ISTRI CANTIK TUAN JACOB

ISTRI CANTIK TUAN JACOB
BAB 43


__ADS_3

"Nggak, tadi Mas bilang apa? "tuntut Kanaya.


Wanita itu menahan tubuh tegap Jacob yang berada di atasnya, sehingga pria itu tidak bisa menjangkaunya.


"Nay, nanti dulu ya. Kita lanjut ini dulu, "mohon Jacob.


Kanaya adalah tipe orang yang ingin tahu dengan segala hal yang membuatnya penasaran


Dan Jacob pikir, jika ia memberitahu apa yang barusan dia katakan bisa berakibat dengan penundaan acara jenguk menjenguknya.


Pria itu berusaha menarik tangan Kanaya agar ia bisa menjangkau sang istri.


"Nggak mau, tadi Mas bilang bahasa inggris kan? Jawab dulu tadi bilang apa sama Naya? "


Sepertinya rasa ingin tahu Kanaya, telah mengalahkan sifat lemah lembut wanita itu.


Lihatlah dia masih teguh pendirian dengan menahan tubuh pria itu sekuat tenaganya sampai dia mendapatkan jawaban dari rasa ingin tahunya.


Jacob mendudukkan dirinya dengan raut putus asanya, dia saat ini tengah dilanda gairah tinggi, namun istrinya dengan terang-terangan menguji kesabaran pria itu.


"Artinya Iya, "jawab Jacob enteng.


"Iya? Mas nggak bohong kan iya itu yes sedangkan Mas tadi bilang as... as gitu, apa... mmmpt. "


Bibir cerry nan tipis itu tidak bisa melanjutkan kalimatnya lagi. karena sudah dibungkam lebih dulu oleh bibir tebal Jacob


Jacob tidak akan membiarkan malam ini gagal karena Kanaya yang banyak bertanya.


Ia kecap bibir cerry manis yang selaly menggodanya itu dengan penuh damba.


"Jangan tegang, buka matamu dan lihat Suamimu ini, Nay, "ujar Jacob menyapu lembut pipi sang wanita.


Perlahan Kanaya yang menutup mata mulai berani membukanya. Tubuh tegang itu pun mulai rileks saat Kanaya melihat jelas manik legam sang suami yang tengah mendamba dirinya itu.


"Aku akan hapus semua kenangan pahit baik karenaku ataupun karena mereka, "ucapnya lagi.


Cup.


"Aku Jacob Garadha adalah suamimu, Nay. "ucap Jacob seakan-akan mengenalkan dirinya pada kecupan di bibir itu.


Kanaya bergeming, dia memang terus terbayang akan malam dimana kesuciannya di renggut paksa oleh Jacob.


Dan kini dia juga harus mengalami trauma beberapa saat yang lalu karena para pria jalanan itu.


Cup.


"Percayalah malam ini Aku akan menciptakan memori yang bisa menghapus memori hitam itu, "ujarnya lagi.


Jacob mulai melancarkan aksinya, ia telusuri setiap inci dari wajah cantik Kanaya dengan bibir tebalnya dan mendarat dengan lama pada bibi cerry Kanaya.


Tak mau tinggal diam, tangan pria itu juga mulai beraksi dengan menelusuri setiap jengkal pada tubuh Kanaya.


Membelainya lembut dan berakhir pada area inti tubuh Kanaya, ia sentuh dengan rasa membuncah membuat sang wanita melenguh penuh gairah.

__ADS_1


Kini tubuh keduanya telah polos bak bayi yang baru lahir. Tangan Jacob yang lincah menjadi pelaku utama berserakannya kain penutup dirinya dan Kanaya.


"Aku malu, "cicit Kanaya.


keringat yang mulai berkucuran pada wajahnya tak menghalangi rona merah pada kedua pipi wanita itu.


"Aku menyukaimu yang seperti ini, tidak perlu malu, "ujar Jacob menarik tangan Kanaya yang menghalangi tubuhnya.


"Tapi... Ini pertama kali Aku polos dengan keadaan Mas sadar, "cicitnya lalu berpaling enggan menatap bola mata Jacob.


Ya, dulu saat pria itu menjamah tubuhnya. Tatapan Jacob sangat buas sangat menakutkan.


Berbeda dengan saat ini pria itu menatapnya penuh damba.


Jacob memegang dagu Kanaya lalu ia arahkan wajah cantik itu untuk menatap dirinya.


"Tidak ada alasan untuk malu, Sayang. Kamu sangat cantik, "puji Jacob.


Semakin merona saja wajah Kanaya saat mendengar pria itu memanggilnya Sayang.


"Boleh kita mulai pada acara intinya? "


Perlahan kepala Kanaya mengangguk pasti membuat senyuman tercetak jelas pada sudut bibir Jacob.


Pria itu berdiam dengan bibir komat-kamit membaca doa, dan setelah itu penyatuan kedua manusia itu pun terjadi.


"Shhht, Ah. "


Suara ******* dan lenguhan mulai memenuhi telinga keduanya. Namun kebisingan mereka justru semakin menjadi penyemangat bagi keduanya.


Kanaya memandang wajah pria yang berada di atasnya dengan penuh damba, sesekali Jacob memejamkan bola matanya saat merasa sesak nan nikmat bersamaan.


Namun sesekali ia juga tersenyum senang membalas tatapan sang istri tanpa menghentikan aktivitas panasnya.


Peraduan keduanya berlangsung cukup lama, sampai lenguhan kesekian kalinya keluar dari bibir masing-masing sebagai akhir dari pergumulan panas itu.


"Apa Aku menyakitinya? "tanya Jacob dengan nafas tersengalnya.


Pria itu telah melepaskan penyatuannya dan berpindah berbaring disamping tubuh sang istri.


"Tidak, dia baik-baik saja di dalam sini, "ujar Kanaya.


Jacob mengelus tulus perut Kanaya yang mulai membuncit itu lalu tangan kekar itu naik ke atas untuk merapikan helaian rambut Kanaya yang berantakan karena ulahnya.


Cup.


"Terima kasih untuk malam ini, Sayang, "ujar Jacob usai mengecup pelipis sang istri.


"Mas, malu ih, "lirih Kanaya menutup wajahnya dengan selimut tebal itu.


Jacob tertawa keras melihat tingkah menggemaskan sang istri.


"Kenapa malu hem, sama suami sendiri. Sini mas peluk, "ujarnya menarik selimut tebal itu lalu menarik tubuh Kanaya dalam dekapannya.

__ADS_1


Kanaya menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Jacob untuk menutupi semburat merah wajahnya dari pria itu.


"Kita tidur ya, Sayang. "


"He'em, "dehem Kanaya enggan menatap pria itu.


"Selamat malam kesayangan Aku, mimpi indah, "ujar Jacob mengecup ubun-ubun sang istri.


Mendapat ucapan selamat malam dari sang suami membuat Kanaya semakin tak berani mendongak ke atas.


"Dia sangat manis, "batin Kanaya.


Keduanya memejamkan mata dalam dekapan yang hangat usai melakukan pergumulan panas.


Kedua sudut bibir mereka terangkat dengan penuh perasaan lega. Mereka tengah menikmati keintiman yang sangat melenakan dan sejenak lepas dari apa yang besok akan menunggu mereka.


***


"Ma, Lexsa harus bagaimana? Jacob tidak ingin bertemu lagi sam Lexsa? Bahkan Lexsa tadi di usir dari kantornya, "adu Alexsa.


Mama Cindy yang mendengar aduan putrinya terlihat juga turut gelisah.


Kehidupan mewah dirinya dan sang putri di ambang kehancuran jika sampai Alexsa tidak lagi berharga di mata pria itu.


"Kau benar-benar diusir dari sana? "tanya Mama Cindy memastikannya.


Alexsa mengangguk pada pertanyaan sang mama.


"Ini gawat Lexsa, jika dia benar-benar telah jatuh hati pada wanita kampung itu. Hidup mewah kita bisa berakhir."


"Lexsa juga nggak mau itu terjadi, tapi Lexsa harus apa Ma? "


Keduanya terdiam selama beberapa saat memikirkan cara yang akan digunakan untuk mengambil posisi Alexsa yang telah berpindah pada Kanaya.


"Kau ini punya wajah cantik dan tubuh yang indah, kenapa tidak gunakan itu saja, "ujar Mama Cindy.


"Mama yakin itu akan berhasil? "


Mama Cindy mengangguk yakin lalu berkata.


"Kau dan dia sudah berpacaran lima tahun lebih, mana mungkin dia begitu cepat berpindah hati. Jika kau sedikit menggodanya pasti Jacob akan goyah dan kembali dalam pelukanmu,"ujar Mama Cindy.


Alexsa tersenyum saat mendapat ide dari Mama nya.


"Lalu bagaimana dengan perempuan kampung itu Ma? "


"Biar itu jadi urusannya Mama. "


Istilah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya mungkin memang benar adanya.


Sifat Alexsa yang egois, hedon, dan mengusahakan segala cara demi kesenangananyaa ternyata memang turunan dari sang Mama, Cindy.


***

__ADS_1


TBC


__ADS_2