Kanaya dan menurut menerima suapan dari tangan sang istri.


Ya, meskipun posisi mereka masih sangat intim dengan Kanaya yang tetap ada di atas pangkuan pria itu.


"Mas, tadi Aku mengalami kejadian yang cukup tidak mengenakan saat perjalanan ke ruangan kamu,"ujar Kanaya.


"Apa?"


Kanaya mulai menceritakan perihal peristiwa di depan lift serta tentang sosok Felix yang meminta maaf padanya.


"Kamu yakin pria itu bernama Felix?"tanya Jacob dengan tatapan tak percayanya.


Kanaya menganggukkan kepalanya yakin dan membalas tatapan ragu Jacob agar pria itu percaya padanya.


"Kenapas Mas?"


"Tidak, tidak apa. Sudah kita lanjutkan makannya,"ucap Jacob.


Meskipun pikirannya tengah terheran pada sosok partner kerjanya yang mempunyai julukan arogant dan tidak suka berhubungan dengan wanita manapun. Bahkan di kalangan bisnis beredar jika Felix adalah sosok guy, meskipun itu tidak pernah terbukti nyata.


Namun, mendengar cerita Kanaya membuat hati Jacob bertanya-tanya.


"Tidak biasanya."

__ADS_1


***


TBC


__ADS_2