ISTRI CANTIK TUAN JACOB

ISTRI CANTIK TUAN JACOB
BAB 73


__ADS_3

"Kanaya!"seru Umi Aminah.


Kanaya yang akan melangkahkan kakinya pun terhenti. Dia berbalik lalu berjalan mendekati Umi Aminah yang tadi memanggilnya itu.


"Iya Umi, ada apa? "tanya wanita cantik itu.


Umi Aminah mengulurkan tangannya, tampak di tangan itu sebuah paper bag dengan tulisan arab.


"Teman Umi baru saja pulang umrah, terus Umi dikasih buah kurma yang lumayan banyak. Jadi, ini Umi sebagian kasihkan buat kamu sama nek Risma, "jelas Umi.


"Ya Allah Umi, ini sungguh berlebihan, "ucap Kanaya.


"Tidak Naya, kamu sering bantu-bantu pesantren. Jadi, tolong terima ya, "pinta Umi Aminah.


"Terima kasih banyak Umi, "ucap Kanaya dengan tulus.


"Sama-sama, kamu di jalan hati-hati ya."


Kanaya kembali menyalimi dan mencium tangan Umi Aminah dengan takdzim. Lalu barulah ia berbalik kembali melangkahkan kakinya untuk pulang.


Gus Yusuf yang baru saja selesai mengajar, tampak penasaran siapa wanita bercadar yang terlibat obrolan sampai Umi sengaja memberikan oleh-oleh dari tanah suci padanya.


"Siapa dia, Umi? "tanya Gus Yusuf.


"Dia, dia Kanaya yang tinggal di samping pesantren, "jelas Umi Aminah.


Gus Yusuf terdiam, dia mencoba mengingat nama tersebut. Sampai ingatannya berputar pada peristiwa beberapa hari yang lalu dimana pertemuannya dengan sosok wanita cantik yang berhasil menggetarkan hatinya.


"Dia bercadar sekarang ya Umi,"ucap Gus Yusuf sembari menatap lurus pada sosok Kanaya yang tengah berhenti dan memberi makanan pada kucing liar itu.


Umi Aminah mengernyit, dia melihat wajah putra sulungnya itu. Sebuah senyuman kecil terbit pada sudut bibir Umi Aminah.


"Iya, jadi semakin cantik ya Nak,"ucap Umi Aminah.


"Iya Umi, "balas Gus Yusuf tanpa mengalihkan atensinya dari Kanaya.


"Dia juga sholeha ya Nak. "


"iya Umi. "


"Kanaya juga cocok kalau dijadikan istri kamu ya Nak, "pancing Umi Aminah lebih dalam.


"I-iya Um...Eh."


Umi Aminah tersenyum melihat Gus Yusuf yang salah tingkah itu. Wanita berwajah teduh itu kini tahu jika putra sulungnya telah memiliki rasa pada Kanaya.

__ADS_1


"Maaf Umi,"lirih Gus Yusuf merasa malu pada Umi Aminah.


"Kenapa minta maaf? Kanaya memang pantas dijadikan istri kok,"ujar Umi Aminah lalu berjalan meninggalkan Gus Yusuf yang masih menundukkan kepalanya karena rasa malu.


"Umi pasti sudah tahu,"gumam Gus Yusuf. "Semoga saja Umi ridho, "lanjutnya masih dengan gumaman.


Sementara Kanaya yang telah memberi makan pada kucing liar itu terlihat beranjak. Wanita cantik itu tidak tahu sama sekali jika sedari tadi Umi Aminah dan Gus Yusuf memandangi dirinya.


"Nenek tadi minta dibeliin es dawet. Biasanya jam segini paman penjualnya masih ada di sini deh, kok ini sudah nggak ada ya, "gumam Kanaya.


Di area luar pesantren itu memang terkadang ada para penjual yang berkeliling, dan beberapa kali Kanaya membeli es dawet kesukaan Nenel Risma setiap ia pulang dari pesantren tersebut.


Dan itu juga yang menjadi sebab Kanaya berhenti yang akhirnya ia melihat seekor kucing liar yang dia beri makan sebelumnya.


"Sepertinya paman itu tidak berjualan deh, "gamamnya lagi.


Merasa jika dia tidak akan menemukan penjual es dawet langganannya. Kanaya memutuskan untuk pulang ke kontrakan yang disewanya itu.


Sesampainya disana, seperti biasa, Nenek Risma akan selalu menyambutnya di depan. Tapi kali ini ia tidak sendiri karena ada sosok Layla yang bersamanya.


Kanaya menyalalimi tangan Nenek Risma lalu menciumnya.


"Ada apa Lay? "tanyanya pada gadis berkulit sawo mateng itu.


"Kita masuk saja yuk Lay, biar nyaman. Nenek juga harus masuk, ayo Nek,"ajak Kanaya pada keduanya.


Semuanya masuk ke dalam kontrakan tersebut. Di dalam kontrakan itu tidak ada kursi, hanya sebuah karpet dengan meja kecil di tengahnya.


"Nenek ke dalam dulu ya, "ucap Nenek Risma meninggalkan Kanaya dan Layla yang mulai membahas urusan pekerjaan mereka.


Tidak hanya daftar pakaian yang Layla berikan, namun laporan penjualan juga gadis itu serahkan.


"Sepertinya besok kita harus pergi berbelanja, kamu sudah menghubungi konveksi yang menyediakan pakaian jenis ini tidak Lay? "


"Sudah Bu, dua hari lagi mereka akan mengirim barangnya ke toko kita Bu, tapi kalau suplier yang satunya kita harus kesana sendiri bu kalau ingin barangnya segera kita dapatkan, "jelas Layla.


"Ya sudah, besok kita ke suplier tersebut. Nanti kamu hubungi Pak Aji ya untuk sewa mobilnya, "ucap Kanaya.


"Iya Bu, nanti Saya kerjakan. "


"Mungkin ini saja, untuk besok kamu ikut Saya dan di toko nanti biar Ratna sama Wina saja ya, "pinta Kanaya.


"Siap Bu, laksanakan. "


Kanaya memang telah memiliki tiga karyawan yang semuanya gadis-gadis muda. Rata-rata karyawan Kanaya hanya tamatan SMA sederajat.

__ADS_1


"Kalau gitu, Saya pamit ya Bu. Takut kesorean kalau nggak pulang sekarang Bu, "ujar Layla.


"Iya, kamu hati-hati ya, "ucap Kanaya.


Layla beranjak lalu berjalan keluar kontrakan tersebut. Sementara Kanaya masih memeriksa laporan pemasukan bulan ini dari data yang Layla bawa itu.


#Jakarta, Stasiun televisi.


"Siarkan di stasiun televisi kamu tentang pencarian atas nama Kanaya dan berikan juga informasi jika yang bisa menemukannya atau memberi informasi valid akan mendapatkan imbalan seratus juta,"ucap Jacob pada Arkan, sahabatnya yang merupakan seorang pemilik sebuah stasiun televisi.


"Bisa, Kamu tinggal kirim saja foto sama ciri-ciri dia saja, "ucap Arkan mantap.


Jacob tersenyum kecil pada temannya itu. Dal pencarian istri cantiknya itu, Jacob memutuskan untuk turun tangan langsung.


Tadi pagi dia dengan ditemain Riko telah meminta pada media berita online nomor satu di Indonesia untuk menyiarkan berita pencarian Kanaya dengan jumlah uang yang sama.


Dan siang ini, pria itu sudah berada di stasiun televisi milik Arkan. Tidak ada kata lelah bagi Jacob dalam pencarian istri cantiknya itu.


"Thanks bro, kalau gitu Aku serahkan semuanya sama kamu ya, "balaa Jacob.


Usai kesepakatan itu terjadi, Riko segera mengirim informasi detail tentang istri dari Tuannya itu pada Arkan agar hari ini juga berita itu bisa menyebar keseluruh jagat maya maupun nyata.


Sementara itu di kediaman Garadha tampak Aneth berjalan keluar kamarnya dengan sebuah koper kecil yang gadis itu seret.


Rencananya hari ini dia akan ke Solo menghadiri acara fashion show yang diadakan rekannya yang lebih dulu turun pada dunia desainer.


"Kamu benar akan mengajak kakakmu, Neth? "tanya Nyonya Seline pada putri bungsunya.


"Iya Ma, Aneth mau ajak Kak Jacob refreshing dulu. Kali saja disana eh nggak sengaja ketemu sama kakak ipar, "ucap Aneth yang sebenarnya hanya sebuah gurauan saja namun dia juga berharap ucapannya itu bisa terkabul.


"Kakak kamu mau? "tanya Nyonya Seline.


"Belum Aneth hubungi sih, tapi kalau Aneth nangis di depannya pasti Kak Jacob nggak bakal nolak, "ucap Aneth penuh keyakinan.


"Semisal Kakak kamu mau, tolong bujuk dia buat maafin Mama ya, "pinta Nyonya Seline.


Aneth mendesah panjang, dia juga penasaran kemana sebenarnya kakak iparnya pergi. Sampai kedua orang tuanya tidak bisa menemukannya. Terkadang rasa curiga Aneth, justru muncul pada kesungguhan kedua orang tuanya dalam mencari Kanaya.


"Ma, dari pada nyuruh Aneth bujuk Kakak buat maafin Mama sama Papa yang sudah bohongin dia. Lebih baik Mama atau Papa bantu Kakak buat cari kakak ipar. Sudah ya Ma, Aneth pergi dulu, "ucap Aneth lalu menyambar tangan Nyonya Seline untuk dia salami.


Gadis dengan dress berwarna navy itu melenggang begitu saja keluar Kediaman Garadha usai berpamitan pada kedua orang tuanya.


***


TBC

__ADS_1


__ADS_2