
"Waalaikumsalam,"balas semua yang ada disana.
Semuanya menghentikan pekerjaannya dan menatap pintu yang memang sudah terbuka lebar. Tadi ada suara salam dari seorang wanita dengan sangat lantang, namun hingga beberapa detik belum juga muncul si pemilik suara tersebut.
"Maaf terlambat,"ucap seseorang bersamaan dengan tubuhnya yang muncul dari balik dinding.
"INDRI!"pekik Kanaya senang.
Wanita hamil itu beranjak dari posisinya dan berjalan cepat ke arah Indri yang masih di ambang pintu. Terpekiklah semua yang ada disana karena kelakuan wanita hamil yang baru saja selesai bedrest sebulan penuh itu.
"Naya Sayang!"
"Kakak Ipar!"
"Kanaya!"
Kaki Kanaya terhenti karena teriakan semua orang itu. Sejenak dia berbalik menoleh pada semua yang ada disana. Hanya kekehan dan tangan yang menyatu Kanaya berikan pada semua orang disana.
"Kamu ini! bisa tidak buat Saya tidak khawatir,"ucap Jacob saat pria itu sudah ada di dekat Kanaya.
"Maaf Mas, tadi Naya terlalu senang karena kedatangan Indri,"jelasnya, dengan kelopak mata berkedip-kedip gemas.
Indri yang masih di ambang pintu tersenyum kecil. Senyuman bahagia karena melihat pengorbanannya tidak sia-sia. Sahabatnya sudah bahagia dengan kasih sayang dan cinta yang Jacob berikan.
"Indri, kenapa masih disana? Ayo masuk,"seru Nyonya Seline.
Indri tersenyum kecil lalu melangkah maju mendekati semua orang yang tengah berkumpul disana.
Gadis itu menyalimi punggung tangan Nyonya Seline. Kemudian barulah Indri berpelukan dengan Kanaya.
"Sini duduk, sama kita Mba,"ujar Aneth menarik tangan Indri agar duduk bersama dirinya.
"Tidak perlu Nona Aneth, Saya berdiri saja,"tolak Indri halus.
Tapi penolakan Indri itu tak membuahkan hasil karena tarikan Aneth yang memaksanya duduk disamping gadis itu.
Mendapat perlakuan seperti itu, tentu saja membuat Indri merasa canggung. Semua yang ada disana adalah majikannya bahkan Kanaya sekalipun yang telah menjadi istri dari Tuan Muda Pertama Keluarga Garadha.
Namun sepertinya Aneth acuh akan perubahan sikap canggung Indri. Aneth terlihat santai saja duduk disamping Indri, sembari mencomot camilan di atas meja.
Sedangkan Kanaya berpindah posisi duduknya karena Jacob yang memintanya. Jadilah wanita cantik itu hanya bisa berseberangan dengan Indri.
"Kamu sendirian Ndri?"tanya Kanaya.
Indri mendongak menatap Kanaya, lalu menatap semua orang yang juga terlihat menatap dirinya.
__ADS_1
"Dia tidak sendirian,"celetuk Tuan Garadha, yang baru saja muncul dan bergabung dengan semua yang ada disana.
Pria parubaya itu meletakkan bobot tubuhnya disamping Nyonya Seline, sang istri.
"Jangan bilang kalau..."
Kalimat Aneth terputus. Dia menduga jika Indri bersama Mark. Semua mata menunggu jawaban dari Indri.
Belum juga gadis itu menjawabnya, dari arah pintu terdengar sebuah deheman keras. Dialah Mark, putra kedua Garadha itu berjalan santai dengan stylis khasnya yang casual.
Di tangan pria itu tampak sebuah paper bag yang cukup besar.
"Kakak,"seru Aneth, lalu berdiri dan berlari menyerbu tubuh Mark sampai membuat pria itu sedikit limbung.
"Kakak, ini beneran kamu kan,"ucap Aneth dengan kedua matanya yang sudah berkaca-kaca itu.
Senyuman khas milik Mark tercetak jelas pada kedua sudut bibir pria itu. Tangan Mark yang lain menyentuh rambut Aneth dan membelainya sayang.
"Kamu kira siapa? Aku ini Mark, pria paling tampan dan pesonanya tidak pernah gagal menaklukan wanita mana pun,"jumawahnya.
Ekor mata Mark melirik pada sosok bercadar yang duduk di samping Jacob. Dia tahu itulah Kanaya, cinta pertamanya yang namanya masih tersimpan di hati Mark.
Walupun Mark tidak bisa melihat wajah cantik Kanaya, namun dengan melihat manik abu-abu yang indah itu saja sudah membuat rasa rindunya sedikit terobati.
"Ayo Kak Mark, kita kesana bergabung dengan yang lainnya,"ajak Aneth, menarik tangan Mark dan mendudukkan paksa pria itu disisinya.
"Aku tidak membawa banyak hadiah. Maaf Aku terlambat untuk ikut acara santunan anak yatim atas kehamilan Kakak Ipar,"ujar Mark, memindahkan paper bag ditangannya di atas meja.
Jacob yang sedari tadi memasang raut muka waspadanya pun sedikit memudar. Mark memanggil istri cantiknya Kakak Ipar. Dan itu sudah cukup membuat Jacob merasa jika adik pertamanya itu mulai menerima kenyataan jika Kanaya tidak bisa ia rebut, walaupun masih ada yang tidak Jacob sukai. Tatapan Mark, tatapan itu masih sama seperti dua tahun yang lalu. Sebuah tatapan penuh cinta yang Mark berikan pada Kanaya.
"Hem, tidak masalah,"balas Jacob singkat.
Riko yang berdiri disamping Jacob maju lalu meraih paper bag tersebut dan meminta seorang pelayan membawanya ke kamar utama.
"Mark,"panggil Nyonya Seline sendu.
Mark menoleh lalu tersenyum lebar pada Nyonya Seline. Pria itu melepaskan tangan Aneth yang bergelanyut manja dan melepaskan cekalannya pada Indri.
Kemudian beranjak mendekati sang Mama.
"Apa kabar Ma? Mama tampak kurusan,"ucapnya.
"Kamu ini. Dasar anak tidak tahu diri, benar-benar tidak memberi kabar sama keluarga,"gerutu Nyonya Seline kesal.
Mark hanya bisa menggaruk kepalanya. Bukan mau dirinya untuk memutuskan komunikasi dengan semua orang.
__ADS_1
"Mau gimana lagi Ma, Mark kan dalam hukuman,"ucapnya, dengan mata menatap Tuan Garadha.
"Sepertinya pelayan sudah menyiapkan makan siang kita. Sebaiknya kita ke meja makan sekarang,"celetuk Kanaya.
Semuanya mengangguk setuju. Setelah seharian menyiapkan dan mengadakan acara santunan, tentu saja rasa lapar mendera pada perut semua orang.
Jadilah kini mereka yang ada disana berpindah tempat di meja makan mansion pribadi Jacob itu.
"Mark, ada apa?"tanya Jacob saat melihat adiknya yang terus menatap sekeliling.
"Tidak ada Kak, mari kita lanjutkan makannya,"ucap Mark.
Jacob percaya saja dengan apa yang Mark katakan. Pria itu kembali memfokuskan dirinya pada sang istri dengan menyuapkan makanan.
"Mas, Naya makan sendiri saja, biar nggak ribet. Lagian Mas bakal kesusaha karena cadar ini,"tolak Kanaya halus.
Jacob meletakkan sendoknya kembali di atas piring. Kebiasaan dirinya yang senang menyuapi Kanaya makan. Membuat ia lupa jika di depannya tengah banyak orang yang turut makan bersama.
"Baiklah, Naya Sayang,"balas Jacob.
Semuanya kembali melanjutkan makan di sana. Hanya satu yang tidak bergabung bersama yang lainnya, dia adalah Indri. Gadis itu justru memilih makan bersama pelayan mansion Jacob.
Tidak ada yang menyadarinya, jika Indri tidak bergabung bersama mereka.
"Mba Indri, katanya Mba tinggal di Paris ya? Mba disana kan ada salju, gimana rasanya mba?"tanya seorang pelayan sembari memasukkan nasi ke dalam mulutnya.
"Salju sih aslinya dingin, cuman ya bagi Saya rasanya panas gitu,"jawab Indri sekenanya.
Semua pelayan tertawa mendengar jawaban Indri. Mana ada salju yang terasa di tubuh panas. Aneh bukan?
"Mba ini aneh sekali, tapi Mba kelihatan semakin cantik ya. Apa itu istilahanya, Go...gosling, goplin...ataua Gow apa ya."
"Glowing maksudnya,"tebak Indri.
"Nah itu dia."
Senyuman kecil terpatri pada sudut bibir Indri. Dia pikir mungkin karena efek iklim disana yang membuat kulitnya semakin bersih.
"Mba Indri nginap disini?"tanya pelayan itu lagi.
"TIDAK!"tolak Indri mentah-mentah.
Meskipun dia ingin bersama Kanaya dan bercerita banyak hal. Tapi, Indri tidak ingin mengambil risiko dengan sosok Mark. Indri harus pulang ke kediaman Garadha beserta Mark, jika pria itu tidak mau maka Indri akan menyeretnya.
"Indri...Ya ampun, Aku nyariin kamu loh.".
__ADS_1
***
TBC