
Kamar utama mansion Garadha itu kembali dipenuhi suara d*sahan Kanaya dan Jacob yang saling bersahutan.
Jacob terus memacu tubuhnya di atas tubuh sang istri yang selalu saja membuatnya begitu candu. Meskipun ada bayi di dalam perut sang istri yang membuat adanya sekat antara ia dengan tubuh Kanaya. Namun hal itu tidak mengurangi kegiatan panas mereka.
Terlebih usai pesan yang dokter berikan, Jacob semakin semangat saja dalam membuka jalur lahir sang bayi. Alih-alih karena pembukaan jalue bayi, Jacob juga melakukan sebagai aksi karena di awal kehamilan Kanaya, pria itu yang harus menahan diri karena kehamilan yang rentan keguguran.
Dam saat dokter memberi lampu hijau, dengan semangat empat lima Jacob terus membuka jalan lahir putranya.
"M-Mas, sudah Mas. Naya lelah,"keluh Kanaya yang merasa tubuhnya cukup lelah terlebih dia merasa di area bawahnya sedikit sakit.
"Sebentar, Naya Sayang! Mas hampir sampai,"ujar pria itu mempercepat gerakan pinggulnya.
Suara l*nguhan panjang keluar dari bibir Jacob. Lalu dengan tubuh dipenuhi keringat dan nafad terengahnya. Jacob melepas penyatuan mereka dan berbaring disamping tubuh polos sang istri.
Cup.
"Terima kasih Naya Sayang,"ucapnya lalu menarik tubuh sang istri untuk ia peluk.
Kanaya yang teramat lelah dan tidak sanggup menjawab kalimat Jacob, wanita cantik itu memilih untuk terlelap dalam tidur nyenyaknya.
Mendengar deru nafas Kanaya yang mulai teratur, Jacob tersenyum senang. Ia kembali melabuhkan kecupan pada pipi sang istri. Tangan Jacob juga mengelus perut buncit Kanaya berharap bayi di dalam perut Kanaya segera keluar.
Rasa lelah karena telah mencapai puncak kepuasan bercinta yanh tidak hanya satu kali itu membuat kelopak mata Jacob memberat. Pria itu begitu cepat terlelap disamping sang istri.
Dini hari, menjelang subuh. Kanaya yang tadinya tidur begitu nyenyak terusik karena rasa mulas yang teramat sangat pada perutnya. Tetapi itu hanya beberapa saat, karena tiba-tiba rasa mulasnya itu hilang.
"Sudah nggak terasa lagi ya,"gumam Kanaya.
Dipikir itu hanya rasa mulas biasa, Kanaya memutuskan untuk memejamkan kedua matanya lagi. Tapi rasa mulas itu kembali Kanaya rasakan meski setelah beberapa saat hilang begitu saja. Dan puncaknya saat rasa mulas yang Kanaya pikir ingin buang air besar, berubah menjadi rasa sakit kontraksi membuat wanita cantik itu menggeram dan menggoyangkan tubuh Jacob agar pria itu bangun.
"Mas, Mas. Bangun Mas! Naya mau melahirkan,"ucapnya.
"Hemmm,"gumam Jacob.
Frustasi karena sang suami yang tidak juga bangun padahal rasa sakit yang Kanaya rasakan semakin menyiksanya. Pada akhirnya Kanaya menarik tubuh suaminya itu sampai membuat Jacob terduduk.
__ADS_1
Dasar sudah sangat mengantuk, meskipun sudah diperlakukan seperti itu dan tubuhnya sudah duduk pun, kelopak mata Jacob masih saja tertutup.
"Masss!"teriaknya langsung membuat Jacob mengerjap dan membuka matanya.
"Kenapa? kenapa? Ada apa Naya Sayang,"panik Jacob.
"Anak kita mau keluar Mas, Naya mau melahirkan,"jelas Kanaya.
Sejenak Jacob terdiam mendengar kata-kata Kanaya. Nyawanya belum terkumpul sepenuhnya membuat otak cerdas Jacob ngeblang. Sampai teriakan Kanaya yang nyaring tercipta, membuat Jacob terhenyak.
"Apa melahirkan? Sebentar Naya sayang,"pekik Jacob.
Pria itu beranjak dari kasur lalu memakai pakiannya dan berlari keluar kamar. Saat kaki Jacob hendak menepaki tangga, Jacob teringat Kanaya yang masih polos gegas masuk kembali ke kamarnya.
"Pakai pakaian dulu ya,"ucapnya, membantu Kanaya memakaikan baju ganti untuk Kanaya.
Setelah ia memakaikan Kanaya pakaian ganti. Jacob berdiri dan menatap Kanaya yang sedang meraung kesakitan.
"Naya, Mas harus apa sekarang?"tanya Jacob dengan bodohnya.
Bugh.
"Rumah sakit Mas, bawa Naya ke rumah sakit,"raung Kanaya sembari memegang perutnya.
"Ah iya rumah sakit. Sebentar Sayang,"balas Jacob.
Pria itu gegas mendekati kasur lalu mengangkat tubuh sang istri dan berjalan cepat keluar kamarnya.
Pria itu memanggil kedua orang tuanya dan Nenek Risma yang kebetulan menginap di mansion karena khawatir
"Ma! Pa! Nenek! Aku mau melahirkan!"teriaknya dengan kaki terus terayun cepat.
"M-Mas, Naya yang mau melahirkan,"ralat Kanaya dengan nafas terengahnya.
"Eh iya...Ma Pa, Naya mau melahirkan,"teriak ulang Jacob.
__ADS_1
Teriakan Jacob yang menggema dan terus berulang sukses membuat penghuni mansion itu keluar kamar semua.
Nyonya Seline dengan kimononya serta rambut acak-acakan diikuti Tuan Garadha yang juga dengan muka bantalnya. Begitupula Nenek Risma yang keluar dari kamar.
"Ada apa Jac?"tanya Nyonya Seline.
"Naya mau melahirkan, kita harus membawanya ke rumah sakit,"saut Jacob dengan suara yang mulai menguar karena pria itu yang sudah keluar dari mansion.
Mendengar menantunya akan melahirkan, sontak saja membuat nyawa Nyonya Seline dan Tuan Garadha seketika terkumpul dan gegas menyusul Jacob keluar.
"Kamu di belakang saja, biar Papa yang menyetir,"seru Tuan Garadha.
Tanpa banyak protes, Jacob masuk ke pintu kursi penumpang disisi sang istri.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Kanaya memejamkan matanya dengan bibir terus melafalkan asma Allah.
"Naya, jangan tutup matanya! Buka Sayang, Mas takut kamu kenapa-kenapa,"ucap Jacob.
Kanaya tak peduli akan perintah sang suami, ia hanya menarik tangan pria untuk ia jadikan pelampiasan rasa sakitnya.
"Ma, Naya nggak mau buka matanya,"adu Jacob, membuat Nyonya Seline menoleh kebelakang.
Nyonya Seline melihat situasi di belakang. Kanaya yang memejamkan matanya dengan bibir terus bergerak yang sesekali meringis serta tangan yang mencengkram kuat lengan Jacob hingga kukunya membenam pada kulit Jacob.
"Kamu bantu dia dengan mendoakannya dan tiup perut Kanaya, Jac!"seru Nyonya Seline.
Jacob yang tidak tahu harus membaca apa, hanya coba membaca satu kalimat asma Allah yaitu Ya Rahman secara terus menerus dengan tangan mengelus perut buncit sang istri.
Beberapa saat kemudian, mobil itu telah masuk pada area rumah sakit. Dengan sigap para staf rumah sakit memberi pertolongan pada Kanaya. Karena mereka tahu siapa sosok Tuan Garadha dan Jacob yang tak lain pemilik rumah sakit tersebut.
"Mana dokternya? Kenapa hanya dokter jaga saja,"sentak Jacob di tengah kepanikannya.
"Dokter Putri masih dalam perjalanan ke rumah sakit, Tuan"ujar dokter jaga tersebut.
"Kenapa lama sekali dia, Nayaku sedang tersiksa. Cepat kalian lakukan sesuatu untuk meringankan rasa sakitnya. Jika bisa kalian yang merasakan sakit itu,"oceh Jacob.
__ADS_1
"Mas..."panggil Kanaya
***