ISTRI CANTIK TUAN JACOB

ISTRI CANTIK TUAN JACOB
BAB 51


__ADS_3

Jacob memegang keningnya saat rasa pening menyerang kepalanya.


Dia menatap sekeliling memastikan jika ia masih berada di ruang kerjanya.


Ternyata pria itu tertidur dengan kepala bersandar pada sofa sedangkan tubuhnya duduk di atas dinginnya lantai.


"Aku harus lihat Kanaya, "gumam pria itu mengingat istrinya.


Ia gelengkan kepalanya untuk menghilangkan rasa pening dan matanya yang berkabut. Setelah merasa lebih baik barulah ia kembali melanjutkan langkah kakinya menuju pintu keluar ruang kerjanya.


Ceklek.


Masih dengan memegang keningnya, Jacob berjalan pada jalanan menuju kamarnya. Namun tiba-tiba pria itu menarik tubuhnya ke belakang saat menyadari adanya siluet seseorang yang duduk menyandar pada dinding dekat pintu ruang kerjanya.


"Naya, "lirih Jacob.


Rasa peningnya seketika hilang saat menyadari sosok yang ia khawatirkan tengah tertidur karena menunggu dirinya.


Pria itu berjongkok di depan wanitanya lalu membelai sayang pipi mulus Kanaya.


"Maafkan Aku, Aku kembali menyakitimu, "gumam pria itu.


Jacob mengangkat tubuh Kanaya lalu membawa wanita itu dalam gendongannya. Ia melangkah menuju kamar miliknya.


Saat di tengah jalan tidak sengaja ia bertemu dengan Mark yang baru saja keluar dari ruang kerja milik Tuan Garadha.


Jacob terus melangkah tanpa mengindahkan keberadaan pria itu.


"Aku pernah bilang akan melepaskan Kanaya, tapi jika Kakak terus membuat dia dalam bahaya, Aku tidak bisa diam Kak, "celetuk Mark berhasil membuat Jacob menghentikan langkahnya.


"Jaga batasanmu, saat ini Kanaya adalah istriku, dan Aku adalah kakakmu, "ucap Jacob penuh penekanan.


Setelah mengatakan itu Jacob kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Mark yang terus menatap punggung pria itu.


Dengan hati-hati Jacob membaringkan tubuh Kanaya di atas kasurnya dengan hati-hati. Lalu menyelimuti tubuh sang istri dengan sayang.


Jacob masih ada disana, duduk di tepi ranjang dengan mata menatap wajah cantik Kanaya yang selalu membuatnya candu.


"Kau sangat cantik, entah Aku harus bersyukur atau takut karena memilikimu. Setiap hari Aku selalu takut jika ada pria lain yang melihat wajah cantikmu,"desah Jacob dengan suara pelannya.


Merasa sudah cukup puas menatap wajah ayu Kanaya, dia beranjak dari atas kasur menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


***

__ADS_1


"Euungh. "


Lenguhan kecil terdengar dari bibir tipis Kanaya. Kelopak indah milik wanita itu perlahan mengerjap dan terbuka lebar.


Ia mengedarkan netranya kala menyadari jika saat ini tidak lagi berada di tempat dimana terakhir kali ia mengingatnya.


"Ini kamarnya Mas Jacob, lalu dimana dia? "gumam wanita itu


Bertumpuh pada tangannya, Kanaya bangkit dari berbaringnya lalu menuruni kasur lebar itu.


Ia berjalan mengelilingi kamar tersebut mencari keberadaan Jacob. Ia membuka pintu kamar mandi mencari keberadaan pria itu namun kamar mandi itu kosong.


Beralih menuju balkon tetapi disana juga ia tidak mendapati Jacob.


Ia tatap jam dinding yang sudah menunjukkan waktu ashar. Tak ingin terlewat waktu sholat fardhu itu, Kanaya memutuskan untuk memilih mengerjakan sholat tersebut lebih dahulu.


Setelah mengerjakan sholat Ashar, Kanaya memutuskan keluar kamar untuk mencari keberadaan Jacob yang tak kunjung mendatangi dirinya.


Saat ia berada di lantai satu, tidak sengaja Kanaya melihat Indri dan beberapa pelayan yang tengah sibuk di dapur menyiapkan makan malam untuk seluruh anggota Garadha.


"In, "seru Kanaya.


Indri berbalik lalu menatap Kanaya dengan senyumannya sebelum ia kembali menatap masakan yang tengah ia masak.


"Nggak nggak, kamu sekarang bukan pelayan kayak kami Nay, kamu sekarang sudah jadi majikan jadi diam saja ya, "tolak Indri halus.


"iish, jangan gitu deh Ndri, Aku tetap sama kok kayak kalian, "ujar Kanaya tak mengindahkan ucapan Indri dengan meraih sayur dan membantu memotong sayur tersebut.


"Di kasih tahu ngeyel, nanti Aku sama pelayan yang lain kena omel Tuan sama Nyonya loh Nay, "ujar Indri.


Kanaya menghendikkan bahunya acuh akan ucapan sahabatnya itu. Dia terus memotong sayuran yang sudah ada di tangannya.


"In, Kamu lihat suami Aku nggak? "tanyanya.


"Tuan Muda Pertama ya maksudnya, "ucap Indri.


"Hem. "


"Tadi sih keluar gitu pakai mobilnya, kalau kemananya sih nggak tahu. Emangnya Tuan Muda Pertama nggak kasih tahu kamu apa Nay? "


Kanaya menggelengkan kepalanya dan gerakan itu terlihat oleh ekor mata Indri yang tengah mengangkat masakannya itu.


"Aku tadi ketiduran,"ujar Kanaya pelan.

__ADS_1


"Mungkin Tuan Muda Pertama buru-buru Nay, jadi nggak sempet kasih tahu kamu pas juga kamu lagi tidur jadinya nggak tega deh. Sudah, jangan sedih ya, "ucap Indri berusaha menghibur sahabatnya itu.


Kanaya tak menyauti ucapan sahabatnya itu, dia hanya tersenyum membalas kalimat yang Indri ucapkan itu.


Saat keduanya tengah asik ngobrol segala cerita, dari lantai dua terlihat Nyonya Selline yang berjalan melangkah ke arah dapur.


Perempuan parubaya itu sedikit kaget saat melihat menantunya tengah turut sibuk dalam kegiatan dapur.


Ingat jika Kanaya baru saja pulang daru rumah sakiy dan tentu saja seharusnya menantunya itu memperbanyak istirahat bukan berada di dapur turut memasak seperti para pelayan lainnya.


"Naya... Apa yang kamu lakukan, "seru Nyonya Seline.


Kanaya, Indri, dan para pelayan lainnya sontak saja terkejut mendengar suara Nyonya Seline.


Tak terkecuali Kanaya yang bahkan kini telah melepaskan pisau yang tadi ia pegang.


"Ma,"lirih wanita itu.


"Apa yang kamu lakukan di dapur, Naya! Kamu itu harusnya banyak istirahat. Dan apa ini, kenapa kalian membiarkan majikan kalian memasak."


Nyonya Seline terlihat khawatir juga marah pada setiap kata yang terlontar dari bibirnya.


Semua pelayan tertunduk ketakutan akan amarah Nyonya Seline. Sementara Kanaya sendiri terlihat begitu khawatir dan merasa bersalah pada para pelayan yang dimarahi karena dirinya itu.


"Mah, ini salah Naya. Naya yang maksa buat bantu-bantu di dapur soalnya bosan,"ucap Kanaya memberi penjelasan pada mertuanya itu.


"Tapi tetap saja, seharusnya mereka melarang kamu menyentuh area dapur, "ujar Nyonya Seline masih tersulut emosinya.


Kanaya terlihat kebingungan agar mertuanya itu berhenti memarahi para pelayan.


"Mah, kita duduk di meja makan ya. Naya lelah berdiri disini, "ucap Kanaya sambil memegang lengan Nyonya Seline.


Nyonya Seline melihat lengannya yang dipegang Kanaya itu, terlihat ia berulang kali menarik nafas dan membuangnya kasar untuk menormalkan emosinya.


Dengan pelan-pelan, Kanaya membawa Nyonya Seline duduk di meja makan. Saat berjalan wanita hamil itu menyempatkan diri menoleh pada para pelayan dan menggerakkan bibirnya untuk permintaan maafnya.


Terlihat Indri dan pelayan lainnya menganggukkan kepalanya pada Kanaya.


"Kita tunggu semua orang disini ya Mah, "ucap Kanaya pada Mama mertuanya.


Nyonya Seline tidak menjawab ucapan itu, dia hanya menganggukkan kepalanya sebagai balasan pada Kanaya.


***

__ADS_1


TBC


__ADS_2