ISTRI CANTIK TUAN JACOB

ISTRI CANTIK TUAN JACOB
Bab 84


__ADS_3

"Kamu yakin ini alamatnya?"


Aneth mengecek alamat yang ia dapatkan dari ponsel Riko pada ponsel gadis itu sendiri lalu sesekali melihat sekitar.


"Benar kok Ma, ini alamatnya,"ujar Aneth.


Gadis itu keluar meninggalkan kedua orang tuanya di dalam mobil tersebut. Terlihat Aneth terlibat perbincangan dengan penjaga mansion cukup lama, sampai Aneth menunjukkan foto keluarga di ponselnya pada penjaga tersebut. Barulah setelah perdebatan kecil itu di menangkan olehnya, gadis berambut lurus itu berjalan kembali ke mobilnya.


"Gimana?"tanya Tuan Garadha.


"Beres Pa, lihat itu gerbangnya lagi di buka,"balasnya seraya menunjuk gerbang yang menjulang tinggi di hadapannya itu.


Mesin mobil kembali menyala, segera setelah pintu gerbang itu terbuka lebar. Aneth kembali melajukan mobil itu memasuki area mansion.


Decapan bibir gadis itu terus terdengar diiringi dengan gelengan kepalanya.


"Mama, nanti jangan kalah. Lihat putra sulung Mama juga sudah membohongi kalian berdua kan, nanti kasih hukuman sama Kak Jacob,"ucap Aneth.


"Iya, ternyata kakak kamu pintar nyembunyiin hal besar dari kita,"balas Nyonya Seline.


"Papa juga kaget, ternyata bocah itu diam-diam bangun mansion,"saut Tuan Garadha.


Perasaan sungkan dihati Nyonya Seline dan Tuan Garadha, perlahan berangsur menghilang dan digantikan dengan rasa kesal serta ingin segera meminta penjelasan dari Jacob.


Mobil itu berhenti tepat di depan mansion, lalu ketiganya satu persatu keluar dari dalam.


Masih belum masuk, netra mereka menatap sekilas eksterior mansion tersebut yang merupakan perpaduan dari klasik eropa-modern itu. Barulah setelah itu, langkah kaki mereka mulai berderap memasuki mansion tersebut.


Sementara itu di dalam mansion, tepatnya di kamar utama. Terlihat seorang pria yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk di pinggangnya. Lalu tak lama disusul wanitanya yang juga sama-sama berbalut handuk pada tubuhnya.


"Mas, kita makan dulu ya? Perutku lapar,"pinta Kanaya.


Wanita cantik itu tengah menggosok-gosokan rambut basahnya dengan handuk kecil, lalu duduk di depan cermin dan mulai mengeringkan rambutnya dengan pengering rambut.


Sang pria yang telah memaki kaos untuk menutupi dada bidangnya serta sebuah celana santai itu tampak mendekati Kanaya yang duduk di depan meja rias itu.


"Sini aku bantu,"ujarnya seraya mengambil alih pengering rambut dari tangan sang wanita.


"Mas, yang Aku bicarakan tadi?"ujar Kanaya menatap Jacob dari dalam cermin.


Pria itu membalas dengan sebuah anggukan yang mana membuat sudut bibir Kanaya terangkat.


Setelah memastikan rambut miliknya kering, Kanaya tidak lupa mengucapkan kalimat terima kasih pada Jacob, dan berlalu masuk ke dalam walk in closet untuk mengubah dirinya.


Pikirnya senang, setelah berhari-hari di kurung di dalam kamar utama mereka. Akhirnya Kanaya bisa keluar untuk sarapan di meja makan.


Setelah membalut tubuhnya dengan pakaian syar'i lengkap dengan cadarnya. Sepasang kaki Kanaya melangkah keluar.

__ADS_1


"Dimana Mas Jacob?"gumamnya.


Dia pikir Jacob telah keluar lebih dulu, membuatnya hendak keluar dan memutar handle pintu.


Sayangnya saat celah kecil berhasil ia buat antara pintu dan dinding itu. Seruan Jacob berhasil menghentikannya.


"Naya, disini Sayang!"


Kepala wanita itu menoleh menatap ke belakang dimana sang pria memanggilnya. Dengan perasaan kesal ia menutup pintu tersebut.


Di balkon sana, terlihat suaminya telah duduk di kursi dengan beberapa macam hidangan di depannya.


"Mas, maksud Aku kan. Kita makan siang di bawah, kenapa di dalam kamar lagi?"tanya Kanaya, terdengar nada kesal dari cara wanita itu bicara.


Jacob menyengir mendengar keluhan sang istri. Entah kenapa, di otaknya saat ini hanya ingin di kamar berdua bersama Kanaya.


" Nanti ya, lagi pula...Kamu kan pasti lelah, jadi kita makan disini dulu,"ujar Jacob seraya berjalan mendekati Kanaya dan menggiring tubuh wanita itu menuju balkon kamar.


Jacob melepaskan cadar Kanaya, membuat wajah cantik itu terlihat indah di matanya. Kini, dia sangat setuju akan keputusan Kanaya yang mengenakan cadar.


"Aku nggak bisa bayangin, kalau nggak ada ini,"ujar Jacob seraya menatap cadar di tangannya.


"Mungkin setiap hari rasa was-was akan setiap mata yang melihat wajah cantik istriku membuatku tidak tenang,"lanjutnya seraya membelai lembut pipi merona Kanaya.


Kanaya tersipu, rasa kesalnya karena tidak jadi makan di lantai bawah pun menghilang karena pujian sang suami. Padahal pujian tentang wajah cantiknya sering ia dapatkan.


"Buka mulutnya,"ucapnya hendak menyuapi sang wanita.


Kanaya menurut saja, wanita itu membuka mulutnya menerima suapa dari sang suami. Kanaya yang melihat Jacob hanya fokus menyuapinya saja itu, mengambil alih sendok dari pria itu lalu bergantian menyuapi Jacob.


"Mas, juga harus makan,"ujar Kanaya.


Dengan senang hati, pria itu menerim suapan dari istrinya. Tak terasa menu makan siang di atas meja balkon itupun tandas oleh keduanya.


Kanaya yang kekenyangan menyandarkan tubuhnya pada bahu kursi dengan tangan mengusap perut. Saat Kanaya mengelus perutnya tiba-tiba saja ingatan tentang almarhum putrinya terlintas pada akal Kanaya, membuat wanita itu sendu.


"Nay, kamu kenapa?"tanya Jacob sambil meraih dagu sang wanita agar Kanaya melihat dirinya.


"Aku kangen almarhum anak kita, Mas."


Mendengar alasan sedihnya kanaya, membuat Jacob tidak bisa menahan untuk tidak memeluk tubuh sang wanita.


"Nanti kita ke makam Adelia ya, di pemakaman Keluarga Garadha,"ujar pria itu yang mendapat anggukan kecil Kanaya.


Tok...tok...tok


Suara ketukan pintu yang nyaring membuat pelukan keduanya terurai. Kanaya menatap Jacob penuh tanda tanya, Jacob sendiri mengangkat bahunya karena sama tidak tahu.

__ADS_1


"Entah pelayan mana yang minta dipecat,"gerutu pria itu.


Jacob yang kesal karena momennya diganggu oleh gedoran pintu, dan dia juga yang mengirah sosok pengganggu itu adalah pelayan mansion gegas beranjak meninggalkan Kanaya.


Kanaya sendiri memilih untuk tetap duduk disana, membiarkan suaminya menyelesaikan urusannya.


Ceklek.


"Sudah Saya...Mama, Papa, Aneth? Kalian?"ucap Jacob terperangah.


"Minggir deh Kak, Aku mau ketemu kakak ipar. Ayo Ma,"ucap Aneth seraya menyingkirkan tubuh Jacob dari hadapannya lalu menerobos masuk dengan menarik tangan Nyonya Seline.


"Kakak ipar! Kakak ipar,"seru Aneth.


Lalu tak lama Tuan Garadha pun menyusul masuk.


Jacob yang teringat jika saat ini Kanaya tidak mengenakan cadarnya membuat pria itu sadar dari keterkejutannya karena sosok Tuan Garadha yang baru saja lewat di hadapannya.


"Pa! Papa nggak boleh masuk, tunggu di ruang tamu saja,"ujar pria itu yang telah berhasil menghalangi langkah kaki Tuan Garadha.


"Loh, kenapa? Papa juga ingin bertemu sama mantu Papa."


"Tidak, tidak bisa. Sekarang Papq keluar ya,"ucap Jacob seraya membalik tubuh Tuan Garadha dan menggiringnya keluar kamar menuju ruang utama.


Nyonya Seline sendiri tampak menggelengkan kepalanya saat melihat kasur yang masih berantakan. Sebagai wanita yang sudah berpengalaman, tentu saja dia tahu apa yang telah terjadi.


"Ma, sini! Ini benaran kakak ipar?"teriak Aneth dari arah balkon mengundang langkah kaki Nyonya Seline.


Sementara kanaya tampak kebingungan dengan adanya sosok yang tiba-tiba muncul lalu memegang wajahnya sana sini dengan gumaman tak jelas.


"Ini benar sesuai ekspektasi. Gila, pantas saja Kak Mark menggila, cantik. Aku saja insecure."


Aneth menyentuh hidung mancung Kanaya, menoel-noel pipi Kanaya, serata menanyakan apakah Kanaya mengenakan softlen atau tidak.


"Ini benaran asli kan? Atau kakak ipar memakai softlens?"tanya gadis itu.


"I-ini asli,"gagap Kanaya.


Lama-kelamaan dia merasa takut juga pada sosok gadis yang tidak juga melepaskan wajahnya itu.


"Aneth! Hentikan, kasihan kakak iparmu,"seru Nyonya Seline.


Kanaya menoleh saat mendengar suara yang sangat khas di telinganya itu.


"M-Mama,–"


***

__ADS_1


TBC


__ADS_2