ISTRI CANTIK TUAN JACOB

ISTRI CANTIK TUAN JACOB
Bab 118


__ADS_3

"Dimana Nyonya,"seru Dokter Putri dengan nafas terengahnya.


Wanita dengan kemeja khas seorang dokter itu tampak terengah-engah saat ia menghampiri semua yang ada di depan ruangan bersalin itu.


Melihat sosok yang ditunggunya sudah datang, Jacob berkacak pinggang dengan bibir hendak memberikan ceramah nada tingginya.


Tetapi hal itu tidak terjadi karena Nyonya Seline lebih dulu membekap mulut sang putra.


"Hmmmmp."


"Tahan Jacob. Marahnya dipending dulu, Kanaya sedang membutuhkan pertolongan,"ucap Nyonya Seline.


Wanita parubaya itu memberi kode pada Dokter Putri agar segera masuk ke dalam ruangan bersalin untuk membantu Kanaya melahirkan. Setelah dokter Putri masuk, barulah Nyonya Seline melepaskan bekapan pada mulut Jacob.


"Ma, Jacob cuma mau ngasih tahu dokter itu supaya lebih profesional,"protes Jacob.


"Kamu mau memarahinya, lalu membuat Kanaya semakin lama menunggu penanganan gitu. Katanya sudah sembuh, tapi masih sering marah. Mau Mama kirim ke Amerika buat terapi lagi, huh,"sungut Nyonya Seline kesal pada putranya.


Disamping Nyonya Seline tampak Tuan Garadha mengelus lengan sang istri agar wanitanya itu lebih tenang.


Jacob menunduk, dia bisa mengontrol emosinya. Hanya saja ketika berhubungan dengan Kanaya saja, emosinya selalu meledak. Terlebih setiap sesuatu yang membuat Kanaya terluka meski hanya goresan kecil sekalipun tetap membuat emosi Jacob meledak.


"Jacob cuma terlalu khawatir sama Kanaya, Ma,"jelas pria itu.


"Huft, kontrol emosinya lagi, Jac,"saut Tuan Garadha.


Disaat Tuan Garadha dan Nyonya Seline tengah memberi nasihat untuk Jacob, pintu ruang bersalin itu terbuka dan memperlihatkan seorang suster.


"Suami Nona Kanaya,"ucapnya.


"Saya,"saut Jacob gegas mendekati perawat itu.


"Mari ikut Saya ke dalam, Istri Anda sedang membutuhkan Anda disisinya,"ajak perawat itu.


Tanpa menunggu lama, Jacob mendorong pintu itu lalu melesat masuk mendahului perawat tadi.

__ADS_1


Nyonya Seline dan Tuan Garadha hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan putranya yang kembali pada mode seenaknya itu.


Perawat yang ditinggalkan Jacob pun pada akhirnya masuk kembali ke dalam ruang bersalin.


Di dalam ruang bersalin, Kanaya tengah berjuang antara hidup dan mati demi melahirkan permata hatinya. Keringat berkucuran, nafasnya tersengal, sesekali ia terpekik sakit saat kontraksi ia rasakan.


"Kenapa Kamu diam saja, lakukan sesuatu! Lihat istri Saya begitu menderita,"sentak Jacob saat ia telah sampai disisi brangkar sang istri.


"Tuan, Kami sedang membantunya. Dan pembukaan belum lengkap sehingga bayi belum bisa kami keluarkan, saat ini Nona meringis sakit ketika kontraksi,"terang Dokter Putri. Andai saja pria yang memarahinya barusan bukanlah putra sulung pemilik rumah sakit tersebut, sudah pasti Dokter Putri akan balas kalimat pedasnya dan memberikan sumpah serapah.


"Lakukan se..."


"MAS! Kamu mau nemenin Naya apa mau marah-marah, ssttt...kalau mau m-marah keluar saja,"ucap Kanaya yang mulai kesal.


Kanaya paham betul emosi sang suami yang tengah naik turun karena khawatir padanya. Tapi marah-marah di ruang bersalin bukanlah hal yang bisa dimaafkan lagi.


"Tidak Naya Sayang, Mas mau disini temanin Kamu,"balas Jacob, meraih tangan sang istri lalu mengecup kening wanita itu.


Dokter Putri dan para perawat yang ada di ruang bersalan itu menatap tak percaya pada pemandangan di depan mereka. Pria yang barusan marah-marah seketika melunak saat mendapat peringatan dari sang istri.


Mungkin itulah definisi cinta yang sesungguhnya. Bukan berarti suami takut istri, hanya saja jika seorang laki-laki yang benar mencintai istrinya sudah pasti tidak bisa menaikkan nada suaranya pada wanitanya.


"Iya Naya Sayang, Mas benar ridlo dan berharap persalinan Kamu dipermudah,"ucap Jacob lalu mengecup kening Kanaya dengan penuh harapan.


Cengkaraman tangan Kanaya semakin kuat, kuku-kuku wanita itu menancap dalam pada tangan Jacob. Tetapi Jacob sama sekali tidak merasakan sakitnya, dia justru turut menangis saat melihat istrinya kesakitan.


"Naya, Mas nggak tega lihat kamu kesakitan. Operasi saja bagaimana?"tawar Jacob dengan bola mata berkaca-kaca.


Kanaya menggelengkan kepalanya keras. Dia sudah berjuang melahirkan normal dan hanya beberapa pembukaan lagi, tidak mungkin ia mengubah niatnya menjadi operasi caesar.


"Tidak Mas, shht...Naya mau normal saja,"kekeuhnya dengan suara yang terbata-bata.


Dokter Putri kembali mengecek jalan keluarnya anak Jacob dan Kanaya.


"Pembukaan sudah lengkap, Nona mulai mengejan. Tarik nafas buang nafas...Ayo Nona mengejan,"ucap Dokter Putri memberi pengarahan.

__ADS_1


"Hosh...hosh, emmmm hah...hah."


"Bagus Nona, kepala bayinya mulai terlihat. Lakukan lagi Nona. Tarik nafas, buang nafas ayo mengejan lagi Nona."


Kanaya terus mengikuti arahan sang dokter. Rasanya sebagian nyawanya tertarik saat sesuatu di bawah sana mendesak keluar. Tulang-tulang tubuhnya juga terasa diremukkan saat sesuatu dibawah sana robek dan mulai menguasai lubang jalan keluarnya bayi.


Ditengah Kanaya yang berjuang hidup dan mati, disisinya Jacob terus menemaninya. Meskipun sesekali Jacob harus menghapus air matanya karena rasa takut saat melihat penderitaan sang istri melahirkan.


Hilang sudah Jacob yang arogan dan suka marah-marah. Pria itu menangis deras dengan tangan yang ia pasrahkan sebagai pelampiasan kesakitan Kanaya.


"Lagi Nona..."


"Emmm ha, aah..."


"Oek...oek...oek."


Suara tangis bayi menggema di ruang bersalin itu hingga terdengar keluar ruangan. Nyonya Seline dan Tuan Garadha yang mendengar tangis cucu pertama merekapun saling berpelukan haru.


"Cucu kita sudah lahir, Pa,"ucap Nyonya Seline diangguki sang suami.


Di dalam ruangan bersalin, usai bayi berjenis kelamin perempuan itu dilahirkan dan langsung dibersihkan oleh seorang perawat. Jacob langsung memeluk tubuh Kanaya dan menangis hebat pada wanita cantik itu.


"Sayang, maafkan Mas ya kalau pernah buat salah sama Kamu. Mas tidak tahu harus bagaimana berterima kasih sama Kamu yang sudah berjuang hidup dan mati demi memberi gelar ayah untuk Mas,"ucap Jacob disela tangisnya.


Dokter Putri yang telah membawa kembali bayi cantik di tangannya itu kembali terheran dengan sikap Jacob yang tengah mewek hebat itu.


"Ehem, Tuan Muda Pertama. Silahkan adzani putri cantiik Anda lebih dulu, dan biarkan Kami membersihkan tubuh Nona Kanaya dan memberi penanganan lagi,"ujar Dokter Putri menguraikan pelukan Jacob.


Pria itu melepaskan tubuhnya dari Kanaya, lalu menatap bayi yang sudah dibedong di tangan Dokter Putri. Cantik duplikat istrinya. Perlahan ia mengambil alih tubuh mungil itu dan mulai mengumandangkan adzan pada telinga bayi kecil itu.


Kini setelah tubuh Kanaya dibersihkan dan dipindahkan ke ruang rawat VVIP, tampak wanita itu tengah memandangi tubuh kecilnya yang tengah mencari sumber kehidupannya di atas dada Kanaya. Sementara Jacob duduk disisi ranjang dengan tangan membelai kepala sang istri.


"Nama putri kita siapa Mas?"tanya Kanaya.


"Daneen Asha Garadha yang artinya Daneen adalag putri yang jelita. Asha penuh cinta dan semangat sedangkan Garadha adalah marga keluarga Mas,"jelas Jacob.

__ADS_1


"Daneen Asha Garadha, nama yang cantik seperti rupanya. Semoga kelak Kamu menjadi sosok yang tidak hanya memiliki rupa cantik namun hatimu juga cantik, Sayang,"ucap Kanaya penuh harap untuk sang putri.


***


__ADS_2