
"Tuan ini laporan mengenai wanita bercadar yang Anda pinta,"ujar Septian.
Felix mengambil alih berkas yang asitennya berikan itu. Dibacanya lengkap dan diamatinya dengan seksama mengenai data diri seseorang yang sudah dua hari ini mengganggu pikirannya.
Senyuman lebar terbit pada kedua sudut bibir Felix. Sebuah senyuman yang seumur Septian menjabat sebagai asistennya belum pernah melihat selebar itu.
"Saya sudah memintamu untuk menunggu sampai Saya berkunjung ke desa, tapi nyatanya Kamu telah dimiliki orang lain. Tian..."
"Iya Tuan?"
"Menurutmu bagaimana jika sesuatu yang seharusnya menjadi milikmu tetapi kini justru dimiliki orang lain?"
Septian diam selama beberapa saat memikirkan jawaban yang tepat akan pertanyaan atasannya itu. Septian mengerti arah pembicaraan yang dimaksud Felix. Septian juga tahu siapa yang seharusnya milik pria itu tapi kini dimiliki orang lain.
"Jika Saya akan kembali mengambilnya Tuan, karena seharusnya sedari awal Sayalah pemiliknya bukan orang lain,"jawab Septian.
Tawa keras menggelegar pada seisi ruangan berinterior Eropa modern itu. Felix tertawa puas mendengar jawaban yang diberikan Septian pada pertanyaannya.
"Kau benar, apa yang seharusnya menjadi milik kita. Maka, harus kita ambil kembali,"ucapnya dengan tawa yang masih tersisa.
Septian tersenyum kecil saat mendengar ucapan Felix. Alasan kenapa hanya Septian yang mampu bertahan menjadi asiten Felix bertahun-tahun karena keduanya memiliki pemikiran yang sama dalam segala hal.
Setelah tawa itu berhenti, wajah Felix kembali pada mode awal, datar dan seperti pria bay boy. Jemari Felix mengetuk-ngetuk meja kerjanya selama beberapa saat. Dia tengah memikirkan sesuatu yang orang lain pun tidak tahu.
"Jackb Garadha...CEO Garadha Group. Bukankah kemarin kita telah menandatangani kontrak kerja sama dengan mereka?"celetuk Felix.
"Benar Tuan, kita memiliki proyek bersama dengan Tuan Jacob,"saut Septian.
Senyuman lebar kembali muncul pada sudut bibir Felix. Hari ini sepertinya pria itu akan lebih banyak tersenyum dari hari-hari lainnya.
"Kita adakan pesta penyambutan Saya setelah kembali ke Indonesia, undang setiap kolega AMT Grup agar datang bersama pasangan mereka, terutama Jacob Garadha."
"Baik Tuan."
Septian melangkah keluar ruangan Felix, meninggalkan pria yang kembali tersenyum lebar saat membaca seluruh isi laporan yang Septian berikan padanya. Lalu pria itu beralih pada dompet mahal miliknya. Disana terpampang sebuah foto lawas dengan dua anak kecil yang saling bergandengan.
"Hallo Aya, Aku kembali dan akan menagih janjimu dulu."
__ADS_1
***
Sementara itu di mansion Bavers. Terlihat sosok Jacob yang hanya bisa mengelus dadanya karena Kanaya yang kembali kesal padanya perkara rujak bebek milik wanitanya yang telah habis pria itu makan.
Semalam saat melihat Kanaya terlelap dengan tenang, entah mengapa Jacob yang melihat rujak di tangannya mendadak ingin memakan makanan yang asing bagi dirinya.
Awalnya pria itu kaget akan rasa yang asing dari rujak bebek tersebut, tetapi entah mengapa rasa ingin terus mendorongnya agar terus makan dan menghabiskan rujak bebek tersebut.
"Naya Sayang, maafkan Mas ya...Mas semalam makan nggak sadar,"ujarnya menarik selimut yang menutupi seluruh tubuh Kanaya.
"Apanya yang nggak sadar Mas? Itu Mas sampai habis makannya,"sewot Kanaya dari balik selimut.
Jacob menggaruk kepalanya karena salah ucapan. Dibilang tidak sadar, semalam dia dalam keadaan sadar. Tapi dibilang sadar, Jacob juga seakan-akan dikendalikan.
"Ya sudah Mas minta maaf, jangan marah lagi ya."
"Lain kali nggak boleh gitu Mas,"ujar Kanaya lagi.
"Iya nggak lagi, Mas beneran minta maaf."
Perlahan selimut yang dipegang kuat Kanaya mulai mengendur membuat Jacob bisa menariknya dan melihat wajah kanaya yang telah kembali tersenyum padanya.
Sejujurnya sikap Kanaya yang tiba-tiba berubah itu membuat Jacob penasaran. Niat pria itu hari ini ingin memeriksa Kanaya. Pria itu takut jika ada sesuatu yang telah terjadi pada Kanaya.
"Habisnya, kamu ngeselin banget sih Mas. Aku nungguin kamu semalaman,"ujar Kanaya.
Jacob hanya diam pasrah menerima segala amarah dari Kanaya. Bukan karena takut tetapi lebih ke arah pada dirinya yang sadar telah salah pada sang istri.
"Nay, hari ini kita ke dokter ya...Aku takut kamu kenapa-kenapa,"ujar Jacob dengan hati-hati.
Pria itu takut jika kalimatnya akan membuat Kanaya tersinggung.
"Kamu jangan marah dulu ya Naya Sayang, Aku cuma takut kamu kenapa-kenapa, soalnya kamu akhir-akhir ini ada yang sedikit berbeda,"lanjutnya.
Kanaya terdiam, dirinya juga merasa ada yang salah dengan dirinya. Dia yang mudah menangis, mual di pagi hari dan sangat sensitif.
Mengingat ajaka Jacob. Kanaya jadi teringat kemarin yang telah melakukan pemeriksaan bersama Aneth. Tadinya Aneth telah mengundang dokter pribadi keluarga Garadha, namun dokter itu justru menyuruhnya untuk datang ke rumah sakit secara langsung.
__ADS_1
Selama pemeriksaan Kanaya tidak tahu apa-apa, dia hanya mengikuti arahan dari dokter. Dan sayangnya saat sudah melakukan serangkaian pemeriksaan Aneth justru menahan dokter itu untuk tidak memberitahu hasil pemeriksaan, dan justru memintanya mengabari melalui surat keterangan saja dan menyarankan Kanaya membuka dan membacanya bersama Jacob.
"Sebentar Mas, kemarin Naya sudah ke rumah sakit bersama Aneth."
"Benarkah? Lalu apa kata dokternya?"tanya Jacob antusias.
Kanaya memilih untuk tidak menjawab pertanyaan suaminya itu. Dia justru menuruni kasur lalu meraih sebuah amplop yang kemarin ia letakkan di dalam laci itu.
"Aku juga nggak tahu Mas, lebih baik kita buka bersama deh,"ujarnya seraya menyerahkan amplop itu kepada Jacob.
Dengan perasaan tak menentu keduanya duduk bersampingan di atas kasur. Terlebih Kanaya, wanita itu ingat betul kemarin juga melakukan USG, pikiran buruk jika terdapat penyakit pada area perutnya pun membuat wanita itu memilih menundukkan kepalanya.
Sementara Jacob yang sangat penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Kanaya, dengan segera membuka amplop itu lalu membacanya dengan seksama.
"Ha-hamil..."
Jacob yang takut telah salah mengartikan tentang isi dalam amplop itu kembali mengulang membacanya. Ternyata dia tidak salah, di dalam surat itu diterangkan jika Kanaya tengah hamil, tidak hanya itu dokter tersebut juga menyelipkan sebuah foto USG di dalamnya.
"Kanaya...Kamu hamil sayang...kita akan punya anak,"ujarnya antusias.
Kanaya mendongak, dia menatap heran wajah Jacob. Kedua mata pria itu telah berair dan suara nya juga terdengar gemetar.
"Maksudnya Mas? Aku ha..."
Kanaya mengambil alih surat dari tangan Jacob lalu membacanya. Tangan wanita itu membekap mulutnya saat ia menyimpulkan hasil pemeriksaan tersebut.
"Aku hamil Mas...Hamil?"
Keduanya terlibat tangis haru, dengan saling berpelukan untuk menumpahkan rasa bahagia di hati masing-masing. Kanaya tidak pernah menyangka akan kembali mendapatkan amanat dari sang Pencipta segumpal daging di dalam rahimnya.
"Terima kasih Nay, terima kasih,"ujar Jacob tanpa henti.
Kanaya tidak sanggup membalas kalimat suaminya, dia hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"Aku akan menjadi ayah,"lanjut Jacob.
***
__ADS_1
TBC