ISTRI CANTIK TUAN JACOB

ISTRI CANTIK TUAN JACOB
BAB 38


__ADS_3

"Mau apa Kamu diam di depan apartemen Gue? "celetuk Jacob pada sosok itu, saat sudah berada di depan pintu apartemennya.


Sosok itu yang tak lain adalah Mark tak mengindahkan pertanyaan Jacob dan memilih menatap Kanaya dengan senyumannya.


"Sore Naya, kamu kelihatan lelah sekali, "sapa Mark pada Kanaya.


"Sore juga Mark, "jawab Kanaya.


Sreet.


Jacob berpindah posisi di depan Kanaya sehingga kini Mark maupun Kanaya tidak bisa melihat satu sama lainnya.


"Nay, kamu masuk ke dalam apartemen sekarang! "tegas Jacob.


"Iya Mas. "


Tidak ingin membantah perintah Jacob, meskipun dalam hati masih penasaran kenapa sang suami memintanya untuk segera masuk.


Kanaya berjalan menuju pintu apartemen dengan Jacob yang berjalan disampingnya berusaha menutupi tubuh kecil Kanaya dengan tubuh tegapnya.


Mark mendengus kesal melihat itu. Dia yang niat hati ingin melihat wajah cantik Kanaya lebih lama harus merenggut kekecewaan karena ulah Jacob.


Usai memastikan Kanaya masuk ke dalam apartemennya dengan selamat. Jacob kembali menghampiri Mark lalu menarik kerah baju adiknya itu.


"Kamu semakin hari semakin menjadi Mark, jangan dekati Kanaya. Dia istri Aku paham nggak! "geram Jacob.


"Ha ha ha, Aku nggak akan berhenti sebelum kakak melepaskan tunangan Kakak, dan sudah memilih antara Kanaya atau Alexsa, "ucap Mark dengan tawanya.


"Asal Kamu tahu Mark, Gue sudah mutusin pertunangan dengan Alexsa,"ucap Jacob.


Jacob melepaskan cengkaraman pada kerah Mark dengan keras hingga adiknya itu terhuyung dan menyentuh dinding.


Deg.


Mendengar pengakuan penuh ketegasan dari Jacob membuat Mark tertegun.


Bibirnya tersenyum getir, Mark pikir Jacob akan terus mempertahankan Alexsa sampai Kanaya melahirkan. Namun sepertinya tebakan Mark salah karena Jacob memutuskan pertunangan mereka bahkan tidak sampai satu bulan usai pernikahannya dengan Kanaya.


"Kak, apa Kamu mencintai Naya? "tanyanya dengan menundukkan kepala.


"Apa Kamu harus dengar perasaan Aku sama Kanaya saat ini juga Mark? "tutur Jacob.


Jacob berjalan satu langkah dari Mark dan bersandar pada pintu apartemen. Membicarakan perasaannya pada Kanaya, Jacob sendiri kurang yakin, namun Jacob merasa sebuah kenyamanan saat bersama Kanaya, ketakutan kehilangannya bahkan merasa rindu saat jauh dari istri cantiknya itu.


"Iya, Aku akan berhenti mengejar Kanaya jika Kakak atau Kanaya mencintai salah satu lebih dulu, "ujar Mark.


Huft.


Helaan napas panjang terdengar dari lubang hidung Jacob. Dia harus mengatakan tentang perasaannya kepada sang adik agar ia berhenti merecoki kehidupan rumah tangganya.


"Iya, Aku mencintainya, "ucap Jacob tegas.


Mark yang menunduk menengadah menatap sang kakak. Kata 'mencintainya' seakan terus terngiang dan berulang kali di telinga Mark.


sedetik kemudian wajah terkejut Mark berubah menjadi senyuman getir darinya.


"Baiklah Aku akan berhenti mengejar Kanaya tapi ada syaratnya... "


Jacob membalik badannya, menatap Mark yang tengah menatapnya dengan senyuman getir.


"Katakan saja Mark, "pinta Jacob.


"Suruh Kanaya datang ke apartemenku sendirian,"ujar Mark.

__ADS_1


Sret.


Secepat kilat Jacob kembali menarik kerah baju Mark. Persyaratan gila yang membuat amarah Jacob hampir meledak.


Yang benar saja, Jacob akan membiarkan istri cantiknya datang ke apartemen Mark seorang dari tanpa ditemani olehnya atau orang lain.


"Kau sudah gila Mark! Dia istriku mana mungkin membiarkan berduaan dengan kamu, Kau gila Mark...gila! "maki Jacob.


Mark mengangkut tangannya untuk melepaskan cengkraman Jacob pada kerahnya. Usai terlepas dari cengkraman Jacob, dengan tenangnya Mark berkata.


"Jangan berburuk sangka Kak. Aku tidak seb*jat itu. Aku hanya ingin melukis wajah cantiknya saja,"ucap Mark.


Napas Jacob yang tadi tersengal karena emosi perlahan mulai teratur. Dia memang sangat mudah emosi dan itu adalah kelemahan dirinya.


"Aku akan ikut ke apartemenmu, jangan harap kalian akan berduaan. Jika kamu tidak setuju maka lebih baik Kanaya tidak akan datang untuk kamu lukis wajahnya,"tegas Jacob.


Usai mengatakan itu, Jacob membalik badannya untuk memasuki apartemen miliknya. Sementara Mark hanya bisa memandang asa yang tertinggal itu.


"Setidaknya kelak Aku bisa melihat wajah cantiknya,"gumam Mark turut berlalu dan kembali masuk ke dalam apartemennya.


Jacob dan Mark sedari kecil memang suka merebutkan sesuatu. Baik barang maupun mainan, namun dulu Jacob selalu mengalah pada Mark. Tetapi untuk Kanaya mana bisa Jacob mengalah pada adiknya itu.


"Mas sudah bicaranya sama Mark? "tanya Kanaya.


Jacob yang tadi dengan wajah kusutnya seketika tersenyum lebar pada sang istri kala melihat penampilannya yang segar usai mandi itu.


"Sudah, Kamu sudah mandi? "tanya Jacob seraya mendekati tubuh Kanaya.


Dengan jarak yang sangat dekat tentu saja Jacob bisa mencium aroma harum shampo dan sabun yang dikenakan Kanaya saat mandi.


"Sudah Mas, "jawabnya.


"Hem, Aku tahu. Kamu begitu wangi dan cantik, "puji Jacob seraya menarik tubuh Kanaya dalam dekapannya.


Lihat saja, kini raut muka pria itu sudah berbeda karena tengah menahan hasratnya.


"Mas nggak sedang sakit kan? "tanya Kanaya.


Jacob yang memejamkan mata untuk menahan hasratnya kini harus membuka matanya karena ucapan Kanaya itu.


"Aku baik-baik saja, "balas Jacob.


Kening Kanaya mengernyit, jelas saja ia melihat wajah Jacob memerah dan merasa sesuatu benjolan yang semakin besar dari tubuh Jacob mengenainya.


"Tapi Mas, Naya lihat wajah kamu nggak baik-baik saja. Dan ini Naya merasa di tubuh Mas kayak ada benjolan gitu. Mas nggak lagi bisulan kan? "tanyanya polos.


Jacob meraup wajahnya frustasi. Di melepaskan dekapannya dari Kanaya. Hasratnya tengah membara namun Kanaya yang polos justru mengiranya tengah bisulan.


"Mas bisulannya besar sekali. Sepertinya itu bahaya, kita ke dokter saja ya,"ucap Kanaya menatap pusat Jacob penuh khawatir.


Ditatap seperti itu membuat Jacob salah tingkah. Pria itu gegas menutupi area intinya dengan kedua tangan agar Kanaya tak terus menatap bagian intinya.


"Mas, kita ke dokter ya. Itu sampai di tutup kayak gitu pasti sakit, "ucap Kanaya dengan wajah ngeri.


"Ini memang sakit Naya bahkan sampai kepalaku ingin meledak tapi ini bukan bisul atau penyakit Nay, "ucap Jacob dengan wajah memerahnya.


"Bukan penyakit lalu itu apa Mas? "tanyanya.


"Ini senjata pamungkas Mas, Naya. Ini senjata pribadi Mas yang sudah membuatmu hamil seperti saat ini, "jelas Jacob.


Semburat merah terlihat jelas pada wajah Kanaya. Wanita itu kini paham jika benjolan besar yang dipikirnya bisul itu adalah senjata pamungkas Jacob.


"Sudahlah, Aku harus ke kamar mandi lebih dulu, Kamu tunggu di ruang tengah. Ada hal yang mau Aku bicarakan sama Kamu, "ucap Jacob seraya berlari menuju kamar mandi.

__ADS_1


plak... plak... plak.


Kanaya berulang kali menepuk pipinya secara bergantian untuk menghilang pikiran kotor yang menghinggapi otaknya.


"Itu sangat memalukan, "rutuknya.


Kanaya berjalan menuju dapur kecil di apartemen itu lalu mengambil air minum yang ia teguk untuk menetralisirkan dirinya.


"Aku langsung tunggu di ruang tengah saja deh, emangnya apa yang mau dibicarakan sama Mas Jacob, "gumam Kanaya.


Wanita itu berjalan menuju ruang tengah, untuk mengurangi kebosanannya yang harus menunggu Jacob. Kanaya memutuskan untuk menyalakan televisi.


"Nay."


Kanaya yang tengah fokus dengan siaran televisi berbalik menatap sosok Jacob yang tengah menghampirinya dengan pakaian kasualnya.


"Beruntungnya Aku bisa nikah sama pria setampan itu, "batin Kanaya.


"Nay... Hey Kanaya! Kok malah bengong sih, "ucap Jacob dengan menggoyangkan bahu Kanaya.


"Eh iya maaf Mas, Naya terpukau lihat Mas Jacob soalnya, he he he ada apa ya? "ucap Kanaya menghilangkan rasa gugupnya.


Sementara itu Jacob yang mendengar Kanaya terpukau pada dirinya kini seakan-akan terbang tinggi ke angkasa.


"Mas, kok gantian Mas sih yang melamun, "gerutu Kanaya.


"He he he maaf."


Jacob mengaruk kepalanya yang tidak gatal. Malu rasanya pria itu saat ketahuan tengah terbengong.


"Nay... "


Kanaya yang mencebik kesal kini menatap Jacob saat merasa kali ini Jacob serius.


"Iya Mas, "jawabnya.


"Ada yang mau aku omongin Nay."


"Iya, bilang saja Mas. Naya dengerin kok, "ucapnya.


Perlahan Jacob mulai menceritakan mengenai permintaan Mark yang menginginkan untuk melukis diri Kanaya.


Jacob sengaja tidak menceritakan pasal lainnya, Jacob takut jika Kanaya tahu mengenai perasaan yang Mark miliki untuknya akan membuat Kanaya merasa ilfeel atau sebagainya.


"Oh cuma diam doang kan Mas terus Mark lukis Aku? "ucap Kanaya diangguki Jacob.


"Ya sudah Aku mau kok Mas, kapan emangnya? "


"Besok di apartemen Mark."


"Iya Mas, nanti Aku disana nggak sendirian kan? Soalnya walaupun dia adik ipar Aku tetap saja nggak baik kalau hanya berduaan di suatau ruangan, "ucap Kanaya.


"Aku akan ikut menemanimu."


"Mas nggak kerja emangnya? Kan besok bukan hari libur, "celetuk Kanaya.


"Aku akan berangkat ke kantor usai Mark melukismu, "ucap Jacob tegas.


Kanaya hanya manggut-manggut saja. Lagi pula memang dirinya juga tidak ingin dilukis jika hanya berduaan dengan Mark.


***


TBC

__ADS_1


__ADS_2