
"Dokter! Dokter!"
Suara Jacob menggema di rumah sakit itu memanggil staf rumah sakit.
Staf rumah sakit yang tengah bertugas itu terlihat menyeruak keluar kala melihat sosok yang mereka kenali itu mendatangi rumah sakit.
"Tuan Muda Pertama, "seru seorang dokter.
"Periksa istriku, cepat!"perintah Jacob.
Beberapa perawat mendatangi Jacob yang tengah menggendong Kanaya itu dengan mendorong bangsal.
Segera saja Jacob meletakan istrinya itu disana dan turut serta mendorong istrinya bersama staf rumah sakit menuju ruang gawat darurat.
"Naya Sayang! bertahan Sayang, Aku mohon, "lirih Jacob dalam tangan yang terus menggenggam tangan wanita itu.
"Maaf Tuan Muda Pertama, Anda dilarang masuk ke dalam, "cegah seorang suster menghentikan langkah Jacob yang akan memasuki ruangan tersebut.
"Naya, "lirih Jacob memandang tubuh sang istri sebelum pintu itu benar-benar tertutup rapat.
Jacob menggusar rambutnya frustasi. Masih terbayang dan terdengar jelas di telinganya suara tangis pilu Kanaya saat ia baru saja pulang.
"Sebenarnya apa saja yang terjadi, "gumam pria itu.
Tidak ingin menjadi pria tak berguna kala istrinya tak berdaya.
Jacob gegas meraih ponselnya untuk menghubungi Riko, sang asisten.
"Hallo Tuan Muda Pertama,".
Suara sapa Riko terdengar kala sambungan telepon itu tersambung.
"Periksa kamera cctv di apartemenku sekarang juga, cari tahu sebab istriku hingga ia menangis dna pingsan, "perintah pria itu.
"Nona Muda pingsan, Tuan? "
"Hem, dia sekarang sudah Saya bawa ke rumah sakit, beritahu Mama sama Papa. Saya lupa mengabari mereka dan secepatnya kirim hasil rekaman cctv secepatnya, "ujar Jacob.
__ADS_1
"Baik Tuan Muda Pertama, "ujar Riko.
Tut... tut... tut.
Sambungan telepon itu pun terputus. Jacob beralih menatap pintu yang masih tertutup rapat itu.
Perasaannya masih sangat gelisah dan tak menentu.
Dia ingin memukul dan melampiaskan kemarahannya saat ini. Namun sekuat tenaga dia harus menahan dirinya.
"Tahan Jacob, ingat Naya sedang tidak baik-baik saja, "sugestinya pada diri sendiri.
Dia mengepal kuat kedua tangannya, hingga buku-buku itu terlihat memucat serta kuku pria itu menancap tajam.
Darah merah terlihat menetes karena tancaman kuku yang Jacob lakukan.
Dia tengah berusaha sekuat tenaga agar tetap sadar dan IED nya tidak kumat.
Ceklek.
"Suami Pasien,"seru seorang dokter.
Jacob menghela nafas panjang lalu mendekati pria berseragam putih itu.
"Istri Anda hanya mengalami kontraksi ringan namun sepertinya dia tengah memiliki masalah yang cukup berat hingga menunjukkan tanda stress."
"Tuan Muda Pertama, Saya sarankan Anda mengajak Nona untuk bicara secara tenang agar Nona mau menceritakan apa yang tengah menjadi beban pikirannya. "
Jacob terus memperhatikan setiap kalimat yang terlontar dari bibir dokter Tyo itu.
Dan tidak sedikitpun Jacob menyelanya, meski ia ingin menanyakan keadaan Kanaya dan calon anaknya.
"Lalu bagaimana kondisi istri dan calon anak Saya Dok? "tanya Jacob akhirnya.
"Keduanya baik-baik saja, sebentar lagi Nona akan dipindahkan ke kamar rawat. Disana Anda bisa menemani Nona, "ucap Dokter Tyo.
"Baik Dok."
__ADS_1
Tak lama terlihat brangkar yang membawa Kanaya tengah di dorong oleh staf rumah sakit.
Jacob gegas mengikuti arah brangkar itu berjalan menuju ruang rawat VVIP dimana Jacob memintanya.
Sesampainya disana, Jacob membiarkan staf rumah sakit melakukan tugasnya hingga Kanaya sudah dalam posisi nyaman di atas brangkar.
"Dokter, kapan istri Saya akan sadar? "tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari wajah cantik sang wanita.
"Mungkin sebentar lagi Tuan Muda Pertama,"ujar Dokter Tyo.
"Hem. "
"Kalau begitu Saya permisi lebih dulu, Tuan Muda Pertama, permisi, "pamit Dokter Tyo.
Jacob hanya menganggukkan kepalanya pada ucapan sang dokter.
Dia masih ingin memandangi wajah ayu Kanaya yang terlihat pucat itu.
Pria itu duduk di kursi yang terletak disisi brangkar. Ia raih tangan sang wanita dan ia genggam untuk menyalurkan perasaanya pada Kanaya.
"Nay, bangun dong Sayang! Jangan lama-lama tidurnya, "ujar Jacob seraya menciumi punggung tangan Kanaya.
Jacob membenarkan letak hijab Kanaya yang terlihat miring itu lalu kembali duduk di kursi dan Menggenggam tangan sang wanita.
"Nay, Kita adain Baby moon yuk! Kamu mau pergi kemana? Paris? Jepang? Turki? Itali? atau negara mana?"ujarnya.
"Kita kan belum pernah Bulan Madu, Sayang. Jadi kita adakan aja Baby moon sebelum calon anak kita lahir."
Jacob menatap wajah istrinya itu yang masih betah terlelap itu.
Hatinya terasa teriris kala melihat Kanaya pingsan kedua kalinya. Entah kali ini karena masalah apa, yang jelas Jacob begitu merasa sangat bersalah.
"Tapi kalau Kamu tidak bangun-bangun, gimana kita mau Babymoon. Mungkin nggak usah saja ya Babymoon-nya, "ujar Jacob lesu.
Plak!
"Enak saja~"
__ADS_1
***
TBC