
Satu bulan kemudian.
Suasana mansion Garadha tampak begitu ramai. Sedari pagi seluruh keluarga Garadha begitu sibuk mempersiapkan acara santunan anak panti asuhan.
Di kamar utama sendiri, tampak Kanaya dan Jacob tengah bersiap juga.
"Naya Sayang, lihat penampilan Mas? Ini rasanya aneh,"ujar Jacob.
Kanaya yang tengah mengenakan celak pun berbalik dan menatap penampilan Jacob dari atas sampai bawah. Tidak ada yang salah dengan penampilan pria itu.
Dengan baju koko berwarna putih yang lengan pendek serta celana bahan berwarna hitam. Jacob justru tampak lebih tampan dari biasanya.
Kanaya tersenyum manis pada sang suami, lalu melangkah mengambil sesuatu di atas meja. Setelah itu kaki Kanaya berjalan mendekati sang suami.
"Mas lebih tampan dari biasanya, apalagi jika memakai peci ini,"ucapnya seraya memasangkan peci pada kepala Jacob dan mengecup pelan pipi sang suami.
Semburat merah tercetak jelas pada wajah Jacob kala istri cantiknya inisiatif mengecup pipinya lebih dulu.
"Bisa gak sih, acaranya di tunda. Pengin rasanya ngurung Kamu di kamar,"celetuk Jacob seraya menarik pinggang sang istri.
"M-Mas, kita harus turun loh. Ditunggu semua orang,"gagap Kanaya dengan pipi meronanya.
Kekehan renyah keluar dari bibir Jacob. Pria itu begitu senang melihat ekspresi malu-malu yang Kanaya tunjukkan padanya. Padahal mereka sudah berumah tangga cukup lama, namun sang istri masih saja menunjukkan sikap malu-malunya saat berduaan dengan Jacob.
"Mas, ih. Kok malah ketawa sih,"gerutu Kanaya semakin merah saja wajahnya.
Jacob melepaskan tangannya dari pinggang sang istri dan berkata.
"Oke oke, kita turun sekarang. Tapi, sebentar dulu. Ada yang ketinggalan,"ujar Jacob.
Kanaya mengamati setiap langkah kaki Jacob. Pria itu berjalan menuju walk in closet dan keluar dengan sehelai cadar di tangannya.
Senyuman Kanaya merekah kala melihat betapa menjaganya sang suami akan wajah Kanaya agar tidak sembarangan orang melihatnya.
"Mas tidak rela jika mereka melihat wajah cantik istri Mas ini,"ucap Jacob seraya memasangkan cadar itu dan mengikatnya di pada kepala sang istri.
"Terima kasih Mas,"balas Kanaya.
Jacob meraih tangan Kanaya lalu menggenggamnya erat. Barulah setelah itu keduanya melangkah keluar kamar.
Di bawah sana sudah begitu ramai, anak-anak panti asuhan serta seorang Ustadz juga telah datang, mereka hanya menunggu Kanaya dan Jacob saja.
Acara di mulai dengan mengaji beberapa surat pilihan dalam Al Quran, seperti surat Maryam dan Yusuf. Lalu dilanjut nasihat-nasihat Islami dari ustadz.
Terakhir, adalah acara santunan pada anak panti asuhan tersebut.
"Terima kasih Pak Ustadz dan pimpinan panti asuhan sudah menghadiri acara untuk kehamilan menantu Kami,"ujar Nyonya Seline.
__ADS_1
"Kami yang berterima kasih pada Nyonya Seline karena sudah memberikan anak-anak panti kesenangan dan santunan yang begitu banyak,"ujar Bu Panti.
"Itu sepadan dengan doa yang anak-anak panti asuhan berikan untuk keselamatan calon cucu keluarga kami, Bu,"balas Nyonya Seline tersenyum lebar.
"Ya sudah, kalau begitu kami pamit, Nyonya,"ucap Ibu Panti itu lagi.
"Iya Bu, sekali lagi terima kasih. Hati-hati di jalan."
Pak Ustadz dan Pimpinan Panti Asuhan beserta seluruh penghuninya pun berlalu meninggalkan mansion Garadha dengan tersenyum senang.
Senyuman yang juga membuat Kanaya turut merasakan kebahagian mereka. Wanita cantik itu tersentuh dengan kondisi mereka.
Dia yang ditinggalkan kedua orang tuanya tentu paham betapa pahitnya kehidupan dunia tanpa hadirnya sosok orang tua disisi kita.
Dan kesedihan Kanaya itu tanpa sengaja disadari Jacob. Pria yang tengah memberikan perintah pada para pelayan itu pun meninggalkan kegiatannya.
"Rik, lanjutkan. Saya mau menemui Istri Saya,"ucap Jacob pada sang asisten.
"Baik Tuan Muda Pertama,"balas Riko dengan anggukannya.
Jacob meninggalkan Riko mendekati Kanaya.
"Ada apa Naya Sayang? Apa terjadi sesuatu?"tanya Jacob.
Kanaya menghapus setitik air matanya yang lolos tanpa permisi itu. Baru setelah itu manik abu-abu nan indah tersebut menoleh kepada Jacob.
Pria itu sadar, jika nasib Kanaya tidak jauh dari para anak panti asuhan itu.
"Sekarang kamu punya Mas, jangan sedih ya,"ucap pria itu.
"Iya Mas,"balas Kanaya.
"Sekarang kamu duduk dulu ya, kasihan baby kita,"ucap pria itu diangguki Kanaya.
Dengan hati-hati Jacob merangkul tubuh Kanaya dan membimbing tubuh sang istri untuk duduk di atas sofa.
Karena Jacob tahu untuk wanita hamil tidak baik jika terlalu lama berdiri. Setelah memastikan posisi Kanaya nyaman, sejenak Jacob duduk dengan memegang tangan wanita cantik itu.
"Kamu duduk saja disini. Mas mau memastikan semuanya telah dirapikan dengan benar, setelah itu kita kembali ke kamar, biar Mas panggilkan Dinda dan Aneth untuk menemani Kamu,"ucap pria itu.
"Dinda!"panggil Jacob.
Dinda yang tengah membantu membereskan acara itu pun segera meninggalkan kegiatannya dan berjalan mendekati Jacob.
"Iya Tuan,"ucapnya.
"Temani istri Saya disini, sebentar Saya panggil Aneth juga,"ujar Jacob.
__ADS_1
Jacob mengedarkan pandangannya mencari keberadaan sang adik perempuannya itu. Dan tarikan pada lengan bajunya membuat pria itu menoleh pada Kanaya.
"Mas, itu Aneth deh,"ucap Kanaya menunjuk keberadaan Aneth.
"Ya ampun Aneth. Apa yang dia lakukan, kenapa seperti itu sama pria,"geram Jacob menatap betapa genitnya Aneth yang terus menempeli Riko itu.
"Mas kesans dulu, kamu disini sebentar sama Dinda,"ucap Jacob diangguki Kanaya.
Pria itu berdiri meninggalkan Kanaya, lalu dengan langkah kaki panjangnya Jacob berjalan lurus ke arah dimana Aneth berada.
Terlihat putri ketiga dari keluarga Garadha itu begitu senang mengganggu Riko bahkan terus menempeli asisten Jacob itu.
"Asisten Riko, nanti malam jalan yuk,"ajaknya tidak tahu malu.
Bahkan Aneth tidak tanggung dengan meletakkan tangannya pada bahu Riko dan mencolek pipi pria itu.
"Nona, Saya sedang bekerja,"ucap Riko mencoba melepaskan dirinya dari kegenitan Aneth.
"Kan malamnya free, ayolah. Mumpung Aneth belum ke Amerika lagi ini,"rengek Aneth.
"Maaf Nona, saya tidak bisa,"tolak Riko lagi.
"Asisten Riko, pokoknya Aneth tidak mau tahu. Nanti malam kamu harus, aw..."
Aneth memekik kesakitan dan menjauh dari tubuh Riko kala sebuah tangan menjewer telinganya.
Bola mata Aneth membesar sempurna saat dia melihat sosok yang menjewernya adalah Jacob. Dengan senyuman terpaksa, gadis itu mengurungkan niatannya mengumpati Jacob.
"Harus apa hah? Kamu ini, masih bocah jangan kegatelan,"seru Jacob lalu menarik tubuh sang adik dengan tangan masih menjewer telinga Aneth.
"Aduh Kak, aw...ampun, jangan tarik telinga Aneth terus,"pekik Aneth kesakitan dengan kaki mengikuti langkah panjang Jacob.
Sementara Riko hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat pemandangan tersebut.
"Diam disini! Jangan kegatelan, temani kakak iparmu,"titah Jacob. Aneth telah duduk disamping Kanaya dan berlindung dibalik ketiak kakak iparnya.
Bibir Aneth mencebik kesal, tangan gadis itu mengelus telinganya yang terasa panas karena jeweran Jacob itu.
"Aneth cuma lagi usaha biar dapat cowok Kak, nyebelin banget sih,"ujar Aneth dengan kekesalannya.
"Nggak usah kegatelan Aneth. Nanti kakak carikan pria yang mau sama kamu, walaupun itu sangat sulit."
Ditengah perdebatan adik - kakak itu yang disaksikan Kanaya dan Dinda, sebuah suara salam mengalihkan netra semua yang ada disana.
"Assalamu'alaikum."
***
__ADS_1
TBC