
"Apa tadi hanya mimpi, tapi Aku merasa itu sangat nyata, "gumam Kanaya.
Di depan cermin yang berada di kamar mandi itu, Kanaya masih tertegun menatap bibirnya yang sedikit bengkak.
Dia tengah bimbang akan firasatnya yang mengatakan jika suaminya semalam ada di kamar mereka dan menemaninya.
Namun saat ia terbangun dia hanya sendirian membuat Kanaya sedikit ragu akan firasatnya itu.
"Tapi kenapa bibir ini bengkak? Apa hanya gigitan serangga atau lainnya, "gumamnya lagi.
Netra yang sedari tadi mengamati bibir itu kini beralih turun ke arah perutnya yang kian terlihat karena saat ini dia hanya menggunakan dress tidur berbahan satin.
Kanaya mengelus perut nya itu dengan sayang.
"Baby, kamu kangen ya sama Daddy? Mom juga,"ucapnya seraya mengajak bicara calon anak mereka itu.
Ia miringkan tubuhnya sehingga dari cermin besar itu perutnya terlihat sangat jelas dan hal itu membuat Kanaya terkekeh sendiri.
"Lihat Baby, karena ulahmu perut Mom yang kecil sekarang jadi buncit, "ucapnya terkekeh.
Kanaya mengelus perutnya memutar sampai dia rasakan sebuah tendangan yang diberikan Baby itu.
"Kau... Kau menendangnya! Kau kau... Hiks, Mom senang sekali. Senang senang sekali, "celetuk wanita itu.
Tapi meski rasa bahagia itu ia rasakan, namun entah mengapa Kanaya justru menangis hingga ia tergugu.
"Tapi Mom juga sedih, sedih karena tidak bisa memberitahu Daddy mu kalau hari ini pertama kalinya Kamu menendang perut Mommy, "ujar Kanaya dengan isak tangis yang semakin jadi.
Di dalam kamar mandi itu Kanaya menangis hingga tubuh wanita itu luruh dan bersandar pada dinding kamar mandi.
Untunglah kamar mandi tersebut kering sehingga tidak membahayakan wanita cantik itu dan kandungannya.
Dengan posisi seperti itu, Kanaya menangis sejadi-jadinya, menumpahkan segala isi hatinya dengan tangisan itu.
Sementara itu di depan kamar tersebut terlihat Nyonya Seline, Indri, dan Mbok Ira tengah kelimpungan karena hingga menjelang siang Kanaya tidak kunjung keluar kamar.
"Nyah, ini gimana? Nona Kanaya tidak mau keluar, "aduh Mbok Ira.
"Sejak kapan Kanaya berada di dalam kamarnya? "tanya Nyonya Seline.
"Sejak semalam Nyah, "jawab Indri.
Nyonya Seline terlihat sangat gusar setelah mendengar jawaban yang diberikan Indri atas pertanyaan nya tadi.
"Bi, tolong ambilkan kunci cadangan di kamar saya, cepat ya Bi, "perintah Nyonya Seline.
"Baik Nyah, "balas Bi Irah.
Bi Irah berjalan dengan langkah cepatnya meninggalkan Nyonya Seline dan Indri di depan kamar Kanaya.
__ADS_1
"Dan Kamu Indri, tolong panggil Dokter Daniel untuk segera kesini, satu lagi Kamu juga hubungi Jacob suruh dia pulang sekarang juga, "perintahnya dengan tegas.
Indri mengangguk paham, segera gadis itu berjalan dengan cepat menuju lantai bawah dimana telepon rumah berada.
Saat Indri berada di tangga tanpa sengaja gadis itu berpapasan dengan Mark yang baru saja datang dari Galerinya.
"Ada apa? Kok buru-buru banget, "ujar Mark.
Mark memang sosok yang humble dan tidak segan menyapa siapa saja mesikpun dia hanya seorang pelayan.
Indri yang tengah buru-buru itu tanpa pikir panjang menjawab pertanyaan Mark sejujurnya.
"Itu Nona Kanaya sedari pagi belum keluar kamarnya, ini saya..."
Kalimat Indri menggantung begitu saja karena melihat Mark yang dengan cepat berlari meninggalkan dirinya dengan naik ke lantai atas.
"Tuan Muda Kedua kenapa? Aish, Indri Kamu ini disuruh menghubungi Dokter Daniel sama Tuan Muda Pertama malah bengong lagi, "rutuk Indri pada dirinya sendiri.
Tidak ingin mendapat amarah dari Nyonya Seline, Indri kembali melanjutkan langkahnya dengan cepat.
Sementara itu di depan kamar, terlihat Nyonya Seline dengan tidak sabarannya meminta Bi Irah membuka pintu.
"Ayo, cepat Bi. Aduh, buka pintu saja kenapa lama sekali sih, "rutuk Nyonya Seline.
"Iya Nyah, sebentar lagi Nyah, "balas Bi Irah berusaha tidak ikut terbawa emosi dengan kegelisahan Nyonya Seline.
Ceklek.
Brak.
"Dimana Naya, Bi coba kamu cek balkon dan walk in closet, "perintah Nyonya Seline.
"Baik Nyah, "ucap Bi Irah.
Sementara itu Nyonya Seline sendiri berjalan mendekati kamar mandi.
Tok... tok... tok.
"Naya, kamu ada di dalam sayang? Ini Mama, "ujar Nyonya Seline.
"Mah, "sapa Mark saat ia sampai disisi Nyonya Seline, Mamahnya.
"Mark, "seru Nyonya Seline sedikit terkejut.
Mark mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar dan berakhir pada kamar mandi di depannya itu.
"Naya, ada di dalam Mah? "tanyanya.
"Mamah nggak tahu Mark, Mama sudah coba panggil dia tapi tidak ada sautan dari dalam, "jelas Nyonya Seline.
__ADS_1
Terlihat Nyonya Seline tengah mencoba memutar handle pintu kamar mandi tersebut. Namun sayangnya sepertinya Kanaya mengunci dari dalam pintu kamar mandi tersebut.
"Di kunci, Mark, "celetuk Nyonya Seline.
"Sini Mah, biar Mark dobrak saja, "ujar Mark.
Nyonya Seline menyingkir dari depan pintu tersebut untuk memberi ruang pada Mark yang mau mendobrak pintu tersebut.
Mark mencoba membuka pintu itu dengan tubuhnya. Sekali dua kali masih tidak bisa dan akhirnya pada percobaan ketiga barulah pintu itu bisa terbuka.
Brak.
"Kanaya! "seru kedua orang itu.
Nyonya Seline berhambur mendekati tubuh Kanaya yang terkulai lemas di atas lantai itu.
Hatinya sangat hancur melihat tubuh lemah itu. Terlebih saat Nyonya Seline menyentuh kening Kanaya terasa sangat panas.
"Dia demam, Mark bantu Mamah bawa tubuh Kakak iparmu ke kasur, "pinta Nyonya Seline.
Mark tak banyak bicara, pria itu hanya menurutinya dengan segera membopong tubuh Kanaya dan membawanya ke atas kasur.
"Ya ampun, Nona Kanaya kenapa Nyah?"tanya Bi Irah yang baru saja datang dari arah balkon.
Gelengan kepala Nyonya Seline terlihat sangat lemas membuat semua orang tak ada yang berani banyak bicara lagi.
Wajah Kanaya nampak pucat, bibir pink yang biasanya menawan pun terlihat membiru membuat hati siapapun yang melihatnya akan kasihan.
"Dimana sih Indri, bukannya sudah Saya suruh panggil Dokter Daniel, "gumam Nyonya Seline.
Tidak hanya Nyonya Seline, Mark yang ada di samping kasur pun terlihat sangat khawatir.
Ceklek!
"Nyah, ini Dokter Danielnya, "seru Indri yang baru saja masuk bersama seorang pria berseragam kedokteran.
"Daniel, tolong periksa menantu Tante, "ujar Nyonya Seline.
"Iya Tan. "
***
"****, kenapa pakai acara macet segala sih, "maki Jacob.
Pria itu menendang kursi kemudi dimana Riko tengah duduk sebagai kemudinya.
Riko hanya terdiam, kondisi jalanan sangat macet. mobil yang mereka tumpangi tidak bisa bergerak sama sekali.
"Tuan Muda Pertama! Anda mau kemana? "seru Riko saat melihat Jacob yang keluar dari dalam mobil dan berlari cepat menjauh.
__ADS_1
***
TBC