ISTRI CANTIK TUAN JACOB

ISTRI CANTIK TUAN JACOB
Bab 78


__ADS_3

"Bukan. Bukan dia, "ucap Jacob lalu melepaskan tubuh wanita bercadar yang ia pegang kedua bahunya itu.


Setelah mengatakan itu, Jacob berlalu begitu saja meninggalkan semua orang yang ada disana dengan gontai.


Riko dan Rengganis yang tengah bersitegang dengan Layla dengan menahan tubuh gadis itu yang tengah berusaha membobol pertahanan keduanya agar bisa meraih wanita bercadar itu pun melepaskan Layla begitu saja.


"Tuan Muda Pertama!"seru Riko saat melihat Tuannya telah pergi begitu saja dari sana.


Riko gegas menyusul Jacob yang telah berada di luar toko tersebut. Sayangnya, saat pria itu baru saja keluar, saat itu juga mobil miliknya melaju kencang bersama dengan Jacob di dalamnya.


Riko kelimpungan, bisa gawat jika Tuannya itu pergi dengan mobilnya dalam keadaan emosi tak terkendali. Mobilnya bisa saja rusak, atau... Tidak, pikiran negatif Riko mulai berkeliaran.


Walaupun Jacob telah dinyatakan sembuh dari IED-nya, namun siapa sangka jika keadaan hatinya yang kacau bisa membuat pria itu ugal-ugalan di jalan.


"Pak, stop pak! Ojek kan? "ujar Riko pada seorang pria yang menggunakan jaket ojol.


"Iya Tuan, tapi Tuan harus memesan melalui aplikasi dulu. Tidak bisa... "


"Oke siap Tuan, "lanjut tukang ojol itu saat Riko telah memberikan sepuluh lembar uang merah pada pria itu.


"Ikuti mobil itu, "ucap Riko seraya menunjuk mobilnya yang telah melaju dengan cepat di depan sana.


Sementara itu di toko milik Kanaya, tampak Rengganis tengah marah-marah saat ia tahu jika sosok dibalik cadar itu adalah Wina bukan Kanaya.


"Akhhhg, gara-gara kalian Saya gagal mendapatkan uang dua ratus juta. Katakan dimana Bu Naya itu, "murka Rengganis.


Layla yang tengah membantu Wina karena tadi saat Rengganis marah, wanita bertubuh tambun itu mendorong Wina sampai gadis itu terjerembab.


"Maaf Bu, lebih baik Anda keluar dari toko kami. Kami takut pelanggan lainnya tidak jadi berbelanja karena ada orang tak waras seperti Anda, "ucap Layla masih menahan dirinya agar tidak berlaku kurang sopan pada Rengganis.


"Kalian ini bodoh, untuk apa menyembunyikan Kanaya itu. Sekarang katakan! Dimana bos kalian itu hah! "teriak Rengganis tepat di wajah Layla.


Layla yang sudah tidak bisa menahan diri lagi menarik tangan wanita itu agar keluar dari toko. Tapi sayangnya, dia yang lebih kurus tak mampu memindahkan tubuh gempal Rengganis.


"Hey bantuin Aku! seru Layla pada kedua sahabatnya.

__ADS_1


Mendengar itu, langsung saja membuat Ratna serta Wina gegas membantu Layla menarik Rengganis keluar toko dan mendorong tubuh gempal itu hingga terjerembab di atas kerasnya pavling.


"Kalian berani sama Saya hah! "maki Rengganis berusaha bangkit namun terlihat sangat kesulitan akibat tubuh gempalnya.


"Kenapa tidak berani? Lebih baik Ibu pergi atau kami panggil polisi sekarang, "ancam Layla seraya membuka layar ponselnya berpura-pura hendak menghubungi polisi.


"Dasar para gadis b*doh,"maki Rengganis lalu gegas meninggalkan karyawan Kanaya serta toko itu.


Gagal sudah khayalan wanita itu untuk memiliki uang ratusan juta rupiah karena tidak bisa mempertemukan Jacob dengan Kanaya.


Sementara itu Jacob yang tengah kalut, sedari tadi pria itu mengendarai mobil tanpa arah. Sampai akhirnya dia menghentikan laju mobil itu tepat di sebuah taman kota.


Dia keluar dan berjalan dengan gontai menuju sebuah kursi taman yang kosong. Dijatuhkan bobot tubuh pria itu dengan lunglai, serata meraup wajahnya.


"Apa ini karma karena Aku dulu pernah menyakitimu. Jika iya, Aku mohon ampunilah Aku, karena hukuman ini sangat berat, "gumam Jacob.


Pria itu menangis dalam diam, dia menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya. Satu wanita yang selalu bisa memporak-porandakan hidupnya hanyalah Kanaya.


Wanita cantik itu juga selalu bisa membuat fia yang tak kenal air mata, pada akhirnya menangis karena rasa rindu dan siksaan akan keinginan bertemu dan mendekap erat tubuh wanita cantik itu.


"Hampir saja, semoga setelah melihat Wina. Dia tidak akan datang ke toko lagi, "harap Kanaya.


Jarak keduanya sangat dekat, dimana saling membelakangi. Andai saja Kanaya berbalik maka dia akan melihat Jacob yang tengah menangis dan menunduk itu.


Begitu pula, andai saja Jacob tidak sedang dalam situasi kalut akan kesedihannya sudah pasti pria itu akan merasakan adanya sosok wanita yang ia cari dibalik punggungnya.


Tapi sayang, walaupun jarak keduanya sedekat itu. Takdir masih belum berpihak, sehingga sampai Kanaya yang memutuskan untuk meninggalkan tempat itu setelah cukup lama disana tidak juga membuat Jacob sadar.


"Lebih baik Aku pulang, Nenek pasti menunggu,"batin Kanaya lalu beranjak dari sana dan meninggalkan taman serta Jacob yang telah selesai dengan tangisnya.


Kedua bola mata Jacob dan hidung mancung pria itu memerah usai dirinya menangis. Pria itu bangkit dari kursinya dan barulah dia menoleh ke belakang dimana kursi taman yang kosong itu.


Semilir angin tiba-tiba menerpa hidung pria itu dengan cepat. Dan dengan itu wangi yang dirinduinya dan yang sangat khas pada indra penciumannya membuat Jacob terbelalak.


"Wangi ini? Kanaya... Dia ada disini, "ucap Jacob yakin.

__ADS_1


***


"Sudah ganteng loh Mas, dari tadi berkaca terus, "ledek Gus Ali, sepupu Gus Yusuf.


Gus Yusuf sendiri hanya membalas dengan senyuman kecilnya. Dia harus berpenampilan sempurna pada sore hari ini, dia tidak ingin penampilannya di mata Kanaya akan membuat wanita cantik itu merasa risih.


Tok... tok... tok.


"Yusuf, sudah selesai bersiapnya Nak? "


Itu Umi Aminah, wanita berhijab yang selalu menampilkan kesan wibawa itu datang memanggil Gus Yusuf.


"Iya Umi, sebentar. Saya akan menyusul Umi sama Abi keluar, "seru Gus Yusuf seraya meraih peci dan mengenakannya pada kepala pria itu.


"Buruan, kalau terlalu sore nanti keburu maghrib, "balas Umi Aminah.


"Iya Umi. "


Gus Yusuf sekali lagi melihat dirinya pada kaca yang ada di kamar pria itu, lalu setelahnya dia baru keluar bersamaan dengan Gus Ali, saudaranya.


Di ruang tamu kediaman Abi Ghani, ayah dari Gus Yusuf. Terlihat sosok Umi Aminah dan Abi Ghani sudah menunggu putranya keluar. Tidak banyak yang datang, karena masih dalam wacana untuk melamar.


Sehingga hanya keluarga inti saja serta keluarga dari Ali, yang merupakan ayah dari pria itu adalah adik dari Abi Ghani.


"Ayo Abi, Umi. Yusuf sudah siap, "celetuk pria itu memantik kekehan para sanak saudara disana.


"Lihatlah Kak, putramu sudah tidak sabar melamar pujaan hatinya, "seru Akbar, ayah Gus Ali.


"Ya sudah kita berangkat sekarang saja. Kasihan Yusuf sudah dandan seganteng ini, "ucap Abi Ghani yang juga meledek putranya.


Keluarga Abi Ghani dan adiknya yang dimana semuanya berjumlah enam orang itu pun mulai melakukan perjalanan menuju kontrakan Kanaya.


***


TBC

__ADS_1


__ADS_2