
"Kenapa makan disini? Aku kira kamu sudah pulang,"ucap Kanaya dengan wajah cemberutnya.
Wanita cantik itu berjalan mendekati area makan pelayan, yang mana membuat seluruh pelayan itu menghentikan kegiatannya dan berdiri dengan kepala tertunduk.
"Ck, Nay. Kamu ini, lihat mereka semua jadinya pada berhenti makan. Sudah ah Nay. Kamu mendingan kembali kesana deh, Aku lagi enak-enak makan ini,"ucap Indri, kembali memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya.
"Kalian lanjutkan makannya saja, Saya ada perlu sama Indri,"utas Kanaya pada para pelayan.
Kemudian wanita bercadar itu mengambil alih piring Indri beserta menarik tangan sahabatnya itu.
Indri, tentu saja gadis itu cukup terkejut dengan kelakuan sang sohib. Hanya saja, Indri juga tidak menolaknya, karena Indri tahu tujuan dari apa yang dilakukan Kanaya tersebut.
Dengan Kanaya yang berjalan di depan dengan yang masing-masing memilik peran memegang tangan Indri dan memegang piring. Kini wanita cantik itu membawa sahabatnya di taman mansion tersebut.
Disana hanya ada mereka berdua. Kanaya meletakkan piring itu di atas meja lalu memeluk tubuh Indri erat-erat.
"Nay, kamu kira-kira. Ini dada Aku sesak loh, kamu juga ingat kandunganmu,"ucap Indri mengingatkan sang sahabat.
Kanaya melepaskan pelukannya lalu mendudukkan dirinya di kursi taman tersebut, begitu pula dengan Indri yang juga duduk disana.
Indri kembali melanjutkan makannya, sampai ketika seorang pelayan datang membawakan minuman untuknya.
"Makasih Bi,"ucap Kanaya.
"Makasih Mba,"ujar Indri.
Kanaya masih diam selama beberapa saat disana. Dia membiarkan Indri menghabiskan makanannya dan minum dengan tenang. Baru setelah itu Kanaya membuka pembicaraan mereka.
"Kamu apa kabar, Ndri?"tanya Kanaya.
"Aku? Baik dong, sekarang Indri yang anak desa sudah tahu naik pesawat sama tahu bahasa Prancis, Nay,"ucap Indri, membuat Kanaya terkekeh kecil.
Bagaimana tidak lucu dimata Kanaya, saat dengan bangganya Indri mengatakan itu dengan tangan menepuk dada lalu mengibaskan surai hitamnya.
Jika dilihat sekilas memang Indri penampilannya jauh lebih baik dari sebelum ia ikut ke Mark. Kini wajah Indri lebih bersinar dan mulai mengikuti trend pakaian.
"Aku sebenarnya mau marah sama Kamu, kamu tega banget sudah pergi nggak ngabarin Aku. Jahat banget kamu, Ndri,"ucap Kanaya dengan nada kesalnya.
Indri menggaruk alisnya dengan wajah yang ia palingkan dari Kanaya. "Ya...Kalau ngomong ke Kamu, yang ada Aku nggak bakal pergi lah, Nay."
Memang itu alasan utama Indri tidak memberitahu Kanaya pasal ia yang ikut Mark ke Paris, Prancis.
Dia tahu dengan karakter Kanaya yang begitu baik, tentu saja akan memcegah Indri untuk ikut Mark jika tahu alasan dibalik ikutnya Indri.
"Ya, setidaknya Kamu kasih Aku kabar. Kamu bahkan di sana tidak memberiku kabar sama sekali. Sahabat macam apa kamu ini, Ndri,"rutuk Kanaya kesal.
"Utuh...utuh. Ibu hamil jangan ngambek ya...Sini, peluk dulu."
__ADS_1
Indri mendekatkan tubuhnya pada Kanaya lalu memeluknya dari samping.
"Kamu akan tetap disini kan?"
Indri diam tidak menjawab pertanyaan Kanaya. Dia tidak mungkin memberitahu kebenarannya. Ia tidak bisa memutuskan dimana akan tinggal.
Ia harus ikut Mark, sesuai kesepakatan yang telah ia buat dengan pria itu. Tapi tatapan Kanaya penuh permohonan membuat Indri tidak tega.
"Ndri..."
"I-iya."
Kanaya tahu, ada hal besar yang disembunyikan sahabatnya itu. Ingin sekali Kanaya menanyakan segalanya pada Indri.
Tapi sekali lagi, Kanaya juga harus menghargai keputusan Indri. Kanaya juga tidak ingin membuat sang sahabat tidak nyaman di hari pertamanya berkunjung karena desakan Kanaya yang bertanya ini dan itu.
"Kabar kamu disini bagaiman Nay? Sepertinya kamu dan Tuan Muda Pertama banyak sekali mendapat dan melewati ujian cinta yang membuat semakin rekatnya hubungan kalian."
Kanaya melepaskan pelukan Indri. Dari balik cadarnya, ia tersipu akan kesimpulan yang didapat sang sahabat. Ya, ujian cinta dalam rumah tangga Kanaya termasuk silih berganti hadir.
Namun kekuatan cinta antara dirinya dan Jacob mampu membuat mereka melewati semua itu. Bahkan dari apa yang telah terjadi, kini keduanya belajar untuk saling ada satu sama lainnya.
"Aku baik, Ndri. Kamu benar...Banyak sekali hal yang kami lewati bersama. Kelak saat kamu berumah tangga pasti akan mengalami hal yang sama. Intinya apa pun yang terjadi dalam hidup kamu, kamu harus selalu menyertakan Allah di dalamnya,"ucap Kanaya.
Senyuman kecil dan penuh kecanggungan Indri berikan. Dia tidak tahu harus merespon seperti apa untuk semua kalimat yang Kanaya ucapkan.
"Ehem,"dehem Mark.
Deheman itu sukses membuat Kanaya dan Indri menoleh. Indri tampak begitu khawatir melihat sosok Mark disana. Terlebih tatapan dalam yang pria itu berikan pada Kanaya.
"Hay Kakak ipar, gimana kabarnya?"sapa Mark.
Kanaya tampak kikuk. Meskipun panggilan Mark sudah sebagai kakak ipar. Namun tetap saja bayangan masa lalu masih terlintas pada memori Kanaya.
Dan diamnya Kanaya yang tak langsung menjawab sapaannya cukup membuat hati Mark teremas sakit. Dia sudah mengikhlaskan Kanaya tapi untuk cinta, sepertinya belum sepenuhnya hilang.
Dalam lubuk hati pria itu masih tersimpan nama Kanaya disana.
"Tuan Muda Kedua, sebaiknya kita pulang sekarang. Nay, kami pulang ya,"ucap Indri lalu menarik tangan Mark meninggalkan area taman tersebut.
Indri terus menyeret tubuh Mark, dan membiarkan Kanaya seorang diri dengan tatapan penuh tanda tanya. Sesekali Mark menolehkan kepalanya ke belakang menatap Kanaya yang masih berdiri dan menatap dirinya yang diseret Indri itu.
Status pelayan sepertinya itu tidak pas untuk Kanaya sematkan kala melihat bagaimana interaksi Indri dan Mark. Mana ada pelayan yang memiliki keberanian sebesar itu pada Tuannya dengan menyeret tubuh Mark dan membuat pria itu tak berkutik.
"Sepertinya ada hal yang belum Aku ketahui,"ucap Kanaya.
"Naya Sayang! Sudah ngobrolnya."
__ADS_1
Itu Jacob, pria itu menyusul Kanaya ke taman usai memberikan waktu sang istri untuk menghabiskan waktunya bersama Indri, sahabat Kanaya.
"Sudah Mas, Mama, Papa, sama Nenek mau pulang sekarang ya,"tebak Kanaya.
"Kamu sudah tahu? Padahal Aku kesini mau nyusul Kamu untuk mengantar mereka pulang."
Jacob meraih tangan sang istri lalu keduanya berjalan beriringan kembali memasuki area mansion dan menuju ruang tengah.
Disana sudah ada semua keluarga termasuk Riko yang akan pulang.
"Kami pulang ya, Nay. Kamu sehat-sehat, dan Jacob ingat nasihat Mama. Jangan terlalu sibuk, ingat Kanaya sangat membutuhkan Kamu,"ucap Nyonya Seline tegas.
"Iya iya Ma, Jacob tahu itu."
Kanaya dan Jacob menyalimi kedua orang tua Jacob dan juga Nenek Risma.
"Nenek pulang dulu ya Nay, kapan-kapan Nenek kesini lagi,"ujar wanita renta itu.
"Jangan deh Nek, kasihan Nenek kalau harus kesini. Nanti biar Naya saja yang ke villa buat ngunjungi Nenek,"balas Kanaya.
Dia merasa sudah cukup lama tidak menghabiskan waktu bersama sang Nenek. Jadi mungkin kapan waktunya ia akan mengunjungi Villa Cendana.
"Kakak ipar, Aneth pulang dulu ya. O iya, besok Aneth harus berangkat ke Amrik lagi...Sedih deh,"ujar Aneth dengan raut wajah sedihnya lalu memeluk Kanaya erat.
"Jangan banyak drama, sudah sana pulang,"usir Jacob pada sang adik, pria itu bahkan memisahkan pelukan Aneth dan mendorongnya pelan. Tampak jelas, bibir Aneth mengerucut kesal karena pengusiran sang kakak.
Lalu gadis itu beralih mendekati Riko yang berdiri tak jauh dari Jacob. Seperti biasa Aneth akan menggodanya dengan kerlingan mata dan hendak memeluk tubuh Riko, jika saja seruan Jacob tidak menghentikannya.
"PULANG ANETH!"
"Ck, ck. Iya-iya deh."
Kini giliran Indri berpamitan, tapi tampaknya Indri enggan mendekati Kanaya. Ia masih berada di posisinya dengan tangan menggenggam tangan Mark seakan takut jika pria itu lepas dari pengawasannya.
"Tuan Muda Pertama, Naya. Kami pamit ya,"ucap Indri tersenyum.
"Iya Ndri, kapan-kapan kesini lagi ya,"balas Kanaya ramah.
Balasan Kanaya itu mendapat senyuman lebar dari Indri. Lalu gadis itu berbalik dan kembali menyeret Mark yang sepertinya hendak buka suara dan menyapa Kanaya.
"Mas, sepertinya ada yang kita tidak tahu deh,"celetuk Kanaya.
"Mungkin. sudah lah Naya Sayang, kita ke kamar saja yuk,"balas Jacob acuh
***
TBC
__ADS_1