ISTRI CANTIK TUAN JACOB

ISTRI CANTIK TUAN JACOB
Bab 96


__ADS_3

"Mas, kan sudah kemarin. Masak mau ke dokter lagi sih,"ucap Kanaya.


"Kemarin sama Aneth, sekarang sama Aku, Nay."


Kanaya hanya bisa pasrah ada teguhnya keinginan Jacob yang mengajaknya ke dokter lagi untuk melakukan pemeriksaan pada calon anak mereka.


Di kenakannya pakaian yang Jacob sendiri pilih untuk dirinya beserta cadar yang menutup wajah cantiknya. Seantusias itu memang seorang Jacob sampai pria itu memilihkan pakaian untuk Kanaya gunakan.


Dengan rasa malasnya, Kanaya mengekori sosok Jacob yang tengah menggandeng tanganya menuruni anak tangga itu.


Di bawah keduanya sudah disambut dengan kehadiran Nyonya Seline dan Aneth.


Saat melihat Kanaya yang tengah berjalan bersama Jacob itu, sontak saja membuat Nyonya Seline mempercepat langkah kakinya.


"Naya, Mama dengar kabar kehamilan Kamu dari Aneth. Itu benar?"tanyanya antusias sembari melepaskan genggaman tangan Jacob lalu mengambil alih tubuh Kanaya.


Jacob mencebik kesal, rencananya harus ia tunda karena kedatangan Mamanya. Pria itu terlihat masam, namun tetap mengikuti kemana Nyonya Seline membawa Kanaya.


Tubuh Kanaya dengan lembut dibimbing Nyonya Seline untuk duduk di sofa panjang di sana.


"Ayo jawab Nay? Setelah Aneth memberitahu Mama. Mama langsung kesini,"ujarnya seraya memegang kedua tangan Kanaya.


"Iya, sampai ninggalin Papa yang lagi sarapan dan Aneth juga dipaksa nganterin Mama,"gerutu Aneth.


Gadis itu sedikit kesal karena di saat dirinya tengah menikmati sarapan pagi, tanpa sengaja Aneth menceritakan tentang dugaan dirinya mengenai kehamilan Kanaya pada kedua orang tuanya. Tapi sialnya, Nyonya Seline yang terkesiap akan dugaam Aneth justru memaksa putri bungsunya untuk memotong sarapan pagi dan mengantarkan dirinya ke mansion milik Jacob.


"Hiiist, anak kecil diam saja. Ini Kanaya jadi nggak jawab-jawab,"ujar Nyonya Seline.


Bibir Aneth manyun beberapa senti karena kelakuan Mamanya itu. Dengan melipat tangan di dada serta menyilangkan kakinya di atas sofa, gadis itu memalingkan mukanya.


"Iya Ma, dugaan Aneth benar. Kemarin Kanaya di ajak ke dokter sama Aneth dan kabar kehamilan ini juga baru semalam Naya sama Mas Jacob tahu,"jelas wanita cantik itu.


Rasa haru menyeruak pada dada Nyonya Seline. Akhirnya dia akan kembali memiliki harapan untuk menjadi seorang Omah, setelah sebelumnya kehilangan Adelia (anak pertama Kanaya dan Jacob). Tentu saja kabar baik itu sangat membuat dirinya senang bukan main.


Ditariknya tubuh Kanaya dalam dekapan wanita parubaya itu.


"Kamu harus hati-hati, Mama akan bantu jagain bayi ini. Begitu juga yang lainnya, kehamilan pada wanita dengan riwayat pernah keguguran itu sangat rentan,"ujar Nyonya Seline seraya mengusap setitik air mata yang tidak sengaja keluar itu.


Kanaya menganggukkan kepalanya patuh. Dia telah berjanji pada kehamilan keduanya ini akan sangat menjaga bayi tersebut dengan segenap jiwa dan raganya.


"Kanaya pasti akan menjaganya, Ma,"ujarnya mantap.


"Sudahkan, Mama sudah tahu. Sekarang biar Naya ikut Jacob dulu. Mama sama Aneth lebih baik sarapan pagi disini saja,"potong Jacob.

__ADS_1


"Loh, Kamu mau bawa Kanaya kemana? Jangan macam-macam Jacob,"seru Nyonya Seline menatap tajam sang putra.


Sebuah tatapan tajam yang seakan-akan siap mencabik-cabik tubuh sang putra pertamanya itu.


"Jacob hanya mau memeriksa kandungan Kanaya lagi. Kemarin kan sama Aneth bukan Jacob,"jelasnya.


"Mama ikut!"


Jacob yang tidak ingin momen berduanya direcoki oleh Nyonya Seline, yang pasti akan menguasai Kanaya dan calon anaknya pun tanpa pikir panjang meraih tubuh Kanaya dan menggendongnya.


"Mas! Kamu apa-apaan? Turunin Naya, Mas,"pekik Kanaya.


Jacob acuh, pria itu memilih memutar tubuhnya lalu mengambil langkah seribu keluar mansion miliknya itu.


"Hey Jacob! Jangan bawa Kanaya, Mama mau ikut,"teriak Nyonya Seline.


"Stop! Lebih baik kita menurut sama perkataan Kakak Jacob saja Mah, biarkan mereka menikmati kebahagian tersebut,"sela Aneth yang kini posisi tubuhnya telah menjadi penghalang di depan Nyonya Seline.


"Tapi..."


"Sudah-sudah, lebih baik sekarang kita lanjutin sarapan pagi di mansion Kakak ini,"ucap Aneth sambil mendorong tubuh Nyonya Seline menuju ruang makan disana.


Di dalam mobil, Jacob tersenyum puas karena berhasil menyingkirkan Nyonya Seline dan membawa Kanaya kabur.


"Kita jalan sekarang,"ujarnya tanpa melunturkan senyuman pada wajah tampannya.


Jacob memalingkan sejenak atensinya pada sang istri. Lalu meraih tangan Kanaya dan menciuminya penuh cinta.


"Aku cuma ingin menikmati saat menemani kamu melihat calon anak kita ini,"ujarnya yang mendapat senyuman dari balik cadar Kanaya.


Perjalanan tersebut dibilang lancar. Tidak membutuhkan waktu lama, keduanya telah berada di rumah sakit milik Keluarga Garadha.


Tidak perlu mengantri, karena sebelumnya Jacob telah membuat janji dengan Dokter Sarah yang merupakan salah satu dokter kandungan di rumah sakit tersebut.


"Loh, bukannya kemarin sudah melakukan pemeriksaan ya Nona?"tanya Dokter Sarah heran.


"Iya Dok, suami Saya yang minta melakukan pemeriksaan ulang,"ujar Kanaya.


Dokter Sarah menatap sosok Jacob sekilas lalu menundukkan kepalanya penuh hormat. Sebelum ia melanjutkan tugasnya memeriksa kembali kandungan Kanaya.


"Usia kehamilan Nona sudah memasuki minggu ke lima dan ukuran janin saat ini baru sebesar biji jeruk, Nona, Tuan,"jelas Dokter Sarah sembari menunjukkan layar monitor pada keduanya.


"Bentar-bentar. Sebesar biji jeruk? Kecil sekali, Kamu tidak bercanda kan? Bibit Saya ini premium, masak janin anak Saya sebesar biji jeruk,"ujar Jacob tak terima.

__ADS_1


Dokter Sarah menelan ludahnya kasar. Jika orang pada umumnya mungkin dengan mudah bisa ia beri penjelasan.Masalahnya ini adalah seorang Jacob Garadha yang sulit menerima sesuatu.


"Mas, kan baru lima minggu. Nah, nanti seiring usia kehamilan Aku, janin ini akan terus berkembang besar. Lihat perut Aku saja masih sedatar ini,"jelas Kanaya.


"Benarkan Dokter Sarah?"ucap Kanaya meminta agar Dokter Sarah melanjutkan penjelasan dari ucapannya.


"Benar begitu Tuan,"balas Dokter Sarah.


Jacob terdiam, sepertinya pria itu masih tidak menerima kenyataan jika janin dari bibit premiumnya hanya sebesar biji jeruk saat ini.


"Begini saja Tuan, Nona Kanaya sudah saya berikan jadwal untuk cek kandungan. Nah, setiap minggunya janin itu akan terus berubah ukurannya. Bagaimana jika setiap cek kandungan Anda harus terus ikut agar melihat ukuran bayi Anda yang terus bertambah nantinya itu,"ucap Dokter Sarah.


Merasa hanya itu solusi yang ada, Jacob pun pasrah dengan anggukan kepalanya. Dia terus menatap layar monitor yang berwarna hitam putih itu.


"Setelah melakukan USG. Keduanya duduk di kursi berhadapan dengan Dokter Sarah.


"Karena riwayat Nona Kanaya yang pernah keguguran, tentu kehamilan ini akan sangat rentan. Jadi tolong jaga kesehatan Nona agar bayi juga tetap sehat. Saya akan meresepkan penguat kandungan dan vitamin juga,"ucap Dokter Sarah.


Setelah melakukan periksa kandungan, keduanya berjalan beriringan di koridor rumah sakit. Jaob terus menggandeng tangan Kanaya sampai keduanya tiba di area parkir.


"Kamu sudah datang, mana berkasnya? Hari ini Saya cuti,"ujar Jacob pada sosok Riko yang telah datang di area rumah sakit tersebut.


Riko meminta Jacob untuk masuk ke dalam mobilnya agar pembahasan bisnis lebih nyaman.


"Kamu masuklah ke mobil kita lebih dulu, Nay. Aku tidak akan lama kok,"ucap Jacob seraya membukakan pintu untuk sang istri.


Setelah itu, pria itu memasuki mobil Riko yang terparkir persis di samping mobilnya.


Keduanya terlibat pembahasan bisnis dan tangan Jacob juga dengan lincahnya menandatangi berkas yang telah ia baca.


"Tuan Muda Pertama, Tuan Felix mengundang Anda untuk menghadiri pesta penyambutannya atas kembalinya Tuan Felix dari luar negeri,"ucap Riko.


"Kamu saja,"putus Jacob. Dia terlalu malas menghadiri acara seperti itu.


"Tapi undangan ini secara khusus Asisten Tuan Felix mendatangi Garadha Group dan memberikan undangan ini. Dalam undangan tersebut juga tidak boleh digantikan oleh siapapun. Terlebih kita juga baru menandatangani proyek bersama mereka,"ujar Riko.


"Kanaya tengah hamil muda, Saya tidak bisa meninggalkannya,"sanggah Jacob.


"Undangan tersebur harus bersama pasangan. Anda bisa membawa Nona, dan tidak perlu sampai selesai pestanya, cukup saling menyapa saja dengan Tuan Felix,"ucap Riko.


Jacob menutup berkas tersebut lalu menyerahkannya pada Riko.


"Akan Saya tanyakan lebih dulu dengan Kanaya,"balasnya sembari membuka pintu mobil dan masuk ke dalam mobilnya sendiri.

__ADS_1


***


TBC


__ADS_2