
"Kamu harus membayar ini semua dengan mahal, Naya Sayang,"ucap Jacob menatap sang istri.
"Itu bisa diatur Mas,"saut Kanaya dengan semangatnya.
Dengan pasrah Jacob duduk dihadapan sang istri dan membiarkan jemari Kanaya meremak wajahnya dengan dandanan tebal ala badut.
Bedak putih tebal dan bibir merah disertai hidung bulat sudah mempoles CEO Garadha Group itu sehingga siapapun yang melijmhatnya akan sulit percaya jika ia adalah Jacob Garadha.
"Ayo Mas, kita pergi,"seru Kanaya menarik tangan sang suami.
"Naya, apa belum selesai ngidamnya dengan mendandani Mas. Lihat perut Mas ini jadi bulat karena kostum badut ini,"ujar Jacob.
Langkah kaki Kanaya terhenti, dia berjalan mundur untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Riko.
"Kita sama-sama buncit, Mas,"ucap Kanaya mengelus perutnya. "Asisten Riko, bisa minta tolong,"panggil Kanaya pada Riko yang sedari tadi hanya berdiri dengan senyumannya saat sang Tuan yang didandani oleh Kanaya.
"Baik Nona."
Kanaya merogoh saku gamisnya, ternyata dia tidak mendapati ponselnya disana.
"Sepertinya di kamar, sebentar ya Mas. Aku ambil dulu,"pamitnya lalu membalikkan badan untuk melangkah menuju kamar utama.
Tetapi cekalan tangan Jacob pada pergelengan tangan Kanaya menghentikan kaki wanita cantik itu.
"Pakai ponsel Mas saja,"ucap Jacob.
Akhirnya keduanya berfoto dengan ponsel Jacob serta Riko yang menjelma seperti fotografer dadakan.
"Mas pegang perut buncitnya kayak gini,"ucap Kanaya memberi titahnya.
Jacob pasrah, dia bertekad akan menuruti kemauan sang istri dengan syarat bayaran mahal yang Kanaya janjikan. Beberapa kali jepretan kamera ponsel terdengar seiring gaya yang Kanaya minta.
"Sekarang Mas foto sendirian,"ujar Kanaya, meninggalkan Jacob di depan kamera ponselnya.
"Tidak, Mas tidak mau berfoto,"tolak Jacob mentah-mentah.
"Mas, sekali saja ya...Tolong,"bujuk Kanaya dengan suara lembutnya. Dan ya, itu memang jurus paling ampuh menaklukkan seorang Jacob.
"Ck, sekali saja,"putus Jacob.
__ADS_1
Kanaya mengambil alih ponsel Jacob dari Riko lalu dengan penuh percaya diri wanita itu memberi arahan pada sang suami untuk ia foto.
"Mas bisa pose keren nggak sih, dari berdiri gitu terus, yang keren dong ya,"protes Kanaya.
"Kayak gini?"tanya Jacob setelah mengubah gayanya dengan memasukkan tangan pada kantong celananya.
Gerakan Jacob itu mendapat acungan jempol dari Kanaya. Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, Kanaya mengambil foto Jacob. Tidak sekali tapi berkali-kali ia ambil fotonya.
"Nah, sip. Sekarang kita keluar,"ucap Kanaya senang.
"Harus banget gitu keluar mansion? Kenapa tidak disini saja,"tutur Jacob.
"Tidak Mas, sudah yok kita berangkat sekarang,"ajal Kanaya lalu mengapit lengan Jacob dan melangkah keluar mansion.
Riko yang melihat bagaimana nasib Jacob yang begitu patuh pada Kanaya pun hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Apa setiap pria akan menjadi orang bodohdi depan wanita yanh dicintainya?"gumam Riko.
"Riko! Apa yang kamu lakukan disana, ayo cepetan!"teriak Jacob memanggil sang asisten yang masih berdiri dan menatapnya itu.
"Baik Tuan,"balas Riko, lalu berlari menyusul kedua majikannya.
***
Entah punya dendam apa sang jabang bayi pada dirinya, yang jelas kali ini benar-benar membuat Jacob kesal dan ragu untuk melakukannya.
"Ayo Mas, kita turun,"celetuk Kanaya membuyarkan lamunan Jacob.
"Naya, kenapa harus disini? Kamu bisa memilih tempat lain,"ujar Jacob, berharap sang istri berubah pikiran.
"Mas, badut itu biasanya memang cari tempat ramai untuk mengai rezeki. Jadi, Naya pikir disini pas untuk Mas berperan sebagai badut. ayo Mas turun,"ajaknya lagi.
Masalahnya adalah badut yang ini adalah Jacob Garadha bukan sembarang badut. Dan istri cantiknya itu benar-benar menginginkan Jacob berperan sebagai badut tanpa ada cela.
Dengan rasa pasrah didada, Jacob keluar mobil karena Kanaya sudah lebih dulu keluar. Begitu pula dengan Riko yang telah keluar dan berdiri dengan memegang seikat balon ditangannya.
"Ini balon, nanti Mas bagi-bagi ke anak-anak, ayo Naya juga mau ikut,"seru Kanaya penuh semangat. Wanita itu mengambil alih balon dari tangan Riko dan menyerahkannya pada Jacob. Lalu setelah itu dia berjalan mendahului semuanya.
"Tuan Muda Pertama, Semangat!"seru Riko.
__ADS_1
"Gajimu Saya potong lima persen, Riko,"saut Jacob penuh penekanan.
"Tuan, Tuan...Kenapa membawa gaji segala? Tadi Saya hanya memberi semangat,"ucap Riko.
"Kamu pikir Saya tidak tahu jika kamu yang menyediakan semua peralatan badut dan balon-balon ini. Sudah tidak ada penawaran, Saya mau menyusul Kanaya,"balas Jacob lalu melangkah meninggalkan Riko yang lemas.
"Gajiku..."
Setelah merasa tempat dimana Kanaya berada pas, wanita itu menarik Jacob berdiri disisinya. Pria itu berdiri bak patung disisi Kanaya yang begitu semangat.
"Balon, balon gratis. Ayo siapa yang mau balon?"teriak Kanaya. "Mas, ayo bilang kayak gitu,"lanjutnya lagi.
"Balon, balon gratis,"cicit Jacob.
Dia benar-benar sangat malu melakukan hal itu. Tetapi melihat betapa semangatnya Kanaya membuat Jacob harus menebalkan mukanya. Hem, bukankah bedak Jacob memang sudah tebal ya.
"Yang keras Mas, jangan lembek gitu,"ucap Kanaya.
"BALON BALON, BALON GRATIS...SIAPA YANG MAU,"teriak Jacob dengan suara lantangnya.
Bahkan sangking lantangnya teriakan Jacob itu sampai membuat Kanaya terjengit kaget.
Gerombolan anak kecil dan beberapa anak kecil yang bersama keluarganya itu menoleh saat mendengar teriakan Jacob.
"Ma, Aku mau balon gratis. Ayo Ma,"rengek seorang anak kecil kepada orang tuanya.
"Wah balon gratis, ayo kita kesana,"ucap seorang anak pada kawan-kawannya.
Jadilah kini Jacob dikerubungi oleh anak-anak yang meminta balon kepadanya. Kanaya tersenyum dari balik cadarnya saat melihat bagaimana suaminya kewalahan menghadapi gerombolan anak-anak itu sampai balon ditangannya tak tersisa.
"Om Badut, lucu deh. Om badut bisa goyang tidak?"celetuk seorang anak.
"Hah? Tidak bisa,"balas Jacob.
"Ah, Om badut payah...Masak joget saja tidak bisa. Ayo Om badut joget ya."
"Iya Om badut, ayo joget,"saut anak lainnya.
"AYO OM BADUT JOGET,"seru semua anak-anak itu pada Jacob.
__ADS_1
Jacob menatap Kanaya nelangsa, dia diluar batasnya. Dan sungguh dalam keadaan tidak berdaya.
***