
Dua bulan kemudian.
Berdasarkan diagnosa dokter, kelahiran anak Jacob dan Kanaya seharusnya terjadi beberapa hari yang lalu. Namun sampai hari ini, tanda-tanda Kanaya akan melahirkan belum juga muncul. Membuat keluarga Jacob dan Nenek Risma khawatir, tetapi tidak untuk Kanaya yang terlihat santai dan lebih menerima kapan saja anaknya akan lahir.
"Apa kita perlu melakukan pancingan agar bayi kalian mau lahir secepatnya,"cetus Nyonya Seline dengan idenya.
"Itu bisa membuat Kanaya kesakitan tidak?"tanya Nenek Risma, yang masih belum mengerti jelas maksud dari Nyonya Seline.
"Sebentar Saya cari di google dulu,"ucap Nyonya Seline, seraya membuka layar ponselnya, lalu mendekatkan dirinya dengan tubuh Nenek Risma.
Sementara Kanaya dan Jacob duduk anteng di sofa yang yang berhadapan dengan Nyonya Seline dan Nenek Risma.
Jacob terlihat menatap serius kedua wanita di depannya untuk mendengarkan apa yang akan Nyonya Seline temukan mengenai usulan dirinya tadi. Sembari menunggu Nyonya Selline selesai, Jacob menatap perut sang istri lalu mengelusnya penuh kasih sayang.
"Baby, kapan kamu keluarnya? Lihatlah semua orang menantimu,"ucapnya pada sang jabang bayi.
"Sebentar lagi Mas,"balas Kanaya dengan menirukan suara anak kecil.
"Oh ya Mas, kalau kamu kan dipanggil Daddy sama anak kita pantas saja, masak iya Naya juga harus dipanggil Mommy?"cletuk wanita itu.
Pertanyaan yang keluar dari bibir sang istri itu membuat Jacob mendongak lalu menatap sang istri lamat-lamat.
"Kenapa? Tidak ada undang-undang melarang anak kita memanggil ibunya Mommy kok?"balas Jacob.
"Tapi Aku cuma gadis desa, Mas,"ujar Kanaya mengemukakan alasannya.
Jacob mendesah mendengar alasan yang keluar dari bibir tipis sang istri. Dia tidak suka saat Kanaya merendahkan dirinya karena asalnya yang dari pedesaan.
"Naya Sayang, entah dari manapun kamu itu tidak ada masalahnya dengan panggilan anak kita ke kamu selagi itu sopan. Lagipula kan nanti anak kita panggil Aku Daddy masak manggil Kamu Emak. Kan nggak nyambung,"ucap Jacob terkekeh.
Kanaya membalas kekehan Jacob dengan senyuman di balik cadarnya. Dia tidak masalah panggilan apa yang akan anaknya sematkan untuk dirinya.
__ADS_1
"Nah, ini Nek. Saya menemukannya,"seru Nyonya Seline mengalihkan semua netranya pada wanita parubaya itu.
Mereka menantikan Nyonya Seline membaca isi dari artikel yang ia temukan itu.
" Disini di jelaskan kalau beberapa ibu hamil melakukan metode perangsangan kelahiran atau disebut induksi persalinan. Dalam beberapa kasus ada yang berhasil juga dalam beberapa kasus lainnya, risiko proses induksi persalinan dapat mengarah pada otot-otot rahim yang sulit berkontraksi dengan baik setelah melahirkan (atonia uteri). Kondisi ini akhirnya mengakibatkan ibu mengalami pendarahan serius,"baca Nyonya Seline.
Wanita parubaya itu menelan ludahnya dengan susah. Dia sendiri yang membaca artikel tersebut namun sendiri juga yang merasa idenya itu buruk.
"Tidak, itu akan bahaya sama Naya, Ma,"tolak Jacob mentah-mentah. Sudah sakit karena melahirkan, nah efek samping yang ditimbulkan juga bukan main. Suami mana yang cinta istrinya akan tega melihat penderitaan sang istri.
"Saya juga kurang setuju, Seline,"saut Nenek Risma.
Nyonya Seline mengangguk paham. Dia juga kurang setuju dengan metode yang baru saja ia sarankan itu. Wanita itu masih tidak menyerah mencari berbagai cara agar merangsang kelahiran cucunya.
Setiap kali Nyonya Seline menemukan metode dari internet, wanita itu langsung membacakan dan meminta saran dari semua orang yang ada disana. Keinginan untuk segera menimang cucu membuat wanita parubaya yang masih tetap cantik di usia senjanya itu begitu semangat.
"Sudah Ma, lebih baik Aku bawa Naya ke dokter saja untuk konsultasi. Cara yang Mama sarankan agak ekstrim,"cetus Jacob memutus kalimat Nyonya Seline yang tengah membaca artikel lainnya itu.
"Ma, biar Jacob saja. Mama lebih baik pulang deh, Papa pasti lagi cariin Mama karena kelamaan disini. Untuk Nenek bisa menginap tetap disini atau kalau mau pulang Saya panggilkan Luna (pengasuh Nenek Risma) untuk mengantarkan Nenek ke vila,"tawar Jacob.
"Nenek mau pulang saja, Nak Jacob,"putus Nenek Risma.
Jacob menganggukkan kepalanya lalu memanggil pengasuh Nenek Risma untuk mengantarkan wanita renta itu. Sedangkan Nyonya Seline terlihat masih enggan pulang, bahkan wanita itu masih betah memegang tangan Kanaya.
"Ma, biar Jacob saja. Nanti Jacob kabari hasil pemeriksaannya,"ujar pria itu.
Nyonya Seline menatap sendu, dia ingin ikut ke rumah sakit mengantarkan Kanaya konsultasi, namun yang paling berhak menemani sang menantu tentu saja Jacob bukan dirinya.
"Baiklah, ingat kabari Mama ya,"tuturnya lalu melepaskan pegangan tangan pada Kanaya. Setelah itu Nyonya Seline beralih memeluk tubuh sang menantu sebelum ia pergi dari mansion Jacob.
"Mama kamu begitu antusias mengenai kelahiran anak kita, Mas,"ucap Kanaya lembut.
__ADS_1
"Maklum, ini kan cucu pertama Aku anak pertama. Jadi, mungkin anak kita menempati tahta tertinggi di keluarga Garadha,"ucap Jacob diringi dengan tawa renyahnya.
Anak Jacob dan Kanaya akan mendapatkan tiga gelar sekaligus. Anak pertama, cucu pertama, dan keponakan pertama. Bukankah tiga tahta ini begitu memuaskan untuk seorang bayi yang bahkan Jacob belum tahu jenis kelaminnya. Karena mereka memang sengaja tidak ingin dokter memberi tahu jenis kelamin anak mereka.
Sesuai perkataannya tadi, Jacob membawa sang istri cantiknya untuk konsultas di rumah sakit internasional milik Keluarga Garadha. Sesampainya disana Kanaya langsung mendapat penanganan dari dokter Putri.
"Tidak ada masalah yang serius Tuan, Nona. Terlambat HPL juga baru menginjak lima hari, saran Saya mungkin Nona bisa melakukan kegiatan untuk memancing persalinan. Seperti berolahraga ringan atau Tuan juga bisa membantu Nona dengan lebih sering berhubungan intim agar jalan lahir cepat terbuka,"jelas Dokter Putri memancing senyuman lebar Jacob.
Setelah berkonsultasi dengan dokter Putri, mereka memutuskan langsung pulang ke mansion. Sepanjang perjalanan pulang, Kanaya menatap ngeri sang suami.
Tangan pria itu sedari tadi di dalam mobil terus mengelus lengan tangan Kanaya dan senyuman pria itu juga tidak luntur sama sekali.
"Mas Kamu kenapa ih? Senyum-senyum nggak jelas gitu,"gerutu Kanaya.
Jacob tak menjawab pertanyaan Kanaya, pria itu hanya menatap sang istri dengan senyuman misteriusnya lalu kembali mengelus tangan sang istri membuat Kanaya geli-geli gimana.
Dan tingkah aneh Jacob itu terus terjadi sampai mereka sampai di mansion. Hanya saja setelah sampai mansion Jacob buru-buru mengajak sang istri masuk ke dalam kamar mereka dan membaringkan Kanaya di atas kasur.
Setelah Kanaya terbaring, Jacob segera menanggalkan seluruh pakaiannya membuat Kanaya menjerit heran.
"MAS! Kamu kenapa,"pekik Kanaya kaget.
"Mas mau buka jalan baby, Naya Sayang,"ujarnya penuh semangat lalu mengungkung tubuh sang istri.
"Maksudnya?"cengo Kanaya.
"Kamu berbaring biar Mas kerja keras untuk buka jalannya,"ucap pria itu.
"Hah?"
***
__ADS_1
TBC