ISTRI CANTIK TUAN JACOB

ISTRI CANTIK TUAN JACOB
Ba 93


__ADS_3

"Kita ke dokter saja ya,"tawar Jacob.


"Nggak usah Mas, paling cuma asam lambung saja."


"Tapi kamu kelihatan, pucat Nay."


"Tidak usah Mas, tolong bantu Aku tiduran saja. Nanti juga bakal baikan."


Dengan terpaksa Jacob menuruti Kanaya. Ia papah tubuh lemas sang istri dari kamar mandi menuju kasur besar mereka.


Dibantunya Kanaya untuk berbaring di atas kasur. Wajah Kanaya tampak pucat, tubuh wanita itu juga terasa lemas.


Bermula di pagi hari saat semuanya telah berkumpul di meja makan untuk menghabiskan sarapan pagi bersama. Ketika seorang pelayan menyajikan salah satu menu di pagi hari ini, tiba-tiba saja perut Kanaya mual.


Jacob mengelus sayang kening sang wanita yang masih terus memandangi wajah tampannya itu. Inginnya pria itu mengundang dokter pribadi keluarga Garadha, namun karena Kanaya yang kekeuh mengatakan jika dirinya enggan untuk di periksa membuat Jacob hanya bisa menurutinya.


"Mas, bisa belikan Aku rujak bebek nggak Mas? Tapi yang jual harus punya lesung pipi,"celetuk Kanaya.


Ada apa sebenarnya dengan wanita cantik itu. Rujak bebek, mana tahu Jacob bentuknya. Terlebih penjualnya juga tidak bisa sembarangan, harus memiliki lesung pipi juga.


"Nay sayang, bukannya tadi kamu katanya asam lambung. Nggak baik loh sejenis rujak-rujakan gitu. Apalagi itu bebek, kasihan bebeknya kalau di rujak,"ucap Jacob.


"Bukan bebek Mas, tapi bebek."


"Iya bebek, Mas tahu. Itu yang punya dua sayap kan,"balas Jacob.


Kedua mata Kanaya berkaca-kaca, dia kesal kepada Jacob yang tidak juga mengerti maksud dirinya. Wanita mengubah posisi tubuhnya memunggungi Jacob. Punggung wanita itu bergetar seiring dengan isak tangis yang keluar dari bibirnya.


Jacob tentu saja kelimpungan dengan sikap Kanaya, dia tidak mengerti apa kesalahannya. Diraihnya punggung sang istri agar berbalik menatap dirinya.


Air mata itu meleleh pada kedua pipi merona sang istri membuat Jacob merasa pilu ditengah kebingungannya. Ditariknya secara lembut tubuh sang istri yang tengah berbaring itu agar bisa pria itu peluk.


"Aku marah, marah sekali sama Mas. Aku ingin rujak bebek, bukan bebek."


"Iya nanti Aku beliin rujak bebeknya, mau dipanggang dulu atau digoreng."


Tangisan Kanaya semakin keras, wanita itu mendorong tubuh Jacob menjauh darinya lalu kembali membelakangi pria itu dengan tangisan yang lebih nyaring dari sebelumnya.

__ADS_1


Suara ketukan pintu membuat Jacob mau tak mau harus melangkah ke arah pintu. Suara itu sudah sedari tadi mengganggu telinganya, namun karena dia yang lebih memilih Kanaya membuat pria itu acuh, tapi tidak untuk saat ini.


"Kakak? Kakak apakan Kakak ipar?"


"Bantu kakak, kakak iparmu ingin rujak bebek tapi entah bagaimana dia jadi marah seperti itu,"ujarnya pada sang adik.


Aneth melipat keningnya saat mendengar nama makanan yang cukup aneh dari mulut Jacob itu. Sejak kapan ada menu makanan hewan bersayap dua itu yang dijadikan rujak.


Tidak ingin rasa penasaran itu membunuhnya, Aneth memutuskan untuk mengiyakan permintaan Jacob. Aneth menatap Jacob penuh tanda tanya saat melihat kakak iparnya yang menangis keras tersebut.


"Kakak ipar,"panggilnya.


Kanaya berbalik, saat ia melihat yang memanggil dirinya adalah Aneth, membuat wanita itu bangun lalu memeluk tubuh sang adik ipar.


"Mas Jacob, Neth. Kakak hanya ingin dibelikan sesuatu tapi dia malah nggak mau,"ujar wanita itu disela sesenggukannya.


Jacob sungguh tak mengerti apa maksud kalimat tuduhan dari istri cantiknya itu. Dia bukannya tidak mau, tapi mencari hewan bebek yang di rujak itu tentu sulit. Di tambah penjual harus berlesung pipi.


"Coba kakak ceritakan apa yang kakak mau makan hem?"


Aneth tentu saja mengernyit saat mendengar hanya karena sebuah rujak membuat Kanaya menangis heboh. Dia tahu betul watak kakak iparnya yang kuat, dan sulit dimengerti akan menangis pasal sebuah rujak saja.


"Dia kekeuh bebek, padahal aku ingin rujak bebek,"ucap Kanaya.


Aneth menatap kesal Jacob yang masih belum juga mengerti maksud Kanaya. Tapi mau bagaimana lagi, kakak pertamanya itu memang seumur hidup pria itu belum pernah melihat apalagi memakan jajanan pinggir jalan. Dia saja mengenyam pendidikannya dengan home scool berbeda dengan Aneth yang masa mudanya sering bergaul dengan kaum menengah ke bawah, sehingga Aneth kenal betul dengan jajanan pinggir jalan.


Aneth merogoh tas kecil miliknya, dengan satu tangannya dia mengetik pada searching browser tentang rujak bebek. Setelah ditemukan gambar yang cocok segera Aneth menunjukkan gambar itu pada Jacob.


"Kakak ipar mau makan kayak gini, Kak."


Jacob mengambil alih ponsel Aneth dan menatap gambar makanan rujak bebek yang dimaksud Kanaya.


"Aku kira bebek yang punya sayap,"celetuk Jacob.


Pria itu terus mengamati foto tersebut sampai ketika dia melihat taburan cabai membuat bola matanya membesar.


"Ini pedas? Tidak Nay, kamu sedari pagi belum makan,"ujar pria itu menolak dengan sangat keras permintaan sang istri.

__ADS_1


Penolakan yang kembali Jacob berikan pada Kanaya membuat wanita yang sudah diam kini kembali menangis keras.


"Kakak ipar belum sarapan pagi?"tanya Aneth yang diangguki Kanaya.


Aneth menghela nafasnya menghadapi prahara rumah tangga kakak pertamanya itu. Dia yang ingin bersenang-senang dengan melakukan eksperimen pada Kanaya sebagai model dari gaun-gaun hasil desainnya, yang tentu saja tanpa ada sesi pemotretan hanya memakaikan dress indah-indah milikny di ruangan tertutup pun harus Aneth urungkan selama beberapa saat kemudian.


"Gini saja, kakak Jacob tetap beli rujak bebeknya, suuut. Diam dulu Kak Jacob, biarkan Aku bicara...Jadi kakak tetap beli rujaknya tapi dengan syarat kakak ipar harus sarapan dulu baru boleh sarapan dulu,"ucap Aneth sebagai penengah.


Jacob diam, dia menatap sosok wanitanya yang masih sesenggukan. Ide dari Aneth sepertinya bisa diterima oleh pria itu. Sampai ketika Kanaya menganggukkan kepalanya, barulah kesepakata itu pun terjadi.


"Aku cari makanan unggas itu, ah tidak maksudnya rujak bebeknya yang lezat,"ralat Jacob.


Pria itu mengecup kening Kanaya singkat sebelum berbalik hendak keluar kamarnya.


"Ingat harus berlesung pipi, nanti saat dia buat kamu harus video call Aku, Mas. Kalau tidak Aku nggak mau, dan kamu jangan pulang dulu,"ujar Kanaya menghentikan langkah kaki Jacob.


"Iya, Aku usahakan ya Nay."


Begitulah jika sudah cinta, walau dimata orang lain terkesan ngelunjak namun bagi pria yang mencintainya itu adalah sebuah permintaan karena dasar cinta di dalam hatinya.


Sekeluarnya Jacob dari kamar utama, Aneth yang masih ada disana terus memandango tubuh Kanaya. Setelah menghadapi prahara rumah tangga Jacob dan Kanaya, gadis itu merasa ada yang tidak beres dengan kakak iparnya. Satu kesimpulan sebuah dugaan pun muncul pada benak gadis itu.


"Kakak ipar, sebentar ya. Aku mau menghubungi seseorang dulu,"ujar Aneth menarik dirinya menjauhi kasur dimana Kanaya berada itu.


Gadis itu membuka ponselnya untuk menghubungi dokter pribadi keluarga Garadha dan memintanya untuk segera datang ke mansion milik Jacob.


"Iya, secepatnya."


Setelah melakukan panggilan tersebut, dengan senyuman lebarnya Aneth berjalan kembali mendekati Kanaya.


"Kakak ipar, sesuai janjinya sama Kak Jacob. Sekarang sarapan pagi yuk."


Meskipun Kanaya tengah sangat malas untuk sekedar memasukkan sesuap makanan ke dalam mulutnya. Namun karena mengingat kesepakatan tersebut membuat wanita cantik itu pun menuruti kemauan Aneth untuk keluar kamar dan sarapan pagi.


***


TBC

__ADS_1


__ADS_2