
"Kasih tahu Aneth nggak?"
Riko memutar tubuhny menghindari Aneth yang sedari tadi memaksanya untuk memberitahu dimana Jacob dan Kanaya berada, saat ini.
Dia yang sudah mendapat amanat untuk tidak memberitahu keberadaan Tuan-nya, tentu saja berusaha untuk tidak tunduk pada Nona Muda Keluarga Garadha ini.
"Nona, lebih baik Anda pulang. Saya harus kembali bekerja,"ujarnya seraya melangkah menuju meja kerja pria itu.
Langkah kaki Riko tertahan karena cekalan Aneth dan kegesitan gadis itu yang telah berpindah di depan Riko.
"Tuan Asisten Riko, Saya tahu kalau kamu tahu sesuatu tentang Kak Jacob. Atau jangan-jangan, perginya Kak Jacob berhubungan dengan Kakak ipar,"tebak Aneth.
Sialnya, tebakan Aneth ini mampu membuat Riko tertegun. Dan ekspresi wajah pria itu tidak bisa menutupi segala kebenaran yang ada.
Semakin yakinlah Aneth dengan dugaannya, dan gadis itu juga semakin bersemangat mendesak Riko agar mau memberitahu dirinya tentang kebenaran yang ada.
Aneth berjalan maju, membuat langkah kaki Riko harus mundur sampai pria itu mentok pada dinding ruangannya.
"Anda tahu betul, Tuan Asisten. Siapa sosok Aneth Garadha? Jadi, lebih baik kamu memberitahu dimana Kak Jacob dan apa yang sebenarnya terjadi,"ujar Aneth dengan jemari lentik menyusuri leher pria itu.
Riko menepis tangan indah Aneth dan berkata.
"Taktik Anda ini tidak akan berlaku pada Saya, Nona. Jadi lebih baik kembalilah dan nikmati waktu liburan Anda dengan baik,"ucap Riko.
Riko mendorong tubuh Aneth menjauh, lalu pria itu berjalan melewati Aneth begitu saja.
Riko kembali memfokuskan dirinya pada tumpukan berkas di atas mejanya itu. Tidak ada Jacob, semua kerjaan harus ia tangani dengan sebaik mungkin.
Aneth berdecak kesal, karena rencana pertamanya gagal membuat Riko buka mulut. Otak cerdik gadis itu tengah berpikir dengan keras, jika Riko tidak mau memberitahu dia dengan mulutnya. Maka, Aneth pikir ia harus melakukan hal lainnya.
Ting! Sebuah ide brilian muncul dalam otak Aneth. Senyuman lebar dengan segala triknya pun akan segera dia lakukan.
" Aneth? Jangan bilang, hal kecil seperti ini tidak bisa dilakukannya,"gumam gadis itu dengan senyuman lebarnya.
Riko melirik pada sosok yang tiba-tiba tersenyum tidak jelas itu. Pria itu tahu, jika Aneth tidak segampang itu menyerah. Dengan keyakinan penuh, Riko bersiap menerima kejutan apa yang akan dilakukan Aneth dengan menutup telinga dan matanya yang ia fokuskan pada berkas.
"Aku tidak selemah Tuan Muda Pertama, merengeklah,"batin Riko.
Aneth berjalan mendekati Riko yang telah siap dengan aktingnya. Tapi dugaan Riko kali ini melenceng, Aneth tidak menangis atau lainnya.
__ADS_1
Justru Riko yang menfokuskan dirinya dengan berkas justru menjadi kesempatan emas Aneth untuk mencuri ponsel pria itu.
"Hey. Nona! Kembalikan ponsel Saya,"teriak Riko seraya berdiri dari kursinya.
"Nggak mau. Wleee, ambil saja sendiri,"ledek Aneth seraya berlari ke arah kamar mandi dan mengunci dirinya dari dalam.
"Ck, paling juga tidak bisa buka kata sandinya,"ujar Riko percaya diri.
Sementara Aneth tengah mengakses aplikasi pesan di ponsel Riko. Dia tengah mencari jejak percakapan pria itu dengan Jacob.
"Binggo! Ternyata benar Kakak ipar sudah kembali, Dasar Tuan Asisten, pintarnya kalau kerjaan doang. Sam Aneth mah...kalah,"sombong Aneth seraya menyibak rambut lurusnya.
Setelah dia mendapatkan lokasi dimana keberadaan Jacob dan Kanaya. Barulah Aneth keluar dari dalam kamar mandi.
Ceklek.
Saat pintu itu terbuka, yang pertama kali Aneth lihat adalah sosok wajah Riko. Dengan santai Aneth mengembalikan ponsel pria itu dan berkata.
"Lain kali kalau sandi ponsel itu jangan tanggal lahir, agak sulitan dikit kek,"ucapnya seraya berlalu dibalik pintu ruangan tersebut.
"Jangan bilang Nona Aneth, berhasil membuka ponselnya,"ujar Riko lalu gegas memeriksa ponselnya sendiri.
***
"Ma, Pa. Kakak ipar sudah kembali,"pekik Aneth riang.
Gadis berambut lurus itu berlari masuk ke dalam kediaman Garadha dengan teriakan memanggil kedua orang tuanya itu.
Nyonya Seline dan Tuan Garadha berjalan mendekati putri bungsu mereka dengan rasa penasaran. Tadi pagi, Aneth pergi dengan buru-buru meninggalkan Kediaman Garadha dan kini gadis itu juga pulang dengan teriakan bak seseorang yang mendapat jackpot.
"Ada apa Aneth? Tidak perlu teriak-teriak, bicaralah perlahan,"ujar Nyonya Seline saat setelah wanita itu sudah berada di dekat Aneth.
Aneth yang riang karena sudah mendapatkan informasi dari Riko itupun menceritkan perihal ia yang sudah mengetahui keberadaan Kanaya.
Kabar yang baik itu, tentu saja membuat Nyonya Seline dan Tuan Garadha senang bukan main. Akhirnya, hubungan mereka dengan Jacob akan kembali membaik setelah kembalinya Kanaya.
"Ayo Pa, Ma. Kita kesana bersama dan temuin kakak ipar sama Kak Jacob. Aneth penasaran sama wajah kakak ipar,"ucap Aneth riang seraya menarik kedua tangan kedua orang tuanya itu.
Tapi pegangan tangan Aneth itu mendapat penolakan dari Nyonya Seline. Wanita itu tiba-tiba merasa tidak percaya diri pada putranya sendiri.
__ADS_1
Dia dan suaminya telah mencari Kanaya satu tahun lebih lamanya, tetapi tidak juga mendapatkan hasil. Sedangkan Jacob hanya kurun waktu kurang dari satu bulan bisa menemukan Kanaya.
"Kenapa, Ma?"tanya Aneth.
"Mama malu sama kakak pertamamu, Sayang,"jelas Nyonya Seline.
Helaan nafas panjang terdengar dari rongga hidung Aneth.
"Ma, kenapa harus malu? Dulu Mama sama Papa juga sudah berusaha sebaik mungkin. Ya, mungkin memang belum takdirny. Sudahlah, ikut saran Aneth saja deh. Sekarang Papa sama Mama ikut Aneth ketemu sama Kakak ipar dan jelaskan semuanya sama Kak Jacob supaya pria itu tidak lagi marah. Lagian, Aku yakin Kak Jacob pasti sudah nggak marah lagi deh,"ucap Aneth.
Nyonya Seline menatap sang suami yang menjawab dengan anggukan kepalanya.
"Sudah diputuskan, ayo kita kesana bersama, Pa, Ma!"seru Aneth seraya kembali menarik tangan kedua orang tuanya.
Sementara di mansion Garadha, di sebuah kamar utama terlihat Kanaya yang berusaha melepaskan belitan tangan kekar pada pinggangnya.
Suara dering telepon terus berbunyi, membuat wanita itu ingin melihat siapa yang terus menghubungi ponsel Jacob.
"Mas, kalau kamu nggak mau angkat karena malas. Biar, Aku yang ambil ponselnya deh buat angkat panggilannya dan nanti kamu tinggal bicara saja,"saran Kanaya.
"Hem,"balas Jacob dengan dehemanya.
Tanpa melepaskan belitan tangannya pada pinggang ramping Kanaya, pria itu bangkit lalu dengan tangannya melihat siapa yang meneleponnya tanpa henti itu.
"Hallo! Sudah saya bilang. Perusahaan kamu handle dulu, Rik. Saya sudah ambil cuti satu minggu,"ucap Jacob lalu mematikan panggilan tersebut secara sepihak membuat sosok Riko di sana yang hendak bicara hanya bisa terperangah.
"Mas, kok dimatiin sih?"tanya Kanaya.
"Riko, tidak penting. Lebih baik kita fokus dengan urusan kita membuat proyek bersama,"ujar Jacob kembali bersiap dengan posisinya.
"Mas, kamu nggak bosen apa di kamar terus?"tanya Kanaya seraya membelai wajah tampan sang suami.
"Tidak, tidak sama sekali. Ada kamu disini, untuk apa bosan,"balas pria itu.
Kanaya tersenyum kecil mendengar kalimat tersebut.
"Jadi buat proyek bersamanya, Mas?"
"Tentu, kamu bersiaplah,"balas Jacob dengan tatapan penuh gairahnya.
__ADS_1
***