
"Jacob titip Kanaya,"ucap pria itu.
"Iya, kamu fokus pada kesembuhan kamu saja. Biar Kanaya kami yang menjaganya, "saut Nyonya Seline.
Senyuman kecil Jacob berikan pada kedua orang tuanya itu. Akhirnya dia bisa melakukan pengobatan dengan tenang, dan status perceraiannya pun tidak jadi ia lakukan.
Gugatan di pengadilan juga telah ia cabut. Tuan Garadha benar, Jacob tidak akan bisa hidup tanpa Kanaya. Bahkan mungkin saja pengobatan yang dia lakukan akan sulit karena semangat hidupnya telah tiada.
"Jacob berangkat sekarang Ma, Pa. Assalamualaikum,"pamit Jacob.
"Iya, waalaikumsalam, "balas Nyonya Seline dan Tuan Garadha.
Jacob memasuki mobil dimana Riko telah membukakan pintu untuk dirinya. Riko tampak membungkukkan tubuhnya sedikit pada kedua orang tua Jacob sebelum ia memutari mobil dan duduk di belakang kemudi.
"Ayo Pa, kita kembali ke rumah sakit. Kanaya pasti sebentar lagi sadar, "ajak Nyonya Seline.
"Iya Ma."
Keduanya berjalan memasuki lorong rumah sakit menuju kamar VVIP dimana Kanaya di rawat. Sebelumnya mereka telah menitipkan Kanaya pada Nenek Risma yang baru saja datang tadi pagi.
Ceklek.
Pintu kamar VVIP itu terbuka memberi akses keduanya untuk masuk ke dalam.
Namun kaki Nyonya Seline seakan sulit untuk kembali ia gerakkan. Kamar itu kosong tanpa ada Kanaya maupun Nenek Risma di dalam sana.
"Sebentar Pa, mungkin kita salah masuk kamar, "ucap Nyonya Seline penuh kekhawatiran.
__ADS_1
Wanita itu keluar kembali untuk memastikan nama kamar yang ia dan suaminya masuki.
Sayang, kamar itu memanglah kamar yang mereka sewakan untuk Kanaya. Tetapi kemana menantunya bersama Nenek Risma.
"Pa, dimana Kanaya Pa? Kenapa mereka tidak ada disini, "ucap Nyonya Seline panik.
"Tenang Ma, Papa akan ke pusat keamanan rumah sakit ini. Sementara Mama cari disekitar rumah sakit. Mereka pasti masih belum jauh, "ujar Tuan Garadha.
"Iya Pa, Mama harap mereka cuma jalan-jalan di sekitar rumah sakit ini, "celetuk Nyonya Seline.
Keduanya kembali keluar dari kamar vvip itu, lalu mengambil langkah seribu. Tuan Garadha menuju pusat keamanan sementara Nyonya Seline mencari di sekitar rumah sakit.
"Kemana kamu Nay, kenapa harus pergi sih Sayang,"ucap Nyonya Seline di tengah rasa khawatirnya.
Wanita itu mendatangi pos satpam rumah sakit untuk menanyakan apakah mereka melihat Kanaya ataupun Nenek Risma.
"Aduh maaf Nyonya, kami tidak melihat,"jawab satpam itu.
Nyonya Seline mengucapkan terima kasih pada satpam itu sebelum melangkahkan kakinya mencari keberadaan Kanaya lagi. Sampai dering ponselnya berbunyi dan memperlihatkan kontak 'Papa' disana.
"Hallo Pa! Gimana hasilnya? "tanya Nyonya Seline pada sambungan telepon tersebut.
"Mama, lebih baik ke ruang cctv rumah sakit ini sekarang, "pinta Tuan Garadha.
"Iya Pa."
Nyonya Seline mematikan sambungan telepon tersebut, lalu kembali berlari memasuki rumah sakit untuk menyusul sang suami.
__ADS_1
"Apa yang Papa dapatkan? Apa sudah menemukan keberadaan Kanaya?"tanya wanita itu.
Tuan Garadha tidak menjawab pertanyaan dari wanitanya itu. Dia memilih membimbing tubuh Nyonya Seline untuk duduk di belakang staf keamaan rumah sakit dimana layar yang menampilakan bebeagai aktivitas di rumah sakit.
"Putar, video yang tadi! "titah pria itu.
Seketika layar terfokuskan pada situasi di depan lorong kamar VVIP dimana Kanaya dirawat.
Nyonya Seline terus terfokuskan pada tayangan tersebut, terlihat sosok Nenek Risma berjalan dengan Kanaya yang telah mengganti pakaian pasiennya dengan gamis serta menutup wajahnya dengan masker.
"Ada satu lagi, yang haru Mama lihat."
Kini layar berganti pada pintu belakang rumah sakit.
"Kemungkinan mereka pergi saat kita mengantar Jacob melalui pintu belakang,"jelas Tuan Garadha.
Nyonya Seline tampak sangat syok dengan apa yang terjadi. Dia baru saja mendapat amanat dari Jacob untuk menjaga Kanaya, kini menantunya justru pergi.
"Terus ini gimana Pa? Jacob, Jacob pasti akan sangat khawatir, "lirih Nyonya Seline.
"Papa akan menyuruh orang-orang Papa untuk melakukan pencarian dan membawa Kanaya kembali. Untuk Jacob, biarkan dia fokus dengan pengobatannya dan jangan sampai dia tahu akan perginya Kanaya, Ma."
"Sebenarnya, apa yang sebelumnya mereka bicarakan sampai membuat Kanaya memutuskan untuk pergi,"ucap Nyonya Seline.
Tuan Garadha diam, dia juga tidak tahu persis akan permasalahan sang putra dan menantunya itu.
***
__ADS_1