
"Ma, Pa. Kalian cuma bercandakan? Mas Jacob mana? Naya harus menanyakan ini secara langsung sama dia, "ucap Kanaya dengan air muka yang sendu.
"Kami tidak bercanda Nay, itu surat asli dan sudah ditanda tangani oleh Jacob,"ujar Tuan Garadha.
Nyonya Seline menyentuh lengan suaminya itu, agar berhenti bicara. Wanita parubaya itu tidak sanggup untuk melihat raut kesedihan Kanaya.
"Tadi Jacob juga nitip ini sama Mama, ini buat kamu, "ucap Nyonya Seline lalu menyodorkan sebuah surat.
*Dear Kanaya.
Maafkan Aku yang sangat pecundang ini. Tetapi Aku tidak bisa menahan dirimu untuk ada disisiku yang penyakitan dan selalu membawamu dalam bahaya.
Aku sudah memberikan surat cerai dan telah ditandatangani. Setelah Kamu menandatangani surat cerai itu maka status kamu bukan lagi istriku.
Kamu wanita yang sangat baik dan sangat cantik. Aku yakin kamu akan mendapatkan pria yang jauh lebih baik dariku.
Aku pergi, dan untuk villa cendana sudah Aku alihkan atas nama kamu. Jadi kamu dan Nenek Risma bisa menempati vila itu.
Perihal anak kita. Aku sungguh sangat menyesalinya. Aku merasa menjadi pria paling jahat karena telah membuatnya pergi bahkan sebelum dia melihat dunia ini.
Aku sudah memberinya nama Adelia, nama yang cantik sesuai dia yang cantik . Berbahagialah selalu Naya. ~Jacob*.
Tetesan air mata itu mulai merembes membasahi pipi merona Kanaya, serta membasahi surat itu.
"Kamu memang pria paling pengecut Mas,"lirih Kanaya.
Nyonya Seline dan Tuan Garadha saling berpandangan, kemudian keduanya sama-sama menganggukkan kepala mereka.
"Kanaya mau menemui Jacob?"tanya Nyonya Seline.
Wanita parubaya itu juga tidak ingin pernikahan putranya hancur. Makanya, dia ingin mempertemukan Kanaya dengan Jacob.
Kanaya menghapus air matanya lalu tanpa banyak bicara, disingkapnya selimut tebal itu lalu beranjak dan menatap kedua mertuanya itu dengan mantap.
"Izinkan Naya bertemu dengan Mas Jacob Ma. Satu kali saja Ma, tolong, "ucap wanita cantik itu.
Dia masih berharap pernikahan ini akan terus berjalan meski tanpa adanya sosok anak di rahim Kanaya.
"Ayo, kita susul Jacob bersama-sama ke bandara, "celetuk Tuan Garadha.
__ADS_1
Akhirnya ketiga orang itupun kini melakukan perjalanan menuju bandara. Kanaya terus melafalkan doa sepanjang perjalanan agar masih ada waktu untuk dirinya dan Jacob bertemu.
Di tangan wanita itu secarik surat cerai digenggamnya dengan erat.
"Sisa dua puluh menit lagi, pesawat Jacob akan lepas landas, "ujar Tuan Garadha sembari melihat arlojinya.
"Pa, bisa lebih cepat lagi,"pinta Kanaya.
Tuan Garadha menganggukkan kepalanya lalu tanpa berkata lagi kini laju mobilnya semakin cepat membela jalanan.
Tidak sampai dua puluh menit akhirnya mereka telah sampai di bandara. Kanaya, Nyonya Seline, dan Tuan Garadha berpencar mencari keberadaan Jacob.
"Papa coba mendatangi pusat informasi, Kanaya ke ruang tunggu dan Mama coba ke pintu masuk, "titah Tuan Garadha.
Setelah mendapat perintah dari Tuan Garadha, baik Kanaya dan Nyonya Seline langsung berpencar sesuai titah pria itu.
Kanaya berjalan dengan kakinya dan nafas yang tersengal menuju ruang tunggu.
"Mas kamu dimana Mas?"gumam Kanaya sembari mengelap peluh yang membasahi keningnya.
"MAS JACOB! "teriak Kanaya memanggil nama pria itu.
Tingkah Kanaya itu menjadi pusat perhatian banyak orang disana. Tetapi Kanaya acuh, biarlah dia dicap orang stres, karena nyatanya dia memang tengah setres akibat tindakan ambusif Jacob.
Sampai ketika Kanaya menoleh dan tanpa sengaja wanita itu melihat siluet pria yang ia yakini adalah Jacob.
Kaki Kanaya terayuh dengan cepat mendekati sosok pria itu. Dan saat dia telah dekat dengan sosok pria yang ia yakini sebagai Jacob itu barulah Kanaya memanggil pria itu.
"Mas Jacob, "panggilnya itu.
Jacob yang tengah duduk itupun menoleh saat namanya dipanggil. Alangkah terkejutnya pria itu saat melihat sosok wanita cantik yang ia cintai berdiri di depannya.
"Naya, "lirih Jacob.
"Akhirnya Aku menemukanmu Mas, "celetuk Kanaya dengan suara pelannya.
Jacob beranjak dari tempat duduknya. Dia hendak pergi dari sana menghindari wanita yang dengan susah payahnya serta keadaan tubuh lemah akibat baru saja keluar dari rumah sakit.
"Mas tunggu dulu Mas, kita harus bicara, "pinta Kanaya dengan suara semakin lemah.
__ADS_1
Jacob yang dalam posisi memunggungi Kanaya itu pun berkata.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi Nay, semuanya sudah jelas. Saya sudah menceraikan kamu. Jadi kamu tinggal tanda tangan saja, "ucapnya.
Kanaya memajukan tubuhnya lalu menyentuh lengan pria tinggi itu.
"Tidak Mas, Mas Jacob tidak bisa memperlakukan Naya seperti ini,"ucap Kanaya.
Jacob tertegun, hatinya juga tidak ingin melakukan itu. Namun keegoisannya dan rasa bersalahnya membuat pria itu hanya melihat dari sisi dia seorang.
Dilepaskanya dengan paksa tangan Kanaya yang memegang lengannya itu dan berkata.
"Bisa, Aku bisa melakukannya. Bayi itu sudah tidak ada lagi kan? Jadi sudah tidak ada alasan untuk kita mempertahankan pernikahan ini, "sarkas Jacob.
Tubuh Kanaya lemas mendengar ucapan itu. Dia kira selama beberapa bulan ini, Jacob benar-benar mencintainya dan melupakan alasan awal dari pernikahan ini.
"Naya pikir, Mas cinta sama Naya, "lirih Kanaya.
Jacob mengigit bibirnya mendengar pertanyaan dari wanitanya. Jacob ingin mengatakan bahwa dia memang mencintai Kanaya.
Tetapi Jacob tidak bisa, dia tidak bisa melakukan itu semua.
"Tidak, tidak sama sekali. Aku tidak pernah mencintaimu, jadi terima saja gugatan cerai itu, "ucap Jacob.
Kanaya memegang kepalanya yang terasa pusing serta satu tangannya yang juga memegang perut bekas jahitannya itu.
Jacob mengatakan tidak pernah mencintainya sama sekali. Kenyataan pahit apa ini, jadi selama ini Kanaya telah dipermainkan oleh pria itu.
"Kamu memintaku untuk bahagia, tetapi kamu juga yang membuat kebahagiaan itu hancur Mas, "ucap Kanaya dengan air matanya.
"Aku akan menerima gugatan cerai ini Mas,"lanjutnya lagi lalu berbalik dan melangkah dengan tertatih.
Jacob meremas dadanya yang terasa sangat sakit itu. Kalimat Kanaya yang mengatakan jika dia menghancurkan kebahagian wanita itu.
Semua orang berlarian dan bergerumul mengelilingi belakang Jacob. Dan hal itu membuat pria itu yang turut penasaran akan apa yang terjadi akhirnya membalik badannya untuk melihat apa yang terjadi di belakangnya.
"Naya!"
Tubuh wanita itu tergolek tak sadarkan diri dengan rembesan darah pada perutnya.
__ADS_1
***
TBC