ISTRI CANTIK TUAN JACOB

ISTRI CANTIK TUAN JACOB
Bab 80


__ADS_3

"Kamu salah orang, "ucap Kanaya.


Kanaya masih berharap, jika Jacob tidak mengenali dirinya yang bercadar itu. Tapi sayang harapan itu harus ia pendam dalam-dalam, karena tawa Jacob yang menggelegar.


Jacob terpingkal-pingkal saat mendengar istri cantiknya itu masih sempat mengelak dan mengatakan jika ia salah orang. Padahal hanya dari bola mata abu-abunya saja dan wangi tubuhnya Kanaya saja sudah cukup membuat pria itu yakin, jika wanita di depannya ini adalah Kanaya.


"O iya? Lalu dimana Kanaya? Istri cantikku, "ucap Jacob dengan senyuman lebarnya.


Kanaya terkesiap, Jacob menanyakan dimana Kanayanya? Sudah jelas jika Kanaya ada di depannya. Tapi dia yang mengira jika Jacob percaya akan ucapannya di awal pun menjawab.


"A-Aku tidak tahu, cari saja sendiri, "cetusnya lalu berjalan hendak masuk ke dalam kontrakannya.


Langkah kaki Kanaya terhenti karena cekalan Jacob dan tarikan pria itu membuat tubuh Kanaya masuk dalam pelukannya.


"Ini Kanayaku, ini istri cantikku,"gumam pria itu.


Kanaya terdiam, dengan posisinya yang intim dia bisa mendengar detak jantung Jacob yang sangat kencang. Hampir saja dia terbuai akan hangatnya pelukan itu, jika Kanaya tidak mengingat bagaimana pria itu melayangkan surat gugatan cerai dan mengatakan tidak mencintainya disaat ia baru saja kehilangan Adelia, putrinya.


Dengan cepat Kanaya mendorong tubuh Jacob, mengurai pelukan pria itu dan berkata.


"Aku memang Kanaya, tapi Aku bukanlah istrimu, "ucap Kanaya keras.


"Apa yang kamu katakan itu Naya, kamu tetap istriku. Aku telah mencabut gugatan perceraian itu. Kita masih sah di mata negara dan hukum, "ucap Jacob hendak menyentuh bahu wanitanya, tapi urung karena sang wanita melengos.


"I-itu dimata hukum dan negara, lalu bagaimana dimata agama? Seorang suami yang memiliki niatan menjatuhkan talak saja sudah dinyatakan jatuh talak satu. Dan juga Aku tidak ingin menikah dengan pria yang tak mencintaiku. Jadi, karena sekarang Aku sudah cukup kuat, ceraikan saja Aku, Mas, "ujar Kanaya seraya memejamkan kelopak matanya.


Deg.


Jacob tertegun, dia dengan susah payah mencari Kanaya sampai tak peduli akan tubuhnya. Kini saat ia telah menemukan belahan jiwanya, Kanaya justru meminta cerai.


"Tidak, tidak. Aku tidak akan menceraikanmu, Nay,"kekeuh Jacob.


"Jangan egois Mas, Aku tidak ingin membina rumah tangga tanpa ada cinta di dalamnya, "ujar Kanaya dengan manik mata mulai berair.


Cukup sekali bagi Kanaya, berumah tangga dengan Jacob yang katanya tidak mencintainya itu Dia tidak ingin mengulangi sesuatu yang menyakiti hatinya itu


"Kata siapa Aku tidaj cinta sama Kamu, Nay? Kata siapa? "ujar Jacob seakan-akan dia lupa siapa yang telah mengatakan kalimat itu jika bukan pria itu sendiri.


"Kau ini lupa, atau benar-benar lupa Mas! Kamu sendirilah yang mengatakan tidak pernah mencintaiku, dan kamu juga yang mengatakan jika kamu menikahi hanya demi Adelia dan tujuan itu tidak pernah berubah, "jelas Kanaya panjang lebar.


Memori Jacob berputar, dia mulai mencari kenangan kapan ia mengucapkan kalimat yang berlawanan dengan isi hatinya itu. Dan memorimya terpatri pada saat ia di bandara.

__ADS_1


Sekarang dia tahu kenapa Kanaya ingin bercerai dengannya, dan kenapa wanitanya pergi dari sisinya. Ternyata semuanya karena ulah dia sendiri. Tapi sebelumnya dia sudah meminta pada Seline untuk menjelaskan akan perasaannya pada Kanaya. Tapi, itu tidak penting lagi. Yang harus Jacob lakukan adalah membuat Kanaya percaya dan mau kembali padanya.


"Nay... "


"Jangan sentuh Aku, Mas! "


"Oke oke, Aku tidak akan menyentuhmu. Tapi bisakah kita bicara dengan posisi nyaman supaya Aku bisa menjelaskan semuanya."


Kanaya terdiam, dia menatap Jacob cukup lama. Namun dia tidak tahu harus berbuat apa? Apakah dia akan membiarkan pria itu masuk ke dalam kontrakannya atau tidak? Sampai suara Nenek Risma yang ada di dalam akhirnya membuat keduanya masuk.


"Masuk saja Nay, kasihan Nak Jacob. Dia seperti habis olahraga lari, "celetuk Nenek Risma.


Setelah Kanaya dan Jacob masuk. Keduanya di dudukan di ruang tamu oleh Nenek Risma, lalu ia membiarkan cucu dan cucu menantunya itu berbicara berdua untuk menyelesaikan masalah yang terjadi diantara keduanya.


"Aku akan menceritakan semuanya, jadi tolong dengar baik-baik, Nay. Aku juga bersumpah jika apa yang akan keluar dari bibirku adalah sebuah kebenaran.


"Iya, "balas Kanaya singkat.


Jacob menghembuskan nafasnya berat, melihat respon Kanaya yang datar itu. Meskipun begitu, pria itu tetap menceritakan semuanya secara detail tanpa ada satupun yang terlewat.


"Kamu mau kan memaafkan Aku? Saat itu Aku dibawah kendali penyakitku, istriku? "ucap Jacob.


Andai saja Kanaya tidak memakai cadar, sudah dipastikan Jacob akan melihat semerah apa wajah sang istri saat ini. Karena sepanjang ceritanya, Jacob terus menyebutkan kata 'istriku yang cantik' dan 'istriku tercinta'.


"Yes! "seru Jacob girang.


Bak telah memenangkan jakpot yang begitu besar, pria itu sangat bereforia dan kembali ingin memeluk tubuh Kanaya, tapi tangan Kanaya yang terangkat membuat Jacob tidak bisa melakukan itu.


"Kenapa? "tanyanya heran.


"Dulu entah dalam keadaan emosi atau tidak. Saat itu Mas Jacob telah memiliki niatan untuk menceraikan Aku. Jadi, Aku takut jika telah jatuh talak satu, Mas. Dan jika iya, pastinya di mata agama kita bukan lagi suami istri, "ujar Kanaya.


Mendengar penjelasan Kanaya, mendadak tubuh Jacob yang penuh tenaga itu lunglai. Setelah kesembuhannya, kini dia banyak sekali mendapatkan hal yang benar-benar menguji kesabaran pria itu.


"Lalu Aku harus apa? "tanyanya lemas.


"Akad lagi Mas, "ucap Kanaya.


"Oh, ayo kalau gitu. Kita akad lagi, di dekat sini kan ada pesantren. Sekarang kita bisa akad dengan kiayinya, "seru Jacob seraya bangkit dari duduknya penuh semangat.


Kanaya terkekeh, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa akan tingkah Jacob yang sangat tidak sabaran itu. Andai saja pria itu tahu pemilik pesantren itu adalah ayah dari pria yang beberapa waktu lalu datang untuk melamar istrinya. Apakah Jacob masih akan sesemangat ini?

__ADS_1


"Sabar Mas, lebih baik Mas kesini lagi besok. Dan tanyakan mengenai apa yang terjadi sama kiainya, dan meminta penjelasan dalam hukum Islam. Barulah kita putuskan apa benar harus melakukan ijab kabul ulang atau tidak perlu, "ujar Kanaya.


Lagi, Jacob menghembuskan nafasnya kasar. Jika tidak menghargai kemauan Kanaya. Ingin rasanya pria itu abai akan hukum agama lalu membawa Kanaya ke kamar hotel dan mengurung wanita itu seharian disana.


Pikiran kotor macam apa itu? Segera Jacob menggelengkan kepalanya agar akal pikirannya kembali jernih.


"Baiklah kita tunggu besok, sekarang Aku juga sangat kelelahan bolak-bailk Solo Jakarta dan Jakarta-Solo. Kamarnya dimana? Aku ingin tiduran, Nay, "ujar pria itu dengan kepala celingukan mencari keberadaan kamar di dalam kontrakan kecil itu.


"Mas Jacob tidak bisa tinggal disini, lebih baik Mas menginap di kamar hotel saja, "ujar Kanaya membuat Jacob kembali melihat wajah bercadar sang istri.


"Kenapa? "


Sepertinya kata 'kenapa?' ini akan sering Jacob keluarkan ketika berhadapan dengan Kanaya.


Kanaya mulai menjelaskan alasannya melarang Jacob untuk tinggal disana yang masih berhubungan dengan ketakutannya jika dia telah menjatuhkan talak satu pada Kanaya.


"Jadi, sekarang Mas menginap di hotel saja ya, "ujar Kanaya.


"Iya deh, tapi boleh cium dong? "ujar Jacob dengan senyuman lebar dan wajah penuh harapnya.


"Mas! "seru Kanaya geram.


"Oke oke, Aku tidur di hotel."


Pria itu berjalan keluar kontrakan diikuti Kanaya di sisinya. Di depan kontrakannya telah terlihat Riko yang setia menunggu pria itu di dalam mobilnya.


"Kamu punya ponsel?"tanya Jacob sebelum ia masuk ke dalam mobil.


Kanaya mengangguk lalu menyerahkan ponselnya pada Jacob. Entah apa yang pria itu lakukan pada ponsel Kanaya. Yang jelas setelah jemari Jacob bermain pada layar ponsel itu, Jacob kembali mengembalikannya.


"Ini, kamu besok jangan pergi ke toko dulu. Siap-siap Aku nikahkan lagi, "ujar Jacob lalu masuk meninggalkan Kanaya yang terbengong akan tingkah Jacob.


"Dia sebenarnya sudah sembuh atau semakin parah sih? Kenapa sekarang kelakuannya gitu, tapi lucu sih, "ucap Kanaya terkekeh.


Di dalam mobil, terlihat senyuman Jacob terus melebar sepanjang perjalanan menuju hotel dimana mereka akan menginap.


"Rik, kamu sudah memberikan uang untuk wanita itu kan? "tanya Jacob.


"Rengganis? Sudah Tuan Muda Pertama, "jawab Riko.


***

__ADS_1


TBC


__ADS_2