ISTRI CANTIK TUAN JACOB

ISTRI CANTIK TUAN JACOB
Bab 112


__ADS_3

Senyuman Jacob terlihat begitu lebar saat ia memasuki kamar pribadinya. Pemandangan manis dimana seorang wanita cantik yang sangat ia cintai tengah terlelap dengan begitu damai.


Langkah kaki pria itu berderap dengan sangat pelan agar tidak mengganggu tidur Kanaya. Setelah sampai disisi kasur besar itu, Jacob melepaskan sepatu lalu merangkak naik untuk bergabung bersama Kanaya.


"Tidur saja cantiknya begini,"gumam pria itu dengan senyumannya.


Netra Jacob memindai seluruh bagian tubuh Kanaya sampai akhirnya berlabuh pada perut buncit sang istri yang tidur dengan posisi miring itu.


Usia kandungan Kanaya sudah memasuki bulan keenam, namun perut Kanaya tidak sebesar wanita pada umumnya. Mungkin karena faktor bentuk tubuhnya yang proposional atau kelebihan yang Allah berikan pada wanita cantik itu.


"Kamu sebesar buah jeruk? Tapi lihat perut ini besar, sepertinya itu sulit diterima olehku,"ujarnya, dengan tangan mengelus perut buncit Kanaya dari balik gamis itu.


"Wah, kamu tahu ya kalau Daddy sedang menyapamu,"ucapnya dengan binar bahagia, saat merasakan tendangan dari calon jabang bayi di dalam sana.


Merasa kurang puas hanya mengelusnya dari luar, Jacob menyingkap gamis Kanaya hingga kini perut buncit itu terlihat tanpa ada satupun penghalang di depan matanya.


"Indah, ini sangat indah,"ujar pria itu lagi, lalu mendekatkan kepalanya dan menghujaninya dengan banyaknya kecupan disana.


Tindakan Jacob itu ternyata mengusik kenyenyakan tidur Kanaya. Wanita itu melenguh lalu secara perlahan kedua kelopak matanya mengerjap sebelum terbuka dengan lebar.


Pemandangan yang pertama ia lihat adalah hitamnya rambut yang tengah membenamkan wajahnya pada perut Kanaya.


Wanita cantik itu tahu siapa pelaku yang mengusik tidur siang yang nyenyak itu jika bukan suami tampannya. Tangan Kanaya terangkat lalu secara teratur menyugar surai lebat Jacob dan membelainya penuh kasih sayang.


Tindakan Kanaya itu menarik Jacob untuk mendongak dan menatap Kanaya yang tersenyum cantik padanya.


"Aku mengganggumu?"tanya Jacob merasa bersalah.


Kanaya menggelengkan kepalanya membantah dugaan Jacob. Dia memang sudah lama tidur siangnya, dan Jacob sama sekali tidak mengganggu Kanaya.


"Tidak Mas, Naya memang sudah cukup tidur siangnya, Mas lagi ngapain?"tanyanya balik.


"Menyapa si jeruk,"ujarnya, membuat kening Kanaya mengernyit heran.


"Si Jeruk? Siapa si jeruk Mas?"


Jari telunjuk Jacob menunjuk perut Kanaya lalu mengelusnya lembut. Wanita cantik itu terkekeh saat paham siapa yang dimaksud si jeruk oleh suaminya itu.


Tapi, kenapa julukan calon anak mereka justru aneh. Kenapa tidak yang manis saja.


"Kok panggilnya si jeruk sih Mas? Kan nanti dia akan semakin membesar. Nanti besar kayak alvukad, melon. Apa panggilannya juga diubah gitu nanti?"tanya wanita cantik itu masih dengan kekehannya.


"Dia jeruk Bali, yang besar itu. Tapi rasanya manis kayak jeruk mandarin. Aku yakin jika dia laki-laki maka akan sekuat jeruk bali dan jika seorang perempuan akan semanis jeruk mandarin. Bagaimana bagus kan?"


Baiklah, itu pemikiran seorang Jacob. Dan intinya yang memiliki hak penuh ya Jacob itu sendiri. Jika pun Kanaya mendebatnya yang ada wanita itu akan kalah.

__ADS_1


"Baiklah terserah kamu saja Mas, asal kelak saat anak kita keluar jangan dikasih nama Si Jeruk ya,"pinta Kanaya.


"Siap Ibunda Ratu,"balas Jacob semangat.


Jacob kembali melanjutkan aktivitasnya mengajak bicara calon anaknya itu.


"Naya Sayang, kita pulang sekarang ya,"ajak Jacob.


Kanaya melihat jam dinding yang ada di kamar pribadi itu. Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, pertanda jika waktu pulang kantor sudah sedari tadi.


"Iya Mas, sebentar Naya mau ke kamar mandi dulu,"balas wanita cantik itu.


Jacob menganggukkan kepalanya, lalu ia membenarkan gamis sang istri dan membiarkan Kanaya pergi ke kamar mandi yang ada di kamar pribadi tersebut.


Beberapa saat kemudian keduanya telah rapi dan keluar dari kamar pribadi Jacob itu.


"Diluar sedang angin kencang, pakai ini,"ucap Jacob, menyampirkan jas pada bahu Kanaya.


"Kan nanti naik mobil Mas,"saut Kanaya, namun tangannya membenarkan letak jas tersebut.


"Tetap saja kena angin sebelum masuk ke mobil,"kekeuh Jacob akan pendapatnya.


Tidak ingin perdebatan semakin panjang, Kanaya memilih diam dan melangkah bersama sang suami keluar ruangan tersebut.


Saat mereka telah sampai di lobi perusahaan, di depan sana Riko telah siap dengan mobilnya menunggu Jacob dan Kanaya.


Dengan sigap, Riko membukakan pintu mobil tersebut untuk Kanaya dan Jacob. Lalu baru setelah itu ia masuk dan duduk di belakang kemudi.


Di jam sore, dimana banyaknya para pekerja pulang setelah seharian bergelut dengan aktivitas demo sesuap nasi. Membuat jalanan ibu kota cukup.


Dibalik padatnya jalanan dan gerahnya para penggunanya ternyata masih banyak dari mereka-mereka yang tersenyum senang dengan kondisi tersebut.


Seperti para pedagang asongan, para pengamen cilik, serta seorang pria yang mengenakan kostum badut untuk menghibur para pengguna jalanan.


Kanaya terus mengamati bagaimana badut itu bertingkah untuk mempertontonkan kepiawaiannya dengan bola-bola yang ia pegang.


"Mas,"panggil Kanaya.


Jacob yang tengah memainkan gawainya pun menoleh dan menatap bingung istrinya yang menatapnya penuh pancaran.


Manik abu-abu itu begitu berbinar dan membuat Jacob gelisah.


"Kenapa, Naya Sayang?"tanyanya.


"Lihat badut itu,"ucap Kanaya menunjuk si badut.

__ADS_1


Jacob mengalihkan pandangnya pada arah dimana yang ditunjukkan istri cantiknya itu.


"Kamu ingin dia kesini, sebentar Riko akan panggilkan ya,"ucap Jacob dengan senyumannya.


Tetapi gelengan Kanaya membuat kening Jacob mengernyit heran. Jika tidak ingin badut itu mendekatinya lalu apa yang sebenarnya Kanaya inginkan.


Kanaya menarik tangan Jacob lalu menggenggamnya erat.


"Aku ingin berdandan ala badut terus keliling dijalanan, mau ya..."


Mendengar permintaan aneh Kanaya itu, jelas saja membuat Jacob refleks menarik tangannya dan menggelengkan kepalanya cepat.


"Naya Sayang, sepertinya kamu mulai mengigau. Kamu tidak serius dengan permintaam gila itu kan."


"Aku serius Mas,"cicit Kanaya.


Melihat penolakan yang Jacob tunjukkan entah mengapa membuat hati Kanaya sedih dan kesal sekaligus.


"Tidak Naya, cari permintaan lainnya saja,"tolak Jacob.


Kanaya memalingkan wajahnya, wanita cantik itu memilih diam dan menatap kepadatan jalanan. Perlahan bahu Kanaya bergetar dan suara isak tangis mulai terdengar.


Jacob meraup wajahnya kasar. Dia tidak mungkin melakukan hal yang baru saja Kanaya minta. Namun, mendengar isak tangis Kanaya membuat hatinya terasa sakit.


"Tuan, maaf menyela. Menurut Saya Anda lakukan saja permintaan Nona Kanaya. Karena itu mungkin saja permintaan dari calon anak Anda, Tuan. Saya pernah mendengar jika keinginan ibu hamil tidak dituruti kelak bayinya saat keluar bisa ileran,"ujar Riko.


Membayangkan anak kebanggannya kelak ileran karena dirinya yang tidak mau menuruti kemauan Kanaya membuat Jacob bergidik ngeri.


"Tidak, tidak. Saya tidak mau itu terjadi,"saut Jacob.


"Kalau begitu turuti saja kemauan Nona, Tuan"ucap Riko.


Jacob menatap punggung Kanaya yang masih bergetar itu. Dia benar-benar bimbang akan keputusannya. Tapi dia juga tidak ingin anaknya kelak ileran.


"Naya Sayang, sudah ya jangan menangis. Iya nanti Mas mau kok jadi badut,"bujuk Jacob, seraya memegang bahu sang istri.


Secepat kilat Kanaya membalik tubuhnya dan isak tangis itupun berhenti.


"Benar Mas?"tanyanyq antusias, yang langsung mendapat anggukan Jacob.


"Terima kasih Mas, Kamu memang suami dan ayah idaman Naya,"puji Kanaya.


"Ah tentu saja, Aku memang suami siaga,"narsis pria itu.


Sepertinya kebimbangan Jacob telah lenyap hanya karena mendapat pujian dari sang istri cantiknya.

__ADS_1


***


TBC


__ADS_2