
"Kenapa kamu pergi begitu saja tanpa menemuiku lebih dulu? "tanya Jacob.
Kanaya bergeming, wanita cantik itu memalingkan wajahnya, enggan menatap pria yang tengah berdiri disampingnya itu.
"Apa karena Kau melihat ada Alexsa?"
Kini jemari Kanaya juga turut menjadi sasaran wanita itu untuk menenangkan dirinya sendiri.
Jacob berulang kali harus menghela nafas beratnya karena sang istri tak kunjung menjawab pertanyaannya.
Diamnya sang istri membuat pria itu semakin merasa bersalah. Jacob pikir jika saja tadi Kanaya tidak gegabah dengan pergi begitu saja mungkin kejadian beberapa waktu yang lalu tidak akan terjadi.
"Apa kamu akan terus diam seperti ini? "desis Jacob.
Kesabaran Jacob adalah kesabaran yang sangat tipis. Dan pria itu sangat mudah emosi dan tidak tahu bagaimana melampiaskan rasa khawatir dan takutnya selain dengan amarah.
Kanaya mendongak menatap wajah pria itu, gigi Jacob bergemelatuk dan urat leher pria itu mulai menegang.
Tetapi Kanaya benar-benar sedang tidak ingin meladeni pria itu. Dia sedang dalam kondisi ketakutan yang sangat amat karena hampir di lecehkan.
Brak!
Suara pintu ditutup dengan sangat keras membuat Kanaya terjengit.
"Dia pergi, biarlah. Aku sangat lelah, seharusnya Aku yang marah padanya bukan dia yang marah, "gumam Kanaya.
Tidak ingin ambil pusing dengan apa yang dilakukan oleh sang suami, Kanaya memilih berbaring untuk menenangkan dirinya.
"Akhhhh! b*jingan, berani sekali kalian menyentuh wanitaku! "
Suara makian dan benda yang dilempar keras menggema pada ruang tamu apartemen itu.
Pelakunya adalah Jacob, ECD nya kembali kumat. Emosi pria itu meledak-ledak.
Dia marah pada dirinya sendiri namun juga marah pada Kanaya yang hanya diam sesampainya di apartemen.
Ruang itu sangar berantakan bak pesawat pecah yang isinya telah porak poranda.
Bugh... Bugh.
Belum puas membuat hancur ruang tamu, Jacob memukuli tembok nan keras itu.
Jacob membayangkan dinding itu adalah keempat pria yang telah berani menyentuh istrinya.
Kucuran darah yang keluar dari buku-buku tangan Jacob tak terelakan.
Namun pria itu masih belum merasa puas dan terus memukuli dinding keras itu.
***
"Apa yang dia lakukan,"gumam Kanaya.
Walaupun dia sudah bertekad untuk tidak peduli pada apa yang dilakukan Jacob.
Namun suara benda yang pecah dan umpatan dari ruang tamu apartemen itu begitu keras sampai masuk ke kamar.
"Sudah Naya, biarkan saja dia mau apa. Jangan terus menurutinya. Seharusnya kamu yang marah bukan dia yang sampai ngamuk-ngamuk kayak gitu, "ucapnya mencoba mendoktrin dirinya sendiri.
Kanaya menutup wajahnya dengan selimut tebal itu berharap suara benda pecah di ruang tamu tidak terdengar lagi.
__ADS_1
Sialnya, sekuat tenaga Kanaya berusaha namun pikirannya terus tertuju pada Jacob membuat wanita itu menyerah.
"Akhh, tidak bisa. Aku tidak bisa seperti ini."
Kanaya menyingkap selimut tebal itu lalu mengenakan sandal berbulu dan beranjak keluar kamar.
Saat kakinya menginjak ruang tamu, kedua mata Kanaya membola karena rasa terkejutnya.
"Mas Jac, apa yang kamu lakukan, "pekik Kanaya.
Wanita itu berjalan berjingjit agar tidak mengenai serpihan benda-benda yang pecah itu.
"Mas, hentikan! Jangan kayak gini terus, "pekik Kanaya.
Wanita itu telah berada disamping Jacob yang abai akan kehadirannya dan terus memukuli dinding yang warnanya telah merah karena darah pria itu.
"Mas, berhenti! Jangan buat Aku takut, "pekiknya lagi.
Nafas Kanaya tersengal, dia juga merasa takut dengan sikap Jacob yang tengah marah itu.
Bisa saja karena sedang dalam emosi yang tinggi, membuatnya tidak sadar dan memungkinkan Kanaya juga akan terkena imbasnya.
"Oke, jika Mas Jacob tidak mau berhenti! Detik ini juga Naya pergi dari apartemen ini, "ancam Kanaya.
Bugh.
"Naya tidak main-main, jika Mas Jacob tidak bisa mengendalikan emosinya lagi. Naya PERGI, "ucap Kanaya dengan meneriakkan kata 'pergi'.
Usai memberi ancaman itu, Kanaya berbalik hendak meninggalkan pria itu.
Biarlah jika Jacob tak menggubrisnya, Kanaya juga sedang lelah. Dan ancaman itu tidak main-main kanaya berikan.
Grep.
Kanaya melirik tangan yang buku-bukunya telah berwarna merah itu namun masih enggan berbalik menatap pria itu.
"Aku mohon jangan pergi, tetaplah disisiku, "lirihnya lagi.
Jacob tak hanya memegang tangan Kanaya. Pria itu beralih menarik tubuh Kanaya lalu memeluknya dengan sangat erat.
"Aku sangat takut jika kamu pergi, Jangan pergi Nay, "pintanya lagi.
Jacob benar-benar takut jika sang istri pergi meninggalkan dirinya.
Dia peluk erat-erat tubuh Kanaya dan ia benamkan wajahnya.
"Dia menangis, Mas Jacob benar-benar tidak ingin Aku pergi, "batin Kanaya.
Kanaya menarik tubuhnya agar bisa menatap pria yang terlihat sangat kacau itu.
Ditangkupnya wajah Jacob dengan tangannya lalu ia tatap pupil mata hitam milik pria itu.
"Aku tidak akan pergi, asal mas tidak seperti ini lagi,"ucap Kanaya.
Pria itu mengangguk patuh pada perintah sang istri cantik.
"Sekarang kita obati luka di tangan ini dulu ya, "ujarnya lagi lembut.
Lagi-lagi Jacob menangguk patuh pada Kanaya. Tanpa adanya penolakan dari Jacob membuat Kanaya dengan mudah membimbing pria itu untuk duduk di sofa.
__ADS_1
Saat Kanaya akan pergi untuk mengambil kotak p3k, Jacob justru menahannya.
"Aku cuma mau ambil p3k saja untuk mengobati luka di tangan Mas aja. "
"Aku ikut, kita obati di kamar saja, "ucap Jacob.
"Baiklah, ayo. "
Karena memang kotak p3k terletak di kamar mungkin yang membuat Kanaya tidak menolak permintaan sang suami.
Sesampainya disana, Kanaya gegas membersihkan luka-luka itu dengan alkohol.
Sesekali Kanaya meringis merasa kesakitan sendiri karena luka pada tangan Jacob.
Namun berbeda dengan Jacob yang terlihat santai dan terus menatap wajah cantik yang tengah asik mengobati lukanya.
Cup.
"Mas,"seru Kanaya.
Kanaya tidak terima karena Jacob yang jahil menarik tangannya membuat tubuh Kanaya condong pada pria itu dan menjadikan kesempatan Jacob untuk mencuri ciuman pada pipinya.
"Sini deh, jangan aneh-aneh. Aku belum selesai mengobati lukanya, Mas. "
Kanaya menarik kembali tangan pria itu untuk dilanjutkan mengobatinya.
"Nah bereskan,"celetuk Kanaya senang.
Sret.
"Mas! "
Kanaya memekik saat pria itu menarik tubuhnya dan mendekapnya erat.
"Ih lepasih, Mas. "
"Nay,"panggil Jacob menatap dalam sang istri.
Kanaya mendongak dan tatapan nya terkunci pada tatapan Jacob menbuatnya tak berkutik.
"Aku bolehkan menyentuhmu, "ujar Jacob.
Kanaya terbelalak mendengar permintaan sang suami.
"Ta-tapi tangan mas i-itu luka, "ucap Kanaya.
"Hanya luka kecil, boleh kan? Aku sangar menginginkanmu."
Kanaya terdiam menimbang permintaan sang suami, namun setelahnya kepala wanita itu mengangguk mengizinkan Jacob untuk menyentuhnya.
Cup.
Tanpa menunggu Kanaya bersuara, cukup dengan anggukannya Kanaya sudah membuat Jacob tidak bisa menahan dirinya.
"Hati-hati dengan tanganmu, dan ingat ada anak kita disini, "cicit Kanaya dengan muka bersemu merah.
"As you want, Baby, "ucap Jacob.
"Hah? Tadi Mas bilang apa? "
__ADS_1
***
TBC