
"Kanaya!"pekik Jacob dengan kedua mata membulat.
Seketika semua orang disana berhenti. Mereka yang tadinya tengah berkelahipun terhenti lalu menatap satu pusat dimana Jacob, Kanaya, dan Felix berada.
Senyuman kecil terbit pada sudut bibir Kanaya saat ia berhasil menjadikan tubuhnya sebagai tameng dari pukulan Felix untuk Jacob.
Rasa sakit pada area bahu mulai terasa, membuat wanita itu sesekali meringis.
"Kamu baik-baik saja Mas? Aku yakin kamu pasti bisa menemukanku,"ujar Kanaya.
"Naya, kita pergi dari sini sekarang. Kamu terluka, Sayang,"ucap Jacob panik.
"Tidak Mas, Aku baik-baik saja. Kamu yang berdarah,"lirih Kanaya.
Kelopak mata wanita itu perlahan menutup membuat Jacob semakin panik saja. Pria itu segera menggendong Kanaya dan hendak membawanya pergi dari Kastil milik Felix.
"Biarkan dokter Saya yang memeriksanya,"seru Felix mencegah langkah kaki Jacob.
Setelah sedari tadi Felix diam karena rasa kejutnya setelah kayu yang ia arahkan untuk Jacob justru mengenai Kanaya.
Jacob menatap tajam Felix. Andai saja ia tidak sedang menggendong Kanaya, ingin sekali Jacob menghabisi Felix saat ini juga.
"MENYINGKIR!"teriak Jacob dengan rahang mengeras.
Felix tidak gentar, dia tetap berada di depan Jacob menahan pria itu agar tidak terus melangkah. Kedua matanya terpancar sebuah penyesalan karena telah menyakiti wanita yang dicintainya. Dia ingin merebut Kanaya dari tangan Jacob agar mendapat pertolongan dari dokter pribadinya.
"Tidak, biarkan Aya mendapat pertolongan dari dokter Saya,"sentak Felix tak kalah kerasnya.
Kesabaran Jacob sudah diujung kepala, ditendangnya dengan keras bagian dada Felix. Hingga pria itu tersungkur cukup jauh dan mengenai kerasnya dinding.
"Tuan Felix,"seru Septian gegas menghampiri Tuannya dan membantu pria itu berdiri.
Jacob dan yang lainnya melangkah cepat menuju mobil mereka.
"Gunakan kecepatan tinggi!"titah Jacob.
"Baik Tuan,"balas Riko.
Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi membawa Jacob dan Kanaya yang masih tidak sadarkan diri.
Sementara itu, di belakang mereka terlihat Felix dan Septian juga memacu mobil dengan kecepatan tinggi.
"D*mn! Lebih cepat lagi!"maki Felix.
"Kita salah sasaran Tuan, mobil yang kita ikuti ternyata anak buah Tuan Jacob,"beritahu Septian.
"Kenapa berhenti, putar arah, TIAN!"
__ADS_1
Septian memutar kemudinya mengikuti titah Felix. Mereka baru saja kena jebakan, dimana mobil anak buah Jacob yang justru mereka ikuti bukan mobil berisi Jacob dan Kanaya.
Sementara itu di mansion, Jacob terlihat berlari cepat menuju kamar utama. Di mansion telah hadir dua orang dokter yang sudah sebelumnya mereka hubungi untuk menangani Kanaya.
Satu dokter bertugas memerika bagian punggung Kanaya yang tadi terkena balok dan satu dokter lainnya adalah dokter kandungan.
"Biarkan kami memeriksa Nona, Tuan Muda Pertama,"ucap seorang dokter tersebut.
Setelah meletakkan tubuh Kanaya di atas kasur, Jacob mengambil jarak dari Kanaya agar kedua dokter tersebut bisa mengecek kondisi kesehatan sang istri.
Jacob terus melihat setiap hal yang dilakukan dua dokter tersebut kepada istri cantiknya tanpa ada sedikitpun bibirnya bergerak sampai keduanya selesai.
"Bagaimana?"tanya pria itu.
"Punggung Nona hanya mengalami lebam saja Tuan Muda Pertama, tidak ada luka serius,"ujar dokter yang bertugas menangani punggung Kanaya.
"Untuk bayi kami?"tanya Jacob lagi.
Dokter lainnya maju satu langkah dan berkata. "Kondisi Nona sangat lemah Tuan. Sepertinya Nona mengalami tekanan dan kurangnya istirahat. Tetapi Anda tidak perlu khawatir, walaupun tubuh Nona Kanaya tengah lemah, untuk kondisi janin dalam perutnya aman. Mungkin Nona hanya harus bedrest selama satu bulan untuk memulihkan kondisinya,"jelasnya.
Helaan nafas panjang penuh rasa lega terlihat jelas dari Jacob. Entah bagaimana jadinya jika terjadi sesuatu pada Kanaya. Mungkin seumur hidupnya, Jacob tidak akan bisa berdamai dengan dirinya sendiri.
"Kapan dia akan sadar?"tanyanya lagi dengan manik terus menatap Kanaya.
"Nona hanya syok, Tuan Muda Pertama. Mungkin beberapa jam lagi, Nona Kanaya akan sadar,"ujar dokter yang menangani luka dalam itu.
"Tuan, sepertinya Anda juga harus kami periksa,"celetuk salah satu dari dua dokter itu memberanikan diri.
Jacob menyentuh keningnya yang masih mengeluarkan darah. Rasa pening memang masih ia rasakan, tetapi itu tidak penting baginya.
"Kalian keluarlah,"titahnya.
"Tapi Tuan, luka Anda..."
Dokter yang menangani luka itu tidak bisa melanjutkan kalimatnya saat Riko maju dan memerintahkan ia dan dokter kandungan disisinya keluar saat itu juga.
Setelah semua orang keluar. Kini di kamar tersebut hanya ada Jacob dan Kanaya yang masih belum sadarkan diri.
Jacob mendekati kasur, pria itu meraih tangan Kanaya dan digenggamnya dengan kelembutan.
"Kenapa kamu melakukan hal itu? Kamu tahu, hatiku rasanya sakit saat melihat kamu terluka di atas pangkuanku. Jika terjadi sesuatu padamu dan anak kita, sampai kapanpun Aku tidak akan pernah memaafkan diriku, Nay. Cepat bangun ya,"ucapnya lembut lalu melabuhkan sebuah kecupan pada kening Kanaya.
"Sangat kotor,"gumam Jacob menatap dirinya yang sangat kotor dan beberapa tetes darah yang mengering mengenai bajunya.
Tidak ingin saat Kanaya sadar dan melihat kondisi dirinya yang berantakan. Jacob memutuskan untuk membersihkan tubuhnya lalu mengobati luka pada keningnya seorang diri.
Dalam prinsip Jacob ialah, di mata Kanaya dirinya harus selalu terlihat tampan.
__ADS_1
Keesokan harinya, Kanaya yang telah sadar terlihat tengah mendapat perlakuan manis dari sang suami yang dengan setia menyuapi bubur ke dalam mulutnya.
"Mas, Naya kenyang,"keluh wanita cantik itu.
"Sedikit lagi ya, Naya Sayang. Setelah ini Mas kupasin buah buat kamu, ah ini susunya juga harus kamu minum,"ujar pria itu.
"Baiklah paduka Raja,"ucap Kanaya pasrah.
Kanaya menatap sosok pria yang begitu manis kepadanya itu. Jacob tengah mengupas buah apel untuk dirinya.
Saat mengamati suami tampannya, atensi Kanaya teralihkan pada kening Jacob yang berbalut perban itu. Sangat tidak rapi, Kanaya duga jika itu pasti kerjaan Jacob sendiri.
"Mas, kotak P3K dimana? Bisa tolong ambilkan,"pinta Kanaya lembut.
Tangan Jacob yang tengah mengupas buah itu terhenti, pria itu menatap Kanaya khwatir.
"Untuk apa? Apa ada yang kamu rasa sakit? Aku panggil dokter saja ya,"ucapnya lebay yang sukses memancing kekehan Kanaya.
"Tidak Mas, Kanaya tidak merasa sakit sama sekali. Tapi Kanaya cuma butuh P3K saja kok, tolong ya Mas."
Jacob masih enggan beranjak, dia justru ingin meriah ponsel untuk menghubungi dokter pribadinya. Tetapi rengekan Kanaya akhirnya membuat Jacob menurut dan mengambil kotak P3K.
"Sini Mas, Aku cuma mau ganti perban di kening Kamu kok,"jelas Kanaya.
"Kenapa tidak dari tadi, tetapi sepertinya tidak perlu Nay. Kamu harus bedrest, jangan banyak bergerak,"ucap pria itu.
"Mas, Aku tidak kemana-mana. Kamu sini deh, cuma gerakin tangan doang kok,"ucap Kanaya.
Jacob mendekati sisi Kanaya dan membiarkan wanitanya mengganti perban pada keningnya.
"Nay, kemarin itu. Mas harap terakhir kamu melakukan hal bodoh seperti itu ya,"ucap Jacob sembari meraih tangan Kanaya yang telah selesai mengganti perban lukanya itu.
"Mas, Kanaya tidak bisa janji. Seperti halnya Mas yang tidak peduli dengan keselamatan diri Mas untuk menyelamatkan Naya. Begitu juga Naya, yang tidak akan tinggal diam jika Mas dalam kondisi bahaya,"ujar Kanaya.
"Mas laki-laki, tubuh Mas jauh lebih kuat dari kamu, Naya Sayang."
Kanaya tersenyum, dia hanya menganggukkan kepalanya mengikuti kemauan sang suami. Bukankah menyenangkan hati suami termasuk ibadah?
Suara ketukan pintu menghentikan aktivitas manis keduanya.
"Mas buka dulu ya,"ucap Jacob diangguki Kanaya.
Pria itu melangkah membuka pintu kamarnya. Saat terbuka, di depanya terlihat sosok Riko yang hendak menyampaikan sesuatu.
"Tuan Muda Pertama, di depan gerbang mansion ada Tuan Felix. Pria itu bersama asisten dan beberapa anak buahnya,"ucap Riko.
***
__ADS_1
TBC