ISTRI CANTIK TUAN JACOB

ISTRI CANTIK TUAN JACOB
BAB 59


__ADS_3

"Mas, kita kembali ke apartemen saja yah, "ujar Kanaya.


Wanita yang tengah membantu sang suami membuka kancing kemejanya itu tampak mengucapkan permintaannya tanpa sedikitpun menatap manik hitam sang suami.


Sementara Jacob dibuat tertegun akan permintaan istri cantiknya itu. Dia mulai berpikir, apa telah terjadi sesuatu hari ini pada sang istri? Sampai wanita cantik itu mengajukan permintaannya untuk kembali tinggal di apartemen.


Pikiran buruk mulai berseliweran di pikiran Jacob. Dia pegang dua bahu wanita hamil itu, lalu ia giring untuk duduk di atas kasur.


Jacob memiringkan tubuhnya agar ia bisa melihat wajah Kanaya yang tampak kebingungan.


"Katakan, ada apa? Apa ada yang menyakiti kamu? Atau ada sesuatu yang membuat Kamu tidak nyaman hem? Ayo bilang sama Mas, Nay, "desak Jacob.


Gelengan pelan terlihat dilakukan oleh Kanaya, wanita cantik itu tentu saja tidak akan memberitahu pada Jacob perihal alasan sebenarnya yang membuat ia meminta untuk kembali ke apartemen.


"Naya cuma merasa sudah sehatan dan ingin kembali ke apartemen,"ujar Kanaya.


"Benar? "tanya Jacob.


Dia tahu sang istri tengah menyembunyikan sesuatu darinya, entah apa itu yang jelas ia tahu wanita cantik itu tengah berbohong.


"Iya Mas, Naya rindu apartemen kita. Disana kita lebih leluasa,"ujarnya lagi.


Kanaya memalinhkan wajahnya kala manik abu-abu miliknya bersibobrok dengan manik legam sang suami.


Dia berharap pria di depannya itu tak lagi menanyakan yang lainnya. Karena dia bukanlah sosok yang pandai berbohong.

__ADS_1


"Baiklah, apapun yang Kamu mau, Mas ikut saja, "ucap Jacob akhirnya.


Pria itu memilih mengalah dan tidak lagi menanyakan kebenaran dari alasan permintaan Kanaya itu. Karena wanitanya yang memilih untuk menyembunyikan dari dirinya.


"Sekarang kamu istirahat dulu ya, Mas mau mandi dulu, "ujar Jacob.


"Iya Mas, "balas Kanaya dengan senyumannya.


Jacob melangkah meninggalkan Kanaya menuju kamar mandi. Sementara itu Kanaya memilih untuk merapikan kembali tempat tidur yang sebenarnya itu masih rapi.


Lalu ia berbaring disana sembari menatap pintu kamar mandi dimana sang suami tengah membersihkan tubuhnya di dalam sana.


Lambat laun, rasa kantuk itu menyerang Kanaya membuat wanita itu perlahan mulai memasuki alam mimpinya.


***


Kanaya menatap suaminya yang duduk disampingnya itu. Dia masih merasa segan untuk mengemukakan pendapatnya pada wanita yang kini berstatus sebagai mertuanya itu.


Jacob yang paham akan arti tatapan dari sang istri pun akhirrnya membuka suaranya.


"Ma, kami masih pengantin baru yang ingin menikmati masa-masa bersama kami leluasa. Nanti kan Mama bisa kesana juga kok,"ucap Jacob.


Ya, hanya itu yang bisa dijadikan alasa oleh Jacob. Karena dia pikir jika mengatakan yang sebenarnya maka bisa saja akan muncul banyak pertanyaan yang akan keluar dari bibir Nyonya Seline, Mamanya.


"Pah, "rengek Nyonya Seline pada sang suami.

__ADS_1


Dia berharap Tuan Garadha akan membantunya untuk mencegah kepergian Kanaya. Karena Nyonya Seline memang sangat senang jika ada Kanaya disana yang mana membuat hari sepinya sedikit terobati.


"Di sana kamu harus menjaga Kanaya dengan ekstra Jac, jangan terlalu workholic. Ingat Kanaya sedang hamil muda, "ujar Tuan Garadha.


"Loh, Papa kok malah gitu sih, "saut Nyonya Seline mencebikkan bibirnya kesal.


Tetapi rengekan sang istri itu, tidak sedikitpun dihiraukan oleh Tuan Garadha. Pria parubaya itu hanya meraih tangan sang istri lalu menggenggamnya agar Nyonya Seline tak lagi marah.


"Iya Pah, pasti, "ujar Jacob mantap.


"Naya, juga akan lebih berhati-hati Pah, Mah, "ucap Kanaya agar kedua mertuanya itu yakin.


"Ya sudah, nanti Mama bakal setiap hari kesana, "ucap Nyonya Seline, yang meski hatinya berat namun tidak bisa mencegahnya.


Kanaya dan Jacob melangkah keluar kamar kedua orang tua Jacob dengan senyuman di wajah keduanya.


Sesuai pembicaraan semalam, jika hari ini mereka akan kembali ke apartemen.


Izin dari Nyonya Seline dan Tuan Garadha sudah dikantonginya sehingga mereka bisa dengan tenang meninggalkan kediaman Garadha.


"Jangan bawa Kanaya pergi, "seru Mark dengan nada penuh amarah.


"Mark, "desis Jacob menatap wajah adiknya yang melangkah mendekati keduanya itu.


***

__ADS_1


__ADS_2