ISTRI CANTIK TUAN JACOB

ISTRI CANTIK TUAN JACOB
Bab 100


__ADS_3

"Nyonya, mereka akan menyiapkan Anda,"ujar Septian.


Kanaya menatap dua wanita yang terlihat sangat stylist itu. Menyiapkan dirinya? Mendengar kalimat itu sungguh membuat perasaan Kanaya tidak nyaman.


Kanaya hanya bisa diam menatap kepergian Septian, dan meninggalkan dirinya bersama dua wanita tadi.


Kedua wanita itu mulai berjalan mendekati Kanaya.


"Saya Jane Nyonya."


"Dan Saya Gratte, semoga Anda nyaman dengan pelayan kami."


Kanaya berusaha bersikap setenang mungkin di depan dua wanita tersebut. Dia tidak bisa bertindak gegabah yang bisa saja akan berakibat pada keselamatan bayi dalam perutnya.


"Ternyata Anda sangat cantik Nyonya, bahkan Saya justru ragu riasan kami akan berguna atau tidak,"celetuk Jane.


Kanaya bergeming, dia tidak peduli dengan segala pujian yang keluar dari bibir Jane maupun Gratte. Bahkan ketika mereka mendebatkan kebingungan polesan pada wajah Kanaya, wanita itu masih saja diam.


"Nyonya apa ada yang Anda tidak sukai dari riasan kami?"tanya Gratte yang mendapat gelengan Kanaya.


"Iya Nyonya, tetapi wajah Nyonya terlihat sedih,"saut Jane.


Kanaya berbalik menatap dua perias itu dan bertanya.


"Sebenarnya, kalian mau menyiapkan Saya untuk apa?"tanya Kanaya.


"Loh, Nyonya tidak tahu. Kan malam ini Nyonya akan menikah dengan Tuan Felix,"ceplos Gratte.


Gratte menepuk mulutnya cepat karena telah kelepasan bicara, sedangkan Jane sendiri tampak mencubit pinggang rekannya itu.


"Dia benar-benar melakukannya,"lirih Kanaya sedih.


"Mulut kamu Grate, Kita digaji untuk merias Nyonya Kanaya, bukan untuk lainnya,"ucap Jane dengan rasa kekesalannya.


Gratte yang tahu telah melakukan kesalahan pun menyatukan tangannya di depan dada meminta maaf dengan gerakan pada Jane.


Keduanya memutuskan untuk melanjutkan merias wajah Kanaya tanpa mengeluarkan sepatahpun kata. Sampai ketika Kanaya telah selesai di rias dan hanya tinggal memakai cadar yang Felix sediakan tiba-tiba Kanaya luruh di depan keduanya dengan tangisan yang memilukan.


"Tolong bantu Saya, Saya sudah menikah. Saya tidak bisa menikah dengan Tuan kalian,"ucap Kanaya dengan air mata yang mengalir deras.


"Nyonya jangan lakukan ini, berdirilah Nyonya,"ucap Gratte dengan perasaan tidak nyaman.


Kanaya menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin mengkhianati Jacob. Terlebih dalam agama tentu saja wanita memiliki suami dua adalah sebuah larangan.


"Nyonya, kami hanya pasuruh Tuan Felix. Kami tidak bisa melakukan apa-apa disini,"saut Jane.


Jane berjongkok di depan Kanaya, lalu ia pasangkan cadar pada wajah yang kedua matanya masih saja menangis itu. Setelah itu Jane menarik tangan Gratte untuk meninggalkan kamar tersebut.


"Mereka orang tinggi, jangan terlalu dalam ikut campur,"tegur Jane saat melihat Gratte yang masih saja berat meninggalkan Kanaya.


Sementara Kanaya dilanda kegusaran teramat besar. Dia mencoba kabur melalui balkon kamar, namun sayangnya balkon yang kemarin tidak terkunci itu malam ini mendadak di kunci dengan rapatnya.


"Ya Allah, tolonglah Hamba,"ucap Kanaya penuh harap.


Di depan kamar, terlihat Septian dan seorang pelayan wanita melangkah mendekati kamar Kanaya.


Suara derap kaki keduanya terdengar menakutkan bagi Kanaya yang tengah berusaha mencari jalan keluar itu.


Ceklek.


Tubuh Kanaya bergetar karena ketakutan. Dia melangkah mundur saat melihat dua orang kepercayaan Felix itu.

__ADS_1


"Mari Nyonya, Tuan telah menunggu Anda,"ujar Septian.


Penolakan tak berarti wanita cantik itu berikan. Meskipun demikian, namun apa yang Kanaya lakukan cukup menunda waktu Septian membawa Kanaya.


"Apa yang kalian lakukan, kenapa membuat calon istri Saya ketakutan?"hardik Felix.


Kanaya berlari mendekati Felix lalu bersimpuh di depannya.


"Darren, tolong jangan lakukan ini. Kita tidak bisa menikah Darren,"ucap Kanaya.


Darren berjongkok lalu menatap manik abu-abu Kanaya yang indah itu. Disentuhnya pipi yang berbalut cadar itu, namun segera Kanaya menepis tangan Felix.


"Kenapa tidak bisa? Aku adalah Felix, Sang Penguasa. Tidak ada yang bisa menggagalkan keinginanku, termasuk menikahimu, Sayang,"ujarnya dengan seringai.


"Aku sudah menikah, Darren. Aku minta maaf karena tidak bisa menepati janji di masa kecil kita. Aku minta maaf, tetapi Aku mohon lepaskan Aku. Ini salah, Ren. Ini salah...Kita tidak bisa menikah, ahhhh."


Cengkraman cukup keras terasa pada lengan Kanaya dari tangan besar Felix. Kilatan amarah yang membara terlihat jelas pada bola mata pria itu.


"Tidak ada yang salah bagi Felix, kita akan tetap menikah,"ucap Felix lalu meraih tubuh Kanaya dan menggendongnya keluar dari kamar tersebut.


Pukulan pada dada bidang Felix secara bertubi-tubi Kanaya berikan. Tetapi apalah daya, tenaga Kanaya terlalu kecil untuk membuat pria itu meringis kesakitan.


Dengan langkah tegapnya, Felix terus membawa Kanaya dalam gendongannya menuju ruangan yang sudah ia sulap sedemikian rupa.


Di tengah-tengah terlihat seorang penghulu dan beberapa pria yang Felix bayar sebagai saksi.


Setelah sampai, Felix mendudukkan Kanaya di kursi lalu mengikat tubuh kecil Kanaya pada kursi tersebut.


"Darren kamu gila, lepaskan Aku DARREN!"


Apa ada yang peduli dengan teriakan Kanaya. Jawabannya tidak, bahkan penghulu di depan Kanaya saja seakan-akan membutakan mata dan menulikan telinganya akan Kanaya yang berteriak.


"Kita mulai,"ucap Felix.


"Saya nikahkan Anda Darren Felix dengan Ananda Kanaya binti Rahmat dengan mas kawin uang senilai lima ratus juta dibayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Kanaya binti Rahmat dengan mas kawin tersebut dibayar Tunai."


"Bagaimana para saksi?" tanya penghulu pada dua pria yang menjadi saksi dalam pernikahan tersebut.


"TIDAK SAH!"


Jacob berlari cepat dan langsung menerjang wajah Felix yang kebetulan menoleh saat pria itu mendengar suara Jacob yang lantang.


Tubuh Felix terjatuh dari kursi dengan sudut bibir yang terluka. Septian dengan sigap membantu Felix dan memerintahkan orang-orangnya melindungi Tuan mereka.


Sayangnya, Jacob tidak datang sendiri. Dia juga bersama Riko, Dinda, dan anak-anak buahnya.


"Kanaya istri Saya, tidak sah dalam agama pernikahan wanita yang sudah bersuami,"teriak Jacob dengan nafas memburunya.


Amarahnya memuncak kala mendengar nama sang istri keluar dari bibir pria lain, dan lebih memacu emosinya lagi saat melihat wanita yang tengah mengandung anaknya dalam keadaan terikat pada kursi disisi Felix.


"Mas Jacob,"lirih Kanaya menatap sang suami dengan senyuman kecilnya.


"Nona Kanaya, kita harus menepi,"celetuk Dinda yang berhasil mendekati Kanaya dan melepaskan ikatan pada tubuh wanita cantik tersebut.


Setelah ikatan tali itu terlepas, Dinda membawa Kanaya menjauh dari tempat tersebut. Karena dia yakin akan tercipta perkelahian.


"Mas Jacob disana, Din,"ucap Kanaya menatap khawatir suaminya yang tengah duel dengan Felix.


"Percayakan pada Tuan Muda Pertama, jika Anda disini justru akan membuat Tuan Muda tidak fokus.

__ADS_1


Semua yang ada disana terbagi menjadi dua kubu, kubu Jacob dan kubu Felix.


Perkelahian di tempat yang Felix siapkan untuk pesta pernikahan justru menjadi tempat perkelahian antara dirinya dan Jacob.


"Kanaya milik Saya, kamu hanya orang baru yang merebutnya dari Saya,"teriak Felix usai memberikan sebuah bogeman mentah pada wajah Jacob.


Jacob mengusap kasar lelehan darah yang keluar dari sudut bibirnya. Dia kembali berdiri dan menatap datar pria yang sedari tadi terus menyebut jika Kanaya adalah miliknya.


Kanaya bukanlah barang, dia adalah wanita yang berstatus istri darinya. Jacob saja tidak berani mengklaimnya. Karena bagaimanapun istri adalah titipan dari Allah untuk dirinya.


"Dia istri Saya,"balas Jacob.


Felix meraih sebuah patahan kayu yang timbul akibat perkelahian disana. Pria itu maju dengan kayu ditangannya dan menyerang Jacob.


Beberapa kali Jacob berhasil menghindari serangan membabi buta yang Felix berikan. Namun sayangnya tanpa disadari oleh Jacob. Seorang anak buah Felix berada di belakangnya dan turut menyerang Jacob.


Jacob tersungkur hingga membuat kepalanya terpentuk pada sebuah benda keras sejenis patung disana.


"Tuan Muda Pertama!"teriak Riko.


Riko tidak bisa mendekati Jacob karena dia sendiri tengah kewalahan menghadapi Septian dan satu orang anak buah Felix.


Kini Jacob harus menghadapi Felix dan satu orang lainnya.


"Ck, apa Kamu tidak bisa melawan Saya seorang diri,"decih Jacob.


Felix yang mendapat ejekan tentu saja dibuat marah. Pria itu mendorong anak buahnya menjauh.


"Urus lainnya, dia urusan Saya,"ucap Felix.


Pria itu menjauh dari sisi Felix dan mulai melawan anak buah Jacob lainnya. Jacob mencoba berdiri dengan tangan memegang pelipis dimana darah keluar dari sana.


"Hari ini kamu akan mati ditangan Saya, sehingga tidak ada yang bisa menghalangi Saya memiliki Kanaya,"ucap Felix dengan tawanya.


Gila, Felix benar-benar sudah masuk dalam obsesi yang tidak terselamatkan. Bahkan nyawa orang tidak akan berharga di matanya jika menjadi penghalang sebuah keinginanya.


"Kanaya adalah takdir Saya, kami disatukan dalam ikatan yang suci di mata Allah. Berhentilah memaksakan sesuatu yang memang tidak ditakdirkan untukmu,"balas Jacob.


"K*parat dengan istilah takdir,"maki Felix.


Usai meneriaki Jacob dengan umpatannya, Felix kembali melakukan serangan pada Jacob. Sayangnya kali ini Jacob benar-benar terdesak. Kepalanya sesekali yang merasa pusing membuat Felix terus mendapatkan peluang untuk menyerang dirinya.


Bugh.


"Akhhh."


Jacob kembali tersungkur dengan batuk yang mengeluarkan darah dari mulutnya. Tawa Felix menggelegar melihat Jacob yang hampir kalah itu.


Diraihnya kembali sebongkah kayu patahan dekorasi pesta disana, lalu ia melangkah mendekati Jacob yang masih terbatuk-batuk itu.


"TUAN MUDA PERTAMA!"teriak Riko yang menyadari keadaan Jacob yang terjempit.


Riko berlari membelah kerumunan anak buah Felix yang terus melakukan penyerangan pada dirinya dan anak buah Jacob.


"Matilah kamu, JACOB GARADHA."


"Jangan..."


Tak...


***

__ADS_1


TBC


__ADS_2