
"Euungh! "
"Naya! Kamu sadar Sayang, sebentar Mama panggilkan dokter, "ucap Nyonya Seline.
Kanaya menatap sekeliling, ruangan bernuansa putih tampak jelas di penglihatannya.
"Rumah sakit ya, "gumam Kanaya saat mengenali dimana dia berada saat ini karena aroma obat-obatan menyeruak pada indra penciumannya.
Helaan nafas seraya memejamkan matanya dilakukan oleh wanita itu. Masih berbekas di ingatannya peristiwa di kediaman Garadha.
Mengingat akan hal itu, Kanaya tersadar jika perutnya terbentur dengan keras pada pinggiran tangga serta jatuh terguling dari atas hingga ujung tangga.
Jemari Kanaya yang gemetar karena pikiran buruk mulai menggeranyanginya mengarah pada perutnya.
"Da-tar, apa dia... "
Kalimat itu berhenti dan berganti dengan isak tangis wanita cantik itu. Dia tahu jika ada yang tidak baik-baik saja dengan janinnya.
Dia kembali menyentuh perutnya untuk memastikannya lagi. Kanaya masih berharap jika saat tadi ia menyentuhnya itu hanyalah sebuah ilusi semata.
Naasny, itu bukan ilusi melainkan memang kenyataannya.
Perut buncit dimana beberapa hari yang lalu untuk pertama kalinya dia merasakan tendangan sang jabang bayi kini benar-benar telah mengecil, datar tak seperti sedia kala.
"Ba-by? i-ini tidak mungkin... dia tidak mungkin hilang. Dimana anakku! "
Kanaya histeris dan meraung karena rasa sedih akan kehilangan sang jabang bayi.
Bayi itu sudah sangat Kanaya cintai dan ia nantikan kehadirannya. Namun kenapa sekarang tidak bersamayam lagi di perutnya.
"Hiks, i-ini pasti ada yang salah. Aku, aku harus bertanya pada dokter,"ucap Kanaya seraya mencabut selang infusnya lalu bergerak untuk menuruni brangkar.
"KANAYA!"pekik Nyonya Seline.
Nyonya Seline yang baru saja datang usai memanggil dokter dan membujuk Jacob agar tidak overthingking dan mau menemui Kanaya karena wanita itu telah sadar, kini dikejutkan dengan Kanaya yang tampak kacau dan berusaha menuruni brangkar.
Lengan dimana Kanaya melepas paksa jarum infus, tampak darah segara mengucur di sana.
Segera Nyonya Seline dan dokter di belakangnya berlari ke arah Kanaya.
"Nay, ada apa? "tanya Nyonya Seline khawatir.
__ADS_1
Kanaya yang sangat kacau itu mendongak lalu menatap Nyonya Seline dengan wajah sembabnya.
"B-ba-by, anak Naya Mah... anak Naya tidak ada di perut Naya, "celetuk Kanaya dengan air mata yang kembali berurai dengan derasnya membasahi kedua pipi kemerahan wanita cantik itu.
"Kanaya, "lirih Nyonya Seline.
Nyonya Seline menarik tubuh Kanaya yang gemetaran itu ke dalam pelukannya. Membiarkan sang menantu menangis disana.
"Kenapa anak Kanaya tidak ada Mah, kenapa? dimana Dia? "raung Kanaya dalam tangisannya.
Nyonya Seline tidak bisa berkata-kata lagi. Wanita itu tampak turut sedih atas kesedihan yang dirasakan sang menantu.
Ekor mata Nyonya Seline tanpa sengaja menatap Jacob yang telah masuk satu langkah ke dalam tampak pria itu berjalan mundur keluar kamar.
"Jacob, "lirih Nyonya Seline.
Nyonya Seline tahu, putranya yang mudah sekali stress itu pasti akan semakin menyalahkan dirinya. Terlebih saat Nyonya Seline melihat tatapan dari Jacob yang mengisyaratkan semua itu.
"Jacob "lirihnya lagi.
Sayang sekali, pria itu justru tampak dengan wajah frustasinya kini tidak. hanya keluar kamar tersebut. Melainkan Jacob berlari dari sana.
Nyonya Seline dilanda kegelisahan. Dia ingin mengejar Jacob dan menenangkan sang putra namun saat ini dia juga tidak bisa meninggalkan Kanaya yang tengah terpuruk.
"Dok, tolong tangani menantu Saya sebentar, Saya harus keluar lebih dulu, "ucap Nyonya Seline.
"Baik Nyonya, "ucap dokter itu seraya menganggukkan kepalanya.
Setelah itu, Nyonya Seline gegas keluar dari kamar vvip tersebut. Bertepatan dengan itu, tampak Indri yang tengah berjalan ke arah kamar dimana Kanaya di rawat.
"Nyonya, "seru Indri.
"Ah, beruntung kamu ada disini. Tolong jaga Kanaya sebentar, Saya harus mengejear Jacob,"ucap Nyonya Seline pada Indri lalu kembali berlari keluar rumah sakit.
Indri yang mendapat perintah itu tampak hanya bisa menjawab pelan kala Nyonya Seline telah berlalu jauh dari arahnya.
Nyonya Seline terus mengemudikan laju mobilnya menyurusi jalanan kota Jakarta, mencari keberadaan sang putra.
"Jac, ayo angkat Sayang! dimana kamu Nak,"gumam Nyonya Seline dengan wajah khawatirnya.
Wanita parubaya itu memutar kemudinya, dia teringat ada satu tempat yang belum dia datangi, yaitu apartemen sang putra.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Nyonya Seline telah sampai di unit apartemen sang putra.
Dengan segera, dia menggunakan lift untuk menuju lantai paling atas dimana unit apartemen Jacob berada.
Beruntung Nyonya Seline tahu kode sandi unit apartemen tersebut, yang mana membuat Nyonya Seline dengan mudah masuk ke dalam sana.
"Astagfirullah!"pekik Nyonya Seline.
Suasana apartemen itu tampak sudah sangat kacau. Segala pekakasan sudah tidak pada tempatnya.
Serpihan vas dan gelas terlihat berserakan di atas lantai. Tidak hanya itu, tampak televisi mewah di apartemen tersebut juga tidak kalah mirisnya karena telah hancur berkeping.
"Jacob, kamu dimana Sayang? "lirih Nyonya Seline dengan wajah sedihnya.
Dengan langkah kaki yang sangat hati-hati, Nyonya Seline melangkah mencari keberadaan sang putra pertamanya.
Langkahnya terus menelusuri area apartemen tersebut, sampai ketika ia di depan kamar yang diyakini milik Jacob, segera saja Nyonya Seline memutar knop dan membuka pintu tersebut.
"Jacob! "lirih Nyonya Seline.
Wanita parubaya itu berlari mendekati sang putra yang tengah berjongkok di pojokan kamar dengan keadaan sangat kacau serta memeluk tubuhnya sendiri.
"Jacob, "panggil Nyonya Seline seraya bergerak hendak menyentuh tubuh sang putra pertamanya.
"Pergi! Jangan sentuh Saya, "pekik Jacob menampik kasar uluran Nyonya Seline.
"Kanaya... Kanaya sangat sedih, Saya sudah membunuh anak kami, "guman Jacob.
Nyonya Seline tampak sangat sedih melihat kondisi sang putra yang sangat frustrasi karena penyesalan dan rasa bersalahnya.
"Jangan seperti ini Nak, semuanya bukan salah kamu. Anak kalian memang ditakdirkan untuk pergi ke surga lebih dulu, "ujar Nyonya Seline.
"Pergi! Pergi! Jangan bicara lagi, pergi! "raung Jacob seraya mendorong tubuh Nyonya Seline.
Air mata Nyonya Seline tumpah begitu derasnya. Selama Jacob menderita IED ini adalah kali kedua pria itu kambuh begitu hebat.
Dulu saat kematian sang kakek, dan kini karena kepergian calon anaknya.
Nyonya Seline membuka tasnya lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Cepat kesini, "ujarnya dengan netra menatap perihatin pada Jacob yang sungguh sangat kacau itu.
__ADS_1
***
TBC