ISTRI CANTIK TUAN JACOB

ISTRI CANTIK TUAN JACOB
Bab 36


__ADS_3

"Ayo, kita berangkat sekarang, "ujar Kanaya.. Jacob terkesima dengan penampilan Kanaya. Tunik selutut berwarna navy dengan hijab pashmina yang membalut wajah Kanaya. Dan lihatlah wajah cantik yang biasanya polos tanpa make-up kini terlihat Kanaya memolesnya.


"Nggak jadi berangkat kerja, "ujar Jacob.


Mana mau dia berbagi kecantikan Kanaya pada orang-orang di luar sana. Dengan balutan pakaian sederhana dan sedikit bedak saja kecantikan Kanaya sudah berlipat ganda membuatnya ingin menyimpan Kanaya di dalam apartemen saja.


"Loh kenapa Mas? Aku sudah siap ini loh, lagian Kanaya tahu hari ini itu bukan hari libur Mas Jacob kerja. Ayo Mas, jangan malas deh buat kerja, "bujuk Kanaya.


"Aish, Kanaya bagaimana Aku mau bilang kalau Aku itu enggan berangkat kerja bukan karena males tapi karena kamu Nay, karena Kamu."


Jacob mengusap wajahnya kasar. Dia rasanya ingin meninggalkan Kanaya di apartemen saja, namun mengingat di apartemen sebelah ada Mark membuat Jacob mau tidak mau harus membawa Kanaya.


Beranjak dari sofa lalu melangkah menuju kamarnya. Tak lama Jacob kembali lagi dengan satu masker di tangannya. Jacob menyodorkan masker itu kepada Kanaya.


"Buat apa Mas? "tanya Kanaya.


"Pakai ini, diluar banyak penyakit Aku takut bisa membahayakan Baby kita. (Tidak Nay bukan itu, Aku takut semua pria memandang wajah cantikmu itu, " Akhir kalimat itu hanya bisa Jacob lanjutkan dalam hatinya saja.


Dia masih gengsi mengakuinya. Karena di awal Jacob yang sangat menentang menikahi Kanaya bahkan sempat meminta istri cantiknya itu untuk melupakan peristiwa dimana ia mengambil paksa kesucian Kanaya.


"Gitu ya, ya sudah Aku pakai mas,"ujar Kanaya menerima masker itu lalu memakainya.


Sudut bibir Jacob terangkat saat melihat separuh wajah cantik Kanaya telah tertutup. Dalam hatinya ia bernapas lega karena setidaknya pria-pria di luar sana tidak akan kepincut pesona Kanaya.


"Oke, ayo kita berangkat, "ajak Jacob.


Jacob menarik tangan Kanaya lalu menautkan jemarinya dengan jari Kanaya.


Sempat Kanaya tertegun saat merasakan hangatnya tangan Jacob. Namun secepat mungkin Kanaya menampiknya.


"Pasti efek ngidam yang dibilang Mas Jacob tadi Nay, jangan kebawa perasaan ya, "batin Kanaya.


Perjalanan dari unit apartemen Jacob dengan Garadha Group membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit. Selama perjalanan berlangsung, tidak ada perbincangan diantara keduanya.


Jacob yang fokus dengan jalanan sedangkan Kanaya hanya fokus dengan jalanan yang ia lihat dari kaca jendela.


Saat di lampu merah, mobil Jacob berhenti. tepat disamping mobil tersebut terlihat sepasang remaja berseragam SMA tengah berboncengan yang menarik perhatian Kanaya.


Tanpa sadar Kanaya terus memandangi sepasang remaja SMA yang kemungkinan mereka membolos sekolah karena saat ini masih jam sekolah.


"Kasihan orang tuanya kerja banting tulang buat biayain sekolah, tapi mereka malah sering bolos, "celetuk Kanaya.


Jacob yang sedari tadi tak mendengar suara Kanaya terkesiap terlebih Jacob mendengar omelan Kanaya pada sepasang remaja SMA itu.


"Semoga saja anak Aku jadi sosok yang sholeh jika laki-laki atau sholeha jika perempuan, rajin, nggak neko-neko kayak mereka, "lanjutnya mengusap perut yang terasa mulai membuncit itu.


"Aamiin. "


Kepala Kanaya menoleh pada sosok yang baru saja mengamini doanya. Terlihat Jacob sang pelaku tersenyum lebar padanya membuat Kanaya malu.


Lampu telah berubah menjadi hijau mengahruskan Jacob menjalankan lebih dulu mobilnya sebelum bertanya pada Kanaya.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu kelihatan marah sekali lihat remaja SMA itu? "tanya Jacob.


"He'em. Aku rasanya marah sekali setiap lihat mereka yang bisa sekolah justru melalaikan kewajibannya sepertu bermalas-malasan atau membolos sekolah. Padahal orang tua mereka sudah bekerja banting tulang supaya anak-anaknya sekolah, Aku yang tidak bisa melanjutkan sekolah dan harus kerja tahu betul bagaimana susahnya cari uang Mas, "jelas Kanaya.


"Kamu memang sekolah sampai tingkat apa? "tanya Jacob.


"Aku cuma lulusan SMP Mas, maaf kalau Aku cuma wanita bodoh yang pendidikannya rendah. Pasti Mas Jacob malu ya?"


Kenapa wanita itu bisa berpikir seperti itu? Karena pada dasarnya banyak orang yang menimbang pasangan karena pendidikannya untuk ajang pamer.


Jadi tidak menutup kemungkinan jika pikiran Jacob akan malu memiliki istri dengan pendidikan rendah hinggap dalam pikiran Kanaya.


"Eh! "


Kanaya kaget saat tangan Jacob menyentuh kepalanya dan mengelusnya lembut.


"Aku nggak malu kok, lagian kamu putus sekolah juga bukan kemauan kamu sendiri, Nay. Heemm, emangnya kamu masih pengin sekolah lagi gitu? "tanya Jacob tersenyum.


Bulu mata lentik Kanaya berkedip berulang kala dan itu terlihat sangat menggemaskan.


"Tentu saja iya mas, tapi kan Kanaya sekarang sudah delapan belas tahun Mas, sudah terlambat buat ngejar sekolahnya Mas, "jawab Kanaya sendu.


"Tidak ada kata terlambat. Serahkan saja semuanya sama Aku oke, "ucap Jacob diangguki Kanaya.


Selang beberapa lama, keduanya telah sampai di depan Garadha Group. Jacob telah keluar dari mobil lalu memutari body mobil untuk membukakan pintu mobil Kanaya.


Kanaya menatap sang suami. Wanita itu ragu untuk keluar dari mobil saat melihat tingginya gedung Garadha Group.


Jacob menggelengkan kepalanya. Mana mungkin ia membiarkan Kanaya menunggu dirinya di mobil.


"Tidak perlu malu, sini sama Aku dan genggam tangan Aku erat, "ujar Jacob mengulurkan tangannya.


Dengan ragu-ragu, Kanaya meraih tangan tersebut lalu keluar dari dalam mobil.


Jacob dengan percaya dirinya berjalan beriringan Kanaya yang terus ia genggam tangannya.


Di depan perusahaan terlihat Riko, sang asisten tengah menunggu kedatangan Jacob.


"Selamat datang Tuan Muda Jacob, selamat datang Nona Kanaya, "sapa Riko.


"Hem. "


Jacob melangkah dengan tangan yang terus menggandeng tangan Kanaya diikuti Riko dibelakangnya.


Kedatangan Jacob dengan Kanaya mengundang perhatian seluruh karyawan. Pasalnya semua orang tahu jika tunangan Jacob adalah Alexsa namun kini terlihat Jacob tengah menggandeng tangan wanita berhijab dengan makser menutupi wajahnya.


Siapa wanita itu? Apa dia kekasih gelap Presider? mungkin pertanyaan itu yang muncul dalam otak karyawan-karyawan itu mengenai Kanaya.


Kanaya mengeratkan genggamannya menyalurkan rasa gugupnya.


"Jangan takut ada Aku, "ujar Jacob.

__ADS_1


***


"Haom."


Sudah kesekian kalinya Kanaya menguap lantaran hanya duduk di sofa dan suaminya yang duduk di sisinya.


Ya, Jacob memang sengaja tidak menerjakan berkasnya di meja kerjanya. Semuanya ia pindah di sofa karena istri cantiknya itu yang memilih menunggu dirinya di sofa.


Padahal sudah berulang kali, Kanaya meminta Jacob untuk kembali pada meja kerjanya namun pria itu menolaknya dan tahukah apa yang dijadikan alasan Jacob.


"Sepertinya Aku mengidam tidak bisa berjauhan darimu Nay. "


Modus seorang Jacob memang tidak bisa ditandingi, dan Sayangnya si istri cantik yang begitu polos meski curiga namun akhirnya percaya.


"Kamu mengantuk?"tanya Jacob tanpa menatap Kanaya.


"Tidak kok, mata Aku masih kuat melek, "saut Kanaya.


Jacob tersenyum mengejek, dari sudut ekor matanya jelas saja ia melihat Kanaya yang sudah terpejam namun wanita itu masih mengatakan tidak mengantuk.


Jacob meletakkan laptopnya di atas meja dengan pelan lalu berbalik menatap sang istri yang terpejam dengan tangannya sebagai penyangga dari kepalanya.


"Mengantukpun sangat menggemaskan, "gumam Jacob.


Sangking ngantuknya kepala Kanaya beberapa kali terlihat terhuyung dan hampir saja terjatuh jika tidak Jacob menahannya dengan tangan kekar pria itu.


Sret


Jacob mengangkat tubuh Kanaya itu dalam gendongannya lalu melangkah menuju kamar istirahatnya.


"Aku tidak mengantuk... Aku masih kuat, "gumam Kanaya dalam gendongan Jacob.


"Tidak mengantuk tapi mata terpejam dan tidur lelap, "celetuk Jacob.


Ceklek


Dengan susah payah, Jacob membuka pintu kamar istirahatnya itu karena tangannya yang harus menyanggah tubuh Kanaya.


Jacob membaringkan tubuh Kanaya di atas kasur empuk itu dengan sangat pelan karena takut mengusik tidurnya Kanaya.


"Tidurlah yang nyenyak. Aku kerja dulu, "ujarnya seraya membelai wajah Kanaya lembut.


Sementara itu di negara lain, terlihat Alexsa yang baru saja mendapatkan foto mengenai Jacob yang menggandeng tangan Kanaya tampak tengah marah besar.


Brak.


"Apa-apan ini. Siapa wanita bermasker itu? Kenapa Jacob menggenggam erat tangannya. Akhhh.... Sial, ini tidak bisa dibiarkan begitu saja."


***


TBC

__ADS_1


__ADS_2