ISTRI CANTIK TUAN JACOB

ISTRI CANTIK TUAN JACOB
BAB 67


__ADS_3

"Nay, Nay! Bangun Nay, "ucap Jacob panik.


Dibawanya tubuh ringkih Kanaya dalam gendongan pria itu seraya melangkah menjauh membelah kerumunan orang-orang itu.


Suara microfon tentang keberangkatan pesawat tujuan New York, Amerika menggema dan masuk pada gendang telinga Jacob.


Namun kali ini, Jacob benar-benar tidak lagi peduli akan keberangkatannya itu, dia hanya fokus menatap sosok Kanaya yang ada dalam gendongan dengan darah pada perutnya.


Jacob merutuki dirinya yang selalu saja menyakiti Kanaya secara tidak langsung.


Dari arah lain, tepatnya toilet bandara. Terlihat Riko berlari mengejar Tuannya yang tergopoh-gopoh itu.


"Tuan Muda Pertama,"panggil pria itu.


"Cepat bantu Saya ke rumah sakit terdekat!"titah Jacob tegas.


Riko berlari lebih cepat dari Tuannya, dia menuju mobilnya yang ada di area parkir dan membawanya ke depan pintu keluar agar mempermudah Jacob.


"Gunakan kecepatan tinggi, Rik! "


Riko menganggukkan kepalanya, dia melihat Jacob dan Kanaya yang ada di belakang itu sekilas lalu menghidupkan mesin mobil dan mobil itu melaju cepat meninggalkan area bandara internasional tersebut.


Di bandara, tampak Nyonya Seline dan Tuan Garadha yang tidak sengaja melihat Jacob membopong tubuh Kanaya keluar bandara pun turut panik.


"Kita susul mereka Pa! Ayo cepat! "ucap Nyonya Seline panik.


Tuan Garadha tanpa banyak kata, mengambil mobilnya lalu membawanya kedepan sosok Nyonya Seline.


"Ayo masuk Ma! "titah pria itu.


Setelah sang istri masuk dan duduk dengan sabuk pengaman menahan tubuhnya, barulah Tuan Garadha melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi agar tidak tertinggal mobil Jacob.

__ADS_1


#Rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Kanaya langsung mendapatkan pertolongan intensif oleh ahlinya.


Tangan Jacob berlumuran darah, pria itu terus memukuli dinding karena rasa amarahnya.


"Tuan Muda Pertama, tolong jangan lakukan ini. Nona Kanaya pasti akan sangat sedih jika tahu Anda terus menyakiti diri seperti ini, "ucap Riko yang kesekian kalinya.


Bedanya, jika sebelumnya hanya meminta Jacob seperti biasanya dan kali ini Riko menggunkanan jurus andalannya dengan membawa nama Kanaya.


Dan benar saja, setelah mendengar nama Kanaya. Jacob berhenti memukuli dinding namun kini tubuh Jacob luruh dan duduk menekuk lututnya serta menyembunyikan kepalanya pada kedua lututnya dengan tangisan pilunya.


Ya setidaknya tidak memukuli dinding. Itu lebih baik.


"Jacob! Dimana Kanaya? "tanya Nyonya Seline dengan nafas tersengalnya.


Jacob mengangkat kepalanya lalu menatap wajah Nyonya Seline.


"Kanaya pasti akan baik-baik saja,"ucapnya.


Tidak ada jawaban dari Jacob, bibir pria itu terlalu berat untuk sekedar menyauti kalimat dari Nyonya Seline itu.


"Riko, bagaimana kondisi Kanaya? "


Kali ini Tuan Garadha yang mengajukan pertanyaannya pada asisten putra pertamanya itu.


Riko pun menjelaskan apa yang dia ketahui dan mengatakan jika saat ini Kanaya tengah mendapatkan pertolongan dari para dokter.


"Apa setelah ini kamu masih mau melanjutkan rencanamu?"tanya Tuan Garadha pada putranya.


Jacob lagi-lagi hanya diam. Dia bingung apa harus memberitahu pada pria yang sangat disegani itu akan kebenaran lainnya yang menjadi penyebab dirinya kekeuh pergi ke luar negeri.

__ADS_1


Perubahan emosinya semakin hari semakin sulit terkendali, meskipun saat ini nama Kanaya bisa sedikit menjadi pengontrol emosinya.


Namun jika Jacob tidak segera ke Amerika, IED-nya akan semakin sulit disembuhkan. Dan bisa saja saat ia kambuh, tanpa disadari Jacob akan melukai Kanaya.


Sudah cukup dirinya menyakiti Kanaya dan membuat bayi mereka pergi untuk selamanya, dia tidak ingin karena kekurangannya akan kembali menyakiti Kanaya.


Saat ini saja dari dalam diri Jacob rasanya ingin meledak-ledak dan memporak-porandakan segala yang ada di depannya.


"Pergilah tapi jangan hancurkan pernikahan kalian,"ucap Tuan Garadha lagi.


"Jangan siksa dirimu dan juga siksa diri Kanaya. Kamu tengah dalam pengaruh emosi jadi jangan lakukan sesuatu yang akan membuat penyesalan terbesar dalam hidupmu karena kehilangan Kanaya, "ucap Tuan Garadha.


Tuan Garadha merogoh saku celananya, dia mengeluarkan secarik surat cerai milik Jacob yang telah kusut itu.


"Papa berikan ini lagi sama Kamu, jika Kamu ingin tetap bercerai dengan Kanaya. Maka besok kembalikan lagi pada Papa. Tetapi jika tidak, maka jangan pernah kembalikan lagi. Jika perlu, hancurkan saja, "ucap Tuan Garadha.


Jacob melihat surat cerai nan kusut itu. Dia butuh waktu sendiri untuk memikirkan segalanya dengan pikiran yang sangat jernih.


Tangan kekar Jacob melepaskan pelukan Nyonya Seline pada tubuhnya lalu tanpa banyak bicara dia bangkit dan berjalan meninggalkan semua orang disana.


Nyonya Seline tampak. panik, wanita itu turut bangkit dan mau mengejar Jacob. Namun cekalan tangan Tuan Garadha menggantikannya.


"Pa, Jacob sedang tidak baik-baik saja, "ucap Nyonya Seline.


"Biarkan dia sendiri, dia butuh waktu sendiri untuk memikirkan semuanya dengan tenang, "balas Tuan Garadha.


"Kita disini saja menunggu Kanaya, "lanjutnya lagi.


Nyonya Seline hanya bisa pasrah akan perintah sang suami. Dia dan Tuan Garadha pun melangkah lalu duduk bersandingan di kursi tunggu bersama dengan Riko yang bediri menanti kabar baik dari dokter.


***

__ADS_1


__ADS_2