ISTRI CANTIK TUAN JACOB

ISTRI CANTIK TUAN JACOB
BAB 49


__ADS_3

"Mas, sudah dong jangan ngambek terus, Naya kan cuma nggak enak sama permintaan Mama Celline, "bujuk Kanaya.


"Seharusnya kamu bilang sama Aku dulu dong,"rajuk Jacob dengan mukanya yang ditekuk.


Kanaya terkekeh kecil saat melihat bagaimana pria itu merajuk padanya perihal mereka yang kembali tinggal di Kediaman Garadha untuk sementara waktu.


Jacob masih tidak terima kepindahan mereka dengan berbagai alasan versi pria itu.


"Jika disana, Aku kasihan sama Kamu Nay. Misal kamu ingin mesra-mesra sama Aku, Aku takutnya kamu tidak berani karena malu. Atau misal kamu ingin bercumbu denganku, pasti kamu akan malu atau merasa risih, "ujar Jacob.


"Tapi Naya nggak berpikir kayak gitu kok Mas, "elak Kanaya.


Kanaya terperangah mendapatkan tuduhan dari sang suami itu.


Dia mana ada memikirkan tentang hal yang dituduhkan sang suami padanya.


Otaknya terlalu polos dan tidak ada kesempatan untuk berpikir selalu bermesraan dengan Jacob.


"Kamu tidak perlu malu, Aku tahu sebenarnya di dalam hati kamu juga memikirkan hal itu. Jadi biar Aku sampaikan ke Mama supaya kita tetap bisa terus di apartemen ya, Nay, "ujar Jacob.


"Tapi Naya tidak keberatan tinggal disana, benar Mas, "ujarnya lagi.


"Kamu beneran mau tinggal disana? Nanti kalau kamu mau peluk Aku di dapur kayak biasanya gimana? Kalau kamu tiba-tiba ingin dicium Aku gimana? Disana banyak orang, "ujar Jacob menatap intens wanitanya.


Kanaya terdiam mendengar itu, dia bukan membenarkan apa yang dikatakan Jacob barusan.


Hanya saja Kanaya tengah mengingat, apa benar dia sering ingin memeluk pria itu ketika di dapur? Sekali lagi Kanaya berusaha mengingat -ingat semua itu. Namun ingatannya tidak ada satupun yang tertuju dengan hal itu.


"Mas, Naya beneran nggak papa kok, "ujar Kanaya sungguh-sungguh.


"Nay, Aku tahu kamu pasti... "


"Mas Jacob, kalau nanti misal Kanaya ingin peluk nanti bisa dilakukan di kamar Mas saja,"ucap Kanaya memotong kalimat Jacob.


Biarlah dia mengakui tuduhan pria itu, karena jika dia mengelaknya yang ada Jacob akan terus berbicara dan mengatakan tuduhan lainnya.


Padahal diingatan Kanaya, justru pria itulah yang sering memeluknya lebih dulu atau menciumnya lebih dulu.


Tapi apalah dikata dengan segala fakta yang ada, Jacob sudah tentu tidak akan mau mengakui segalanya.


"Benaran nggak papa? "tanya pria itu langsung di jawab dengan anggukan penuh keyakinan Kanaya.


"Baiklah, terserah padamu saja, "ucap Jacob pasrah.


***


#Keesokan harinya


Kanaya telah siap untuk kepulangannya dari rumah sakit itu. Ia tengah duduk di dalam kamar inap bersama Nyonya Selline menunggu Jacob yang tadi sempat izin keluar sebentar.

__ADS_1


Sesuai kesepakatan bersama, hari ini Kanaya dan Jacob harus pulang ke kediaman Garadha.


Dan dari itulah, Nyonya Selline sampai menjemput sendiri sang menantu dari rumah sakit agar tidak ditikung Jacob dengan membawa Kanaya ke rumahnya


"Nay, Mama boleh elus perut kamu nggak? "tanya Mama Selline menghilangkan keheningan sebelumnya.


"Boleh Ma, "jawab Kanaya tersenyum.


Mama. Selline mendekat posisi duduknya persis disamping sang menantu lalu ia mengulurkan tangan pada perut Kanaya dan mulai mengusap-usapnya.


"Tumbuh sehat biar bisa cepat keluar ke dunia ini ya cucu Omah, "ujar Nyonya Selline.


"Iya Omah, "saut Kanaya dengan suara yang ia buat seperti anak kecil.


Mama Selline terus mengelus perut yang mulai buncit itu selama beberapa saat lalu melepaskannya saat sudah merasa puas.


"Dia rewel nggak Nay? "tanya Nyonya Selline.


"Nggak kok Ma, bayi Naya anteng di dalam sini, "ujar Kanaya.


"Syukurlah kalau gitu, nanti kalau sudah sampai di kediaman Garadha jangan sungkan kalau mau apapun katakan sama Mama ya, Mama nggak mau nanti cucu pertama Mama ngeces karena Mamanya ngidam nggak keturutan, "ujar Nyonya Selline.


Kanaya tersenyum mendengar permintaan sang mama mertuanya itu. Kepala wanita itu mengangguk pelan mengiyakan apa yang Nyonya Selline pinta padanya.


Ceklek.


Pintu ruang inap itu terbuka memperlihatkan Jacob yang diikuti Riko di ambang pintu sana.


"Sudah selesai semua Mas urusannya? "tanya Kanaya.


"Sudah, ayo kita pulang sekarang, "ajak Jacob.


"Iya Mas."


"Jacob ingat kita pulang ke kediaman Garadha bukan yang lainnya, "ujar Nyonya Selline.


Jacob berdecak kesal mendengar kalimat sang Mama, yang terdengar begitu khawatirnya jika sampai dirinya membawa Kanaya ke tempat lain.


"Iya iya Ma, sudah ah. Yuk kita pulang Nay, Ma! "


Saat Kanaya hendak beranjak mengikuti Mama Seline dan Jacob. tiba-tiba pergerakan wanita terhenti karena Jacob menahannya.


"Kenapa Mas? "tanyanya heran.


Jacob tak menjawabnya, pria itu hanya mencondongkan tubuhnya pada Kanaya lalu detik kemudian wanita itu berterima karena Jacob yang tiba-tiba membawa tubuhnya dalam gendongan pria itu.


"Mas turunin Naya ih malu ada Mama sama asisten Riko,"rengek Kanaya menahan rasa malunya.


Jacob menatap Nyonya Selline dan Asisten Riko bergantian lalu ia kembali menatap wajah cantik sang istri yang merona karena rasa malunya itu.

__ADS_1


"Mah, Rik, jangan ledek Kanaya ya! Dia malu bilang ingin di gendong makanya Saya langsung menggendongnya, "ujar Jacob memberi tuduhan tak beralasan pada Kanaya.


Kanaya memukul pelan dada Jacob karena pria yang menggendongnya itu justru memutar balikkan fakta.


"Mas, Aku nggak ya, "ucap Kanaya.


"Sudah lah Nay, Mama percaya kok sama Kamu. Mama tahu sebenarnya dia saja yang pengin pegang-pegang kamu kok,"saut Nyonya Selline terkekeh.


Jacob tidak memperdulikan ucapan sang Mama, pria itu justru melangkah dengan santai dengan Kanaya yang menelungkupkan wajahnya pada dada bidang Jacob karena rasa malunya.


Sesampainya di depan rumah sakit. Ketiganya berpisah menggunakan mobil pribadi.


Hal itu dikarenakan Nyonya Selline yang membawa mobil dan supir sendiri membuat wanita itu pulang dengan mobil lain namun tetap mengikuti mobil yang membawa Jacob dan Kanaya di depannya.


Perjalanan dari rumah sakit membutuhkan waktu sekitar setengah jam lamanya. selama perjalanan Kanaya hanya bisa pasrah dengan Jacob yang meminta kepala wanita itu bersandar pada bahu pria itu.


Hingga tak lama perjalanan mereka pun berakhir dan sampailah mereka di kediaman Garadha.


Seperti sebelumnya jika kedatangan Jacob maka sambutan ala-ala kerajaan akan menyambut mereka.


Deretan pelayan berjajar dari depan pintu hingga ke dalam dan salah satu dari mereka terdapat Indri, sahabat Kanaya.


"Indri,"panggil Kanaya melepaskan tangan Jacob yang memegang nya lalu mendekati sang sahabat.


"Indri kamu apa kabar? "tanya Kanaya.


"Aku baik Nay, Nay nanti saja ya kita ngobrolnya. Aku harus kerja dulu, "ujar Indri dengan perasaan tidak nyaman.


Kanaya menatap sekeliling dimana beberapa pelayan melirik interaksi keduanya.


"Oke, nanti kita lanjut lagi ya, "ujar Kanaya yang di angguki Indri.


Setelah bercakap sejenak dengan sahabatnya, wanita itu kembali mendekati Jacob lalu menyambut tangan pria itu yang telah terulur menantinya.


"Sudah bicaranya dengan dia? "tanya Jacob pelan.


"Nanti lagi katanya Mas, dia lagi kerja gitu, "jelas Kanaya.


Keduanya kembali melangkah menyusul Nyonya Selline yang lebih dulu masuk ke dalam kediaman Garadha.


Di dalam sana, terlihat Mama Seline telah bergabung dengan Nenek Risma dan Tuan Garadha yang tengah menyambut kedatangan Jacob dan kanaya.


Jacob dan Kanaya bergantian untuk bersalaman dengan semua yang tengah menunggunya itu.


"Duduk dulu Nay, "ujar Nyonya Seline lembut.


Kanaya menurut untuk duduk di sofa itu diikuti Jacob yang juga mendudukkan dirinya di samping sang istri.


"Ck, sudah Aku saranin untuk lepasin Kanaya saja kalau tidak bisa menjaganya"seru seseorang dengan keras membuat semua orang menatap kaget pada sosok itu.

__ADS_1


***


TBC


__ADS_2